
Binar kebahagiaan terlihat jelas di mata Radit. Beberapa kali pria itu justru meneteskan air mata lantaran begitu bahagia menerima kejutan di pagi hari dari istri tercintanya.
"Alhamdulillah... Bersyukur banget akhirnya dipercaya Allah untuk menjadi orang tua, memiliki buah hati." ucap Radit sembari mengecupi wajah Istrinya dengan rasa sayang.
"Aku juga bahagia banget Mas. Perasaan baru beberapa minggu lalu lepas implan, sekarang sudah isi aja." ucap Khaira dengan masih memeluk erat suaminya itu. "Ya sudah, mandi dulu. Terus lanjut sarapan, aku siapkan bajunya untuk kerja hari ini." ucap Khaira sembari mengurai pelukannya.
Radit justru semakin mengeratkan pelukannya. "Aku jadi gak pengen masuk kerja, pengen seharian sama kamu. Sayangnya suamimu ini hanya karyawan biasa Sayang bukan pemilik kantor macam CEO di cerita-cerita yang bisa kerja dari rumah. Andai suamimu seperti di cerita-cerita itu, aku udah milih di rumah aja."
"Tidak apa-apa, Mas. Bagiku kamu melebihi mereka semua, Mas. Lagian itu cuma ada di cerita, tetapi kamu kan nyata buat aku. Jadi ... kerja ya. Sekarang harus lebih semangat kerjanya buat adek bayi juga." sahut Khaira.
Mendengar ucapan "adek bayi" nyatanya membuat Radit melepas pelukannya. "Iya, aku akan kerja keras buat kamu dan anak kita. Aku mau jadi Papa yang keren buat anak kita." ucapnya penuh semangat.
Khaira tersenyum memandang wajah suaminya. "Jadi nanti maunya dipanggil Papa ya sama debay nya?"
Radit hanya menahan tawa. "Kan kalau Ayah udah ada Ayah Wibi dan Ayah Ammar. Kita beda aja Sayang. Gimana?"
Khaira tersenyum, mengangguki ucapan suaminya. "Oke Papa, ayo sekarang buruan mandi." ucapnya sembari mendorong punggung suaminya menuju ke kamar mandi.
Radit pun tertawa bahagia, pria itu kemudian berlalu ke kamar mandi menyelesaikan ritual paginya. Sementara Khaira mulai merapikan tempat tidur dan menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.
Selang 15 menit berlalu, Radit telah keluar dengan wajah yang segar. Ia kemudian mengganti pakaiannya, tidak lupa menyemprotkan parfum beraroma Woody ke badannya.
Jika para wanita hamil biasanya akan mual saat mencium bau parfum suaminya, hal itu tidak berlaku bagi Khaira. Ia justru memeluk suaminya erat, menghirupi aroma parfum yang selalu membuatnya tenang dan bahagia.
"Kamu enggak mual sama bau parfum aku ini, Sayang?" tanya Radit sembari balas memeluk istrinya. "Hmm, biasanya Bumil akan mual deh mencium parfum suaminya. Temenku dulu gitu, Istrinya dulu waktu hamil selalu mual kalau mencium suaminya pakai parfum. Kamu beneran enggak mual?"
__ADS_1
Khaira segera menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku seneng banget malahan sama bau parfum ini. Kamu harum gini, aku suka, Mas ... jangan ganti-ganti parfum ya Mas."
Radit pun terkekeh geli. "Iya Bumilku cantik, gak akan ganti parfum kok. Tapi kalau durian kamu mual ya Sayang? Aku harus ingat-ingat nih apa saja yang membuatmu mual, jadi sebisa mungkin dihindari. Aku sedih lihat kamu mual kayak kemarin, enggak tega aku."
Setelah itu keduanya turun bersama untuk sarapan.
"Pagi Ayah ... Bunda ...." sapa keduanya bersamaan.
"Pagi ...." Ayah Wibi dan Bunda Ranti pun membalas salam hangat dari keduanya secara bersamaan.
"Sudah sehat, Khai?" tanya Bunda kepada Khaira, begitu ia baru saja mendaratkan pantatnya untuk duduk.
"Sudah Bunda, sehat ...." sahut Khaira.
Radit pun menatap wajah Khaira sejenak, lalu ia beralih menatap wajah kedua orang tuanya. "Hmm, Ayah dan Bunda
Mendengar ucapan Radit, sontak Ayah Wibi dan Bunda Ranti menghentikan aktivitas makannya lalu menatap wajah Radit.
"Ayah, Bunda ... Akhirnya kami diridhoi Allah untuk bisa menjadi orang tua. Saat ini Khaira sedang hamil." ucap Radit dengan mata yang berbinar kebahagiaan.
"Alhamdulillah...." ucap kedua orang tuanya bersamaan. "Kita akan menjadi Kakek dan Nenek." ucap Bunda Ranti sembari meneteskan air mata.
"Ayah seneng dengernya. Dijaga baik-baik, Khai. Ayah bahagia akhirnya kami mau jadi Kakek dan Nenek." ucap sang Ayah mertua juga penuh haru.
"Jangan kecapean, Khai. Banyak istirahat, biasanya trimester awal itu perlu penjagaan ekstra. Kalau ngidam apa saja, bilang Bunda ya ... kalau kerasa pusing, mual, dan mau muntah juga bilang Bunda juga." ucap sang Bunda yang sudah mewanti-wanti banyak hal.
__ADS_1
Khaira tersenyum. "Iya Bunda. Semoga enggak rewel ya Bunda, Khaira nya juga sehat."
Lantas Bundanya pun kembali bertanya kepada Khaira. "Karena sudah hamil, apa masih mau mengajar Khai?"
Khaira tidak langsung menjawab, ia terlebih dahulu melihat wajah suaminya. Radit terlihat menganggukkan kepalanya memberi Khaira waktu untuk berbicara. "Kalau Khaira masih ingin mengajar Bun, karena ngajar cuma seminggu 2x saja dan tidak full seharian. Paling hanya sekitar 2 jam saja sih Bunda ...."
Giliran Radit yang berbicara kepada Bundanya. "Tidak apa-apa Bunda, Khaira mengajar. Sekalian Radit minta izin Ayah untuk mengantar dan menjemput Khaira di waktunya mengajar. Radit terlalu khawatir jika Khaira membawa mobil sendiri."
Ayah Wibi nampak mengangguk mendengar ucapan Radit. "Boleh. Ayah malahan bangga kamu sudah menjadi pria yang bertanggung jawab. Yang penting laporan keuangan beres. Kalau hanya seminggu dua kali, Ayah rasa tidak apa-apa."
Bunda Ranti kembali menatap kedua anaknya itu. "Yang penting jaga kesehatan ya Khai? Hati-hati. Dijaga yang benar. Kapan mau periksa ke Dokter Kandungan?"
"Kapan Mas kita periksa ke Dokter Kandungan?" tanya Khaira kepada Radit.
Baik Bunda Ranti dan Ayah Wibi kembali tersenyum. "Diantar, Dit. Dulu waktu Bunda hamil kamu, Ayah juga selalu anterin Bunda periksa kehamilan setiap bulan. Jadi suami siaga."
Radit sedikit tersenyum. "Iya Yah, Radit akan mengantar Khaira. Radit akan belajar terus jadi suami yang siaga." Kini Radit menoleh kepada Khaira. "Sayang, kamu kirim pesan ke Dokter Indri dulu aja ya. Minta jadwal buat periksa, nanti kalau udah dapat jadwal dan nomor antriannya, kita akan periksa ya supaya tahu usia janinnya sudah berapa minggu."
Khaira mengangguki setuju. "Iya Mas, nanti ya aku tanya ke Dokter Indri dulu."
Pagi itu keluarga Wibisono menikmati sarapan dengan bahagia. Mereka bersyukur untuk anugerah berupa calon bayi yang saat ini tengah berada dalam kandungan Khaira.
Usai sarapan, Khaira seperti biasa mengantarkan suaminya hingga ke depan pintu.
"Aku berangkat dulu ya Sayang, hati-hati di rumah. Banyakin istirahat dulu. Kalau pengen apa-apa bilang Bunda ya. Kalau pengennya sore bilang aku juga gak papa...."
__ADS_1
Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya Mas, aman ... kerja yang serius ya Mas. Hati-hati."
Lalu Radit memeluk Khaira. "Kamu juga hati-hati ya...." Kemudian Radit membungkukkan badannya, ia mencium perut istrinya yang masih rata itu. "Sehat-sehat di sini ya Anak Papa, jangan bikin Mama kecapean ya. Papa kerja dulu ya. Love U...." 😘