Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Jadilah Rumahku


__ADS_3

".... jadi nanti selesai kamu kuliah, kita akan membeli rumah yang baru." ucapnya sembari mengikuti Khaira yang tengah menenggak air putih di Kitchen Island pada pagi hari di Tahun Baru.


Khaira nyaris tersedak mendengar ucapan Radit. Air putih yang ia minum, nyaris saja keluar melalui hidungnya.


"Pelan-pelan...." ucap Radit lembut sembari menyerahkan tissue kepada Khaira.


"Kok kamu suka memutuskan segala sesuatunya sendiri sih Mas. Sekarang kamu datang ke sini, memaksa tinggal sama aku, sekarang bilang sudah menjual rumah dan akan membeli lagi setelah kuliahku selesai," ucapnya jengah dengan sikap Radit yang menurutnya semau-maunya sendiri.


"Dengarkan aku dulu, Khai. Aku menjual rumah itu, karena kamu memiliki kenangan buruk di sana. Aku tidak ingin jika kamu akan selalu mengingat kenangan buruk itu. Aku mau kamu bahagia, Khai. Karena itu, usai kamu kuliah, saat kita kembali ke Indonesia nanti, kita beli rumah yang baru. Kita bangun rumah impian kita berdua, Khai. Aku serius dengan ucapan dan tindakanku. Tolong, jangan meragukanku, Khai. Aku datang kemari dengan penuh keseriusan."


"Terserah kamu saja, Mas. Aku sudah cukup pusing dalam beberapa hari ini." ucap Khaira sembari tangannya menyerahkan kembali buku tabungan dan debit card itu kepada Radit. "Ini kamu simpan saja, Mas. Kamu yang lebih berhak menyimpannya."


"Kamu saja yang simpan ya, itu rumah kamu. Kamu yang tinggal di sana, kamu berhak atas hasil penjualannya. Jadi simpanlah." Radit memaksa Khaira untuk menyimpan buku tabungan dan debit card itu.


"Tidak Mas, itu rumah pemberian dari orang tua Mas Radit. Jadi kamu saja yang simpan. Jangan membicarakan hak di sini Mas, karena sebenarnya sejak awal pernikahan hingga sekarang kita berdua sama-sama tidak menjalankan hak dan kewajiban kita," ucap Khaira dengan setenang mungkin.


Lagipula kini Khaira lebih bisa mengutarakan isi hatinya, dia tidak lagi menyimpan segala sesuatunya dalam hati. Diam tidak menyelesaikan masalah, justru ketika diam masalah justru semakin berlarut-larut tanpa penyelesaian yang pasti.


"Ya sudah, aku akan menyimpannya. Tetapi, nanti saat kita kembali ke Jakarta, kita membeli rumah impian kita berdua ya. Kalau kamu mau membangun rumah dari nol juga gak apa-apa."


"Kalau aku tidak mau tinggal di Jakarta gimana?" tanya Khaira sembari melihat Radit.


Radit pun mendengar ucapan Khaira seketika menatap tajam netra gelap sang istri yang sepekat malam ini.


"Tidak apa-apa. Ke mana pun kamu pergi, di mana pun kamu mau tinggal, di situ pula aku akan mengikutimu. Aku sudah memutuskan untuk menjadikanmu sebagai rumahku, Khai. Rumah untukku pulang, melepas semua penat dan lelahku. Rumah untukku berlindung dan bernaung. Rumah untuk membina rumah tangga bersama anak-anak kita nanti. Jadilah rumahku, Khaira...."


Khaira membelalak tak percaya mendengar ucapan Radit. Suami yang dulu nyaris tak pernah mengajaknya berbicara, kini bisa berbicara panjang lebar. Akan tetapi, Khaira tidak semudah itu luluh. Mengingat sekian waktu yang ia habiskan dalam kesendirian dan sikap Radit yang memilukan hatinya, jadi Khaira masih perlu banyak waktu untuk melihat keseriusan Radit. Cinta harus diuji, dan waktu lah yang akan menunjukkan semuanya itu.

__ADS_1


"Dan, aku mau...." Jeda sejenak. "Kamu juga bisa menjadikanku sebagai rumahmu, Khaira. Pulanglah ke rumahmu, karena rumah ini sudah direnovasi sepenuhnya. Sekarang hanya kau dan aku yang akan menghuni rumah ini. Tidak akan ada yang lain."


"Aku perlu waktu, Mas. Gak semudah itu mendapatkan kepercayaanku setelah semua yang kamu lakukan, Mas. Aku butuh pembuktian." ucap Khaira ketus.


"Iya. Aku akan benar-benar membuktikan padamu, aku akan isi hatimu dengan cinta, kepercayaan, dan ketulusan. Saat hari di mana hatimu sudah yakin padaku, tolong terimalah aku sebagai suamimu seutuhnya dan sepenuhnya. Jadilah rumahku, dan aku menjadi rumahmu. Kita belajar sama-sama dari awal. Untuk sekarang kita sama-sama belajar mengenal satu sama lain saja, sembari aku membuktikan diriku layak untuk menjadi rumahmu, tempat kau pulang, berteduh, bersandar, dan menjalani hari-harimu."


"Hmm." jawab Khaira singkat.


***


Di Jakarta, Indonesia.


Orang tua Radit dan orang tua Khaira sedang berkumpul bersama. Mereka sekarang lebih sering berkumpul untuk membahas anak-anak mereka. Bahkan saat ini kedua pasang orang tua itu sedang harap-harap cemas lantaran sudah sekian hari Radit pergi, tetapi pria itu belum memberikan kabar.


"Coba saja kita telepon Radit, kenapa anak itu sampai sekarang belum memberi kabar. Apakah Radit sudah menemukan Khaira atau gimana? Aku penasaran dengan mereka berdua." Ucap Bunda Dyah yang ternyata mengkhawatirkan anak menantunya itu.


Ayah Ammar pun sependapat, "Iya, coba saja kita telepon Radit. Sambungan internasional tidak masalah, yang penting kita sebagai orang tua mengetahui kabar dan keberadaan anak kita. Terlebih ini pertama kalinya Radit pergi sejauh ini. Jika memang sudah bertemu dengan Khaira ya syukur. Semoga kesempatan yang kedua ini bisa menyatukan kedua anak itu dalam rumah tangga yang sebenarnya, cinta keduanya mulai tumbuh."


"Ya sudah, biar aku yang menelpon Radit." Ayah Wibi mengeluarkan ponselnya lalu melakukan video call kepada Radit.


Ayah Wibi


Calling


Sekian detik berikutnya, telepon tersambung dan Radit menerima panggilan video itu.


[Halo Ayah....] Sapa Radit begitu menerima sambungan video itu.

__ADS_1


[Halo Dit, kamu sudah di mana? Sudah ketemu Khaira? Kenapa sampai sekarang kamu tidak memberi kami kabar tow Dit.] Ayah Wibi langsung memberondong anaknya itu dengan berbagai pertanyaan.


[Maaf Ayah, Radit sampai lupa belum berkabar sama Ayah dan Bunda.]


Usai itu Radit mengalihkan kameranya mengarah pada Khaira yang sedang duduk di sofa melihat saluran televisi.


[Ayah, Bunda. Lihatlah.... Siapa dia?] wajah penuh kebahagiaan terpampang nyata di sorotan kamera handphone itu.


[Nak Khaira....] Jawab Ayah dan Bunda serempak.


[Iya Bunda, Radit sudah menemukan adek kecil Radit. Terima kasih Ayah dan Bunda sudah merestu dan memberi kesempatan kedua untuk Radit.]


[Ini ada mertua kamu juga, Dit. Mereka mengkhawatirkanmu karena sejak kamu pergi hingga sekarang belum memberi kabar.]


[Bunda Dyah, Ayah Ammar. Maafkan Radit. Begitu sampai Radit langsung mencari Khaira. Maaf ya Ayah, Bunda....]


Mendengar nama orang tuanya disebut, Khaira pun berlari mendekati Radit. Gadis itu ingin bersapa dengan orang tuanya juga. Melihat Khaira yang mendekatinya, Radit langsung memberikan handphonenya kepada Khaira.


[Ayah... Bunda... ] sapa Khaira dengan berurai air mata.


[Iya Nak. Puji syukur, Radit sudah menemukanmu. Sehat Nak?] Bunda Dyah juga berurai air mata.


[Alhamdullilah sehat Bunda. Ayah dan Bunda sehat?]


[Iya, kami sehat. Nak, Radit berada di situ dengan restu dan izin dari kami. Beri Radit kesempatan kedua ya Nak, beri dia waktu untuk membuktikan dirinya, memantaskan dirinya menjadi suami kamu.] Nasihat Bunda Dyah dari sambungan telepon itu.


[Khaira butuh waktu Bunda, Khaira membutuhkan pembuktian nyata. Khaira tidak ingin disakiti lagi, Bun.] ucapnya sembari terisak.

__ADS_1


[Iya, pelan-pelan saja Khaira. Allah Maha Pengampun dan Pemaaf, semoga kamu bisa memaafkan Radit ya Nak. Semua orang layak mendapatkan kesempatan kedua, beri suamimu itu kesempatan kedua ya Nak...]


[Ya sudah, kalian baik-baik ya... Sehat-sehat di sana. Sering berikan kami kabar. Kami doakan kalian berdua hidup rukun, saling menyayangi. Dit, titip Khaira ya Dit. Ini kesempatan kedua dan terakhir kamu. Kalau di kesempatan ini kamu gagal, tidak ada peluang lagi buat kamu ya, Dit.] ucap Ayah Ammar yang diangguki Ayah Wibi dan Bunda-Bunda mereka.


__ADS_2