Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Singapura


__ADS_3

Hari yang dinantikan untuk Radit, Khaira, dan Arsyila untuk berangkat ke Singapura tiba juga. Perjalanan ini menjadi perjalanan perdana bagi Radit dan Khaira membawa serta Arsyila ke luar negeri.


Arsyila nampak begitu excited ketika diberitahu akan diajak Papa dan Mamanya ke Singapura. Bahkan sejak semalam, gadis kecil bertanya-tanya bagaimana naik pesawat itu, di Singapura akan ada apa saja. Semua ditanyakan oleh Arsyila yang memang sangat kritis.


"Syila Sayang ... nanti waktu di Singapura ada saat Mama harus mengajar dulu ya. Syila menunggu di hotel sama Papa yah. Kalau Mama sudah selesai mengajarnya, kita jalan-jalan ya ke Singapura." ucap Khaira yang memberi penjelasan kepada Arsyila.


Arsyila pun mengangguk, tanda dia paham dengan apa yang disampaikan Mamanya. "Okay Ma ... Syila akan tunggu sama Papa. Bawakan Syila buku ya Ma ... buku dari Kak Aksara." ucapnya yang meminta supaya buku dari Aksara harus dibawa.


Khaira pun tersenyum dan mengacak gemas rambut Arsyila. "Siap Sayang ... bukunya Mama bawakan, nanti di Singapura kita belikan oleh-oleh ya buat Kak Aksara."


"Okay Mama ... nanti Kak Aksara kita belikan oleh-oleh." ucap Arsyila dengan begitu bahagia.


Kini mereka bertiga sudah berada di Bandara dan menunggu waktu untuk masuk ke dalam pesawat. Dari ruang tunggu yang ada di dalam Bandara, terdapat kaca besar di mana kita bisa melihat pesawat dari jauh.


"Papab... itu pesawat Pa? Kita naik pesawat yang mana Pa? Yg putih-biru, putih-hijau, atau putih-merah?" tanya Arsyila sembari jarinya menunjuk pada beberapa pesawat yang terlihat oleh matanya.


Radit pun menggendong Arsyila. "Kita naik yang putih-biru itu Sayang...." jawab Radit sembari menunjuk pesawat dengan warna putih-biru itu.


"Yeay... Asyik! Arsyila mau naik pesawat. Pesawatnya terbang tinggi kan Pa? Pesawatnya terbang ke bulan juga Pa?" tanya Arsyila kecil yang begitu ingin tahu dengan segala sesuatu.


"Kalau ke bulan, pesawatnya beda Sayang. Ini namanya pesawat penumpang sebagai transportasi udara. Kalau ke bulan ada pesawat yang cepat dan canggih namanya roket." Radit memberikan penjelasan sederhana kepada putrinya.


"Roket sama seperti di Ensiklopedia Antariksa ya Pa?" lagi Arsyila tak bosannya bertanya kepada Papanya.


"Iya ... Roket seperti yang ada di buku Ensiklopedia Antariksa milik Arsyila di rumah kan? Hayo, coba Syila ingat enggak, apa nama lain dari Roket?" kali ini Radit mencoba memberi tebakan kepada Arsyila.


"Roket itu pesawat luar angkasa, Papa...." jawabnya dengan begitu yakin.


Radit tersenyum dan mencium pipi Arsyila. "Pandai banget sih Anak Papa, belajarnya sama siapa?"


"Sama Mama dan juga sama Papa...." sahut Arsyila dengan cepat.


Sayangnya keseruan obrolan Papa dan Anak itu terjeda karena pemberitahuan supaya penumpang bisa segera memasuki pesawat.

__ADS_1


Dengan sigap, Radit menggendong tas ransel di bahunya, dia juga menggendong Arsyila dengan satu tangan. Sementara tangan satunya dia gunakan untuk menggandeng tangan istrinya.


"Tidak ada yang ketinggalan kan Sayang?" tanya Radit kepada Khaira.


"Enggak sudah semua kok Pa ... perlengkapan untuk Arsyila kan di tas ransel yang digendong Papa itu." ucapnya sembari memasuki pesawat.


Radit pun tersenyum dan melirik istrinya. "Perjalanan pertama kita bawa Arsyila naik pesawat ya Sayang." ucapnya.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... pertama kalinya Arsyila naik pesawat. Semoga enggak takut ya anaknya."


Begitu memasuki pesawat, Arsyila duduk di tengah-tengah, di antara Mama dan Papanya. "Arsyila senang? Are you happy?" tanya Khaira kepada Arsyila yang sudah bersiap dengan buku di tangannya.


Arsyila pun menganggukkan. "I am so happy, Ma..." jawabnya dengan cepat.


"Arsyila mau membaca buku? Mau Mama bacakan?" Khaira menawarkan kepada Arsyila untuk membacakan buku yang sedang dibawa Arsyila. Tujuannya untuk mengalihkan fokus Arsyila, saat pesawat akan take off, mengambil posisi untuk terbang tidak jarang banyak orang yang ketakutan. Karena itulah, Khaira mencoba mengalihkan fokus Arsyila.


Arsyila justru menggelengkan kepalanya dan mulai membuka halaman pertama bukunya. "Syila baca sendiri aja Mama ... tapi, Mama dengerin Syila ya." Pinta anak itu supaya Mamanya mendengarkan saat dia membaca.


"Tentu Sayang ... akan Mama dengarkan."


"Syila takut? Mau dipangku Papa?" tawar Radit yang ingin memangku Arsyila.


Dengan cepat Arsyila menggelengkan kepalanya. "Tidak Pa ... Syila berani." balasnya sembari melanjutkan membaca bukunya.


Radit pun tersenyum dan mencium puncak kepala Arsyila. "Bagus ... Sama seperti Cinderella ya Sayang. Be kind and have courage. Menjadi anak yang baik hati dan memiliki keberanian." ucap Radit yang tiba-tiba saja teringat dengan salah satu karakter Disney Princess kesukaan Arsyila.


"Iya Papa...." sahut Arsyila dengan cepat.


Tidak terasa pesawat udara itu telah mengudara dua jam lamanya, dan kini mereka hendak landing di Bandara Internasional Changi, Singapura.


"Sitbealt nya dipakai lagi ya Sayang ... pesawatnya akan landing. Syila tahu enggak, di Bandara Changi ada air terjun dalam ruangan yang bagus banget. Namanya Jewel Changi." cerita Khaira memberitahu Arsyila.


"Oh ya ... jewel itu diamond Ma?" tanya Arsyila dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Iya Sayang ... air terjun itu didesain layaknya diamond. Bagus banget." lagi jawab Khaira.


"Boleh Arsyila lihat air terjun itu Ma?" tanyanya kepada sang Mama.


"Kalau Uncle Adam belum menjemput, kita bisa lihat sebentar. Akan tetapi, kalau Uncle Adam sudah menjemput kita, kita lihatnya waktu akan kembali ke Jakarta ya." ucap Khaira memberi pengertian kepada Arsyila.


Beruntung Arsyila bukan tipe bocah yang banyak merengek, bahkan di usianya yang ketiga tahun seringkali Arsyila justru terlihat dewasa.


"Okay Mam ... Next time ya." sahutnya dengan cepat.


Waktu landing pun tiba, perlahan pesawat itu mengurangi ketinggiannya di udara. Menukik, berputar dan kembali mengurangi ketinggiannya. Perlahan-lahan Pilot membawa pesawat itu kian turun, hingga roda-roda pesawat pun terasa kembali berlari begitu kencang saat telah menyentuh aspal. Penerbangan mereka dari Jakarta hingga Singapura selamat sampai tujuan.


Menunggu pintu pesawat dibuka, lantas mereka bertiga bersiap turun dari pesawat. Kali ini Arsyila ingin berjalan tidak ingin digendong oleh Papanya. "Syila mau jalan saja Papa...." pintanya sembari menggenggam tangan Papanya dan berjalan mengekori di belakang Papanya.


Radit pun tersenyum. "Iya ... tapi nanti digandeng Papa dan Mama ya. Syila suka naik pesawat? Happy?"


"Iya ... suka. I am very happy now." sahut Arsyila yang membuat Radit dan Khaira pun tertawa dengan Arsyila.


Setelah keluar dari pesawat dan mengambil koper mereka, kemudian mereka berjalan menuju ruang kedatangan. Dari jauh nampak Adam sudah menunggu mereka.


"Hei Khai ... How are you? Lama enggak ketemu." sapa Adam sembari menjabat tangan Khaira.


"I am fine. Aku baik tentunya, Dam." sahut Khaira.


"Hei Kak ... gimana kabarnya?" sapa Adam dengan melakukan tos dan memeluk Radit.


"Baik juga. Kamu gimana?" tanya Radit sembari menepuk pundak Adam.


"Baik juga dong Kak...." sahut Adam. Kemudian Adam melihat pada gadis kecil yang berdiri di belakang Khaira.


"Hai little girl, ini pasti Arsyila ya?" sapanya sembari tersenyum kepada Arsyila.


Khaira lantas berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Arsyila. "Disapa Sayang ... dia Uncle Adam, temannya Mama dan Papa."

__ADS_1


Arsyila lantas melambaikan tangannya. "Hei Uncle. Aku Arsyila...." ucapnya memperkenalkan dirinya kepada Adam.


__ADS_2