Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Kesalahpahaman


__ADS_3

Mendengar Khaira sudah sembuh dan janin dalam kondisi yang baik, yang merasa berbahagia bukan hanya suaminya, tetapi juga Arsyilla. Gadis itu sudah sangat ingin bermain dengan Mamanya, akhirnya kini dia pun bisa bermain dengan Mamanya di luar kamar.


“Ma, temenin Syilla melukis ya Ma … di taman di samping rumah ya.” ajak Arsyilla kepada Mamanya itu.


Khaira sebenarnya masih takut jika harus kembali menginjakkan kakinya di taman yang berada di samping rumah. Bayang-bayang bagaimana dia jatuh, dan bagian perut hingga pahanya terkena pot masih saja membuat wanita itu bergidik ngeri. Akan tetapi, lantaran Arsyilla yang mengajak ke sana, maka Khaira pun mengiyakan ajakan anaknya itu.


“Syilla melukis di sini ya, Mama temenin duduk di sini ya. Mama masih takut Syilla, dulu kan Mama jatuh di situ, jatuh yang membuat Mama harus tiduran di tempat tidur selama 7 hari. Jadi, kita di sini saja ya Sayang.” Ajaknya kepada Arsyilla.


Dalam hal ini sekaligus sebagai seorang Mama, sebagai orang tua, dia juga menunjukkan kelemahannya kepada Arsyilla. Seorang Ibu walaupun selalu dilihat sebagai seorang wanita kuat dan hebat, tetapi nyatanya Khaira sendiri tidak sehebat dan sekuat itu. Ada satu titik di mana dia merasa takut, ragu, bahkan terkadang merasa seperti trauma. 


“Iya Ma … kita duduk di evamart sini saja ya Ma.” ajak Arsyilla kepada Mamanya itu.


Di tempat situlah, dengan memandang berbagai bunga dan aglonema yang tumbuh menghijau, Khaira dan Arsyilla mengisi waktu siang hari mereka. “Sambil Mama suapin ya Sayang?” kali ini Khaira sekaligus menawarkan kepada Arsyilla untuk sekalian menyuapi anaknya itu.


Arsyilla pun mengangguk, “Oke Ma … sup yang Syilla tadi yang memasak Mama kan Ma?” tanyanya kepada sang Mama.


“Iya Sayang … tadi kan Mama masakkan sedikit sup ayam dan sayuran buat kamu. Mama ambilkan dulu ya.” ucapnya sembari kembali masuk ke dalam rumah, dan mengambilkan makan siang untuk Arsyilla. 


Sembari menunggu putrinya yang sedang menggambar dan mewarnai, lebih baik dia sekalian menyuapi Arsyilla makan siang.


Arsyilla pun makan dengan lahap disuapi oleh Mamanya, tangannya sembari sibuk menggambar dan mewarnai di beberapa buku mewarnainya. 


“Ma, kita susul Papa ke kantornya boleh enggak Ma? Syilla mau jalan-jalan di taman kota Ma.” Ajaknya kepada sang Mama.

__ADS_1


Mungkin selama Khaira bedrest dan sampai sekarang, mereka memang hanya berdiam di rumah, sehingga Arsyilla merasa jenuh dan mengajak Mamanya untuk jalan-jalan di taman kota.


Tidak langsung mengiyakan, tetapi Khaira berpikir terlebih dahulu dan mengabari suaminya bahwa dia dan Arsyilla akan menyusul ke kantornya menjelang sore. Akan tetapi, tiba-tiba saja terlintas di pikirannya jika sedikit membuat kejutan dan langsung datang ke kantor adalah sebuah ide baik. Oleh karena itulah, Khaira pun mengangguk.


“Oke Sayang … nanti kita naik taksi online dan susul Papa ke kantornya ya. Kita buat kejutan buat Papa.” ucap Khaira sembari masih menyuapi Arsyilla.


Hingga akhirnya, mereka sama-sama mandi dan bersiap untuk menyusul suaminya ke kantornya. Lagipula, kantor itu juga adalah milik mertuanya sendiri sehingga tidak masalah jika langsung datang ke kantor suaminya itu.


“Mama tidak menelpon Papa sebelumnya?” tanya Syilla kepada Mamanya. Kini mereka sudah berada di dalam taksi yang siap mengantarkannya ke WNS Finance.


Khaira pun menggeleng, “Tidak Sayang … kan kita mau buat kejutan buat Papa. Ini Mama juga bawakan kue Brownis kesukaannya Papa.” ucap wanita itu dengan membawa sebuah paper bag yang berisi kue Brownis untuk suaminya itu.


Tidak berselang lama, keduanya turun di depan lobby perusahaan. Khaira pun berjalan dengan menggandeng Arsyilla, masuk dan menyapa receptionist yang ada di sana.


“Sore Kak, kamu menemuin Pak Radit.” sapanya kepada bagian receptionist tersebut.


Khaira pun berjalan menuju lift sembari menggandeng tangan Arsyilla, dia bertanya-tanya tamu dari mana dan siapa yang datang menemui suaminya itu. Biasanya jika ada tamu dari cabang tertentu biasanya suaminya akan selalu bercerita dengannya. Akan tetapi, kali ini kenapa suaminya tidak bercerita sama sekali.


Keluar dari lift dan menuju ruangan para auditor, Khaira berjalan dengan menenangkan dirinya sendiri. Dia tetap bersikap biasa, mengagandeng tangan Arsyilla, sekalipun dalam hatinya bertanya-tanya.


Begitu tiba di ruang penerimaan tamu yang ada di lantai tempat suaminya bekerja, rupanya di sana ada Fanny. Ya, lagi-lagi wanita itu ada di sana dan kini terlibat obrolan dengan suaminya.


Arsyilla yang melihat sosok Papanya pun sontak langsung berlari dan memeluk Papanya itu, “Papa … Syilla datang sama Mama.”

__ADS_1


Radit pun menggendong Arsyilla, tetapi ekor matanya tertuju pada istrinya yang berdiri tidak jauh di ruangan itu.


“Syilla Sayang … kita ke ruangan Eyang aja yuk, keliatannya Papa sedang ada tamu. Yuk, Sayang …” ajaknya dan menurunkan Arsyilla dari gendongan suaminya.


“Di sini aja Sayang … dia bukan tamu.” ucapnya dengan menunjukkan wajah kesal.


Akan tetapi, seakan tidak ingin ribut di depan Fanny dan juga Arsyilla, Khaira memilih pergi dari tempat itu. Perasaannya yang tidak enak, rupanya karena Fanny datang ke kantor dan menemui suaminya. Dalam hatinya pun bertanya-tanya, apakah memang Fanny memang sering datang ke kantor? Sudah berapa lama mereka bertemu seperti ini? Berbagai pikiran buruk pun menghinggapi pikiran Khaira.


Lebih memilih pergi, dan membiarkan Arsyilla masih bersama dengan Papanya, karena Arsyilla rupanya masih ingin bersama Papanya.


Ada rasa sakit, saat suaminya tidak jujur kepadanya. Terlebih Khaira sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana selama ini Fanny berusaha menggoda suaminya. Rasa takut akan bayang-bayang masa lalu pun seakan kembali hadir dan memenuhi pikirannya.


Saat Khaira benar-benar ingin mempercepat langkah kakinya, ada Miko yang berjalan dari arah berlawanan dengannya.


“Hai Khai … tumben kamu datang kemari?” sapa pria itu, seorang kakak tingkat Khaira dulu di kampus. Pria yang pernah berkata bahwa dirinya menyukai Khaira.


“Iya, mau antar Arsyilla saja katanya pengen ketemu Papanya.” jawab Khaira. Kali ini dia harus menyembunyikan luapan perasaan itu, dan menjawab Miko dengan raut muka yang keliatan biasa saja.


“Ada kok Radit, tadi ada tamu sih. Cewek yang memasksa mau ketemu Radit, lama tuh tadi nunggu. Baru aja Radit keluar ruangan dan nemuin tuh cewek.” ucap Miko yang seolah memberitahukan kepada Khaira.


Khaira pun mengangguk, “Iya … udah liat kok tadi. Aku mau toilet dulu, duluan ya.” ucapnya yang kemudian menganggukkan kepalanya dan terus berjalan melewati Miko begitu saja.


Dalam batinnya, wanita itu pun berbicara, “Apa benar yang dikatakan Miko kalau Mas Radit baru saja menemui Fanny. Kenapa aku jadi gak suka kayak gini. Aku gak suka ada wanita ganjen yang deket-deket suamiku.” 

__ADS_1


Terus berjalan dan sesekali membuang napas, akhirnya Khaira memilih menuju sebuah taman yang berada tidak jauh dari perusahaan mertuanya itu. Menyandarkan punggungnya di kursi taman yang berwarna putih dan melihat beberapa orang yang berlari-lari, bermain sepatu roda, atau sekadar jalan-jalan di area taman itu.


Hingga ada sosok wanita, yang tiba-tiba saja duduk di samping Khaira, “Halo Bu … kita ketemu lagi.” 


__ADS_2