
Tekanan pada perineum, usus, dan kandung kemih seolah *******-***** area perut Khaira. Tak jarang rasa sakit itu seperti remasan, pegal, hingga kram di area perut, pangkal paha, hingga pinggang. Kendati demikian, rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuh dalam waktu sepersekian detik membuat Khaira itu terisak dalam tangisannya.
“Kalau ada apa-apa, aku minta maaf ya Mas …” ucap Khaira kali ini ketika kembali dihantam rasa sakit itu.
Dengan cepat Radit pun menggelengkan kepalanya, “Jangan bicara yang aneh-aneh Sayang … tidak akan terjadi apa-apa. Kita akan selalu bersama.” sahutnya lagi.
Hingga akhirnya Khaira mendesis, bagian perutnya terasa begitu kencang dan seolah ada sesuatu yang harus dia keluarkan segera.
“Mas, keliatannya sekarang waktunya … sakit banget, Mas … sakit. Aduh, kenapa ini badanku sakit semua. Sakit ...” ucap Khaira lagi-lagi dengan berlinangan air mata.
“Tahan dulu Sayang, aku panggilkan perawat lagi ya. Sabar sebentar.” Radit kembali memencet tombol yang berada di atas kepala istrinya.
Tidak menunggu waktu lama, perawat pun datang.
“Bagaimana Pak?” tanya perawat tersebut kepada Radit.
“Perut Istri saya semakin kencang, mungkin saja sudah waktunya melahirkan.” sahut Radit dengan begitu cemas.
Lagi-lagi, perawatan meminta Khaira untuk membuka pahanya dan kembali melakukan cek dalam. “Tahan napas ya Bu … saya akan cek lagi. Ya, sudah pembukaan lengkap. Tahan sebentar ya Bu, kami akan panggilkan Dokter Indri untuk membantu proses persalinan.” ucap perawat tersebut.
__ADS_1
Sekian menit berlalu dan Khaira masih merintih kesakitan. Wajahnya benar-benar memerah dan matanya begitu sembab, bahkan rapi panjangnya terlihat tidak rapi karena bergerak-gerak di atas bantal. Hingga Dokter Indri pun datang dan beberapa perawat juga turut menyertai dengan membawa berbagai peralatan persalinan.
“Sudah lengkap pembukaannya ya Bu … ini bahkan kepala babynya sudah kelihatan. Begitu perut terasa kencang dan ada rasa ingin mengejan, langsung ambil napas dalam-dalam dan keluarkan ya Bu. Seperti waktu melahirkan Arsyilla dulu. Kalau perut belum terasa kencang, jangan mengejan karena bisa merobek jalan lahir.” penjelasan dari Dokter Indri kepada Khaira.
Saat perutnya terasa kencang, Khaira langsung mempersiapkan diri dan memegang kuat lengan suaminya. Pun demikian, Radit juga mempersiapkan diri dan hatinya, menemani setiap proses untuk menyambut buah hatinya. Radit berusaha kuat dan selalu mendampingi istrinya, padahal hatinya pun tak kuasa melihat istrinya yang terlihat begitu kecapekan dan keluh kesakitan yang hampir menyertai sepanjang proses persalinan yang dialami oleh istrinya tersebut.
Pada ejanan pertama, rupanya si baby masih belum keluar. Padahal semua tangisan dan isakan sudah melebur menjadi satu menemani Khaira mengejan, mengambil napas hingga terdengar pekikan di telinga Radit.
“Ayo Sayang … ambil napas lagi. Kalau mengejannya kuat nanti babynya segera keluar. Yuk, semangat Sayang!” lagi Radit menyemangati istrinya yang sudah keliatan begitu kepayahan.
“Benar Bu Khaira, sedikit lagi. Kepalanya sudah keliatan. Ambil napas kuat-kuat ya Bu, dan dorong di sekitar panggul. Satu dorongan lagi dedek bayinya akan keluar.” kali ini giliran Dokter Indri yang memberikan instruksi kepada Khaira.
Sayangnya. Tatapan mata Khaira seolah meredup, isakannya juga semakin lemah, beberapa kali wanita itu tampak menggelengkan kepalanya, “Mas, aku enggak kuat … sakit banget. Aku capek, Mas.” keluhnya di tengah perjuangan melahirkan buah hatinya.
Hingga perut Khaira terasa kian kuat, gelombang kontraksi lagi-lagi datang dan kali ini Khaira berusaha bertahan. Mengambil napas dalam-dalam, mengejan sekuat tenaga, dan mendorong tubuhnya ke depan untuk melahirkan buah hatinya. Beberapa ejanan kemudian, hingga akhirnya …
“Mas Radit!!!” teriakannya kali ini menyudahi perjuangannya.
Semua daya dan upaya dia kerahkan, bayi laki-laki anak kedua mereka telah lahir. Akan tetapi, bayi yang lahir itu sama sekali tidak terdengar suara tangisan. Momen paling dramatis yang dialami Khaira, dia merasa telah melahirkan tetapi suara tangisan bayi baru lahir tidak dia dengar.
__ADS_1
Kian hancur dirinya, saat ini.
“Mas, baby kita gimana Mas?” tanyanya yang kali ini menangis sekencang-kencangnya. “Adik bayi, gimana Mas?” tanyanya lagi.
Hingga akhirnya, bayi laki-laki yang baru lahir itu ditaruh di atas dada Khaira. Dalam derai air matanya, bayi itu menutupkan matanya, mulutnya terlihat biru, kendati demikian dia bisa merasakan detak jantung bayinya dan denyutan di sekitar tali pusat si bayi.
“Adik … ini Mama, Dik. Adik, dengar Sayang … ini Mama.” ucap Khaira dengan terisak. "Adik ... Adik ..." suara Khaira terdengar begitu pilu memenuhi ruang tindakan persalinan itu.
Kemudian dengan cekatan, Dokter Indri memasukkan sebuah selang ke hidung si bayi yang baru lahir itu. Hingga keluar cairan di sana, merasa masih begitu sunyi, bayi yang semula ditaruh di dada Khaira itu pun diangkat secara terbalik, Dokter memegang kakinya dan menepuk pantatnya beberapa kali hingga samar-samar mulai terdengarlah suara dari bayi itu.
Oek ... Oek ...
Tangisan pertama, yang baru Khaira dengar kurang lebih sepuluh menit usai persalinan benar-benar membuatnya bagai di ambang hidup dan mati. Hatinya terasa begitu sesak, dan saat kali pertama mendengar tangisan itu, seluruh air mata layaknya tumpah ruah bagai derai hujan yang jatuh dari langit membasahi bumi.
“Babynya meminum air ketubannya sendiri, Bu … sehingga tidak menangis saat dilahirkan. Ada sumbatan di saluran pernapasannya.” ucap Dokter Indri kembali menaruh bayi laki-laki itu di atas dada Khaira untuk mengikuti proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dan sembari Dokter akan menjahit kembali jalan lahir yang berada di bawah sana.
“Terima kasih sudah berjuang bersama Mama, Dik …” ucap Khaira dengan bibir dan lidah yang terasa bergetar.
Sama halnya dengan Radit, pria itu sama sekali tak mampu lagi berkata-kata saat mendampingi istrinya dan juga momen saat lahir dan bayinya sama sekali tidak menangis. Ini adalah kelahiran tersunyi yang dia hadapi. Saat menyambut Arsyilla, suara tangisan bayi mampu menghangatkan hatinya dan kini bayi lahir begitu sunyi, tanpa suara sama sekali, membuat hati pria itu terasa sesak. Menjawab dan menenangkan istrinya, dia tidak lagi mampu.
__ADS_1
Akan tetapi, saat Dokter dengan begitu cekatan melakukan tindakan medis hingga selang sepuluh menit, bayinya barulah menangis, Radit pun turut meneteskan air matanya.
“Welcome to our life Baby A Junior!” ucap pria itu sembari memegangkan jari telunjuknya yang kini dalam genggaman bayi berjenis kelamin laki-laki itu.