
Keesokan harinya, masih berada di Rumah Sakit. Khaira dengan tertatih berusaha untuk mandi dan menyegarkan dirinya. Tidak enak jika terus-menerus tidak mandi, yang ada rasa letih dan capek di badannya justru tidak akan hilang. Oleh karena itu, pagi hari Khaira meminta bantuan suaminya untuk menolongnya ke kamar mandi.
"Mas, bantuin aku ke kamar mandi dong, Mas …" pintanya pagi itu kepada suaminya. Sebab di kamar itu, Khaira hanya ditemani oleh suaminya, sehingga yang bisa dimintai bantuan hanyalah suaminya saja.
Sudah tidak perlu ditanya lagi, Radit selalu siaga dan akan selalu mendampingi dan menolong istrinya itu. "Gimana Sayang, kamu mau ngapain ke kamar mandi?” tanyanya dengan penuh rasa was-was.
“Mau mandi, Mas … dari semalam abis melahirkan belum mandi.” sahutnya kepada suaminya sembari mengernyitkan hidungnya, seolah dia mencium bau badannya yang terasa tidak segar.
Radit pun segera mendekat, kemudian dia langsung membopong istrinya itu menuju kamar mandi. Khaira pun tampak tercekat dengan tindakan impulsif suaminya itu. Wanita yang matanya masih sembab dan rambutnya begitu tidak tertata itu membolakan kedua matanya sembari melingkarkan tangannya di leher suaminya.
“Kamu mandi aja, aku siapkan semua baju ganti dan semua yang kamu butuhkan ya … nanti aku anter ke depan pintu kamar mandi. Kalau sudah selesai, jangan lupa panggil namaku, jangan berjalan sendirian.” pesannya kepada sang istri dengan panjang dan lebar.
Lantaran menginap di kamar VIP, maka di kamar mandi itu terdapat dua pilihan air untuk mandi yaitu air dingin dan air panas. Sementara, karena Khaira pasca bersalin, dia memilih air hangat yang bisa menyegarkan badannya dan merilekskan setiap otot dan sendi yang terasa begitu sakit sehabis melahirkan. Sementara, di luar Radit tampak menyiapkan baju ganti untuk istrinya, tidak lupa menyiapkan diapers dan juga korset yang digunakan para ibu usai melahirkan.
Begitu selesai dari kamar mandi, seperti pesannya sebelumnya, Radit segera membopong lagi istrinya itu untuk keluar dari kamar mandi dan mendudukannya di sofa yang berada di dalam kamar rawat inapnya.
“Kamu keramas ya Sayang?” tanya Radit usai mendudukkan istrinya itu.
__ADS_1
Khaira pun menganggukkan kepalanya, “Iya … biar bersih semuanya, Mas. Minta tolong sisir di tasku ya Mas, aku mau sisiran.” ucapnya lagi.
Radit pun tanpa bersuara, langsung mengambil sebuah clutch yang berisi sisir hingga keperluan make up istrinya. Akan tetapi, pria itu segera mengambil sisir dari clutch itu lalu mulai menyisiri rambut Khaira yang usai keramas pagi itu.
“Biar aku sisirin. Tangan kamu bengkak tuh abis diinfus. Untung saja, waktu kamu minta infusnya dilepas dibolehin sama perawatnya.” ucapnya yang merasa tidak tega melihat bengkak dengan warna hampir biru di sekitar pembuluh darah di tangan istrinya.
Dalam diam, Khaira pun tersenyum. Sebagai seorang wanita, dia sangat senang diperlakukan dengan begitu manisnya untuk suaminya sendiri. Bahkan terkadang, tanpa Khaira harus meminta, Radit sudah peka dan sering berinisiatif untuk melakukan lebih dulu.
“Makasih Mas … abis itu anterin aku lihat Adik Bayinya ya Mas … aku sudah kangen sama Baby Boy kita.” ucapnya sembari menengadahkan wajahnya ke atas guna bisa melihat wajah suaminya.
“Iya … kamu minum teh hangatnya dulu dan sarapan dulu. Abis itu, aku anter untuk lihat babynya.” sahut Radit.
Setelahnya, Radit memilih meminjam sebuah kursi roda dan mendorong istrinya itu menuju ruangan tempat si bayi ditempatkan dalam inkubator. Beberapa meter berjalan, akhirnya mereka tiba di ruangan yang berisi belasan bayi dan hampir separuh berada di dalam inkubator. Melihat bayinya dari tabung inkubator itu, kembali Khaira meneteskan air matanya. Ada rasa haru dan pengalaman pahit yang seolah kembali berputar saat ini.
Radit pun yang berdiri di belakang Khaira berusaha mengusapi pundak istrinya itu. Memberi tepukan perlahan dan juga usapan yang seakan menenangkan istrinya itu. “Baby kita, Sayang …” ucap Radit sembari kedua tangannya berada di pundak istrinya.
Khaira pun turut mengangguk, “Iya … Baby kita, Mas. Dulu waktu melahirkan Syilla, babynya bisa langsung aku gendong. Sekarang babynya masih di inkubator. Maafin aku ya Mas …” ucapnya kali ini. Ada perasaan sedih dalam hati saat bayinya lahir dan tidak bisa menangis.
__ADS_1
“Untuk apa kamu meminta maaf Sayang … semua ini bukan salahnya kamu. Kan setiap bayi itu punya cerita sendiri, dan mungkin kali ini kita juga semakin dibesarkan hatinya sama Allah.” Radit berkata dan terus menenangkan hati istrinya itu.
Perlahan ada anggukan samar dari kepala Khaira, “Iya … semoga kamu sehat-sehat ya Sayang. Mama dan Papa sudah pengen gendong kamu, peluk kamu, cium kamu.” ucap Khaira lagi dengan tangannya meraba inkubator itu.
Untuk mengalihkan rasa sedih dan juga trauma pasca melahirkan yang dialami istrinya, Radit pun bertanya kepada istrinya itu. “Jadi, nama untuk si baby sapa nih? Katanya Mamanya yang mau memberi nama.” ucap Radit yang bertanya tentang nama si baby kepada Khaira.
“Aku berharap bayi ini akan menjadi sosok yang berakar kuat, tertanam, murah hati, dan penuh syukur. Jadi … aku ingin memberinya nama Arshaka. Ya, Arshaka.”
Khaira mengatakan nama itu dengan tersenyum kepada bayinya yang masih berada di inkubator, tetapi dia menengadahkan wajahnya guna menatap wajah suaminya. “Gimana Mas? Arshaka, kita bisa memanggilnya Shaka …” ucap Khaira lagi.
Radit pun tersenyum, “Nama yang bagus dan memiliki arti yang sangat indah. Iya, boleh … nama Baby Boy kita adalah Arshaka. Nama lengkapnya Arshaka Pramudya Putra Raditya.” ucapnya dengan tersenyum saat mengucapkan nama lengkap dari bayi laki-lakinya tersebut.
“Makasih Mas … sudah setia menemani aku, sudah selalu mendampingi aku saat melahirkan Arshaka.” Khaira berkata dengan sungguh-sungguh. Tanpa kehadiran suaminya, sangat tidak mungkin dia bisa menjalani masa kehamilan hingga persalinan dengan sekuat ini. Saat dirinya benar-benar rapuh dan tidak menyerah di tengah jalan, tetapi suaminya itu selalu mengatakan kepadanya untuk selalu bersemangat, mensupportnya dengan kasih sayang dan perhatian yang tidak terkira.
“Sudah pasti, aku akan menemani kamu, Sayang. Lihat, baby kita lucu dan cakep ya Sayang … sama kayak Papanya.” goda Radit yang sontak membuat Khaira pun tersenyum lebar.
“Cakepan Arshaka, Mas … daripada kamu.” sahut Khaira dengan cepat.
__ADS_1
Radit pun segera mengacak puncak kepala istrinya, “Kamu yah … posisi Papa sudah tergeser, Dik … dulu Papa paling cakep di rumah. Baru beberapa jam kamu lahir, dan Mama sudah mendeklarasikan kalau kamu lebih cakep.” candanya sembari tertawa.