Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Tangis Haru


__ADS_3

"Senyum ya...", ucap Radit dengan lembut tepat di telinga Khaira.


Tama yang melihat Khaira tengah berfoto bersama dengan suaminya, hatinya seperti sebuah kertas yang berada dalam genggaman tangan, lalu kertas itu diremas-remas. Perasaan yang teramat sakit melihat orang yang kita cintai ternyata telah menjadi milik orang lain.


Oleh karena itu, Tama meminta pamit kepada Khaira, Metta, dan Radit.


"Khai, gue lanjut pergi dulu. Sekali lagi congratulations ya... Gue ikut seneng atas pencapaian lo." ucap Tama sembari sekali lagi menjabat tangan Khaira.


"Makasih ya Tam, semoga kamu juga segera nyusul ya..." balas Khaira dengan tersenyum.


Metta yang situasi ini tentu juga merasa tidak enak, di satu sisi Khaira telah memiliki Radit, sementara di sisi lain Tama menyukai Khaira.


"Mau foto lagi enggak Khai?" tanya Metta begitu Tama telah berlalu pergi.


"Keliatannya sudah cukup deh." jawab Khaira yang sudah merasa cukup lama berfoto-foto.


"Ya sudah, kalau begitu gue cabut perpustakaan ya." ucap Metta sembari menyerahkan handphonenya Radit. "Terima kasih ya Kak, tadi sudah difotoin."


"Makasih juga ya Metta." sahut Tama sembari menerima handphonenya.


Setelah itu, Metta pun meninggalkan Khaira yang masih bersama Radit.


Sekarang hanya tinggal Khaira dan Radit, keduanya kembali ke mode awal yaitu mode canggung.


"Kita mau di sini atau kemana?" tanya Radit sembari menatap Khaira.


"Aku mau langsung pulang aja, Mas." balasnya tanpa enggan menatap wajah Radit.


"Ya sudah yuk, sini aku bantu bawain. Aku nebeng kamu ya. Tadi aku ke sininya naik taksi online." ucap Radit sembari membawa beberapa hadiah kelulusan yang ia terima dari Metta dan Tama.


"Iya...", sahut Khaira.


Radit pun membawa beberapa hadiah yang Khaira terima dengan tangannya, lalu ia memberikan bunga darinya pada Khaira. " Kamu bawa yang ini ya, yang lain biar aku yang bawa."


Khaira nampak bingung, mengapa dia hanya diperbolehkan Radit membawa bunga darinya saja? Tetapi, Khaira juga tidak menolak. Hari ini, dia cukup bahagia dengan kelulusannya, dia tak ingin mengubah suasana hatinya hanya karena berdebat dengan Radit.


Radit pun mulai mengikuti langkah kaki Khaira menuju mobilnya yang terparkir di parkiran fakultasnya.


"Biar Mas saja yang bawa mobilnya." ucap Radit sembari meminta kunci mobil pada Khaira.


Khaira pun mengangguk dan ia menyerahkan kunci mobilnya pada Radit.

__ADS_1


Radit mendahului langkah kaki Khaira, ia berjalan mendekati mobil Khaira lalu membuka pintu terlebih dulu untuk Khaira.


Khaira justru ragu dengan sikap Radit saat ini, mengapa lagi-lagi Radit bersikap baik kepadanya.


"Ayo, masuklah..." Radit mengingatkan Khaira untuk segera masuk ke dalam mobil.


Akhirnya Khaira pun menuruti, saat Khaira telah masuk. Radit segera memutari mobil itu dan mengambil duduk di kursi driver.


Radit telah menghidupkan mesin mobil, tapi ternyata dia tidak langsung menjalankannya.


"Khaira..." untuk pertama kali Radit memanggil nama Khaira dengan benar. Bukan dengan sebutan 'cengeng, anak kecil, atau sekadar Hei.'


Khaira seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Dia nampak menoleh pada Radit, dengan matanya yang membola lantaran tak percaya dengan yang dia dengar saat ini.


Radit menggeser posisi duduknya menghadap Khaira. "Khai, maafkan Mas untuk malam minggu kemarin ya. Mas sudah salah, dan kalau kamu marah dan sebel sama Mas itu wajar. Tetapi, kalau bisa hari ini jangan marah dulu ya. Hari ini hari bahagiamu, hari kelulusanmu. Lupakan sejenak ya marah dan sebelnya ya..." ucap Radit dengan lembut.


"Khaira...." sekali lagi Radit memanggil nama Khaira. Kali ini Radit lebih mendekatkan dirinya pada Khaira. Satu tangan memegang wajah pipi Khaira.


Cup.


Satu kecupan untuk sekian detik mendarat di kening Khaira.


Sementara Khaira hanya bisa membeku di tempatnya. "Ish, apaan sih si Nero, gak jelas banget." batin Khaira dalam hatinya, tetapi ia tidak bisa berbicara apa pun untuk saat ini.


Setelah puas mengacak gemas puncak kepala Khaira, Radit segera menjalankan mobilnya. Sementara Khaira mengalihkan pandangannya pada jalanan yang ia lewati.


Namun Khaira menjadi sadar mengapa mobilnya ini tidak menuju ke rumahnya.


"Mas, ini bukan jalan ke rumah. Kita mau kemana?" tanya Khaira pada Radit.


"Sudah kamu tenang aja, Mas gak akan mencelakai kamu kok." jawabnya enteng.


Setelah sekian puluh menit berlalu, Radit membawa Khaira turun di sebuah rumah makan Sunda dengan konsep gazebo.


"Yuk, turun..." ajaknya singkat.


Khaira pun mengangguk. Mungkin Radit hanya mengajaknya makan siang terlebih dulu karena ini memang sudah jam makan siang.


Radit mengambil langkah di depan Khaira, seolah menunjukkan jalan kemana mereka berdua harus berjalan. Tanpa ragu, Radit menarik pergelangan tangan Khaira, lalu memegangnya.


"Mas, tidak usah seperti ini juga." ucap Khaira sembari berusaha menghempaskan genggaman tangan Radit.

__ADS_1


Tapi Radit tak menghiraukannya, ia memilih terus berjalan tanpa menghiraukan wajah cemberut Khaira.


Radit berjalan hingga sampai di gazebo terujung. Khaira yang tengah cemberut tidak memperhatikan situasi di sekitarnya, hingga ia tidak menyadari kejutan lainnya untuk hari kelulusannya.


"Selamat Khaira....." ucapan selamat menyadarkan Khaira yang tengah cemberut saat itu.


Terlihat kedua orang tua dan kedua mertuanya tengah berdiri di depan gazebo menyambut kedatangannya.


Secara bergantian Khaira memeluk orang tua dan mertuanya satu per satu. Saking bahagianya gadis itu sampai menangis sesegukan. Dia tak pernah menyangka akan merasakan kebahagiaan sebesar ini.


"Calon Sarjana jangan nangis dong," Bunda Ranti terkekeh sembari memeluk Khaira.


"Dit, kamu apakan anak Ayah sampai nangis bombay kayak gini?" giliran Ayah Wibi yang menepuk-nepuk pundak Radit.


"Ini kejutan buat kamu Sayang..." Bunda Dyah mendekat dan memberikan sebuah kue dengan ucapan selamat untuk Khaira.


"Ayah dan Bunda semua repot-repot buat Khaira ya?" tanyanya masih dengan menangis.


"Ayah dan Bunda semua tidak repot. Ini semua ide dari suami kamu." ucap Bunda Ranti.


Khaira lantas menatap Radit, "apa ide dari Radit? Tetapi bagaimana mungkin, aku saja tidak mengabarinya kalau hari ini aku sidang skripsi." gumamnya dalam hati.


"Ayah, Bunda... Apa kita akan terus berdiri di sini?" tanya Radit yang membuat semua orang tuanya tertawa.


"Ah, iya... Ayo kita duduk." sahut Ayah Ammar.


Mereka berenam pun duduk bersama di dalam satu gazebo yang ternyata sudah tersedia berbagai menu makanan di sana mulai dari urap, sambal plencing, tumis kangkung, ayam bakar, ikan goreng, serta menu lainnya.


Khaira yang duduk di dekat Radit masih terisak, dengan spontan Radit merengkeh Khaira dalam pelukannya.


"Jangan nangis lagi ya... Mata kamu sembab tuh." ucap Radit dengan menggerakkan ibu jarinya di wajah Khaira, mengusapi air matanya perlahan. Setelah itu Radit mengambilkan tissue untuk Khaira.


"Kalau manten baru emang beda ya..." celetuk Ayah Ammar yang membuat semua orang tertawa.


"Radit nakal ya Khai, sampai kamu nangis kayak gitu." Goda Bunda Ranti dan Bunda Dyah bersamaan.


Khaira menggelengkan kepalanya, sambil menyeka air matanya dengan tissue. "Khaira bahagia Bunda... Makasih ya Ayah, Bundaku semuanya... Khaira gak menyangka mendapat kejutan seperti ini."


"Ini cuma kejutan kecil, lagipula ini momen yang tepat untuk merayakan kelulusanmu." jawab Ayah Wibi. "Jangan lupa berterima kasih pada Radit, dia yang merencanakan semua ini." Imbuhnya.


"Makasih ya Mas..." Khaira pun berterima kasih pada Radit, sementara Radit hanya mengangguk dan kembali menyodorkan tissue pada Khaira.

__ADS_1


__ADS_2