Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Kabar dari Aksara


__ADS_3

Setelah Arsyilla tampak bisa bermain dan berbaur dengan anak-anak yang lainnya, Radit pun kembali menghampiri istrinya yang duduk di bangku taman yang terbuat dari kayu berwarna cokelat tersebut.


“Itu Arsyilla nya sudah main sama temen-temennya, jadi Papa tinggal dulu Ma …” ucapnya sembari mendaratkan dirinya untuk duduk di sisi istrinya.


Khaira pun tersenyum dan mengamati wajah suaminya itu, “Makasih ya Pa …” ucap Khaira yang tiba-tiba mengucapkan terima kasihnya.


“Buat apa?” tanya Radit yang justru tampak keheranan.


“Aku tahu tadi Papa nyamperin Arsyilla karena Papa tahu wajah Syilla yang tampak lesu dan tidak bersemangat. Terima kasih sudah sangat peka dengan Syilla.” ucapnya dengan tulus.


Radit pun tersenyum dan mengangguk, “Karena Syilla itu sedikit banyak seperti kamu, Sayang … terkadang dia cuma diam dan memendam sendiri, padahal raut wajahnya mengisyaratkan semua perasaannya. Mungkin sih para wanita memang begitu, diam dan sedih sendiri. Aku gak mau kalian berdua memendam semuanya sendiri, jadi aku harus lebih peka.” ucap Radit.


Pria yang memang sering berpikir dengan otaknya daripada dengan hatinya itu pun tahu bahwa Khaira dan Arsyilla itu nyaris setipe. Terlihat wajah mereka yang lesu dan tidak bersemangat, karena itulah Radit harus lebih peka dan bisa membantu para wanita yang dicintainya itu.


Perlahan Khaira pun tertawa, “Kadang tuh susah buat mengatakan apa yang ada di hati, Mas … jadi ya sudah deh, tapi kan sekarang aku cerita kan cerita-cerita ke kamu. Bahkan cerita receh dan rutinitas sehari-hari, pasti membosankan. Namun, rupanya kamu enggak protes dan terus membuka telingamu untuk mendengarkan ceritaku.”


“Kita kan parent to be partner Sayang … toh kalau aku ada masalah di kantor kan ya aku selalu cerita sama kamu. Sekalipun kamu enggak tahu pekerjaanku apa, proses audit itu seperti apa, tetapi kamu kan ya sukarela mendengarnya kan. Jadi, ya aku pun begitu. Kan orang itu asal ada mendengarkan sudah bahagia Sayang.” ucapnya dengan menghela napasnya dan tersenyum menatap Khaira.


Di saat Khaira ingin kembali berbincang-bincang dengan suaminya, rupanya Bu Lisa kali ini datang menghampirinya.


“Pak Radit dan Bu Khaira, bisa berbicara sebentar?” tanyanya kepada pasangan muda itu.

__ADS_1


Dengan cepat Khaira dan Radit pun mengangguk, “Iya Bu … ada apa?”


Mulailah Bu Lisa menatap wajah Radit dan Khaira, tangannya terulur dan menyerahkan dua buah surat untuk Khaira.


“Bu Khaira dan Pak Radit, kira-kira bulan lalu Aksara kemarin bersama kedua orang tuanya dan dia menitipkan surat ini untuk Arsyilla. Surat dengan gambar Aurora ini untuk Arsyilla, Bu. Lalu, surat dengan amplop putih ini dari orang tua Aksara untuk Bu Khaira dan Pak Radit dari orang tua Aksara.” ucap Bu Lisa sembari menyerahkan surat itu.


Tentu saja Khaira tertegun, tak menyangka jika bulan lalu Aksara akan mengunjungi panti asuhan tersebut. Jika bulan lalu, berarti itu saat Arsyilla sakit terkena Flu Singapura. Andai saja dia tahu, pasti dia akan membawa Arsyilla mengunjungi Panti Asuhan, pasti Arsyilla akan bahagia bisa kembali bertemu dengan Aksara.


Kedua bola mata Khaira pun tampak berkaca-kaca, dengan bibir yang seolah bergetar, dia kembali mengeluarkan suaranya, “Bagaimana kabar Aksara Bu?”


Tidak dipungkiri bahwa Aksara juga begitu dekat dengan hatinya, ada rasa sayang yang muncul begitu saja saat Khaira pertama kali melihat Aksara.


“Aksara baik dan sehat, Bu … kedua orang tuanya juga sangat menyayanginya. Bulan lalu, Aksara kemari di tanggal yang biasanya Ibu dan Bapak datang kemari, berharap bisa bertemu dengan Arsyilla.” cerita Bu Lisa yang mengatakan bahwa Aksara sengaja datang ke panti asuhan di tanggal yang biasa dipilih Radit dan Khaira untuk mengunjunginya.


“Sekarang Aksara tinggal di mana Bu? Bolehkah kamu mendapatkan alamatnya?” tanya Radit kini kepada Bu Lisa. Berharap dengan datangnya Aksara, mungkin saja dia bisa meminta alamatnya dan akan mengajak Arsyilla mengunjungi rumah Aksara.


Wajah Bu Lisa seketika pun terlihat lesu, “Maafkan saya Pak … jujur saja karena terlampau bahagia melihat Aksara, saya sampai lupa untuk meminta alamatnya. Di lain waktu, jika Aksara kembali datang ke mari, saya akan mintakan alamatnya Pa.”


“Aksara masih di Singapura atau di mana Bu?” tanya Khaira.


“Di Jakarta, Bu … sekarang Aksara di kota ini, di Jakarta. Dahulu memang orang tuanya mengajaknya untuk ke Singapura, tetapi hanya berjalan satu bulan saja. Aksara mengajak orang tuanya untuk kembali ke Jakarta supaya dia bisa mengunjungi panti asuhan ini dan bisa bertemu dengan Arsyilla kembali.” ucap Bu Lisa.

__ADS_1


Radit dan Khaira pun saling menatap, Jakarta ini kotanya besar dan padat. Sekalipun dalam satu kota pun, belum tentu dia bisa menemukan Aksara. Lagipula di kota ini banyak anak-anak yang bernama Aksara bukan? Kendati demikian, keduanya sedikit lebih lega karena Aksara ada di kota ini, semoga saja di lain waktu jika memang Tuhan mengizinkan mereka bisa bertemu lagi.


Setelahnya Bu Lisa menyerahkan sebuah paper bag dengan gambar Putri Aurora kepada Khaira, “Bu, ini hadiah dari Aksara untuk Arsyilla. Dia masih inget kalau Arsyilla suka Putri Aurora, jadi saat di Singapura, Aksara yang memilih ini untuk Arsyilla. Karena tidak bisa menyerahkannya secara langsung kepada Arsyilla, sehingga hadiah ini dititipkan kepada saya. Kedua orang tuanya berterima kasih kepada Pak Radit dan Bu Khaira, karena sudah mensupport sekolah Aksara. Mereka ingin sekali bertemu dengan Pak Radit dan Bu Khaira untuk berterima kasih secara langsung.” cerita Bu Lisa kepada Radit dan Khaira.


“Sampaikan salam kami juga ya Bu … tidak perlu berterima kasih karena kami tulus membantu Aksara. Kami melakukan dengan hati kami.” sahut Khaira.


“Oh iya Bu … jika boleh tahu orang tua Aksara juga menetap di kota ini ya Bu?” tanya Radit yang masih penasaran dengan orang tua Aksara.


Bu Lisa pun mengangguk, “Benar Pak … Ibunya bekerja di sebuah perusahaan dan Ayahnya seorang Dokter. Bersyukur Pak karena orang tuanya sangat baik dan begitu menyayangi Aksara. Baiklah Pak, saya masuk dulu ke dalam ya.”


Setelah kepergian Bu Lisa, Khaira pun menatap kosong pada dua buah surat yang kini berada di tangannya itu. Kemudian perlahan dia menatap suaminya, “Aksara masih mengingat kita, Mas …” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Radit pun menganggukkan kepalanya, “Benar Sayang … dia masih ingat kita. Andai saja bulan lalu kita kemari dan tanggal tersebut, pasti Arsyilla akan sangat senang bisa bertemu dengan Aksara. Kamu mau buka surat itu?” tanya Radit sembari menunjuk surat beramplop putih itu.


Khaira pun menggeleng, “Aku buka di rumah saja ya Mas … takutnya aku mellow dan menangis pas baca surat ini. Aku kangen Aksara, Mas.” ucapnya dengan tersenyum getir.


Radit kemudian menggenggam satu tangan istrinya itu, “Papa tahu, Ma … tetapi, ada berita baiknya bukan. Aksara dan keluarganya sudah tinggal di kota ini. Coba saja, bulan depan di tanggal biasanya kita datang ke tempat ini lagi. Jika beruntung kita bisa kembali bertemu dengan Aksara kan. Juga tadi kamu dengar kan kalau orang tua Aksara itu baik dan begitu menyayangi Aksara, jadi kamu dan kita pun harus berbahagia karena doamu bahwa setidaknya kamu tahu jika orang tua Aksara itu baik kan. Sabar ya … suatu saat kita pasti akan kembali bertemu dengan Aksara. Sama seperti kita yang ternyata Tuhan persatukan lagi setelah sekian tahun berlalu, semoga kita bisa kembali bertemu dengan Aksara ya.”


Kalimat yang menguatkan dan meneduhkan dari Radit. Pria itu benar-benar dewasa dalam bersikap dan berbicara. Dia selalu bisa menjadi sandaran bagi Khaira, hingga Khaira akhirnya tersenyum, “Iya Mas … terima kasih karena sudah selalu menguatkan aku. Memberikan afirmasi yang positif buatku, makasih Bestiee …” ucapnya dengan tersenyum lebar menatap suaminya.


Di satu sisi Radit justru mengernyitkan keningnya, “Bestiee?”

__ADS_1


Dengan cepat Khaira pun mengangguk, “Iya … My Hubby My Bestiee.” ucapnya dengan tersenyum dan mengenggam tangan suaminya itu.


__ADS_2