Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Bubur Ayam


__ADS_3

Pagi itu, sembari berjalan-jalan mengitari kompleks perumahannya, rupanya ada sesuatu yang menarik perhatian Khaira. Bubur ayam yang dijual dengan menggunakan gerobak. Aroma bubur dan juga kuah santan yang seolah menyapa indera penciumannya untuk sekadar mampir dan mencicipi semangkok bubur di pagi hari. Bahkan dari kejauhan, ibu hamil itu tampak beberapa menelan salivanya lantar begitu ingin dengan bubur ayam yang berada beberapa meter di depannya.


“Mas, bawa dompet enggak?” tanya Khaira tiba-tiba. Sesungguhnya dia merasa tidak enak menanyakan hal dompet kepada suaminya, tetapi bagaimana lagi saat ini dia pun tidak membawa uang di sakunya.


Pertanyaan yang sangat jarang ditanyakan Khaira adalah seputar dompet suaminya, dia bahkan hanya menerima begitu saja setiap uang yang ditransferkan suaminya kepadanya. Akan tetapi, kali ini lantaran sudah tergiur dengan bubur ayam di depannya, rasanya Khaira mau tidak mau harus bertanya apakah suaminya itu membawa dompet.


Radit pun tersenyum, “Tumben kamu nanyain dompet aku. Kenapa? Hmm.” tanya Radit kepada istrinya itu.


Khaira dengan cepat menunjuk sebuah gerobak berwarna cokelat yang bertuliskan Bubur Ayam Jakarta itu. “Tiba-tiba pengen itu Mas. Bubur ayam ...” ucapnya dengan nada perkataan yang terlihat begitu mengingatkan bubur ayam itu.


Ada kalanya justru di saat seperti ini, Khaira seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu di hadapannya. Radit pun tersenyum, “Aku enggak bawa dompet sih. Cuma di saku aku, ada uang seratus ribu rupiah. Kamu mau itu?” tanyanya sembari menunjukkan lipatan uang berwarna merah dengan gambar Proklamator di saku celananya itu.


Dengan cepat Khaira pun mengangguk, “Iya … tiba-tiba pengen.” sahutnya dengan mata yang berbinar.


Begitu sudah tiba di depan penjual bubur ayam itu, Radit pun memesan dua mangkok bubur ayam. Satu untuk istrinya dan satu untuk dirinya sendiri. Keduanya duduk di sebuah kursi kayu dan menunggu pesanannya itu datang.


“Tumben, kamu pengen bubur ayam?” tanya Radit kepada istrinya itu.


“Enggak tahu, tiba-tiba pengen. Jadi inget, dulu ada cowok cakep yang datang ke rumah di hari Sabtu bawain dua kotak bubur ayam.” ceritanya dengan tiba-tiba dan menahan tawa di wajahnya. Rasanya begitu lucu ketika kini Khaira justru teringat pada kenangannya di masa lalu.

__ADS_1


Mendengar cerita dari Khaira, Radit pun tertawa, tidak menyangka rupanya istrinya itu memiliki ingatan yang sangat setia, hingga banyak momen yang diingat oleh istrinya itu.


“Sebelum kita ke Kota Tua naik sepeda motor dulu kan?” tanya Radit sembari menatap wajah istrinya itu.


“Iya … sarapan sebelum motoran ke Kota Tua beberapa tahun yang lalu. Aku masih mengingatnya.” jawab Khaira sembari memberikan satu anggukan kepada suaminya itu.


“Tahu enggak Sayang, sebenarnya dari Kota Tua itu aku udah pengen hidup sama kamu. Kamu itu seperti medan magnet yang menarikku untuk selalu memikirkanmu dan terus dekat sama kamu. Bahkan sejak dulu.” cerita Radit dengan tiba-tiba.


Sementara Khaira hanya berusaha mendengarkan cerita dari suaminya itu. Kendati demikian dalam hatinya pun bertanya-tanya benarkah cerita dari suaminya itu.


“Serius?” respons Khaira dengan bertanya kepada suaminya.


Sementara Khaira justru tertawa, “Salah sendiri nyebelin. Wanita itu ya Mas, kadang mereka diam bukan berarti mereka enggan melawan. Justru mereka melawan dengan cara diam itu. Sama kayak aku dulu, lebih baik diam. Daripada bertingkah aneh-aneh.” jawabnya.


“Ya, tetapi kamu diam-diam ninggalin aku begitu saja sampai ke Manchester. Kamu itu bikin aku sakit jantung. Untungnya Tuhan masih kasih aku jantung yang sehat dan berdetak dengan normal, sehingga dengan keberadaan jantung ini aku masih bisa bertemu kamu dan mencintai kamu.” ucapnya dengan serius.


Ya Tuhan, hanya sekadar menunggu bubur ayam datang saja, rupanya Radit justru seolah sedang merayu istrinya. Membuat wanita hamil itu pipinya bersemu merah mendengar ucapan dari suaminya itu. Perkataan yang serius, tetapi justru seolah syarat akan rayuan.


Setelahnya, dua mangkok bubur ayam dan dua gelas teh hangat sudah tersaji di depan mereka. Keduanya pun terlihat sama-sama menikmati bubur ayam itu. Rupanya keduanya, memiliki kebiasaan makan bubur ayam yang berbeda. Jika Radit adalah tim diaduk, sementara Khaira adalah tim tidak diaduk.

__ADS_1


“Kamu suka diaduk ya Mas?” tanyanya sembari melihat bubur ayam yang sudah diaduk menjadi satu dalam mangkok suaminya itu.


“Iya Sayang … aku tim diaduk. Kamu tidak diadukkan? Aku tahu, karena dulu kan aku mengamati cara makanmu.” jawabnya sembari menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya.


Khaira tersenyum mendengar jawaban suaminya itu, sebenarnya sejauh apa dulu suaminya itu selalu memperhatikannya dalam diam. Apa memang karena dirinya yang terlalu cuek sehingga tidak menghiraukan suaminya itu yang diam-diam memperhatikannya. Ada rasa tersanjung di dalam hatinya, dalam hubungan keduanya yang semula tidak harmonis pun, ternyata suaminya itu diam-diam memperhatikannya.


“Ah, cum mengamati saja … tidak mau beraksi.” cibir Khaira.


Radit pun tertawa, “Aku beraksi sih Sayang … cuma aku terlambat menyadari saja. Maaf ya, sejak kamu menerimaku, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan mendedikasikan hidupku untuk kamu dan anak-anak kita." ucapnya dengan menatap Khaira. Hingga perlahan pria itu kemudian kembali bersuara, "Enak enggak buburnya? Nih, kerupuknya Sayang.” ucapnya sembari tangannya bergerak menyodorkan semangkuk penuh berisi kerupuk.


“Makasih Mas … ini enak, kapan-kapan beliin lagi ya Mas.” jawab Khaira sembari tersenyum.


“Iya … kapan-kapan aku belikan lagi. Asal kamu makan, pasti aku belikan. Kamu enggak pake kuah santannya Sayang?” tanya Radit lagi yang melihat kuah santan berwarna kuning milik istrinya masih utuh dan belum tersentuh.


Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku enggak suka juga pakai kuah santan itu. Udah, gini aja udah enak banget.” jawabnya sembari menyantap bubur ayam miliknya.


“Itu namanya bubur kering Sayang … padahal yang bikin enak kuahnya itu, jadi terasa lebih gurih. Mau cobain punyaku?" tawarnya kepada istrinya itu.


Akan tetapi, dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya, "Enggak … enggak suka."

__ADS_1


Radit pun tersenyum, "Ya sudah … kan aku cuma menawarkan, jadi ya enggak maksa. Udah, dihabiskan ya, abis ini kita pulang." ucapnya sembari menghabiskan bubur ayam di mangkoknya.


__ADS_2