
Di sebuah tempat makan berkonsep kafe dengan nama Old Pint Pot yang berada di Adelphi Street. Sebuah pub dan kafe yang berada di tepi Sungai Irwell, dengan beberapa pepohonan rindang yang berada di sekitaran sungai membuat tempat itu begitu teduh di siang hari.
Beberapa Mahasiswa juga sering kali menghabiskan malam mereka di pub ini karena saat malam hari, selalu ada live music di pub sekaligus kafe ini.
Radit nampak agak sedikit terkejut ketika memasuki Old Pint Pot. Ya, pria itu terkejut melihat jajaran berbagai minuman beralkohol dengan berbagai merek dalam satu rak besar ketika memasuki area kafe dan pub itu. Sesekali ia melirik pada Khaira, dalam hatinya mengapa Istrinya membawanya makan siang di tempat seperti ini.
"Serius kita makan di sini, Khai?" tanyanya kembali memastikan.
"Iya Mas, kenapa?" Khaira balik bertanya.
"Itu ada minuman beralkohol sebanyak ini. Yakin?" Matanya seolah memberi kode pada Khaira untuk melihat berbagai minuman beralkohol sebanyak itu di rak besar.
Khaira mengutas senyuman, "Kita kan tidak beli minuman beralkoholnya Mas, kita makan di sini. Ada banyak makanan enak dan ada tanda halal di buku menunya." jelas Khaira sembari menunjukkan berbagai foto menu makanan di buku menu.
"Ya sudah pesan dulu saja Mas, nanti kita duduk di luar situ aja ya. Di tepi sungai. Adem deh kayaknya duduk di situ sambil lihat pemandangan." Ucap Khaira sembari menunjuk tempat duduk outdoor yang berada di tepi Sungai Irwell.
Akhirnya Radit memilih menu Cheese & Crispy Chicken, sementara Khaira memilih Beef Burger dan Salad. Setelah memilih menu mereka, keduanya mengambil tempat duduk di kursi kayu di tepi Sungai Irwell.
"Selama dua bulan hidup di sini, kamu pernah minum minuman kayak yang di depan tadi Khai?" tanya Radit yang ingin memastikan apakah Khaira pernah meminum minuman beralkohol selama berada di luar negeri.
"Kalau pernah kenapa, kalau enggak kenapa?" sahut Khaira.
"Ya kalau pernah jangan diulangi lagi, kalau belum aku lega." jawabnya sembari menatap sepasang netra Khaira.
Khaira sedikit tersenyum, "Aku gak doyan begituan Mas, selama di sini nyaris aku gak pernah keluar malam. Aku hanya ke kampus dan ke apartemen. Negeri ini memang bebas Mas, tetapi aku tetap membuat batasan bagi diriku sendiri."
Wajah Radit nampak lega mendengar jawaban Khaira. "Syukurlah, kamu bisa menjaga diri."
Hampir 10 menit keduanya duduk sembari mengobrol, menu makanan yang pesan pun tiba.
"Enjoy your food (Nikmati makananmu)." Pelayan menyerahkan menu mereka sembari tersenyum ramah.
__ADS_1
"Thanks." Radit dan Khaira menjawab bersamaan.
"Kalau hidup di luar negeri, makannya kayak gini ya?" tanya Radit sembari mengamati sejenak makanan di depannya.
"Iya, di sini tidak ada Soto Mas. Makanan Asia terbatas di sini. Tetapi ada beberapa stand makanan Thiong Hoa di area China Town." sahut Khaira sembari memakan saladnya.
Radit tergelak mendengar ucapan Khaira. "Iya aku tahu, pasti enggak ada Soto di sini. Apalagi Timlo Solo seperti yang kamu masak di rumah Bunda dulu. Itu Timlo Solo terenak yang pernah aku makan." ucapnya jujur.
"Saking enaknya sampai nambah ya Mas?" Khaira teringat bagaimana dulu Radit menghabiskan dua porsi Timlo Solo buatannya. Khaira kemudian tertawa mengingat ekspresi Radit yang nampak clingukan ingin menambah Timlo.
Radit menganggukkan kepalanya, "Kenapa tertawa? Hmm. Iya. Timlo Solo buatan kamu enak banget. Soto ayam yang kamu buat juga enak, Korean Beef Bulgogi yang kamu buat juga enak. Masakan kamu enak-enak Khai. Mau enggak kapan-kapan kita masak bersama?"
"Ya kalau sempat ya Mas, karena minggu depan aku ada seminar sebelum liburan. Ada tugas biasanya sebelum seminar." jawab Khaira.
"Iya, kamu pokoknya fokus ke kuliah kamu dulu aja. Khai, tempat belanjaan seperti supermarket di mana ya? Habis ini kita kesana mau enggak? Belanja bersama yuk." Ajaknya sembari mengunyah makanan yang sebelumnya ia pesan.
Khaira menganggukkan kepalanya, "iya boleh."
Keduanya berjalan, sembari Radit menghafalkan tempat itu. Karena ke depannya kota Manchester akan menjadi tempat tinggalnya untuk waktu yang cukup lama, sehingga ia pun perlu menghafalkan beberapa tempat di sekitaran kota itu.
Sesampainya di Toserba, Radit mengambil sebuah troli lalu mendorongnya. Sementara Khaira terkadang berjalan di depan atau di belakang Radit. Kini, kedunya seperti pasangan yang serasi. Tidak ada lagi kepura-puraan untuk terlihat serasi, karena hubungan keduanya telah berubah.
"Mau belanja apa Mas?" tanya Khaira sembari mengedarkan matanya ke sekeliling mengamati setiap barang yang dijual di Toserba itu.
"Aku perlu peralatan mandi. Tadi aku mandi pake sabun dan shampoo punyamu. Di peralatan mandi cowok di mana ya?"
"Keliatannya di sana Mas?" Khaira menunjuk sebuah rak yang terdapat aneka peralatan mandi pria.
Keduanya berjalan ke sana, Radit mengambil Facial Foam, Sabun Cair, Shampoo, Roll On, hingga pisau cukur kumis. Sementara Khaira diam-diam mengamati apa saja yang diambil oleh Radit. Belanja bersama membuat Khaira mengerti barang-barang apa saja yang selalu dibeli suaminya.
Dalam hatinya, Khaira pun ingin menjadi istri yang memperhatikan kebutuhan suaminya. Termasuk dari peralatan mandi yang menjadi pilihan suaminya.
__ADS_1
"Lalu apa lagi Mas?" lagi Khaira bertanya sembari berjalan bersama Radit.
"Kamu enggak belanja? Sekalian aja, punyamu apa yang habis." Pria itu sekaligus menawarkan kepada Khaira untuk berbelanja sekalian.
Jari-jari Khaira berada di dagunya, sembari ia berpikir apa yang harus ia beli. Seingatnya peralatan mandinya masih ada.
"Aku beli minuman cokelat sachet boleh Mas?" tanya Khaira yang kini berjalan ke area berbagai snack dan minuman sachet.
"Beli aja. Jangan lupa beli teh juga, Bunda Dyah cerita kamu suka sekali minum teh." ucap Radit yang terus mendorong troli dan mengikuti Khaira.
"Tapi aku sukanya teh tubruk Mas. Di sini adanya teh celup. Jadi aku beli cokelat aja, kalau teh aku sudah punya supplier kok Mas." jawabnya sembari tersenyum.
"Siapa supplier tehnya?" tanya Radit menyelidik.
"Bunda Ranti. Beliau mengirimiku berbagai jenis teh tubruk, Mas. Jadi aku bisa minum teh tubruk khas Indonesia setiap hari deh. Minum teh tubruk khas Indonesia di luar negeri seperti ini jadi kebahagiaan sendiri buat aku, Mas." Ucapnya sembari tersenyum bahagia.
"Bahagiamu sederhana banget ya, cuma minum teh tubruk aja sudah bahagia. Kok Bunda Ranti enggak bilang kalau kirimin kamu teh, kalau Bunda bilang kan aku minimal bisa membelikannya buatmu. Belanja lainnya dong Khai, isi kulkasnya sekalian. Musim dingin kita simpan camilan ya..."
Khaira mengangguk, dia setuju sih dengan Radit. Musim dingin terkadang membuat ingin ngemil, karena itu ia mengambil beberapa camilan dan buah. "Kamu suka camilan yang mana Mas?" tanya Khaira sembari memegang kemasan keripik kentang.
"Apa pun pilihan kamu, aku suka kok." jawabnya sembari tersenyum. "Beli mie instan juga ya." tambahnya mengingatkan.
"Iya, suka mie instan kuah atau goreng Mas?" lagi Khaira bertanya kepada suaminya.
"Dilengkapi aja. Beli kuah dan goreng juga ya. Kalau pengen kan tinggal masak aja. Nanti aku masakin deh buat kamu." jawabnya enteng.
Troli mereka hampir penuh dengan berbagai camilan, mie instan, buah, dan minuman sachet. Setelah itu mereka membawanya ke kasir.
"Biar aku yang membayar ya. Biar suamimu ini berguna." Ucap Radit sembari menyodorkan kartu debitnya kepada kasir.
"Sebenarnya aku aja yang bayar kok Mas. Kan katanya Mas Radit sekarang pengangguran."
__ADS_1
"Gak apa-apa pengangguran, penting aku bisa deket sama Istriku." ucapnya sembari cengengesan yang membuat Khaira justru terkekeh geli.