
Malam harinya, usai menidurkan Arsyilla, Radit dan Khaira duduk berdua di sofa yang tersedia di hotel itu. Malam hari di pulau Bali tentu menjadi pengalaman yang indah bagi keduanya. Hotel yang berdiri di pesisir Pantai Kuta membuat pantai itu terlihat dari jendela kamar mereka. Yang lebih istimewa kali ini adalah bulan bersinar dengan bulat penuh atau bulan purnama yang begitu indah. Seolah rembulan itu tersenyum dan menghiasi malam mereka.
“Kamu pernah ke Bali sebelumnya Sayang?” tanya Radit kepada istrinya itu.
Khaira pun mengangguk, “Pernahlah Mas … kamu sendiri pasti juga pernah kan?” tanyanya balik kepada suaminya itu.
“Iya, pernah … waktu SMA dulu sekolahku study tournya ke Bali.” jawabnya.
Memang benar, ketika sekolah dulu, Bali seolah menjadi tujuan untuk study tour dari berbagai sekolah. Bahkan sekolah-sekolah di Pulau Jawa akan membuat agenda study tour ke Bali. Begitu pula dengan Radit, sewaktu SMA dulu, dia juga mengunjungi Bali waktu study tour.
“Sama Mas … waktu SMA dulu, aku juga study tour ke Bali kok.” cerita Khaira yang ternyata dirinya juga mengunjungi Bali waktu study tour dulu. “Dulu, kamu kemana saja Mas?”
Tampak berpikir dan mengumpulkan kembali ingatannya semasa SMA dulu, Radit pun akhirnya menjawab pertanyaan Khaira, “Ke Tanjung Benoa, Pulau Penyu, Plaza Garuda, dan ke Joger dan Krisna Bali Sayang.”
“Lah, kok hampir sama Mas … aku dulu juga ke sana, cuma sama ke Danau Batur, Mas. Waktu itu aku kecapean, sampai di Jakarta langsung sakit.” kenangnya sewaktu usai study tour dulu.
“Kenapa Sayang? Kamu kecapean yah?” tanyanya.
Dengan cepat Khaira pun mengangguk, “Iya … kecapean. Jakarta - Bali naik bus, Mas … capek banget. Akan tetapi, itu berkesan karena untuk pertama kali aku ngerasain rasanya naik Kapal Ferry.” ceritanya lagi.
“Kalau dulu kamu pulang dari Bali terus sakit, sekarang enggak boleh sakit ya. Harus sehat-sehat selalu Sayang … lihat itu Sayang, bulannya indah banget. Keliatannya bulan purnama ya.” ucap pria itu sembari menunjuk ke arah luar jendela, di langit sana terlihat bulan yang penuh sempurna dengan sinarnya yang lebih terang.
__ADS_1
Khaira pun menengadahkan wajahnya, matanya pun menatap ke langit yang gelap, di sana terlihat sang penjaga malam yang begitu mempesona bulat penuh dan memancarkan sinar yang lebih terang. Tanpa dia sadari, dia pun tersenyum. “Indah banget.” gumamnya lirih.
Sekalipun sudah bergumam lirih nyatanya Radit masih bisa mendengar suara istrinya itu, pria itu lantas membawa wanitanya dan mendudukkannya di atas pangkuannya, “Sama kayak kamu Sayang … indah banget.” ucapnya yang seolah dengan merayu istrinya itu.
Khaira lagi-lagi terkekeh geli mendengar ucapan suaminya itu, “Merayu.” cibirnya sembari mengerucutkan bibirnya.
Radit pun turut terkekeh, “Bukan merayu, aku memuja kamu, Sayang. Inget enggak Sayang, dulu waktu kita di Paris aku pernah bilang, setiap kota yang kita datangi akan menjadi memori yang indah bagi sejarah cinta kita berdua. Di Bali ini pun seolah semesta merestui dengan menghadirkan bulan purnama yang melengkapi momen indah kita berdua.” ucapnya dengan suara yang lembut, tetapi terdengar begitu sungguh-sungguh.
Mendengar ucapan suaminya itu, Khaira pun mengangguk, “Benar Mas … melengkapi momen indah kita berdua. Lebih indah karena ada kamu di sisiku.” ucapnya dengan menatap wajah suaminya itu dan melabuhkan sebuah kecupan di pipi suaminya.
“Aku cinta kamu, Mas …” kali ini Khaira yang terlebih dahulu mengungkapkan bahwa dia mencintai suaminya itu.
Menyapa dengan begitu halus, mengecup kedua belah lipatan bibir istrinya atas dan bawah. Menggerakkan bibirnya dengan begitu indah, membuat dua bibir bertemu dalam satu muara. Ciuman yang begitu lembut, tetapi juga penuh perasaan. Hingga setiap kali pria itu menyapa dan membuainya dengan bibir dan indera pengecapnya rasanya justru membuat Khaira kian mencengkram bahu suaminya itu.
Sama halnya dengan Radit, yang seolah membimbing satu tangan istrinya untuk melingkar di lehernya. Sedangkan tangannya sendiri, memegang dengan erat pinggang istrinya sembari mengusap dengan begitu lembut punggung istrinya. Usapan yang justru kian membangkitkan hasrat keduanya untuk semakin memperdalam ciumannya. Pria itu lantas melepas sesaat ciumannya, menyisakan sejengkal jarak di antara wajah mereka.
“Boleh malam ini Sayang?” tanyanya yang terlebih dahulu meminta izin kepada istrinya.
Khaira pun kemudian mengangguk, “Boleh …” ucapnya sembari menunduk, masih ada perasaan malu setiap kali dia memberikan lampu hijau kepada suaminya itu.
Menerima sinyal yang diberikan oleh istrinya, Radit lantas kembali mencium bibir istrinya itu. Kali ini ciuman yang begitu dalam dengan lebih menggebu. Merasai rasa rindu yang seolah terus-menerus berdiam di dalam dada, tanpa mampu untuk diredakan barang untuk sejenak. Merasai manisnya bibir yang sudah seperti cotton candy yang menjadi candunya, dan juga merasakan rongga mulut yang seolah memberinya kehangatan untuk terus menari-nari di dalam rongga mulut istrinya.
__ADS_1
Diikuti oleh pergerakan tangannya yang membelai setiap sisi telinga istrinya yang justru kian membuat wanitanya itu meremang, dan semakin memejamkan matanya. Keduanya, Radit sedikit membuka matanya dan membaringkan tubuh istrinya yang semula berada dalam pangkuannya dan kini menjadi di sofa, pria itu mengungkungnya dengan menahan bobot tubuhnya sendiri dengan kedua siku tangannya, tidak akan menindih perut istrinya yang sudah terlihat membuncit.
Setelah merasa istrinya dalam posisi nyaman, mulailah pria itu melabuhkan kecupan-kecupan di pipi, hidung, bibir, leher, dan tangannya bergerak untuk melepaskan kemeja yang dikenakan oleh istrinya hingga menampakkan kain berwarna pink yang begitu lembut dan terbungkus indah di sana. Sayangnya, pria itu kian gelap mata untuk mengecup dan merasakan lembut dan manisnya buah persik nan begitu ranum, sehingga tangannya bergerak di punggung istrinya untuk melepaskan pengait di sana. Setelah dua buah persik itu terpampang, tidak menunggu waktu lama, pria itu segera menyapanya dan memberikan kecupan-kecupan di area itu.
Penjelajahannya tidak berhenti di sana, karena bibir pria itu kian bergerak turun dan mengecup perut istrinya yang kian membesar. Seolah dia pun ingin menyapa kepada babynya bahwa Papanya akan segera menengoknya. Bahkan hanya butuh waktu sekian detik, pria itu benar-benar meloloskan semua pakaian yang menempel pada tubuh istrinya, bertingkah sedikit nakal dengan menatap istrinya dalam keadaan polos mutlak.
“Kamu cantik Sayang …” ucapnya lagi sembari meloloskan setiap pakaiannya.
Kemudian pria itu membuka sedikit kaki istrinya, dan menyatukan dirinya dengan dirinya. Melakukan invansi dengan begitu lembut, hujaman dan hentakan yang dia lakukan pun begitu lembut sehingga tidak melukai buah hatinya yang bersemayam dalam janin istrinya itu.
“Astaga Sayang …” gumamnya lagi diikuti dengan geraman yang membuat pria itu terus melakukan gerakan seduktif sembari memejamkan matanya.
Sementara Khaira sendiri, mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya dan beberapa kali tangan itu luruh dengan mencengkram punggung suaminya.
“Mas Radit …” dipanggilnyalah suaminya itu dengan beberapa kali tampak mendesis dan napas yang terengah-engah. Serasa dirinya sendiri kepayahan untuk bernapas.
Akan tetapi, suaminya justru kian bergerak dan terus melakukan invansinya tanpa henti. Kendati gerakannya lembut, justru itu begitu keduanya sama-sama memejamkan matanya dengan dramatis disertai peluh yang kian basah pada diri keduanya.
Hingga akhirnya, pria itu pun menggeram dengan tubuh yang bergetar dan mencerukkan kepalanya di dada istrinya. Keduanya melebur menjadi satu, berbagi indahnya taman cinta yang baru saja mereka kunjungi bersama. Disertai napas yang masih menderu, keduanya sama-sama terengah-engah dan memejamkan matanya. Menstabilkan terlebih dahulu diri mereka sendiri.
Kemudian pria itu mengangkat kembali wajahnya, dan melabuhkan kecupan di kening istrinya, “Terima kasih Sayang … I Love U So Much. Adik bayi juga sehat-sehat di sini ya. Abis ditengokin Papa pasti kamu senang kan.” ucapnya sembari menyeka sisa-sisa keringat di kening istrinya.
__ADS_1