Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - One Day in Singapore


__ADS_3

Pertama kali tiba di Singapura, negeri kecil yang berbatasan langsung dengan Pulau Batam yang hanya dipisahkan oleh Selat Singapura itu membuat Radit dan Khaira cukup terpana melihat negeri Singa yang begitu bersih itu.


"Mama, ini namanya Singapura kan Ma? Mana singa nya Ma? Singa raja rimba kan Ma?" tanya Arsyila begitu mereka telah memasuki mobil yang dikemudikan oleh Adam.


"Ada patung berkepala singa, tubuhnya ikan yang disebut Merlion, Sayang. Ada Merlion besar dan terkenal di Merlion Park. Nanti kalau Mama selesai mengajar kita ke sana ya." ucap Khaira yang menjelaskan tentang ikon negara Singapura yaitu Merlion sebuah patung berkepala singa dan bertubuh ikan.


Adam tertawa mendengar celotehan Arsyila. "Mirip Khaira banget keliatannya ya Kak. Tanya terus." ucap Adam yang bertanya kepada Radit yang saat itu duduk di samping kursi driver.


Radit pun sedikit menoleh ke belakang melihat Istri dan anaknya yang terlibat obrolan seru mereka. Sedikit tertawa, Radit pun kemudian menjawab pertanyaan Adam. "Memang Arsyila memiliki rasa ingin tahu yang tinggi kok, tapi beruntung Khaira pinter dan sabar, jadi dia sabar aja menghadapi Arsyila yang banyak tanya." jawab Radit dengan jujur.


Memang tidak dipungkiri, waktu pengasuhan Arsyila memang banyak dipegang oleh Khaira. Sementara Radit hanya turut mengasuh ketika usai pulang kerja dan saat weekend. Radit pun melihat bagaimana Khaira dengan sabar mendidik Arsyila, mengasuh putrinya dengan penuh cinta, dan keduanya sama-sama menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang kondusif bagi Arsyila. Rumah adalah lingkungan tumbuh kembang pertama dan utama bagi anak, karena itu Radit dan Khaira memang sama-sama bekerja sama untuk menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang kondusif dan penuh cinta bagi Arsyila. Mereka ingin Arsyila mencapai setiap tahap perkembangannya dengan optimal dan menjadi anak yang sehat dan bahagia di dalam rumahnya sendiri, bersama dengan Papa dan Mamanya.


Sebab kebutuhan utama dan pertama bagi semua anak adalah mendapat lingkungan tumbuh kembang yang sehat dan kondusif, serta kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya. Ada rasa aman, nyaman, bahagia dan terlindungi di dalam rumah bersama dengan Papa dan Mamanya. Dua figur utama yang akan menjadi cermin bagi seorang anak hingga dewasa nanti.


"Arsyila ... kamu kecil-kecil sudah pinter ya. Nanti kalau besar kuliah di Manchester sama kayak Mama ya." ucap Adam sembari melirik Arsyila dengan tersenyum.


"Manchester itu di mana Uncle?" tanya Arsyila dengan cepat.


"Salah satu kota di Inggris, dulu Uncle bertama Papa dan Mama Arsyila di sana. Ada Uncle Mark dan Aunty Tina juga, teman-temannya Mama kamu." cerita Adam yang juga mengingat Mark dan Tina, kedua teman mereka saat sama-sama kuliah di University of Manchester.


Khaira pun tersenyum dan menggenggam tangan mungil Arsyila. "Syila mau kuliah di luar negeri? Di Manchester." tanya Khaira yang tentunya hanya sebatas menggoda Arsyila saja.

__ADS_1


Di luar prediksi, Arsyila justru menggelengkan kepalanya. "Syila mau kuliah di Jakarta aja, Ma ... di tempat Mama mengajar." jawab bocah kecil itu dengan begitu sederhana.


Akan tetapi jawaban Arsyila memang logis untuk anak seumurannya. Dia hanya tahu tempat kuliah adalah tempat Mamanya mengajar, sehingga dalam pikirannya saat ini Arsyila ingin kuliah di tempat Mamanya.


Adam segera mengantarkan keluarga kecil bahagia sejahtera itu menuju hotel yang berada di kawasan Quark Clay, Singapura. Kebetulan seminar yang akan dihadiri oleh juga berada di hotel tersebut sehingga Khaira tidak perlu memikirkan transportasi untuk menuju ke tempat seminar.


Begitu tiba di hotel, Khaira segera bersiap membawakan Seminar dengan tajuk "Internet untuk Generasi Alpha" yang dihadiri kurang lebih seratus peserta dari Singapura. Sejak di Jakarta, Khaira memang telah mempersiapkan slide presentasinya sehingga Khaira hanya perlu menguasai materi dan sebisa mungkin tidak nervous saat membawakan seminar nanti.


Tujuan dari apa yang disampaikan Khaira adalah anak zaman now atau generasi Alpha tidak bisa lepas dari internet, bahkan mereka lahir dengan teknologi yang ada di ujung jarinya sehingga orang tua perlu dibekali dengan wawasan bahwa internet bisa digunakan oleh anak-anak dengan bijaksana.


Kurang lebih jam 17.00 Waktu Singapura atau kisaran satu jam lebih cepat dari zona waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) Khaira menyampaikan materi tersebut dengan sangat baik. Khaira bahkan melibatkan para peserta dalam diskusi. Kurang lebih dua jam, Khaira telah selesai menyampaikan seminarnya.


"Thanks Khai ... materi yang kamu sampaikan bagus banget." ucap Adam begitu acara telah selesai.


Betapa terkejutnya Khaira saat masuk ke dalam kamar hanya suaminya yang membukakan pintu, sementara Arsyila sudah tertidur lelap. "Sudah bobok Mas, Arsyilanya? Padahal baru jam segini loh." ucap Khaira yang menggelengkan kepala melihat putrinya yang sudah terlelap.


Radit pun tertawa. "Tadi abis makan malam minta dibacakan dongeng. Dia nanyain kapan Mama kembali. Gak lama kemudian, malahan sudah tidur anaknya. Kecapean juga mungkin Sayang."


Khaira lantas mendekati putrinya dan mencium kening Arsyila dengan penuh sayang. Dia nampak mengamati wajah putrinya yang begitu mirip dengan Papanya. "Met bobo Arsyila Sayang...." ucapnya sembari mengelus lembut wajah Arsyila.


Usai itu, Khaira memilih membersihkan dirinya sejenak kemudian duduk bersama suaminya menatap pemandangan malam kota Singapura yang gemerlapan dengan lampu serta Marina Bay Sands yang terlihat dari hotelnya.

__ADS_1


"Gimana seminarnya tadi?" tanya Radit sembari merangkul pundak Khaira.


Khaira terlebih dahulu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Bagus sih Mas ... tadi banyak peserta yang bertanya juga. Aku melibatkan mereka sih waktu seminar tadi, jadi kan enggak hanya aku berbicara. Tapi aku agak grogi tadi. Kurang lebih sepuluh menit pertama aku deg-degan banget. Tapi setelahnya aku bisa menguasai keadaan. Tinggal capeknya aja sih ... capek bicara maksudnya. Hampir dua jam bicara terus. Tadi Adam juga bilang kalau materi dan cara membawakan seminar tadi bagus. Ya aku bilang, wong dulu kuliahnya itu jadi secara materi kan aku sudah tahu, Mas. Pengalaman pertamaku berbicara di depan orang banyak." ceritanya kepada sang suami.


Radit pun merespons cerita Khaira, dia cukup menjadi pendengar yang baik karena itu cukup bagi istrinya. "Kamu pasti bisa Sayang ... apa lagi kamu telah membuat materinya dari jauh-jauh hari. Jadikan ini pengalaman berharga Sayang ... sapa tau, ke depannya kamu bisa menjadi pembicara untuk seminar-seminar kayak gini. Ya sudah, sini santai dulu. Istirahat dulu sambil lihat pemandangan Singapura. Bagus banget ya Sayang." ucapnya sembari menautkan kepalanya dengan puncak kepala Khaira yang tengah bersandar di bahunya.


...🍃🍃🍃...


Halo My Bestie,


Dukung karya terbaruku yuk yang sedang mengikuti lomba Mengubah Takdir Wanita. Berjudul "Pembalasan Istri yang Tersakiti".



Novel ini berkisah tentang Kanaya Salsabila, seorang penulis novel yang dirundung oleh suaminya sendiri karena dia memiliki penampilan fisik yang tidak sempurna.


Berbalut dengan kisah cinta, pengkhianatan, dendam, dan insecure. Pembalasan Istri yang Tersakiti ini sayang untuk dilewatkan.


Aku tunggu ya...


Bukan sekadar halu, aku jamin novel terbaru ini pun akan realistis dan mengedukasi.

__ADS_1


Love U All My Bestie...


💜💜


__ADS_2