Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Kamar Masa Remaja


__ADS_3

Sebagaimana ketika acara tujuh bulanan usai, keluarga Ammar, keluarga Wibisono, dan keluarga Radit berkumpul. Rupanya ada begitu banyak obrolan yang bisa mereka bahas usai acara tujuh bulanan tersebut. Terlebih dari pihak keluarga Ammar sendiri merasa senang karena bisa merayakan upacara tujuh bulanan untuk Khaira yang tengah mengandung cucu keduanya.


“Sudah tujuh bulan Khai, tidak terasa dua bulan lagi sudah melahirkan. Bunda akan punya cucu lagi.” ucap Bunda Dyah yang tentu saja merasa senang.


Pun demikian dengan Khaira, dia pun merasa senang. Tidak menyangka bahwa waktu akan berjalan dengan begitu cepatnya hingga sekarang usia kandungannya sudah menginjak tujuh bulan. “Iya Bunda … Khaira sendiri enggak menyangka sudah berjalan tujuh bulan, tidak lama lagi resmi ada dua anak di rumah.” ucapnya sembari mengelus perutnya.


“Yang penting sehat-sehat Khai … kalau sudah capek ya sudah, istirahat saja. Toh sekarang di rumah ada Bi Tinah juga yang memegang urusan dapur.” sahut Bunda Ranti yang meminta menantunya itu untuk beristirahat.


Khaira pun tersenyum, ternyata saat hamil salah satu hal yang cukup menyenangkan adalah mendapat perhatian lebih dari anggota keluarga dan itu yang kini dia rasakan. Hatinya pun penuh syukur saat keluarganya memperhatikannya.


“Iya Bunda … sekarang justru Khaira cuma mengasuh Syilla saja kok kalau di rumah. Hari Rabu juga mengajar di kampus. Selebihnya cuma di rumah saja, mengasuh Arsyilla.” jawabnya.


“Ya sudah, karena sudah malam kalian istirahat sana. Syilla juga sudah tidur, jadi kalian juga tidur istirahat.” ucap Bunda Dyah yang menyuruh Khaira untuk istirahat.


Dengan pelan-pelan Khaira menaiki anak tangga dan kemudian memasuki kamarnya. Masih terlintas di benaknya bahwa kamar ini adalah kamar ternyaman yang pernah dia miliki. Sebuah kamar yang sering dia gunakan untuk menghabiskan waktu mulai dari belajar, membaca buku, menonton televisi, dan kamar yang menyimpan berbagai koleksinya mulai dari buku hingga jersey sepakbola. Memasuki kamar tersebut, Khaira tidak langsung menuju tempat tidurnya, tetapi melihat beberapa bukunya yang masih berada di kamarnya, juga puluhan jersey sepakbola yang masih tergantung rapi di lemari kaca. Tiba-tiba senyuman terukir begitu saja di bibirnya, tidak menyangka masa remajanya dulu benar-benar diwarnai dengan banyak hal.


Saat Khaira sedang melihat-lihat koleksi jerseynya, suaminya pun juga menyusulnya masuk ke kamar. Kebiasaan suaminya itu adalah langsung mendekap erat istrinya itu dari belakang, dan melabuhkan kecupan hangat di pipinya.


“Bumilku ngapain?” tanyanya sembari menggerak-gerakkan dagunya di puncak bahu istrinya itu.


Khaira pun tersenyum, “Ini … lihat-lihat koleksi jerseyku dulu. Ternyata banyak banget. Puluhan jerseyku.” ucapnya sembari memperhatikan setiap jersey yang dia miliki itu dari model retro hingga tahun sebelum dia menikah. Koleksi yang sangat lengkap.

__ADS_1


“Kamu mau pakai itu juga tidak apa-apa Sayang.” ucap Radit yang satu tangannya ikut bergerak menyentuh koleksi jersey tersebut.


“Sekarang sudah enggak muat Mas, perutku sudah buncit banget. Berat badanku juga sudah nambah banyak banget.” keluhnya kepada suaminya.


Radit pun semakin mengeratkan pelukannya, “Enggak apa-apa yang penting kamu sehat. Rebahan yuk Sayang? Pasti kamu capek kan, sesiang ikutin acara tujuh bulanannya.”


“Iya, capek sih Mas … tetapi seneng juga, seru bisa mengikuti acara kayak tadi.” ucapnya.


“Ke tempat tidur yuk?” ajak suaminya itu.


Khaira pun mengangguk, “Iya, yuk … aku juga pengen rebahan, pinggangku capek banget.” keluhnya kali ini.


Begitu sudah sampai di atas tempat tidur, Radit pun segera membawa kepala istrinya itu untuk bersandar di dadanya. “Kamu seneng bisa menginap di kamar ini lagi? Kamar waktu kamu remaja ya Sayang?” tanyanya.


Khaira pun mengangguk, “Iya … dulu waktuku banyak aku habiskan di sini. Buat anak gadis kan kamar itu privasi, Mas … ruang favorit. Ya walaupun cuma kayak gini, tetapi kalau sudah di kamar rasanya gak pengen keluar.” ceritanya sembari mengenang masa-masa remajanya dulu.


“Pasti besok Syilla bakalan kayak kamu seperti ini. Lucu banget pasti ya kalau nanti Syilla dewasa dan dia hanya menghabiskan waktunya di kamar. Persis Mamanya.” sahutnya yang merasa bahwa kemungkinan besar Arsyilla nanti akan seperti Mamanya.


“Ya anaknya anak gadis ya kayak gini, Mas .., kamar enggak hanya buat tidur, tetapi buat menyimpan koleksi, bahkan jadi tempat rahasia juga.” sahut Khaira.


“Kamu dulu juga begitu ya Sayang?” tanyanya lagi kepada istrinya.

__ADS_1


Khaira pun mengangguk, “Iya … tuh koleksi aku semua, mulai dari buku sampai jersey sepakbola. Cuma kalau boneka justru enggak punya.”


Radit pun mengamati di seluruh kamar itu, memang tidak ada boneka yang tersimpan di dalam kamar itu. Sementara di kamar Arsyilla, putrinya itu justru memiliki banyak boneka. “Hmm, bedanya kamu dan Syilla itu di kamar Syilla banyak bonekanya Sayang … ada enggak diary mu waktu remaja dulu? Biasanya kan anak gadis suka tuh nulis-nulis diary pada masanya.”


Khaira pun tertawa, bagaimana bisa suaminya bertanya tentang buku diary. “Kamu ini Mas, ada-ada aja sih.”


“Pengen lihat diary kamu, Sayang … apa saja yang kamu tulis dulu. Sapa tahu ada namaku di sana.” ucapnya sembari terkekeh geli.


Hanya sebatas rasa percaya diri yang tinggi dan harapan mungkin saja istrinya itu pernah menulis namanya di dalam diary nya.


“Ada sih, cuma dulu waktu dikasih tahu sama Ayah Ammar tentang perjodohan kita. Tahu enggak Mas, dulu perasaanku kayak gimana?”


Radit pun menoleh guna bisa menatap wajah istrinya itu, “Gimana perasaan kamu Sayang? Aku sudah bisa menebak sih, pasti sebel ya?” tebakannya kepada istrinya.


Rupanya Khaira mengangguk, “Iya sebel … sebel banget malahan. Padahal niatanku, lulus kuliah mau coba-coba pacaran dulu, aku belum pernah punya pengalaman pacaran, kok malahan menikah. Sedih.” ceritanya kepada suaminya.


Radit pun ikut tertawa, “Kan pacaran halal sama aku, Sayang … di Manchester dulu kan anggap saja sebagai proses pacaran kita berdua.” sahutnya dengan tertawa. "Lagian kan pas di Manchester dulu, kita kan kayak orang pacaran, cuma tinggalnya seapartemen, dan hampir 24 jam ketemu saja." Sambungnya lagi sembari tersenyum pada Khaira.


Perlahan Khaira pun menganggukkan kepalanya,"Iya sih ... di Manchester dulu, justru kita kayak orang pacaran. Cuma satu atap aja. Sudah dalam hubungan yang saling mengikat satu sama lain. Kalau saat itu kamu enggak menyusulku sampai ke Manchester, aku rasa jalan kisah kita akan berbeda, Mas." ucap Khaira sembari menghela napasnya.


Memang tidak dipungkiri bahwa kisah mereka cukup pelik, kepergian Khaira ke Manchester justru menjadi tonggak awal untuk berlangsungnya hubungan mereka hingga naik level dan terus berkembang, hingga akhirnya ada kata maaf, ada kata penerimaan antara satu dengan yang lain.

__ADS_1


__ADS_2