Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Tugas Dadakan dari Kampus


__ADS_3

Menjadi Ibu Rumah Tangga nyatanya tidak menghalangi Khaira untuk juga menjalani profesinya sebagai seorang Dosen Teknologi Pembelajaran, sekalipun mengajar hanya satu kali dalam seminggu, tetapi itu sudah dinilai cukup untuk menyalurkan passionnya dalam mengajar. Hari ini, adalah hari di mana Khaira akan kembali mengajar di kampus. Walaupun kini kondisinya tengah hamil muda, lantaran kondisi kandungan dan kesehatannya juga baik-baik saja, maka Radit pun tetap mengizinkan istrinya itu untuk mengajar. Akan tetapi, saat istrinya sudah merasakan kesehatannya menurun dan kehamilan semakin besar, maka Radit meminta istrinya untuk segera berhenti.


“Jangan kecapean loh Sayang ... ingat sekarang di dalam perut kamu ada si baby. Sekarang yang dipikirkan kan dua orang Sayang, kamu sendiri dan baby yang ada di dalam perut kamu,” ucap pria itu yang mengingatkan istrinya untuk tidak kecapean dan tetap menjaga kandungannya yang masih berusia hampir tiga bulan, “Sini, mana aja yang mau dibawa, biar aku masukkan ke dalam mobil dulu.”


Melihat perhatian yang diberikan oleh suaminya, Khaira lantas tersenyum, dia kemudian memeluk suaminya dari belakang menyandarkan kepalanya sejenak di punggung suaminya, “makasih banget ya Mas ... kamu perhatian banget sih. Iya, aku akan selalu menjaga diri dengan baik. Di saat aku mulai kecapean, sudah pasti aku akan ngomong sama kamu. Lagipula, aku juga mengajar satu kali dalam seminggu, enggak berat. Kan dari dulu aku sudah bilang Mas, mengajar ini hanya sebagai passionku. Aku suka belajar dan caraku membagikan hasil ilmu yang kudapatkan ya melalui mengajar ini. Juga, karena otakku yang sering dipakai buat bekerja, semoga saja saat tua nanti aku enggak pikun. Aku berharap tidak mudah menua, bahkan otakku. Jadi, aku bisa terus mengingatmu dan mencintaimu.”


Satu pengakuan yang indah, memang benar saat otak digunakan untuk terus-menerus bekerja, kinerja otak akan semakin baik dan itu bisa mencegah pikun saat tua nanti. Khaira pun ingin otaknya terus bekerja, sehingga saat tua nanti hal yang ingin lakukan adalah selalu mengingat suaminya dan selalu mencintai suaminya bahkan saat usianya senja nanti.


Radit pun menahan tangan istrinya yang melingkari pinggangnya itu dengan erat, pria itu beberapa saat nampak memejamkan matanya, “makasih ya ... semoga usia senja nanti sistem kerja otak kita terus bekerja, kita bisa mengingat satu sama lain, dan terus mencintai seperti ini. I Love U So Much, Khairanya Mas Radit,” ucap pria itu dengan lembut.


“I Love U too Mas Raditnya Khaira,” jawabnya sembari masih betah menyandarkan kepalanya di punggung suaminya dan sembari menghirupi aroma woody yang begitu menenangkan dari tubuh suaminya itu.


Merasa cukup untuk memeluk suaminya itu, Khaira pun lantas mengurai pelukannya, “berangkat sekarang yuk Mas ... takut nanti aku telat. Hari ini aku juga mengajar mahasiswa baru, Mas. Mahasiswa tingkat 1, mereka masih muda-muda, semangatnya tinggi, semoga juga mereka rajin pas ngikutin kuliah,” ceritanya kepada suaminya itu tentang dia yang juga mendapat jadwal untuk mengajar mahasiswa tingkat satu.


“Hati-hati Sayang ... jangan sampai ditraktir sama mahasiswa tingkat 1 itu. Biasanya kan mereka naksir dosen-dosen cantik kayak kamu. Kayak ada judul novel Bu Dosen Kesayangan Brondong itu, jangan sampai loh ya.” Pria itu berbicara sembari memincingkan matanya.

__ADS_1


Khaira pun justru tergelak, “Isshss ... kamu ini ada-ada aja sih Mas. Lagian mana ada novel judulnya Bu Dosen Kesayangan Brondong. Aku enggak bakal minat Mas, sama sepertimu ... di hati ini sudah ada namanya. Milik Radit!” Jawabnya sembari tertawa.


Gemas, Radit pun mencubit hidung istrinya itu, “lucu banget sih Sayang ... jadi pengen nempelin kamu terus. Istriku jadi selucu ini sih.”


“Udah ah, bercandanya ... berangkat yuk, Mas. Aku pamitan sama Syilla dulu ya.”


Khaira kemudian berpamitan terlebih dahulu kepada Arsyilla yang berada di rumah karena hari ini Bunda Dyah yang datang ke rumah Khaira untuk menjaga Arsyilla selama Khaira mengajar. Tidak lupa, Khaira juga berpamitan kepada Bunda Dyah, “Bunda ... Khaira mengajar dulu ya, nitip Syilla,” pamitnya kepada Bunda Dyah sembari mencium punggung tangan Bundanya itu.


“Iya Khai ... hati-hati ya.” Sahut Bunda Dyah.


Dengan hati-hati Radit mengemudikan mobilnya perlahan, pria itu selalu lebih berhati-hati mengemudikan mobilnya, terlebih saat ini istrinya tengah hamil muda. Dalam perjalanan yang saat itu melewati Monumen Nasional, Khaira nampak mengamati ikon Ibukota itu dengan Api yang Tak Kunjung Padam di atasnya. Lantas, dia pun membuka suaranya, “akhir pekan nanti ke Monas yuk Mas ... kita bawa Arsyilla lihat museum dan naik sampai ke cawannya. Mau enggak?” Tanyanya kepada suaminya itu.


Radit pun menganggukkan kepalanya, “iya boleh ... hari Sabtu nanti ya. Kita naik mobil saja ya Sayang. Kalau di Monas mau naik trem yang keliling Monas itu gak apa-apa.”


“Iya ... naik mobil saja gak papa. Naik sampai ke cawannya ya Mas?” Pintanya lagi kepada suaminya.

__ADS_1


“Iya, boleh ... asalkan kamu enggak kecapean.”


Tidak terasa, mereka sudah sampai di tempat Khaira mengajar, wanita itu lantas turun dari mobil dan berpamitan dengan suaminya. Sebuah kecupan sayang, Radit tinggalkan di kening istrinya dengan penuh sayang, sebelum istrinya keluar dari mobil.


“Hati-hati ya, jangan kecapean. Bye Sayang ....” ucap pria itu kemudian melajukan mobilnya menuju ke tempatnya bekerja.


Begitu tiba di kampus, Khaira mengisi daftar kehadiran Dosen terlebih dahulu ke bagian administrasi, selanjutnya dia mulai memasuki kelas untuk mengajar mahasiswa tingkat 1 mengenai Pengantar Teknologi dan Pendidikan. Sebagaimana yang sudah Khaira prediksi sebelumnya, mahasiswa tingkat 1 memang masih muda karena mereka baru saja lulus dari SMA, masih semangat, bahkan saking semangatnya, kuliahnya seperti tempat bermain dan berteman. Akan tetapi, Khaira tetap sabar dan menyampaikan bahan ajarnya dengan sebaik mungkin. Hingga tidak terasa waktu 120 menit pun berlalu.


Usai mengajar, Khaira kembali ke ruangan dosen, di sana ternyata dia diminta oleh bagian Kepala Prodi untuk menghadap. Maka, Khaira pun segera menghadap Kepala Prodinya tersebut.


“Selamat siang Pak Sudjono ....” sapa Khaira kepada Kepala Prodi tersebut.


“Ya ya, silakan masuk Bu Khaira ... begini Bu, mengingat semakin dibutuhkannya tenaga pendidik di kampus kita ini. Saya ingin menunjuk Ibu Khaira bergabung juga sebagai Dosen Praktik Lapangan dan Dosen Pembimbing Skripsi. Saya rasa Ibu sudah memenuhi kualifikasi untuk mengemban tugas tersebut.” Penjelasan dari Kepala Prodi yang ingin memberikan tambahan jabatan untuk Khaira.


Jujur saja, Khaira tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh Kepala Prodi tersebut, tetapi dia tidak ingin memutuskan semuanya sendiri. Dia harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan suaminya. Sebab bagaimana pun, Khaira sangat tahu kondisinya sebagai seorang Istri, seorang mama, dan sekarang dirinya juga sedang hamil. Baginya, apa yang disampaikan suaminya jauh lebih penting sekalipun dalam hal karier dia tidak terlalu bersinar.

__ADS_1


Khaira pun menghela nafasnya sejenak, “saya coba diskusikan terlebih dahulu dengan suami ya Pak ... karena sekarang saya juga sedang hamil, jadi harus fokus ke kehamilan juga. Nanti jika suami sudah memberi izin, saya akan datang dan menyampaikan jawaban saya kepada Bapak.”


__ADS_2