
Menjelang siang tiba, seperti yang sudah dijanjikan Radit sebelumnya bahwa dia akan mengajak Arsyilla jalan-jalan, ternyata kali ini pria itu mengemudikan mobilnya menuju Monumen Nasional. Sebuah tempat yang sudah diidamkan oleh istrinya beberapa saat yang lalu. Tanpa memberitahukan rencananya kepada Khaira, Radit secara diam-diam membawa istri dan anaknya itu menikmati weekend dengan jalan-jalan di Monumen Nasional.
Monumen Nasional atau yang kerap disebut dengan Monas atau Tugu Monas adalah sebuah monumen peringatan yang dibangun setinggi 132 meter. Monumen ini didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari Kolonial Belanda. Tugu ini semakin menawan karena dimahkotai dengan lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala dari seluruh rakyat Indonesia. Keberadaan Monas ini menjadi sebuah ikon bagi Jakarta sebagai Ibukota Negara Indonesia, dan lidah api yang terus berkobar yang menegaskan bahwa semangat juang rakyat Indonesia tidak pernah padam.
Arsyilla yang baru pertama kali mengunjungi Monas tampak begitu tertegun takjub melihat monumen besar di hadapannya, “Pa, ini kita di mana Pa?” tanyanya dengan terus berjalan menggandeng tangan Mama dan Papanya di kanan dan kirinya.
Radit pun menunjuk bangunan keras dan bernilai sejarah di hadapannya, “ini namanya Monas, Syilla … Monumen Nasional disingkat Monas. Di dalamnya ada musem, Syilla suka belajar kan? Nanti kita lihat diorama perjuangan Indonesia yang ada di dalamnya ya.” penjelasan Radit kepada putrinya itu.
Arsyilla pun mengangguk, “iya Pa … yeay, Syilla suka Pa,” gadis itu sedikit berteriak dan lalu menunjuk bagian atas dari monumen itu, “Pa, itu api atau emas Pa?” Arsyilla memang bocah yang kritis dan mudah tertarik dengan hal di sekelilingnya, sehingga tidak jarang banyak pertanyaan yang ditanyakan oleh bocah berusia 3 tahun ini.
Mendengar pertanyaan Arsyilla, Radit dan Khaira pun sama-sama tersenyum, meskipun terkesan ceriwis, tetapi mereka tetap bersyukur karena Arsyilla tumbuh dengan optimal. Lagi, jari telunjuk Radit menunjuk puncak monumen yang ditanyakan Arsyilla, “itu lidah api Sayang, tetapi dibuatnya dengan dilapisi emas. Nanti di dalam museumnya, ada foto-foto pembuatan Monas ini. Ada arsitektur yang membuatnya. Lidah apinya dilapisi emas sebagai simbol kalau bangsa Indonesia memiliki semangat juang yang tidak pernah putus,” penjelasannya kepada Arsyilla.
Begitu memasuki pintu masuk, Radit langsung mengeluarkan dompetnya dan membeli tiga tiket masuk. Ketiganya memasuki area museum terlebih dahulu. Berbagai diorama perjuangan Indonesia, foto-foto pembangunan Monas yang diarsitekturi Freidrich Silaban dan R.M. Soedarsono, juga foto-foto Monas dari masa ke masa. Arsyilla nampak begitu senang belajar di museum, dengan dijelaskan langsung oleh Mama dan Papanya, gadis itu mengajukan banyak pertanyaan. Sesekali Arsyilla juga berlari melihat sesuatu di museum itu yang menarik perhatiannya.
“Pelan-pelan Syilla Sayang … jalan pelan-pelan saja ya, kalau berlari Mama tidak kuat Sayang.” ucap Khaira yang meminta anaknya itu untuk bisa berjalan pelan-pelan saja. Kondisinya saat ini yang sedang hamil muda, membuatnya tidak bisa berlarian ke sana ke mari untuk mengejar Arsyilla.
__ADS_1
Radit pun lantas mengejar Arsyilla yang berlarian, “Syilla … berjalan pelan-pelan saja yuk. Di perutnya Mama sedang ada adik bayi, kasihan Mama kalau kejar-kejar Syilla. Mama tidak boleh lari-lari, kasihan adiknya di dalam perut Mama. Syilla mau kan jalan pelan-pelan saja?” Pinta Radit yang meminta Arsyilla supaya tidak berlari-larian dan menjelaskan kondisi Khaira yang tidak bisa berlarian mengejar-ejarnya.
Arsyilla pun lantas diam, dia tampak berpikir, “Mama tidak bisa mengejar Syilla lagi Pa?” Tanyanya kepada sang Papa.
“Sekarang tidak bisa Sayang … nanti kalau baby nya di dalam perut Mama sakit gimana. Kasihan babynya, Syilla mau punya adik baby kan? Jadi biar babynya tumbuh sehat di perut Mama ya …” lagi Radit menjelaskan kepada Syilla dengan perlahan.
Gadis itu menganggukkan kepala dan memperlihatkan kedua bola matanya yang nampak berkedip-kedip, “iya Pa … Syilla akan jalan pelan-pelan, kan Syilla mau jadi kayak yang baik.” Usai mengucapkan kata itu, Syilla berlari dan memeluk kaki hingga pinggang Mamanya, “maafkan Syilla ya Ma … Syilla tidak akan lari-lari, biar adik babynya sehat di perut Mama.”
Mendengar Arsyilla yang baru berusia 3 tahun tetapi sudah begitu pengertian, hati Khaira terasa begitu menghangat. Wanita itu berjongkok dan memeluk Arsyilla, “makasih ya Sayangnya Mama … Syilla benar-benar jadi Kakak yang baik, pasti adik babynya di sini sayang banget sama Kakak Syilla.”
“Iya Ma … kan Syilla mau menjadi kakak yang baik. Kita jalan-jalan ya Ma, lihat museum, Syilla suka jalan-jalan ke Museum,” ucap Arsyilla sembari menggandeng tangan Mamanya.
Radit dan Khaira pun saling melemparkan pandangan, keduanya lantas tersenyum melihat Arsyilla, “Arsyilla mau jadi arsitek ya? Nanti kalau mulai sekolah, sekolah yang rajin ya Sayang … apa pun cita-cita Arsyilla nanti, Mama dan Papa akan selalu mendukung Arsyilla,” ucap Khaira kepada putrinya itu.
Dia pun menerapkan tidak ingin berekspektasi tinggi kepada Arsyilla, sebagai orang tua, dia akan memberikan ruang gerak bagi Arsyilla untuk mencapai cita-citanya, mengejar mimpinya. Sama seperti yang diceritakan suaminya tempo hari, membiarkan Arsyilla saat dewasa nanti melakukan apa yang dia sukai dan mengejar mimpinya. Tugasnya sebagai orang tua adalah mengarahkan Arsyilla untuk mengejar cita-citanya di kemudian hari.
__ADS_1
Sama halnya dengan Radit, dia pun sependapat dengan ucapan istrinya barusan. Pria itu kemudian berjongkok dan menatap Arsyilla, “benar yang dikatakan Mama … Syilla nanti sekolah yang rajin ya. Apa pun cita-cita Syilla, yang pasti Mama dan Papa akan selalu mendukung Syilla. Mau jadi arsitek juga boleh, kejar mimpi Syilla nanti ya.” Pria itu menegaskan kepada Arsyilla untuk mengejar mimpinya saat dewasa nanti.
Arsyilla yang masih berusia 3 tahun itu pun menganggukkan kepala, “Iya Mama dan Papa, nanti Syilla akan bangunkan tempat yang keren buat Mama dan Papa.” ucapnya sembari menatap kedua orang tuanya dengan mata beningnya.
Setelah puas mengelilingi museum, kemudian Radit mengajak Khaira dan Arsyilla menaiki sebuah elevator menuju Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan, dari sana Arsyilla takjud melihat keindahan Ibukota dari ketinggian 115 meter dari atas permukaan tanah. Tidak lupa menerima bertiga menolong panorama keindahan Ibukota dengan menggunakan teropong yang berada di atas sana.
“Itu gedung-gedung Pa, terlihat dari teropong ini.” Arsyilla berbicara dengan excited sembari menggunakan matanya melihat gedung-gedung yang dilihatnya dari balik teropong.
“Arsyilla bisa lihat gedung apa saja dari teropong itu?” Tanyanya kepada Arsyilla.
“Banyak Pa … itu Istana Negara, Pa.” ucap Arsyilla dengan begitu bersemangat.
“Iya Sayang … di Istana Negara itu, ada Presiden yang tinggal. Presiden itu pemimpin bangsa ini,” jelasnya kepada Arsyilla.
Membiarkan Arsyilla yang asyik melihat dengan teropong, Radit lantas bergerak dan merangkul bahu istrinya, “kenapa kamu kok diem? Capek ya?” Tanyanya sembari melihat wajah istrinya dari samping.
__ADS_1
Perlahan Khaira menggelengkan kepalanya, “enggak … aku seneng kok. Arsyilla banyak tanya, mungkin bagi orang lain dia itu ceriwis, tetapi nyatanya Arsyilla pandai dan kritis. Aku seneng aja. Makasih ya sudah diajakin ke Monas.” ucapnya kepada suaminya.
“Iya Bumilku Sayang … cuma diajakin ke Monas aja sudah bahagia, ngidamnya irit banget sih Sayang. Abis ini kita nyantai-nyantai duduk di cawannya Monas ya Sayang, Arsyilla biar bisa main-main di sana. Kamu duduk saja. Ngidamnya sudah keturutan kan Bumilku Cantik?” Tanya kepada istrinya sembari terus berdiri di belakang Arsyilla yang sedang bersemangat dengan teropong melihat panorama Ibukota.