
Pagi-pagi di musim dingin, Khaira telah terbangun. Libur kuliah mau pun tidak, Khaira selalu memiliki kebiasaan untuk bangun pagi.
Alih-alih bergelung di bawah selimut tebal dan dalam pelukan suaminya, Khaira lebih suka beraktivitas di pagi hari seperti membersihkan diri dan membuat sarapan.
Sehingga sering kali, Radit bangun dengan perasaan kaget lantaran Khaira sudah terlebih dahulu beraktivitas.
Pria itu terbangun, dan mulai menyandarkan diri untuk duduk di head board. Mengucek matanya dan menguap perlahan. Dengan suara yang masih serak khas orang bangun tidur, pria itu memanggil istrinya.
"Pagi Sayang...." sapanya sembari memberikan senyuman kepada Khaira.
Khaira yang sudah berada di dapur pun, menoleh pada suaminya. "Pagi Mas ... sudah bangun?" sahutnya.
Menganggukkan kepala. "Kamu hobi banget bikin aku jantungan tiap pagi sih Sayang." ucapnya sembari masih bersandar di head board.
"Hmm, kenapa jantungan Mas?" tanyanya sembari berjalan mendekat ke tempat tidur.
Radit menarik pergelangan tangan Khaira yang masih berdiri di sisi tempat tidur itu sehingga membuat Khaira terduduk di pangkuan suaminya. "Tiap pagi kamu hilang, aku bangun dengan tempat tidur yang kosong itu enggak enak banget Sayang."
Khaira hanya tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku terbiasa bangun pagi soalnya. Ya sudah mandi sana, Mas... Aku lanjutkan bikin sarapan dulu."
Enggan melepaskan pelukannya, Radit justru semakin mempererat memeluk hangat istrinya itu. "Sayang, tiba-tiba kok aku pengen makan Sup Ayam ya ... Keliatannya enak deh dingin-dingin gini makan yang hangat. Masakan Nusantara enak keliatannya."
Mendengar sang suaminya yang nampaknya ingin Masakan Nusantara, Khaira pun memiliki ide. "Mandi dulu Mas, abis ini ke Fresh Market yuk beli sayuran dan ayam. Nanti aku masakin deh." ucapnya.
"Ya sudah, aku mandi ya. Nanti kamu yang masak, aku yang cuci piring Sayang. Bagi-bagi tugas kita. Aku mandi dulu ya, awas jangan ngintip nanti bintitan." Pria itu masih saja menggodai istrinya.
__ADS_1
Khaira memukul dada suaminya. "Kamu emang ya Mas ... fitnahnya gak tanggung-tanggung. Kamu tuh yang suka ngintip dan ngrecokin."
Keduanya tertawa lepas hingga wajah keduanya merah lantaran candaan konyol di pagi hari.
Kurang lebih 15 menit, Radit membersihkan dirinya di kamar mandi. Pria itu keluar dengan wajah yang sudah segar.
"Sarapan Mas ..." ucap Khaira sembari menyiapkan cokelat hangat dan roti bakar. "Aku cuma bikin ini aja."
Radit pun mengambil duduk di Kitchen Island itu. "Udah dibuatin sarapan, aku udah makasih banget Sayang. Jadi kan ke Fresh Marketnya?" tanya Radit sembari mengunyah roti bakar buatan istrinya itu.
"Iya jadi... Sekali-kali masak di rumah, Mas. Kalau Sup Ayam sih bumbunya gampang dan masaknya cepet kok." sahut Khaira yang turut mengunyah roti bakar.
"Kamu kok pinter masak belajar dari mana sih Sayang?" Radit bertanya karena hasil kreasi masakan Khaira selalu enak dan cocok di lidahnya.
"Dari Bunda Dyah dong Mas, Bunda itu pinter banget masak. Kalau hari libur biasanya aku bantu-bantu aja Bunda di dapur." jawabnya, "ya sudah ke Fresh Market sekarang yuk Mas... mumpung masih pagi."
Selesai belanja dari Fresh Market, keduanya pun kembali lagi ke apartemen. Khaira melepas jaket tebalnya, menguncir rambutnya asal, lalu mulai berjibaku di dapur. Sayuran segar seperti Wortel dan Kentang, ia kupas terlebih dahulu lalu memotongnya dalam ukuran kecil. Membuat bumbu yang berupa ulekan Bawang Putih dan irisan Bawang Bombay.
Setelahnya Khaira mulai menumis Bawang Putih dan Bawang Bombay hingga mengeluarkan bau harum. Daging ayam pun ia masukkan, tumis sebentar lalu tambahkan air. Tunggu hingga mendidih, barulah Wortel dan Kentang dimasukkan. Ditambahkan bumbu seperti garam, lada, sedikit penyedap rasa, dan juga bubuk pala sedikit.
Aroma harum dari Sup Ayam itu menguar dan menggelitik indera penciuman Radit. "Baunya enak banget Sayang, jadi gak sabar pengen nyobain. Ini kamu mau bikin apa lagi?" tanya Radit kepada Khaira, sebab istrinya itu masih berkutat dengan cabai dan pisau.
"Bikin sambal kecap, Mas ... aku tuh kalau makan Sup tanpa sambal kecap rasanya kok ada yang kurang." jawabnya tanpa menoleh pada suaminya, karena sekarang ia sedang mengiris-iris cabai di atas talenan.
Radit menganggukkan kepalanya. "Kayak aku berarti, aku tanpa kamu rasanya juga ada yang kurang. Kalau sudah ada kamu, baru deh sempurna." ucapnya sembari menggerakkan alis matanya.
__ADS_1
"Gombal banget sih ..." Khaira terkekeh geli mendengar gombalan receh dari suaminya itu. "Kamu belajar gombal dari mana sih Mas?"
Radit mengedikkan bahunya. "Aku tidak belajar, kan aku bilang itu tulus dari hati. Aku cuma mengungkapkan perasaanku aja."
Sembari melanjutkan obrolan, dan Sambal Kecap buatan Khaira juga sudah jadi. Lantas, Khaira menyajikan Sup Ayam itu dalam dua mangkok dan menaruhnya di Kitchen Island.
"Silakan Mas, Sup Ayam request nya tadi udah jadi..." goda Khaira sembari memberikan semangkok Sup Ayam ke hadapan suaminya.
Radit tersenyum. "Makasih banget ya Sayang, udah dimasakin. Enak banget ini pasti." jawabnya.
"Belum dicicipin kok udah bilang enak sih Mas, cicipin dulu dong, kurang apa mas." tanya Khaira dengan wajah harap-harap cemas.
Sekali pun ia yakin bahwa masakan itu sudah pas di lidahnya, tetapi mendengar penilaian dari suaminya membuat Khaira lebih bahagia. Pujian dari suami membuatnya lega karena bisa membuatkan menu sarapan yang pas di lidah suaminya.
Pelan-pelan Radit mulai menyeruput kuah Sup Ayam itu, merasainya perlahan. "Hem, ini kurang deh Sayang..." Radit kembali menyeruput kuah Sup itu dengan sendoknya. "Kurang jika makan hanya sesendok."
Lega. Khaira pikir, rasanya akan kurang enak dan tidak cocok di lidah suaminya.
"Kamu itu loh Mas, bisa aja. Aku nungguin penilaian kamu padahal." gerutu Khaira sembari memincingkan mata kepada suaminya itu.
Radit terkekeh geli. "Udah enak kok, enggak perlu aku nilai masakan kamu emang selalu enak. Aku makan ya... Selamat makan." ucapnya dengan memakan lahap Sup Ayam dengan Sambal Kecap itu.
Khaira hanya menggelengkan kepala melihat betapa lahapnya suaminya memakan hasil masakannya. "Makannya pelan-pelan saja Mas, di panci masih banyak kok. Boleh tambah." ucap Khaira sembari mengingatkan supaya suaminya makan dengan perlahan.
Keduanya menikmati masakan Nusantara dengan bahagia. Bukan pada seberapa mewah dan mahalnya sebuah masakan, tetapi masakan sederhana bila dinikmati dengan orang tersayang, rasanya akan menjadi istimewa.
__ADS_1
Seistimewa kasih sayang dan cinta keduanya.
Like-like-like😉