Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Bertemu Wanita Itu


__ADS_3

Beberapa hari setelah pulang dari pemeriksaaan rutin kehamilan, aktivitas Radit dan Khaira berjalan seperti biasanya. Radit selalu rajin bekerja, sementara Khaira masih mengajar di kampusnya setiap hari Rabu.


Untuk urusan pekerjaan rumah tangga, Khaira bersikukuh belum mau menggunakan jasa ART, karena ia merasa masih bisa meng-handle semuanya. Di saat weekend, juga pasangan muda itu sama-sama melakukan cleaning day untuk membersihkan bersama-sama.


Jika Khaira membersihkan kulkas, dan area di sekitar kompor. Maka Radit akan membersihkan kamar mandi. Jika Khaira sudah memasak, maka Radit lah yang akan mencuci piring. Tugas rumah tangga dikerjakan bersama-sama. Khusus mengepel lantai, Radit memang melarang Khaira untuk melakukannya. Mengepel lantai adalah tugasnya, tak akan dibiarkan istrinya yang tengah hamil harus capek-capek mengepel lantai.


Sore ini, setelah suaminya pulang bekerja. Khaira meminta izin kepada Radit untuk berjalan ke mini market yang berada di ujung jalan cluster perumahannya.


"Mas, aku mau jalan ke minimarket di depan boleh?" tanya Khaira kepada suaminya.


Radit yang tengah melihat televisi, langsung menoleh melihat istrinya itu. "Ke minimarket mau ngapain Sayang?"


"Mau beli Yoghurt yang khusus untuk Ibu Hamil, Mas. Tiba-tiba pengen Yoghurt aku." jawab Khaira sembali mengedip-edipkan matanya kepada suaminya.


"Di kulkas masih ada Yoghurt kok Sayang." ucap pria itu sembari tangannya menunjuk pada kulkas yang berada di dapur.


Khaira pun merajuk. "Yoghurt yang khusus untuk Ibu Hamil, Mas ... bukan Yoghurt kayak gitu. Sama mau jalan bentar aja ke depan, cari angin."


Mendengar istrinya yang mulai merajuk akhirnya Radit mengizinkan istrinya itu untuk berjalan ke minimarket di depan. Akan tetapi, ia tidak akan membiarkan istrinya itu berjalan sendiri. Dialah yang akan mengantarkan istrinya berjalan ke minimarket depan.


Pria itu mulai mematikan televisinya, lalu berdiri terlebih dahulu. "Yuk, aku antar Bumilku ... mau jalan kaki kan?" tanyanya sembari mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Khaira.

__ADS_1


Segera bangkit. Khaira pun menerima uluran tangan suaminya itu. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju minimarket yang jaraknya kira-kira hanya membutuhkan waktu lima menit dengan berjalan kaki itu.


Keluar dari rumah, hari masih sore. Angin segar berhembus membuat Khaira menghirupi udara yang bergerak itu dengan hidungnya. Matanya juga melihat sekeliling perumahan itu. Pepohonan hijau, bunga-bunga, dan anak-anak yang bermain di ruang terbuka hijau menjadi pemandangan yang Khaira lihat sore itu.


"Kenapa kangen jalan-jalan seperti di Manchester dulu ya Sayang? Hampir tiap hari kita jalan kaki di sana." ucap Radit sembari menatap wajah istrinya yang semakin ayu dan aura keibuannya terpancar.


Khaira menganggukkan kepalanya. "Euhm, iya ... untung saja betisku enggak besar ya Mas ... padahal hampir tiap hari jalan kaki terus." Wanita hamil itu terkekeh geli.


Radit pun turut tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Begitu sampai di minimarket, pria itu nampak tergoda pada penjual Cimol yang berada di depan minimarket itu.


"Sayang, aku tunggu di luar aja boleh? Mau beli Cimol." ucap Radit sembari menunjuk sebuah gerobak bertuliskan 'Cimol 5000' di sana.


Khaira pun menganggukkan kepala. "Iya, aku cari Yoghurt nya dulu ya Mas. Aku ke dalam dulu, nanti kalau udah susul ya ... kalau aku yang duluan, aku yang susulin kamu."


Tidak langsung membeli yoghurt, Khaira justru memilih melihat-lihat terlebih dahulu apa yang ada di minimarket itu. Jika ada sesuatu yang menarik, ia akan membelinya.


Lagipula memang demikianlah kaum Hawa, suka melihat-lihat terlebih dahulu. Durasi melihat-lihat jauh lebih lama, dibandingkan dengan durasi membeli barang yang memang dibutuhkan. Maka Khaira pun berjalan menyusuri satu per satu lorong. Ia melihat mulai dari perlengkapan mandi, bahan makanan, aneka snack, barulah ia menuju tempat susu kehamilan, di sana lah terdapat yoghurt dalam bentuk bubuk yang di khususkan untuk ibu hamil.


Apa yang dicari ternyata ada, maka Khaira mulai mengambil dua kotak Yogurt itu dan segera membayarnya ke kasir. Tidak lupa Khaira membeli camilan lainnya seperti roti gandum dan juga cookies.


Selesai dengan belanjaannya yang hampir satu kantong plastik, Khaira pun membuka pintu kaca minimarket itu. Dia ingin segera menemui suaminya yang masih membeli Cimol.

__ADS_1


Akan tetapi, apa yang dilihat Khaira saat ini membuat Khaira membeku seketika. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Matanya membelalak sempurna dengan genangan air mata yang sudah terkumpul di sudut air matanya.


Wanita yang dulu menggores luka begitu dalam di hati Khaira. Wanita yang membuatnya untuk berlari. Wanita yang pernah merendahkannya.


"Untuk apa wanita itu ada di sini? Mengapa ia berdiri tidak jauh dari suaminya? Mungkinkah keduanya akan bersama lagi?"


Berbagai pikiran-pikiran negatif menghinggapi Khaira. Bayang-bayang masa lalu yang kelam ditambah pengalaman yang membuatnya untuk pertama kalinya memilih berlari sangat jauh, kini pengalaman lama itu serasa kembali di depan matanya.


"Felly..." wanita itu adalah Felly.


Tanpa kembali menemui Radit, Khaira memilih untuk berjalan ke rumahnya terlebih dahulu. Dia berjalan dengan menahan air mata dan sesak di matanya.


Melihat Khaira yang mulai berjalan ke rumahnya, Radit memutuskan untuk mengejar istrinya itu. Meninggalkan Cimol yang sudah dipesannya.


"Sayang ... tunggu Sayang." ucap Radit dengan mempercepat langkah kakinya mengejar Khaira.


Enggan berhenti, Khaira justru semakin mempercepat langkah kakinya. Perasaannya lega begitu ia telah sampai di rumah. Begitu saja ia menaruh kantong plastik berisi belanjaannya di ruang tamu, lalu ia memasuki kamar tidurnya.


Di sanalah ia menangis. Suaminya memang bersikap biasa aja, tidak terlihat percakapan dengan Felly yang sama-sama berdiri di sekitar gerobak Cimol itu. Lagi-lagi Khaira justru terjebak dalam pengalaman masa lalunya. Bertambah sesak karena justru Khaira tengah takut bahwa Radit mungkin saja akan kembali meninggalkannya, sama seperti waktu dulu di mana Radit memilih meninggalkan rumah dan hidup bersama Felly.


Jika dahulu saat Radit pergi, Khaira tidak memiliki alasan untuk bertahan. Kini jika hal itu terjadi lagi, maka sekali lagi ia tidak akan mampu bertahan dan Khaira yakin bahwa ia akan hancur karena sekarang ia sudah mencintai suaminya. Jika dulu Khaira bisa memilih pergi hingga ke Inggris untuk menempuh pendidikan S2, kini dengan keadaannya yang tengah berbadan dua kemanakah Khaira harus pergi. Perasaannya larut ditambah efek kehamilan yang sangat memungkinkan Khaira berpikir macam-macam.

__ADS_1


Khaira menangis terisak, hanyut dalam pikiran-pikiran yang memenuhi kepalanya. Sesekali Khaira mengusap air mata yang jatuh di wajahnya. Sesekali tangannya mengelus perutnya yang kian hari kian membuncit.


__ADS_2