Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Asal Kau Bahagia


__ADS_3

Tama pun harus menelan kenyataan pahit lantaran pengakuan sukanya ditolak oleh Khaira. Terkadang memang selama apa kita menyimpan perasaan suka untuk orang lain, tetap saja kita akan kalah seketika pada orang yang berani melangkah lebih dulu untuk meminangnya. Seperti itulah keadaan Tama saat, pria itu memilih mundur walau hatinya terasa sakit.


"Aku berharap kau selalu bahagia ya Khai. Sungguh-sungguh mendoakan kebahagiaanmu. Dan, siapa pun suamimu itu kuharap dia akan selalu membahagiakanmu. Sebab, jika tak bahagia, aku juga tidak akan bahagia, Khai."


Khaira hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Tama. Jauh di dalam lubuk hatinya, Khaira merasakan kekosongan. Apa itu bahagia? Dalam empat bulan belakangan, hidupnya hampa, terlebih sekarang di dalam rumahnya hanya sekadar mendengar suara manusia pun tidak. Kebahagiaan telah pergi dari hidup Khaira sejak ia menikah dengan Radit.


"Terima kasih, Tama. Aku juga berharap kebahagiaanmu ya," ucapnya tulus.


"Aku akan mencoba bahagia, Khai. Baiklah Khaira, aku pergi ya." Tama berdiri di hadapan Khaira yang masih duduk, pria itu mengulurkan tangannya, "berbahagialah selalu Khaira. Bye..." Tama pergi dan ia melambaikan tangannya kepada Khaira.


Sementara Khaira masih menatap punggung Tama, hingga pria itu menghilang. Setelah Tama tak terlihat, Khaira berjalan ia akan menemui Metta yang telah menunggunya di depan perpustakaan.


"Metta, sorry ya lama", ucapnya ketika telah berada di depan Metta.


"Iya Khai, untung aku sabar kok. Jadi gimana kafe depan ya?"


Khaira pun mengangguk, kemudian dua gadis itu berjalan menuju kafe yang letaknya di depan gerbang utama kampus mereka.


Khaira memesan nasi goreng dan lemon tea, sementara Metta memesan Chicken Teriyaki dan Jus Melon. Sambil menikmati makanan mereka, keduanya pun mengobrol bersama.


"Jadi tadi Tama ngomong apa lo, Khai?" Metta tidak sabar untuk bertanya kepada Khaira.


"Tebakan lo bener, Ta. Tadi Tama bilang, dia suka sama gue."


Metta tersenyum lebar kepada Khaira, "benar kan feeling gue. Gue bilang juga apa. Terus lo gimana?"


"Udah pasti gue tolak. Kan ya gue udah nikah Ta. Gak mungkin kan gue bermain api di belakang suami", ucapnya tegas.

__ADS_1


"Jadi serius, lo nolak Tama?"


Khaira menganggukkan kepalanya, "iya. Gue juga jujur sama dia, tentang status gue kalau sudah menikah. Beruntungnya Tama baik, dia malahan mendoakan supaya gue bahagia dan dia mau kita tetap berteman."


Metta pun lega, karena sahabatnya memiliki pendirian yang tegas. Di kampus sendiri tidak ada yang bisa menolak pesona Tama. Tetapi, sekarang di hadapannya, Khaira mengatakan bahwa ia menolak Tama.


"Lo keren Say", ucapnya sembari mengacungkan ibu jarinya. "Karena lo berani bicara fakta yang sebenarnya, ya walau pun gue tahu Tama pasti tersakiti sih. Lagian lo buru-buru nikah sih, kalau sabar dikit pasti lo bisa dapetin Tama, Most Wanted di kampus kita ini."


Khaira tertawa mendengar Metta yang bicara tiada habisnya, "Ngaco deh. Lagian kalau jodoh gue emang suami gue itu ya mau Tama yang nembak gue atau yang lainnya, kalau memang enggak jodoh ya gak bakalan terjadi, Ta. Kan semua sudah diatur sama Tuhan. Kita kan sebatas menjalani saja."


"Iya, bener. Gue setuju sama lo. Khai, boleh tanya sesuatu gak sih?" tanyanya.


"Hm, mau tanya apa?"


"Lo cinta enggak sama suami lo, secara kalian kan dijodohkan. Enggak pacaran dulu gitu."


"Ya, gue masih belajar Ta. Pernikahan kami masih empat bulan juga, masih perlu mengenal satu sama lain juga."


Sekali pun dalam mulutnya Khaira mengatakan sedang belajar, faktanya hating Khaira mengatakan yang sebaliknya. Hubungannya dengan suaminya tak lebih dari hubungan antara dua orang asing. Bahkan kini keduanya sudah 2 minggu lamanya tak tinggal bersama, itu semua karena Radit memilih tinggal bersama Felly.


***


Sementara itu di salah satu Bank swasta, tempat Radit bekerja. Pria itu sedang fokus melakukan verifikasi untuk seluruh pembukaan bank. Pekerjaan yang cukup berat, tetapi Radit sudah terbiasa mengerjakan verifikasi data sekali pun ia harus lembur.


Dua minggu terakhir, Radit memang disibukkan dengan pekerjaannya yang sangat banyak. Bahkan ia pun harus pulang hingga larut malam, terlebih jarak tempuh tempatnya bekerja hingga rumahnya yang sekarang cukup jauh, membuat Radit harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam.


"Gimana Bro, verifikasinya sudah sampai mana?" Tanya Dimas yang juga merupakan rekan sesama auditor dengan Radit.

__ADS_1


"Masih gue kerjain kok. Semoga aja segera cepet selesai."


"Belakangan ini wajah lo kusut banget sih, Bro? Gak seperti biasanya. Bahkan sekarang naik motor ya? Di mana mobil lo?"


"Mobilnya gue jual Bro, buat beli perumahan walau pun cuma sederhana."


"Lo enggak tinggal sama orang tua lo lagi? Kenapa sih Bro, lo enggak kerja sama Ayah lo aja kan lebih enak."


"Passion gue ngaudit kayak gini, belum pengen aja sih kerja sama Ayah. Tapi ya enggak tahu ke depannya gimana."


"Malam minggu sibuk enggak, nobar lagi yuk? Ntar gue ajakin Khaira lagi", ucap Dimas dengan semangat.


Mendengar Dimas menyebut nama Khaira, membuat Radit sadar bahwa sejak ia pindah, ia belum pernah sama sekali menginap di rumah Khaira. Tetapi mengingat bagaimana Khaira selama ini acuh dengannya, membuat Radit juga merasa cuek. Tiba-tiba saja Radit kepikiran dengan Khaira.


"Jangan ajakin istri orang, nanti suaminya ngambek...," sahutnya singkat.


"Mana ada suaminya ngambek, kalau gue jadi suaminya udah pasti gue anterin kemana aja, gue jagain selama nobar, enggak dibiarin sendirian kayak gitu. Cowok apaan yang membiarkan istrinya nonton sepakbola sendirian, ya walau pun jam 9 malam udah selesai sih. Tapi suami kan wajib menjaga istrinya."


Mendengar ucapan Dimas, tiba-tiba saja Radit merasa tertampar. Ya sebagai seorang suami bagi Khaira, jangankan menjaga, bertutur kata baik ia tak melakukannya. Bahkan sekarang dia benar-benar meninggalkan Khaira untuk Felly. Dia rela mengorbankan istrinya untuk memperjuangkan wanita yang ia cintai. Kali ini Radit merasa bahwa selama empat bulan, ia sama sekali tidak menjaga Khaira. Bahkan berusaha mengenal gadis itu dengan baik pun tidak. Hati Radit tiba-tiba gusar mendengar perkataan Dimas.


"Mungkin suaminya baru sibuk, jadi dia nonton sepak bola sendiri..." sahutnya.


Dimas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Cewek cantik dan sebaik Khaira kalau enggak dijagain bener-bener pasti nyesel deh suaminya nanti, sampai aja cowok yang berani merebut Khaira, pasti suaminya nanti yang bakalan gila. Gue jamin deh."


Radit bergidik ngeri mendengar ucapan Dimas. Ia pun segera mencari cara mengalihkan pembicaraannya dengan Dimas. "Udah, ayo lanjut kerjakan verifikasinya biar enggak lembur malam ini. Lo mah jomblo, kalau gue kan enggak. Kerja-kerja! Gak usah ngebahas rumah tangga orang."


Namun di dalam hatinya, Radit tengah menyusun rencana untuk mengunjungi Khaira saat akhir pekan nanti. "Semoga akhir pekan segera tiba", gumam Radit dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2