
Hari ini adalah akhir pekan, baik Khaira mau pun Radit sama-sama berada di dalam rumah. Namun, sikap keduanya yang sama-sama acuh, berada di dalam satu rumah juga tidak membuatnya berinteraksi layaknya suami istri, bahkan interaksi layaknya teman pun tidak.
Walau pun terkadang keduanya berpapasan di dalam rumah, tetapi keduanya hanya diam, menyapa pun tidak. Benar-benar tidak ada yang mau memulai, membiarkan keadaan berjalan begitu saja tanpa berusaha mengubahnya.
Berada sepanjang hari di dalam kamar tentu bukan pilihan yang bijak untuk Khaira. Akhirnya ia memutuskan untuk membersihkan kamar tidurnya, membuka tirai jendelanya membiarkan sinar matahari masuk, mengambil vakum cleaner untuk membersihkan semua debu, membersihkan kamar mandi, dan juga meja belajarnya. Cleaning Day! Ya, seharian ini Khaira sudah bertekad untuk membersihkan rumah ini.
Setelah melihat seluruh kamarnya telah bersih, rapi, dan harum, Khaira memutuskan turun ke bawah, ia hendak membersihkan dapur.
Baru ia melangkah menuruni anak tangga, rupanya Radit dan Felly tengah duduk bersama di ruangan tamu. Keduanya asyik bercengkerama tanpa menghiraukan keberadaan Khaira.
Khaira pun tidak mengambil pusing, ia langsung ke dapur untuk membersihkan kulkas, membersihkan kompor api dua tungkunya, mengelap area wastafel, dan mengepel lantai dapur itu. Sekian jam berlalu untuk Khaira gunakan membersihkan dapur.
Lagipula melihat Radit dan Felly bermesraan adalah hal yang biasa, mata Khaira sudah biasa dengan tontonan seperti itu, tetapi tak bisa dipungkiri hatinya tetap saja sakit setiap kali Radit bersama dengan Felly.
"Kalau dari awal kamu enggak menerima perjodohan dari orang tuamu, kita gak akan terjebak dalam rumah tangga yang menyesakkan seperti ini, Mas. Kamu pun bisa bahagia bersama dia, tanpa menyakiti aku di sini. Selama kita menikah, tak pernah sekali pun kau melihatku sebagai seorang istri. Senyuman indah di wajahmu pun hanya kau berikan kepadanya, sementara hanya wajah masam yang kau berikan padaku." Gumam Khaira dalam hati sembari ia memilah-milah barang-barang yang akan ia buang dari kulkas.
Khaira benar-benar tak menghiraukan keadaan di sekitarnya, hingga ia tak menyadari kini Radit dan Felly telah duduk di meja makan. Keduanya membeli makanan secara online, karena Felly memang tak suka memasak. Membeli makanan secara online adalah pilihan yang tepat bagi Felly.
"Hei, kamu mau ngapain? Mau ikutan makan enggak?" Radit nampak memanggil Khaira, pria itu juga menawarkan Khaira untuk makan bersama.
Khaira yang sedang fokus membersihkan kulkasnya tidak terlalu mendengar suara suaminya.
"Hei Anak Kecil, lo mau ikutan makan enggak?" Kali ini Felly yang bersuara dengan cukup keras, hingga Khaira pun menoleh ke sumber suara.
"Enggak, makasih." Sahut Khaira singkat.
"Belagu banget sih jadi bocah. Udah baik ya Radit beliin makanan, gitu ditawarin makan sekalian enggak mau. Masih bocah aja belagu." Felly nampak tersulut emosi, dan ia pun mengomeli Khaira.
__ADS_1
"Udah, biarin aja. Kita makan aja ya Yang. Keburu dingin." Ucap Radit mencoba menenangkan Felly.
Akhirnya Radit dan Felly menyantap makanan yang mereka beli secara online, sementara Khaira masih membersihkan beberapa bagian dapurnya. Setelah tidak ada Bi Tinah, Khaira memang lebih sering berada di dapur. Terkadang ia memasak untuk dirinya sendiri, jadi ia juga harus bertanggung jawab untuk kebersihan dapurnya.
Sayup-sayup Khaira mendengar bagaimana Radit dan Felly menyantap makanannya sambil bercanda tawa. Bahkan sesekali Felly juga menyuapi Radit.
Ah, pemandangan yang indah, tapi tidak indah bagi Khaira. Ia yang istri pertama, tetapi nyatakan tidak mendapat perlakuan baik. Romantisme Radit dan Felly justru seperti bara sekam yang dilemparkan ke wajah Khaira.
"Sabar Khaira... Kamu sendiri yang sudah memutuskan untuk bertahan dalam rumah tangga ini. Walau pun usahamu sia-sia, walau pun keberadaanmu dipandang sebelah mata, tapi ingat ini adalah jalan dari Tuhan. Dia memberikan pencobaan yang tidak melebihi kekuatanmu." Khaira memenangkan hatinya sendiri. Sungguh, ia percaya bahwa percobaan yang ia alami saat ini bukan karena kebetulan, ini adalah jalan Allah yang harus ia lalui.
Saat Khaira kini tengah mengepel lantai dapur, handphone berbunyi.
Metta Calling
Khaira dengan cepat mengusap tombol hijau di layar handphone nya.
[Sibuk enggak, Khai? Sore jalan-jalan yuk? ]
[Kalau sibuk sih enggak, mau kemana emangnya?]
[Ke Mall yuk, lama kita enggak jalan-jalan ke Mall bareng.]
[Hem, oke boleh deh.]
[Oke, ketemuan langsung di Mall ya Khai.. Bye...]
Sambungan telepon telah berakhir. Khaira tersenyum lebar sesaat setelah menerima telepon dari Metta.
__ADS_1
Rupanya diam-diam, Radit melihat bagaimana Khaira tersenyum. Pria itu mengamati lekat-lekat dari kejauhan, dan menangkap senyuman di wajah Khaira.
Entah mengapa menangkap senyuman tulus di wajah Khaira, membuat hati Radit terasa lega. Mungkin ini akan menjadi momen yang akan selalu Radit ingat, dan ia akan menyimpan senyuman itu di hatinya.
Radit nampak diam dan mengamati Khaira, hingga ia lupa Felly tengah mencoba menyuapi dengan sendok yang berada di depan mulutnya.
"Aaa... Makan dong Ay, sudah disuapin juga. Kok malahan bengong sih." Perkataan Felly membuyarkan lamunan Radit.
"Eh, iya..." Pria itu pun membuka mulutnya, menerima suapan nasi dari Felly.
"Mikirin apa sih, kok ampe bengong juga." Tanya Felly sembari ia menampilkan wajahnya yang cemberut.
"Enggak mikirin apa-apa juga kok. Udah yuk, dihabisin makanannya. Usai ini mau kemana, di rumah aja nyantai atau mau jalan-jalan?" Tanya Radit sembari menatap wajah Felly yang cantik.
"Ehm, aku boleh enggak, Ay kalau mau jalan-jalan sama temenku." Tanya Felly ragu.
"Mau kemana emangnya?"
"Jalan-jalan aja sih, mau ke salon. Biasa cewek. Boleh enggak?"
"Hem, iya deh boleh."
"Asyik, kamu emang paling baik deh, Ay.. Love U..." Ucap Felly sembari menyandarkan kepalanya di bahu Radit.
Khaira yang telah selesai mengepel lantai dapur pun, melihat bagaimana Felly menyandarkan kepalanya di bahu Radit. Gadis itu langsung menyimpan peralatan pel nya dan naik ke kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, tiba-tiba saja hati Khaira kembali merasa sakit. Hanya di kamarnya lah Khaira bisa meluapkan kesedihannya. Kamar yang menjadi saksi bisu bagaimana kesedihan Khaira selama menjadi istri Radit. Berapa banyak air mata yang menetes hingga nyaris setiap hari, hidupnya berhiaskan tetesan air mata.
__ADS_1
"Kamu bisa Khai... Sabar, kuat, dan percaya dengan pertolongan Tuhan. Dia yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Ingat, ada pelangi sehabis hujan, begitu pula ada kebahagiaan di balik semua kesedihan ini." Khaira mengatakan afirmasi positif untuk dirinya sendiri. Sekali pun situasi ini serasa mencekik lehernya, tetapi Khaira akan bertahan sejauh yang ia bisa.