Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Suami Perhatian


__ADS_3

"Jadi kapan kita mau mendatangi Obgyn (Dokter Kandungan)?" Tanya Radit sembari masih memeluk istrinya itu.


"Aku cari info dulu ya Mas. Sapa tau ada Obgyn wanita, biar lebih nyaman konsultasinya." jawab Khaira dengan cepat.


"Tetapi memakai kontrasepsi aman enggak sih Yang?" tanya Radit kepada Khaira.


"Setahuku aman sih Mas. Pemakaian kontrasepsi memang diperuntukkan bagi pasangan yang mau menunda kehamilan, namun setiap alat kontrasepsi memiliki kelebihan dan kekurangannnya masing-masing. Jadi, untuk mengetahui mana yang cocok lebih baik sih konsultasi dulu Mas. Dokter akan berikan saran mana yang baik dan cocok buat tiap-tiap pasangan."


Radit mendengarkan penjelasan Khaira, pria itu semakin takjub karena istrinya benar-benar berwawasan luas. "Kamu pinter banget loh Sayang, semua hal aja kamu tahu. Wajar banget kalau kamu dapat scholarship hingga ke Manchester. Kamunya pinter sih." pujinya tulus.


Khaira sejenak memandangi wajah suaminya itu, "Enggak Mas, dalam proses mendapat beasiswa itu ada usaha manusia, keberuntungan, dan campur tangan Tuhan juga. Mungkin aku segelincir dari orang-orang yang beruntung itu." jawab Khaira.


"Udah cantik, pinter, baik hati, rendah hati, paket komplit deh kamu ini. Makin cinta deh sama kamu." ucap Radit sembari mengeratkan pelukannya kepada Khaira.


***


Tiga Hari Kemudian


Khaira sudah mendapatkan informasi mengenai Obgyn yang ingin ia datangi untuk melakukan konsultasi sehubungan dengan rencana keduanya untuk menunda kehamilan hingga selesai kuliah nanti.


"Mas, sudah siap? Kita mau mendatangi Obgyn hari ini jadi kan?" tanyanya sembari meminum secangkir teh hangat yang berada di Kitchen Island.


"Jadi dong Sayang, jangan ditunda-tunda lagi. Ladangnya udah minta dibajak dan disemai tuh Sayang." Godanya sembari mengerlingkan mata.


"Ish, apa sih Mas. Setiap diajak bicara pasti seperti itu deh." sahut Khaira sambil cemberut.


Radit malahan terlihat santai, kini pria itu berjalan mendatangi Khaira. "Kan cuma bercanda Sayang. Lagian gak salah juga kan." ucapnya melembut. "Kamu tenang aja, aku gak akan mungkin macem-macem kok. Bagaimana pun kamu prioritasku. Janji."


Radit mengulurkan jari kelingkingnya, dan Khaira itu menyambut dengan menautkan jari kelingkingnya juga hingga keduanya berjanji.

__ADS_1


"Dah ya, jangan cemberut lagi. Mas kan sudah janji."


Khaira pun menganggukkan kepalanya, dalam hatinya ia merasa lega karena selama tinggal bersama dengannya, Radit memang tidak macam-macam.


"Usai masalah ini selesai, kita liburan yuk Sayang? Mumpung kita di Inggris, bisa kan kita mengelilingi Eropa. Waktunya pas kan, kamu liburan musim dingin, jadi enggak sibuk. Gimana?" Radit menawarkan liburan kepada Khaira.


Khaira nampak berpikir dan menimbang-nimbang, kayaknya ide yang bagus. "Boleh Mas. Tetapi sekarang kita ke Obgyn dulu yuk?"


Radit mengiyakan ajakan Khaira, tapi sebelumnya ia ingin menggoda istrinya itu.


"Sun dulu dong Sayang, abis itu kita berangkat deh." ucapnya sambil menaruhkan jari telunjuknya di pipi.


Khaira merotasi matanya malas, suaminya memang benar-benar. Akhirnya Khaira pun berjinjit dan menjatuhkan satu sun di pipi suaminya itu.


Cup!


Sun Sayang di pipi suaminya mendarat dengan sempurna.


Radit itu beranjak dari sisi Khaira, pria itu memakai jaket tebal dan sepatunya. Sementara itu, Khaira juga tengah memakai jaket tebalnya dan mengenakan syal di lehernya.


Keduanya berjalan hingga ke halte bus, lalu menaiki bus sekitaran 20 menit untuk mendatangi praktik Obgyn yang sebelumnya Khaira telah mendaftar melalui handphonenya.


Begitu sampai di sana, Khaira dan Radit pun langsung dipersilakan berkonsultasi dengan Dokter Kandungan yang rupanya adalah Warga Negara Indonesia yang tengah mengambil spesialisasi untuk Program Bayi Tabung di Inggris. Dokter Indri, itulah nama Dokter Kandungan itu yang menyambut Radit dan Khaira dengan ramah.


"Halo selamat sore, dengan Bapak dan Ibu siapa ini?" Sapa Dokter itu ramah.


"Selamat sore Dokter, saya Khaira dan ini suami saya Radit." sahut Khaira memperkenalkan nama mereka berdua. Khaira menjeda ucapannya sejenak. "Maaf, Dokter dari Indonesia ya?" tanya Khaira ragu-ragu.


"Iya Bu, saya orang Indonesia yang sedang mengambil S2 spesialisasi di sini. Saya aslinya orang Semarang." Dokter itu menjawab ramah. "Ibu dan Bapak dari Indonesia juga ya? Wah, senang bisa bertemu dengan sesama WNI di sini."

__ADS_1


Khaira dan Radit pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Jadi, ada yang bisa dibantu Ibu dan Bapak?" lagi tanya Dokter itu.


"Hmm, begini Dokter. Tujuan kami kesini untuk konsultasi terkait pemilihan alat kontrasepsi yang tepat. Kami berdua ingin menunda sejenak untuk memiliki keturunan, Dok. Salah satu alasan utama karena saya masih berkuliah, Dok."


Dokter Indri mendengarkan penjelasan Khaira dengan saksama. Setelah cerita Khaira usai, barulah ia memberi penjelasan kepada Khaira.


"Ya Bu. Jadi begini pemilihan kontrasepsi itu lebih baik mempertimbangkan efektivitasnya yang sesuai dengan kebutuhan pasangan. Kendati demikian saya akan jelaskan dulu bahwa alat kontrasepsi ada yang sifatnya hormonal seperti Pil KB dan Suntik KB. Ada hormon progestin yang disuntikkan atau dimasukkan ke dalam tubuh untuk menghindari terjadinya ovulasi. Lalu, ada pula kontrasepsi non hormonal seperti pemasangan IUD, implan, atau pun KB untuk Bapaknya nih kalau mau. Kalau menurut saya, karena menunda kehamilan hanya selama masih keadaan kuliah jadi lebih baik memilih kontrasepsi non hormonal saja Bu. Lebih efektif, nanti bisa langsung dilepas ketika Bapak dan Ibu sudah siap menjalani program kehamilan."


Penjelasan yang detail dari Dokter Indri sangat bermanfaat untuk Radit dan Khaira yang notabene masih pasangan baru.


Setelah mendengar penjelasan dari Dokter Indri akhirnya Khaira memutuskan untuk memilih kontrasepsi implan atau susuk berukuran kecil dan bentuknya seperti jarum. Cara kerja alat kontrasepsi ini akan mengeluarkan hormon progestin secara perlahan.


Mendengar keputusan dari kedua pasangan muda itu, Dokter ini segera memasangkan implan ke jaringan bawah kulit, di lengan bagian atas.


Khaira memejamkan matanya dan menahan nafasnya ketika alat berbentuk jarum itu dimasukkan ke dalam lengan tangannya.


"Sudah ya Bu. Kelebihan dari implan ini adalah sangat efektif dengan tingkat kegagalan kurang dari 1%. Juga KB ini dapat langsung Ibu lepas begitu nanti Ibu dan Bapak sudah siap untuk memiliki keturunan, namun ketahanan implan ini hanya 3 tahun ya Bu, jadi sebelum 3 tahun lebih baik sudah dilepas dan diganti baru jika ingin melanjutkan. Juga setelah pemasangan ini siklus menstruasi akan menjadi tidak teratur, dan kemungkinan terjadi memar dan bengkak di area tangan. Oke, demikian. Apa ada yang ingin dikonsultasikan lagi?"


Khaira dan Radit pun menggelengkan kepalanya, merasa sudah puas dengan penjelasan dari Dokter Indri yang super lengkap. Merasa sudah puas, keduanya pun berpamitan dan akan membayar biaya konsultasi dan pemasangan kontrasepsi di bagian administrasi.


Sepanjang perjalanan pulang, Radit memegangi tangan Khaira yang barusan dipasangi implan. "Sakit ya Sayang?" wajahnya terlihat sendu saat itu.


"Sakit lah Mas, dimasukkin jarum masak enggak sakit sih?" Jawab Khaira sembari cemberut.


"Jangan bersih-bersih apartemen dan bikin sarapan dulu sampai tangan kamu sembuh ya Sayang. Biar Mas aja yang melakukannya."


"Ish, lebay deh Mas. Kan belum kerasa sakit..."

__ADS_1


"Jangan nolak, Mas aja yang bersih-bersih dan bikin sarapan. Tugas kamu manut sama Mas. Okey...."


"Hmm, okey Maskuw..."


__ADS_2