
Menjadi Ibu Hamil yang terkadang memiliki keinginan sesuatu atau ngidam itu sangat wajar. Terkadang menginginkan makanan tertentu atau juga bisa ingin selalu menempel dengan suami, kali ini ternyata Khaira mengidam jenis makanan yang lainnya.
Sembari mengasuh Arsyilla di rumah, dia mengirimkan pesan kepada suaminya bahwa dia menginginkan Nasi Padang dan meminta nanti sore saat suaminya pulang dari kantor, bisa membawakannya sekalian.
[To: Mas Radit]
[Mas, kayaknya aku pengen makan Nasi Padang ini.]
[Nanti kalau Mas Radit pulang, minta tolong dibelikan sekalian ya.]
[Lauknya pake rendang dan enggak pakai Sambal Ijo.]
[Makasih Mas Radit ....]
Pesan itu segera meluncur ke aplikasi pesan milik suaminya, berharap suaminya bisa segera membuka aplikasi pesan itu dan membelikan Nasi Padang yang dia mau.
Sementara di kantornya, Radit nampak membaca pesan yang dikirimkan oleh istrinya itu, pria itu lantas sesegera mungkin membalas pesan dari istrinya.
[To: My Lovely Khaira]
[Oke Sayang ....]
[Mau apa lagi? Biar aku sekalian beliin.]
[Tunggu nanti sore ya. Hati-hati di rumah. Jangan kecapean.]
__ADS_1
[Love U, Sayangnya Mas Radit]
Khaira yang nampak tersenyum lantaran tengah tertawa membaca pesan dari suaminya, sontak saja membuat Arsyilla penasaran. Dengan cepat, Arsyilla pun bertanya kepada mamanya itu, “Ma, kenapa Mama senyum-senyum melihat handphone? Ada apa Pa?” Tanyanya yang merasa Mamanya sedang tersenyum.
Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya, “ini Sayang ... Mama sedang mengirim pesan kepada Papa, rasanya kok Mama pengen banget makan Nasi Padang, tapi maunya Papa kamu yang beliin,” jawab Khaira yang mengatakan bahwa dirinya menginginkan Nasi Padang yang dibeliin langsung oleh suaminya.
“Nasi Padang itu apa Ma?” Tanya Arsyilla yang terlihat penasaran.
“Nasi Padang itu makanan tradisional khas Sumatera Barat, Sayang ... berisi nasi putih, lalu banyak pilihan lauknya ada Rendang, Ayam Pop, Ikan Goreng, Dendeng, atau plihan lauk lainan, kemudian diberi kuah dari sayur yang rasanya enak.” Khaira menjawab sembari menunjukkan sebuah foto Nasi Padang dari mesin pencarian di aplikasi handphonenya. Menunjukkan gambar Nasi Padang secara visual.
Arsyilla nampak menganggukkan kepalanya dan melihat gambar visual yang ditunjukkan Mamanya itu, “yang pengen makan ini Mama atau baby nya Ma?” Tanyanya lagi kepada sang mama.
Memang Arsyilla begitu kritis, anak kecil itu pun banyak sekali bertanya. Akan tetapi, sebisa mungkin Khaira akan menjawab setiap pertanyaan dari Arsyilla dengan sabar. Sebab, memang anak seusia Arsyilla banyak ingin tahu, sehingga sebisa mungkin Khaira menjelaskan dengan hati-hati dan sabar tentunya.
Beberapa jam kemudian ...
“Wah, makasih banyak ya Papa ... mau makan sama Mama, Pa? Kalau mau, aku nungguin Papa mandi dulu.” Khaira pun berbicara dan menawarkan kepada suaminya untuk makan bersama.
Pria itu pun lantas tersenyum, “aku mandi dulu ya Sayang ... sudah jadi kebiasaan sejak nikah sama kamu, kalau pulang kerja langsung mandi. Aku ke atas dulu ya, buat mandi.” Tidak menunggu lama, Radit segera menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya. Sejak bersama Khaira, dia memang selalu membersihkan badannya terlebih dahulu setiap kali pulang dari bekerja.
Sembari menunggu suaminya, Khaira memilih menyeduh teh terlebih dahulu, dan dia turut naik ke kamar menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu. Setelahnya, Khaira menuju kamar Arsyilla dan mengajak putri kecilnya itu untuk turun ke bawah bersamanya.
“Syilla, mau ikut Mama ke bawah? Yuk, kita tunggu Papa di bawah yuk ....” Ajaknya kepada Arsyilla untuk menunggu Papanya di lantai bawah.
Gadis kecil itu pun mengangguk, “Papa sudah pulang ya Ma? Yuk, Ma ... Syilla mau membaca buku ini sama Papa,” gadis itu menunjukkan sebuah buku yang berjudul Liburan Terbaik.
__ADS_1
Khaira pun mengangguk, “iya, nanti boleh kok baca buku ini bareng Papa ... tumben Syilla mau baca buku ini tidak membaca buku Ensiklopedia?” Tanyanya kepada Arsyilla.
Dengan cepat Arsyilla menggelengkan kepalanya, “tidak Ma ... Syilla mau liburan Ma, liburan ke tempatnya Uncle Adam, sapa tau di sana Syilla bisa ketemu Kak Aksara. Di sana Kak Aksara baru ngapain ya Ma? Kakak masih ingat sama aku enggak ya Ma?”
Rupanya Arsyilla tengah teringat dengan sosok Aksara. Gadis kecil itu masih ingat bahwa Aksara sekarang tinggal di Singapura, dan menanyakan mungkinkah Aksara di sana masih mengingatnya.
Tidak dipungkiri bahwa Khaira pun merasakan perasaan rindu sama seperti Arsyilla, dalam setiap bulannya biasanya mereka akan mengunjungi panti asuhan dan bermain bersama Aksara, dan sekarang kebiasaan itu hilang. Sudah pasti, Arsyilla juga merindukan sosok yang sudah dianggapnya seperti Kakaknya itu.
“Sabar ya Sayang ... Mama hanya percaya kalau di sana Kak Aksara selalu sehat dan bahagia. Pasti Mama dan Papanya juga sangat menyayangi dia, sama seperti Mama dan Papa yang selalu menyayangi kamu. Banyak berdoa ya Sayang, supaya di kemudian hari nanti, kamu bisa bertemu lagi dengan Kak Aksara.” Khaira menjelaskan dengan perlahan kepada Arsyilla, berharap anaknya itu bisa menerima dan memahaminya.
“Iya Ma ... Arsyilla selalu berdoa buat Kak Aksara. Kalau Syilla kangen, Syilla biasanya akan baca buku pemberian dari Kak Aksara,” ceritanya kepada sang Mama bahwa setiap merindukan Aksara, Syilla memilih untuk membaca buku yang diberikan oleh Aksara dulu.
Obrolan Khaira dan Arsyilla pun usai, karena Radit yang sudah turun dari kamar. Pria itu turut bergabung dengan istri dan putrinya, “Halo Mama dan Syilla, kalian baru ngapain?” Tanyanya kepada mereka berdua.
“Syilla mau membaca buku Liburan Terbaik ini bersama Pa. Mau Pa?” sembari menyondorkan sebuah buku kepada Papanya.
“Boleh Sayang ... yuk, baca bersama,” sahutnya dan kemudian mulai membaca buku tersebut bergantian dengan Arsyilla.
Sementara Khaira beranjak ke dapur, dia membuatkan teh hangat untuk suaminya, dan sekaligus membuka Nasi Padang yang sudah dibelikan oleh suaminya itu. Wanita itu membawa Nasi Padangnya dan nampan berisikan teh hangat ke ruang keluarga tempat Arsyilla dan Radit sedang membaca buku.
“Sambil diminum tehnya, Pa ... masih hangat.” Wanita itu menyondorkan secangkir teh hangat ke hadapan suaminya.
“Makasih Sayang ... buruan dimakan Nasi Padangnya, dihabisin.”
Sembari mendengarkan suaminya dan putrinya sedang membaca buku bersama-sama, Khaira mulai menyantap satu bungkus Nasi Padang. Tidak terasa, satu bungkus Nasi Padang itu habis, tandas, tak tersisa.
__ADS_1
“Ya ampun, Nasi Padang segini banyaknya aku abis loh Pa ....” Wanita itu berbicara kepada suaminya, biasanya Khaira hanya mampu menghabiskan Nasi Padang yang dibungkus setengah porsi saja, dan sekarang dia justru menghabiskan satu porsi Nasi Padang.
“Gak apa-apa Sayang ... kalau ngidam terus dimakan itu aku malahan seneng. Kamu dan adik bayinya sehat-sehat. Sampai ketemu di bulan 9 nanti ya my baby, udah ditunggui Papa, Mama, dan Kak Syilla.” Pria itu berbicara sembari mengelus perut istrinya yang masih rata.