
Hati manusia adalah tempat untuk menyembunyikan segala sesuatu. Terkadang mulut berkata A, namun tidak di hati.
Jujur saja usai bertemu lagi dengan Felly, Khaira merasa tidak tenang. Bahkan sepanjang perjalanan wanita hamil ini lebih banyak diam. Radit pun tentu sudah sangat tahu perubahan mood yang terjadi pada istrinya, tetapi ia memilih untuk menunggu hingga sampai tiba di rumah.
Perjalanan tidak membutuhkan waktu lama, karena kini keduanya telah sampai di kediaman mereka. Khaira masih menghidupkan mode silent, dan enggan berbicara.
Radit yang menyadari setiap gerak-gerik istrinya langsung menggenggam tangan Khaira dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Kamu kenapa sejak tadi diem? Kalau aku bersalah, katakan di mana letak salahku, jangan diem seperti ini." ucap itu sembari mendaratkan satu tangannya di sisi wajah Khaira.
Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya. "Tidak, kamu tidak salah apa-apa kok Mas. Aku cuma yang lagi banyak pikiran."
Radit segera membawa tubuh istrinya dalam pelukannya. "Kenapa? Hmm. Cerita sama aku."
Enggan bercerita, Khaira justru memeluk erat suaminya itu sembari menghirupi aroma woody yang begitu menenangkan dan menjadi kesukaan Khaira selama ini.
"Sayang, dengarkan aku. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku sudah pernah bilang kan, ibarat tanah hatiku dan hidupku ini hak milik dan hak gunanya adalah milikmu. Aku gak akan tergoda oleh siapa pun. Termasuk dengan wanita yang tadi kita sengaja ketemu di Mall. Udah enggak ada celah lagi di hatiku buat siapa pun. Cuma ada kamu." ucap Radit sembari mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Pernah ingat filosofi empat lilin yang dulu pernah kamu ucapkan Sayang?" tanyanya dan Khaira pun mengangguk.
"Aku selalu ingat apa yang kamu ucapkan itu. Lilin yang pertama adalah damai sejahtera, lilin ini bisa padam karena manusia tidak bisa menjaganya. Lilin yang kedua adalah iman, lilin ini bisa padam karena menjaga iman itu sangat sulit. Lilin yang ketiga adalah cinta, tetapi cinta pun bisa padam karena tidak adanya kepercayaan dan pengkhianatan. Lilin yang keempat adalah harapan. Harapan inilah satu-satunya hal yang bisa tetap hidup dan menghidupkan ketiga lilin yang lain. Kamu bilang kita berdua lah yang bisa menjaga keempat nyala lilin itu. Iman, cinta, damai sejahtera, harapan itu kita genggaman bersama. Aku gak akan memadamkan salah satunya, bersama kamu aku akan tetap menyalakan keempat lilin itu." ucap Radit dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Khaira menguraikan pelukannya di tubuh suaminya. "Aku tadi agak cemas sih Mas, terlebih saat dia bilang menjadi single mom. Tetapi aku tulus mengatakan supaya dia kuat menjadi Ayah dan Ibu sekaligus. Aku takut kamu akan simpati hingga akhirnya kembali lagi padanya. Aku cemas, Mas... Sungguh."
Radit menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. "Lihat mata aku Sayang, aku gak akan pernah melakukan seperti itu. Aku sudah janji padamu kan. Percayai aku... Aku tidak memungkiri kamu cemas dan muncul berbagai pikiran-pikiran lainnya, tetapi beri aku kepercayaan Sayang. Percayai aku. Aku bisa menjadi pria yang kamu percaya."
"Iya Mas... Aku percaya kepadamu. Aku parnoan ya Mas? Maaf." ucap Khaira.
Radit mulai tersenyum. "Aku yang minta maaf, dulu aku nyakitin kamu banget. Semua ini karena apa yang kulakukan dulu. Hmm, tetapi kadang kalau kamu seperti ini aku seneng karena kamu benar-benar cinta sama aku dan enggak mau kehilangan aku kan?" ucapnya sembari sedikit tertawa.
Khaira memukul dada suaminya itu. "Aku cinta sama kamu, Mas... Banget...."
Hati Radit begitu menghangat mendengar pernyataan cinta dari istrinya sendiri. Sebagai pria, tentu saja ia pun bahagia mendapat pengakuan cinta dari istrinya.
"Jadi, kita jaga sama-sama keempat lilin kita ya?" tanya Radit dengan sedikit menunduk menatap wajah istrinya.
Tanpa ragu, Radit pun menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking istrinya. "Aku janji Sayang. Aku benar-benar cinta sama kamu. Bahkan aku udah gila, Sayang. Jangan ninggalin aku. Kamu melengkapi aku."
Khaira tersenyum. "Mulai deh lebay." ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya.
"Aku gak lebay Sayang, ini penegasan rasa cinta aku kepadamu. Radit hanya untuk Khaira, selamanya. Sampai aku menutup mataku." Radit mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh.
"Makasih Mas, sudah mencintaiku sebesar ini. Khaira juga hanya untuk Mas Radit, selamanya." ucapnya pun dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Memang begitulah rumah tangga, kadang ada kerikil yang berserakan, tetapi setiap pasangan perlu membuang kerikil tersebut. Menghadapi bersama berdua. Tidak ada rumah tangga yang sempurna, yang ada adalah bagaimana cara untuk selalu berjuang membina dan menjaga keharmonisan rumah tangga.
Pun demikian dengan Khaira dan Radit, di saat ada kerikil mungkin menimbulkan kecemasan, kekhawatiran, tetapi mereka nyatanya bisa bertahan.
"Mas, kita lanjut tata barang-barang belanjaan tadi yuk? Biar nanti semua sudah ready di kamar Baby A." Ajak Khaira kepada suaminya itu.
Radit pun menganggukkan kepala. "Iya, ayo... Kamu ke kamar Baby A aja Sayang, biar aku yang bawa ke sini belanjaannya tadi. Kamu jangan angkat yang berat-berat, perut kamu udah semakin besar." ucap Radit memperingatkan istrinya yang semakin besar perutnya karena usia kehamilannya juga semakin bertambah.
Menurut. Khaira langsung menuju kamar Baby A yang terkoneksi dengan kamar tidurnya. Di sana ia masih mengamati apakah ada yang kurang sembari menunggu suaminya datang.
Begitu suaminya telah masuk ke kamar Baby A, Khaira langsung mengeluarkan barang-barang keperluan baby dari paper bag. Sementara Radit sibuk merakit box untuk tempat tidur bayi.
Khaira menata pakaian untuk baby dalam lemari yang berbentuk seperti laci penyimpanan itu. Menata di sana satu storage untuk satu jenis barang. Kadang wanita hamil tersenyum sendiri membayangkan lucunya Baby A jika sudah lahir nanti.
"Sayang, tolong ke sini sebentar. Ini Box nya sudah kuat belum sih? Tolong bantu cek Sayang. Sama bantu pegangin ini dulu, aku kencangkan dulu pengaitnya." ucap Radit meminta bantuan istrinya
Khaira pun berjalan dan memegangi salah satu penyangga dan suaminya mulai menguatkan pengait yang berupa mur dan baut itu dengan menggunakan obeng.
"Nah, sudah kuat Sayang. Makasih ya udah bantuin." ucap Radit sembari membereskan box bayi itu.
"Kamu keliatan seneng banget Mas, sampai sudah siapkan semua buat Baby A." ucap Khaira sembari menoleh melihat suaminya yang terlihat begitu excited itu.
__ADS_1
Radit pun menganggukkan kepala. "Seneng banget aku Sayang. Udah gak sabar pengen ketemu Baby A. Aku membayangkan pasti Baby A akan cantik sepertimu. Buah cinta kita berdua Sayang, sudah pasti aku sangat bahagia." ucapnya sembari tertawa.