Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Menginap di Rumah Eyang


__ADS_3

Saat Bunda Ranti, Radit, dan Khaira tengah terlibat pembicaraan serius. Arsyilla yang tengah nampak menikmati waktu bermain bersama Eyang Kakungnya, yaitu Ayah Wibi nampak berlari keluar menghampiri Mama dan Papanya.


"Ma, Pa ... Arsyilla pengen sekali-kali menginap di rumah Eyang, boleh?" tanya gadis kecil itu sembari memegangi tangan Mamanya.


Khaira pun tersenyum kemudian menatap wajah putrinya itu. "Kenapa Arsyilla menginap di sini?" tanya Khaira kepada putrinya itu.


"Syilla mau main sama Eyang Kakung, Ma ... Besok pagi bangun bisa memberi makan ikan." ucap gadis itu sembari menunjuk aquarium besar yang berada di salah satu sudut rumah Eyangnya itu.


"Coba Syilla minta Eyang dulu, boleh enggak Syilla menginap di sini." ucap Khaira yang sebenarnya untuk mengajari Arsyilla perihal tata krama berkaitan dengan meminta izin kepada Eyangnya.


Perlahan gadis itu mendekati Eyang Putrinya dan memegang tangan Eyangnya. "Eyang, Syilla boleh tidak bobok di rumah Eyang? Mau bobok sama Eyang." ucap gadis kecil itu dengan begitu polosnya.


Alih-alih segera menjawab, Bunda Ranti justru nampak mencium Arsyilla terlebih dahulu. "Tentu boleh dong Syilla Sayang. Beneran, Syilla mau bobok sama Eyang? Tidak mencari Mama dan Papa nanti?" tanya Bunda Ranti kepada Arsyilla.


Dengan cepat Arsyilla menganggukkan kepalanya. "Tidak ... Arsyilla selalu bobok sendiri di kamar kok Eyang. Kan Syilla udah mau jadi Kakak. Sebentar lagi punya adik baby kan Ma?" tanyanya kepada sang Mama.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya Sayang ... Di sini sedang bertumbuh babynya."


Setelah itu Arsyilla menarik tangan Bunda Ranti, Eyangnya untuk mengajaknya tidur. "Ayo kita tidur Eyang ... Arsyilla sudah mengantuk." ucapnya sembari menguap.


Bunda Ranti yang semula duduk pun mulai berdiri dan mengikuti Arsyilla. "Kalian juga istirahat saja. Kamu jangan terlalu banyak pikiran ya Khai, maaf karena tadi Bunda benar-benar tidak tahu dengan kejadian sebelumnya di London, beberapa tahun yang lalu." ucap Bunda Ranti yang kembali meminta maaf kepada Khaira.

__ADS_1


Khaira lantas turut berdiri dan memeluk Bunda Ranti. "Tidak apa-apa Bunda. Khaira bisa memahami semuanya. Maaf juga jika tadi Khaira bersikap tidak sopan saat masih ada tamu. Maaf ya Bunda ...." ucapnya yang juga meminta maaf kepada Bundanya.


Bunda Ranti pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Khaira. "Ya sudah, sana kalian juga istirahat. Arsyilla malam ini biar bobok sama Eyangnya saja."


Setelah itu, Bunda Ranti pun menyusul Arsyilla memasuki kamar. Sementara Radit yang masih duduk di situ perlahan pun berdiri dan merangkul bahu istrinya. "Nginep dadakan di rumah Eyang ya Sayang ... gak apa-apa kan malam ini nginep di situ dulu?"


Khaira perlahan menolehkan lehernya guna memandang pria tampan yang adalah suaminya itu. "Iya... Gak apa-apa." jawabnya sembari melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat di mana kamar tidurnya berada.


Begitu telah sampai di kamar tidur, Khaira memilih duduk terlebih dahulu di sofa. Dia masih belum ingin menikmati kasur empuk berukuran Super King Size di sana. Wanita yang tengah hamil itu memilih menyandarkan kepalanya ke sofa yang berada di kamar itu. Sementara melihat Istrinya yang duduk bersandar, Radit menghampiri Istrinya itu.


"Kenapa, kok keliatan lesu?" tanyanya sembari mengambil tempat di sisi Istrinya itu.


aku masih sebel saja sebenarnya." ucapnya disertai dengan helaan napas panjang dari hidungnya.


Sangat tahu. Itulah ungkapan yang paling Radit ketahui saat ini. Dia melihat dengan jelas bagaimana Khaira nampak sebal saat melihat Fanny pertama kali. Apa yang terjadi kali ini memang di luar prediksinya, tetapi sekalipun boleh meminta kepada Tuhan, maka Radit pun meminta tidak ada badai atau pun kerikil dalam rumah tangganya bersama Khaira.


Khaira masih tampak mendengkus kesal. "Tadi sengaja banget sih, pake acara jatuh di sebelah kamu. Untung saja enggak jatuh di pangkuanmu. Sebel banget." ucap Khaira yang mengaku sebal dengan polah tingkah Fanny yang menurutnya ganjen.


Tidak dipungkiri bahwa selama Fanny bertamu tadi, dia menahan sebisa mungkin. Bahkan jika di bilang baru kali ini juga jika meminta bergantian tempat duduk dengan suaminya. Sebagai seorang Istri, dia merasa sangat tidak suka jika ada yang berusaha menggoda suaminya.


Radit pun tersenyum, melihat Istrinya itu. Pemandangan yang langka jika Istrinya menjadi cemburu seperti ini. Sehingga saat Khaira menunjukkan kecemburuannya, Radit diam-diam justru tersenyum dalam hati.

__ADS_1


"Kamu cemburu ya Sayang?" tanya Radit pada akhirnya.


Pertanyaan yang membuat Khaira tertawa sumbang dan menggelengkan kepalanya. "Haa, cemburu?" ucapnya sembari tertawa.


Perlahan Radit pun merubah posisi duduknya guna melihat ekspresi wajah Istrinya yang nampak lucu saat cemburu itu. "Mama sedang cemburu kan?" tanya sekali lagi.


Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya. "Enggak ... enggak cemburu." jawabnya dengan cepat.


"Padahal kalau kamu cemburu boleh-boleh aja loh Sayang ... aku malahan seneng kalau kamu cemburu." akunya bahwa ternyata Radit tidak keberatan jika Istrinya itu cemburu.


"Cemburu sih boleh-boleh aja kok. Kan ya aku pun sering banget cemburu sama kamu." lanjut pria itu sembari menggerakkan alis di atas matanya.


Khaira lantas terdiam dan menatap wajah suaminya yang kali ini nampak begitu serius. "Aku bukan cemburu, tapi aku gak suka dia genit banget. Ganjen." sahutnya dengan ketus.


Kini kedua tangan Radit bergerak guna meraih kedua tangan Istrinya, menggenggamnya erat. "Apa pun itu, ketahuilah Sayang ... di sini, di hati ini cuma ada kamu. Kalau hati ini sedikit terbagi, sudah pasti terbaginya untuk Arsyilla dan adiknya nanti. Kamu boleh pegang ucapan aku ini. Bumilku jangan sebel lagi ya ... jangan cemberut terus. Seumur hidupku, cuma kamu yang aku mau Sayang. Dan, sejak kamu memberi kesempatan padaku, setiap hari kujalani untuk membuktikan keseriusanku. Sama sepertimu yang selalu setia kepadaku." ucap pria itu dengan sungguh-sungguh.


Mendengar ucapan yang serius dan sorot mata suaminya yang sangat tulus, Khaira justru berkaca-kaca. Sejak dulu, setiap kali suaminya itu berkata jujur dan terus terang, dia justru dengan mudahnya mengeluarkan air mata. "Janji ya Mas ... Aku beneran enggak suka. Kamu tahu Mas, wanita itu tidak membutuhkan emas, perak, dan permata, asalkan suaminya setia dan selalu mencintainya, kebahagiaan itu sudah sangat cukup bagi wanita. Begitu pun denganku, cukuplah kasih sayang, perhatian, dan cintamu padaku yang selalu hadir setiap waktu." ucapnya yang mengungkapkan perasaannya.


Radit pun mengangguk, jari tangannya mulai menyeka tetesan air mata yang membasahi wajah Istrinya itu. "Iya Sayang ... aku akan selalu melakukannya. Kamu juga ya, jangan pernah berhenti mencintaiku ... jangan pernah berubah. Aku pastikan, kalau hati ini terbagi, ini pun terbagi untuk Arsyilla dan adiknya nanti. Kalianlah orang-orang yang selalu memenuhi hatiku ini dengan cinta." ucapnya dengan sungguh-sungguh.


Rasanya hati Khaira menjadi menghangat dengan setiap ucapan dan perlakuan dari suaminya itu. Pun hal yang sama Khaira rasakan, jika pun hatinya terbagi itu pun untuk Arsyilla dan juga untuk si baby yang saat ini sedang tumbuh di dalam rahimnya.

__ADS_1


__ADS_2