
"Kenapa kamu seolah-olah mengurungku di sini sih?" ucap Radit yang begitu kesal Felly karena ia selalu meminta Radit untuk berdiam diri di dalam rumah.
Bahkan saat Radit terkadang ingin pergi keluar, Felly selalu mencari cara menahan supaya Radit tidak jadi pergi. Praktis Radit keluar rumah hanya untuk bekerja saja, selebihnya dia hanya akan menghuni rumah itu. Lebih parah lagi, saat Felly bekerja di shift malamnya pun, ia tak akan membiarkan Radit keluar dari rumah. Radit seperti berada di dalam sangkar yang dibuat oleh Felly.
"Jadi sekarang kamu marah ya Ay, kalau aku melarang-larang kamu?" ucap Felly dengan merasa tak mau kalah.
"Iya, aku sekarang marah. Aku seperti tidak bisa bernafas. Kemana saja aku mau pergi, pasti selalu cegah. Apa ini yang namanya cinta? Jika tidak ada rasa percaya?" ucap Radit yang sudah tersulut emosinya.
Felly pun semakin pula tidak terima dengan perkataan Radit. "Kamu sendiri yang janji kan Ay, bakalan nurutin perkataanku. Bakalan nurutin apa yang aku mau. Tetapi, sekarang malahan kamu marah-marah sama aku. Apa kamu sudah enggak cinta lagi sama aku?"
"Jangan membawa-bawa cinta, kalau ujungnya kamu selalu saja tidak percaya dan hanya memperbolehkan aku keluar untuk bekerja." Radit membuang nafasnya secara kasar. "Sekarang aku tanya, kamu cinta atau posesif sama aku? Posesif kamu ini sudah termasuk posesif akut."
"Itu karena kamu sudah janji bakalan turutin apa yang aku mau, Ay. Dan, aku mau kamu tetap seperti itu. Aku cuma takut kehilanganmu." Ucap Felly yang kini wajahnya berubah menjadi sendu.
"Bukan berarti sekadar keluar mencari angin saja kamu curigai. Posesif itu boleh tapi jangan terlalu akut, justru kita harus memberi kepercayaan pada pasangan kita." Radit masih merasa tidak terima dengan sikap Felly saat ini.
Mungkin tingkat emosi Radit sedang berada di puncaknya. Sejak menjalin hubungan dengan Felly, Radit selalu mengalah, memprioritaskan Felly di atas kepentingannya sendiri, bahkan ketika Felly meminta rumah pun, Radit menyanggupinya dan ia merelakan untuk menjual mobilnya hanya untuk membahagiakan Felly. Ibarat kata semua yang bisa ia lakukan akan Radit lakukan untuk Felly, namun yang terjadi Radit kini justru merasa terkurung bersama Felly di sini.
Namun semakin hari sikap Felly yang semakin posesif dan hanya membiarkannya untuk bekerja justru membuat Radit semakin frustasi. Dahulu, saat Felly meminta rumah, dia berjanji akan membiarkan Radit untuk mengunjungi Khaira setiap kali ia bekerja saat shift malam. Akan tetapi, sekian bulan berlalu nyatanya Felly nyaris tak membiarkan Radit untuk mengunjungi Khaira.
Radit pun melemparkan helmnya begitu saja, lalu masuk ke dalam kamar. Emosinya membuatnya meledak, karena itu dia hanya melemparkan helmnya begitu saja.
Braaakkkk...
Suara lemparan helm.
Felly terkaget melihat Radit yang seketika melempar helmnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Semarah apa pun Radit, tidak biasanya ia sampai melemparkan barang yang berada dalam genggaman tangannya.
Segeralah Felly mengikuti Radit masuk ke dalam kamarnya. Felly mengambil tempat duduk di samping Radit.
__ADS_1
"Ay, maaf... Aku benar-benar minta maaf." Ucap Felly sembari kedua tangannya menangkup wajah Radit.
Radit masih enggan, dia berpaling dan enggan menatap Felly.
"Ay, lihat aku dong... Jangan marah lagi ya... Aku janji, aku gak akan posesif lagi." Dengan menunjukkan wajah puppy eyes, Felly masih menangkup wajah Radit dengan tangannya.
"Maaf yah... Aku gak akan lagi mengekang kamu. Kamu boleh keluar, yang penting kamu jaga hati kamu ya ... Terutama jangan sampai ada wanita lain yang menempati hati kamu ini."
Akhirnya Radit pun kini mau menatap Felly yang berulang kali telah meminta maaf dan merajuk padanya.
"Iya..." jawab Radit.
Mendengar jawaban Radit yang telah memaafkannya Felly lantas memeluk Radit, setelahnya wanita itu menempelkan bibirnya dengan bibir Radit. Memberikan ciuman untuk menghilangkan rasa kesal di hati Radit.
Awalnya bibir Felly hanya sekadar menempel di bibir Radit, namun lama-lama ia berani ******* kecil-kecil hingga menerobos masuk mengabsen setiap inci bagian dalam mulut Radit. Nafas keduanya yang semula tenang, kini keduanya sama-sama memburu. Keduanya hanyut dalam permainan lidah untuk sekian menit lamanya.
Felly yang semula menutup matanya, kini kedua matanya membelalak. Ia seolah tak percaya, Radit mengakhiri momen panas mereka.
"Sudah, cukup..." ucap Radit lantas ia pergi keluar ke ruangan depan.
Lagi-lagi Radit mengusap kasar wajahnya.
"Kenapa aku justru teringat dengan Khaira barusan? Mengapa aku justru tidak suka saat Felly menyentuhku seperti itu." Bahkan kini Radit mengusap bibirnya, seolah ingin menghilangkan jejak bibir Felly di sana.
"Ay, kamu kenapa?" tanya Felly yang kini ikut menyusul Radit duduk di sofa ruang tamu.
"Aku tidak apa-apa." ucap Radit perlahan.
Felly mengernyitkan matanya, "Tidak biasanya kamu menolakku walau pun kita tidak pernah melakukannya terlalu jauh." ucap Felly dengan jujur.
__ADS_1
"Hmm, gak apa-apa. Ya udah aku mau masuk ke kamar aku mau istirahat kepalaku pusing."
Sekali lagi Radit meninggalkan Felly, Radit memilih kembali ke dalam kamar. Ia begitu pusing mengapa hati dan perasaannya saat ini selalu dipenuhi dengan Khaira, Khaira, dan Khaira.
Radit kembali mengambil handphonenya dan melihat pesan yang semalam ia kirimkan pada Khaira, pesan itu masih tercentang satu.
Lama Radit merebahkan dirinya di dalam kamar, lantas handphonenya berdering, ia pikir Khaira yang menghubunginya, ternyata telepon dari Bunda Ranti.
[Dit, baru di mana?] tanya Bunda Ranti melalui sambungan teleponnya.
[Radit baru di luar, Bun... Ada apa?]
[Barusan mertuamu telepon, Khaira hari Selasa nanti sidang skripsi. Kamu bisa enggak ambil cuti satu hari dan kita bikin surprise untuk Khaira?]
[Besok Radit akan ajukan dulu ya Bunda...]
[Oke, tapi jangan kasih tahu Khaira ya Dit. Kita kan mau bikin kejutan, kalau Khaira udah tahu duluan, namanya bukan kejutan.]
[Iya Bunda... Siyappp...]
[Ya udah, Dit. Ketemu Selasa nanti di kampusnya Khaira langsung ya... Hati-hati.]
[Iya Bunda...]
Usai telepon dari Bunda Ranti berakhir, Radit hanya menatap kosong langit-langit di kamarnya.
"Sampai momen penting dalam hidupmu pun, kamu tidak memberitahuku, Khai... Apa aku sebegitu tidak penting dalam hidupmu hingga kamu tidak memberitahuku sidang skripsimu. Padahal beberapa hari yang lalu saat kita bertemu di kampusmu, aku sudah memintamu untuk mengabariku saat sidang skripsi dan wisudamu nanti."
"Penyesalan selalu datang terlambat. Jika penyesalan datang awal, maka tidak akan ada orang yang membuat kesalahan."
__ADS_1