
Keesokan paginya, saat subuh Khaira telah bangun. Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dengan tiga buah test pack berbeda merek yang semalam sudah dibelikan suaminya.
Dengan perasaan berdebar, Khaira berpikir akankah melakukan tes kehamilan sekarang. Beberapa kali wanita itu nampak menggigiti kukunya, karena tengah dalam keadaan bingung. Arsyila memang sudah berusia 3 tahun, dan dia sering kali meminta adik bayi sebagai teman bermain di rumah. Akan tetapi, Khaira seolah masih takut dan trauma dengan momen melahirkan yang menurutnya adalah salah satu peristiwa paling sakit dan dramatis yang pernah dia alami.
Beberapa kali Mama muda itu menghela napasnya dan menimbang-nimbang akankah melakukan tes kehamilan atau tidak. Beberapa menit berpikir, akhirnya Khaira pun memutuskan untuk melakukan tes kehamilan di pagi buta itu.
Saat alat pendeteksi kehamilan itu mulai bekerja, Khaira menahan napasnya. Detik berganti detik, hingga satu garis merah menyembul ke atas. Matanya waspada mengamati pergerakan garis merah itu. Hingga beberapa detik kemudian muncullah satu garis lagi yang membuat mata Khaira membelalak dengan sempurna?
"Apakah aku hamil lagi ya Tuhan?" gumamnya lirih. Air matanya berderai begitu deras saat mendapat dua garis merah di test pack itu.
Dengan penuh perhatian, Khaira melihat ketiga test pack itu satu per satu. Barangkali dia salah lihat, tetapi semuanya menunjukkan dua garis merah dan satu berbentuk hati.
Khaira menyeka air matanya yang menggenang di sudut matanya. Kemudian mengusap perutnya yang masih rata.
"Hai Baby, Anak Mama ... Ternyata kamu ada di dalam sini ya." sapanya kepada calon bayi dengan berlinangan air mata.
Rupanya tidak hanya saat mengandung Arsyila yang membuat Khaira menjadi lebih cengeng, kali ini pun dia juga lebih cengeng. Perasaan seorang Mama jika berkaitan tentang anak selalu saja sensitif, dan itulah yang dirasakan Khaira saat ini.
Walaupun beberapa menit yang lalu Khaira merasa takut, tetapi sekarang saat melihat hasil dari test packnya hati Khaira begitu membuncah dengan kebahagiaan. Ingin sekali dia berlari dan membangunkan suaminya yang masih terlelap.
Khaira pun bergegas membersihkan berbagai alat yang digunakannya untuk mengetes dengan mengenakan test pack. Lalu membersihkan test packnya terlebih dahulu, kemudian dia menyembunyikan satu test pack di bawah bantalnya.
Bukan kembali tidur, tetapi Khaira justru menatap wajah suaminya yang masih terlelap. Memperhatikan kelopak mata, alisnya yang gelap dan begitu simetris di kanan dan kiri, hidungnya yang mancung, wajah tampan suaminya yang selalu menjadi wajah yang selalu dia rindukan. Khaira sedikit merapikan anakan rambut di kening suaminya, sebelum kembali menaruh kepalanya di dada bidang suaminya dan tangannya melingkari pinggang suaminya.
__ADS_1
"Kamu akan menjadi Papa untuk calon baby di sini Mas...." batinnya dalam hati sembari memeluk erat tubuh suaminya.
Membiarkan dirinya terlelap barang untuk sejenak dan memberikan kejutan saat surya di pagi hari akan menyapa.
Rasanya baru beberapa menit, Khaira terlelap sekarang justru dia terbangun lantaran mendengar suara cukup berisik dari kamar mandinya. Khaira kemudian duduk dan mengucek kedua matanya, tangannya mencari-cari di mana suaminya berada, ternyata tidak ada sosok suaminya di sisinya.
Perlahan Khaira bangun dan mencari ke kamar mandi.
"Mas ... Mas Radit ...." ucapnya memanggil suaminya dari balik pintu kamar mandi.
"Hmm, ya Sayang ... aku di dalam." terdengar sahutan dari suaminya yang ternyata memang sedang berada di dalam kamar mandi.
Khaira pun lantas masuk ke dalam kamar mandi, seperti hari kemarin, kali ini Khaira juga memijit punggung suaminya itu. Kemudian mengambilkan tissue untuk menyeka bibir suaminya.
Setelah usai, Khaira melingkarkan tangannya dipinggang suaminya, lantas membawanya duduk di tempat tidur.
Dengan cepat Radit menggelengkan kepalanya dan mengusap wajah istrinya yang nyaris menangis di pagi hari itu. "Tidak apa-apa Sayang ... lagian kenapa kamu menangis?"
Khaira lantas beringsut dan mengambil sesuatu di bawah bantalnya. Menyerahkan sebuah test pack berwarna putih pink itu.
"Kita akan mempunyai baby lagi, Mas...." kali ini bukan hanya berlinangan air mata, tetapi Khaira menangis sampai terisak.
Radit mengambil test pack itu dari tangan istrinya menatap tanda love yang tertera di benda pipih itu dan kemudian tersenyum dan kemudian memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"Jadi positif Sayang?" tanyanya perlahan.
Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya ... positif Mas."
"Alhamdulillah ... akhirnya, Tuhan menjawab doa kita. Semoga baby nya sehat-sehat di dalam perut Mama." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Tidak dipungkiri Radit pun bahagia dengan kabar kehamilan dari istrinya itu.
Khaira mengurai sejenak pelukannya kemudian menatap wajah suaminya itu. "Jadi, kamu kena couvade syndrom, Mas ... aku yang hamil, kamu yang morning sickness. Maaf yah."
Radit pun menggelengkan kepalanya. "Itu terjadi karena aku sangat mencintaimu, Sayang ... Kehamilan simpatik kan? Gak apa-apa, aku akan menanggungnya. Doaku kamu sehat, baby kita juga sehat. Jangan capek-capek Sayang." ucapnya memperingatkan istrinya supaya tidak terlalu capek.
Kemudian Radit menyeka buliran air mata yang masih saja mengalir di wajah istrinya itu. "Enggak Arsyila, enggak adiknya Arsyila, Mama nya gampang banget nangis sih." ucapnya sembari tertawa.
"Baby nya yang bikin aku jadi cengeng. Maaf ya Mas ... beneran gak apa-apa morning sickness? Aku kasihan sama kamu." ucapnya yang kasihan dengan suaminya yang sudah dua hari ini selalu morning sickness.
Radit menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa Sayang ... kan aku dari dulu selalu bilang, biar aku yang menanggungnya. Alih-alih melihatmu kesakitan, biarkan aku saja. Jadi, kapan kita menemui Dokter Indri, Sayang? Aku selalu suka setiap kali cek perkembangannya baby. Aku bisa melihat detak jantungnya, pertumbuhannya, posisinya di dalam perut kamu. Semua itu adalah bentuk dari kebahagiaan." ucapnya yang nampak begitu bahagia.
Khaira pun tersenyum. "Minggu depan aja Mas... Gak usah keburu-buru." jawabanya.
Berbeda dengan Khaira yang terlihat lebih santai, Radit justru mengernyitkan keningnya. "Kenapa harus nunggu minggu depan? Enggak pengen lihat usia janinnya Sayang?"
Khaira menggelengkan kepalanya. "Kehamilan kedua biasanya seorang Ibu lebih santai sih Mas ... karena sudah pernah punya pengalaman sebelumnya. Kalau hitunganku mungkin sudah 5 mingguan Mas." ucapnya sembari menerka-nerka hitungan dari aplikasi kesuburannya.
"Jangan terlalu lama untuk cek up Sayang. Biar dapat vitamin juga buat babynya, kamu juga dapat kalsium. Yang pasti kamu sehat, baby nya juga sehat. Jangan terlalu capek-capek Sayang. Semua pekerjaan rumah tangga enggak harus kamu kerjakan sendiri. Memakai Asisten Rumah Tangga juga gak apa-apa." ucap Radit yang memang meminta supaya istrinya tidak terlalu capek dengan pekerjaan rumah tangga.
__ADS_1
Melihat suaminya yang khawatir, Khaira justru tertawa. "Salah satu hal yang aku sukai saat aku hamil itu, kamu tambah perhatian dan memperhatikanku. Aku suka diperhatiin. Cuma, aku masih bisa handle, Mas ... Kehamilan bukan menjadi alasan untuk tidak bergerak dan melakukan pekerjaan rumah. Yang pasti aku akan hati-hati kok. Kalau aku kecapekan atau apa, pasti aku bilang sama kamu."
Radit pun merengkuh istrinya ke dalam pelukannya. "Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan. Aku percaya Arsyila akan seneng banget saat nanti adiknya lahir. Biar dia memiliki teman bermain. Terima kasih Wifey ... I Love U So Much...."