Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Kembali Bertemu


__ADS_3

“Halo Bu … kita bertemu lagi.”


Terdengar sapaan dari seorang wanita yang secara tiba-tiba mengambil tempat duduk di samping Khaira.


Khaira yang tengah duduk dengan pikiran yang kosong dan hati yang cukup bergemuruh pun, akhirnya mau tidak mau menoleh ke arah sumber suara itu. Melihat siapa yang kini duduk di sebelahnya, apakah seseorang yang dia kenal sebelumnya.


“Masih ingat dengan saya?” tanya wanita tersebut kepada Khaira.


“Maaf … rasanya, saya agak lupa.” jawab Khaira dengan sopan.


Wanita itu pun tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Khaira, “Kita pernah bertemu di Jewel Changi dulu Bu … di Singapura.”


Sontak saja Khaira mencoba mengingat kembali apa yang sekiranya terjadi saat dirinya ke Jewel Changi dulu. Beberapa saat mencoba mengingat, Khaira pun seakan mendapatkan kembali ingatannya, yaitu kepada sosok wanita yang curhat dengannya saat itu.


“Ah, saya ingat … Anda ya Bu? Sekarang di Jakarta ya?” tanya Khaira kepada wanita tersebut.


“Iya, sekarang saya tinggal di Jakarta, Bu … enggak menyangka ketemu lagi di sini.” ucap wanita tersebut kepada Khaira.


Wanita itu lantas mengamati perubahan bentuk badan Khaira dengan perutnya yang menyembul dan sudah terlihat membuncit, “Boleh saya memegang perutnya sebentar Bu?” tanya sebelum menyentuh perut Khaira.


Khaira pun mengangguk, pikirnya kan yang ingin menyentuh perutnya seorang wanita, jadi dia tidak keberatan. “Silakan Bu …” jawabnya sembari mengangguk.


Perlahan wanita itu menggerakkan tangannya, dan mulai menyentuh perut Khaira yang sudah membuncit itu, “Wah, rupanya setelah beberapa bulan, Ibu sudah hamil. Saya jadi teringat saat hamil dulu. Momen kehamilan itu sangat bersejarah.” ucapnya sembari tersenyum.


“Iya benar Bu … mau hamil berapa kali pun, momen dan ceritanya selalu berbeda-beda.” sahut Khaira sembari menunduk, sorot matanya kini tertuju pada perutnya yang membuncit itu.

__ADS_1


Wanita itu pun mengangguk, “Saya hanya memiliki pengalaman mengandung satu kali, Bu … tetapi, bersyukur beberapa bulan yang lalu saya sudah menemukan anak saya.”


“Alhamdulillah …” dengan cepat Khaira menyahut dan mengucapkan syukurnya karena wanita tersebut sudah berhasil menemukan anaknya.


Tidak dipungkiri bahwa dirinya turut berbahagia, sebab dia tahu bahwa sangat tidak mudah untuk berpisah dari anak sendiri. Kini, saat wanita yang pernah ditemuinya di Jewel Changi Waterfall beberapa waktu yang lalu telah mengatakan bahwa dia sudah menemukan anaknya yang hilang, Khaira pun turut berbahagia.


“Terima kasih Bu … saya masih ingat dulu Ibu mendoakan saya dengan tulus, tidak berselang lama, saya dan suami bisa menemukan jejak anak saya tersebut. Benar yang Ibu katakan dulu, anak saya dalam keadaan sehat dan masih hidup.” ungkapnya dengan mata yang tampak begitu berbinar.


Khaira pun mengangguk, “Saya turut berbahagia ya Bu … sekarang di mana anaknya Bu?” tanya Khaira yang sontak saja menanyakan di mana keberadaan anak dari wanita yang dulu pernah curhat dadakan saat bertemu di Changi, Singapura.


“Oh … anak saya sedang mengikuti Ayahnya ke Rumah Sakit, Bu. Terkadang dia mengikuti Ayahnya untuk piket sebentar ke Rumah Sakit. Saya ke sini sejenak, dan akan menjemput mereka di Rumah Sakit.” jawabnya.


Setidaknya Khaira bisa menebak bahwa suami dari wanita tersebut adalah seorang Dokter, orang yang piket di Rumah Sakit bisa saja seorang Dokter, Perawat, atau petugas Rumah Sakit lainnya dan kali ini Khaira menebak bahwa mungkin saja suami wanita tersebut adalah seorang Dokter.


Khaira pun mengulurkan tangannya, menjabat tangan wanita itu. Dalam hatinya merasa tenang, memiliki teman yang hanya sebatas mengobrol rasanya menyenangkan. Setelah wanita itu pergi, barulah Khaira melupakan sesuatu yaitu dia justru lupa bertanya wanita tersebut bernama siapa.


Suasana kembali hening bagi Khaira, hanya orang yang berlalu lalang memenuhi taman. Kembali Khaira duduk dengan pandangan kosong. Setidaknya saat bertemu wanita tersebut, dia tidak begitu memikirkan perasaan kecewanya kepada suaminya, sekarang saat dirinya sudah kembali sendiri, Khaira kembali teringat dengan Fanny dan juga suaminya.


Khaira duduk dengan beberapa kali menghela napasnya, haruskah dia terus berada di taman ini? Atau yang lebih ekstrem, dia memilih kembali pulang ke rumah. Jujur saja, dia merasa kecewa dengan suaminya. Kecewa karena dia tidak tahu seberapa sering Fanny datang ke kantor untuk menemui suaminya itu.


Saat Khaira hanya dalam lamunannya, justru dia merasakan sebuah tangan yang menepuk bahunya perlahan.


“Aku nyariin kamu kemana-mana ternyata kamu di sini Sayang …”


Tanpa menolehkan kepalanya, Khaira sudah sangat hafal dan tahu kalau itu adalah suara suaminya. Akan tetapi, Khaira justru hanya diam. Merespons pun tidak. Dia lebih memilih tetap berdiam diri, dan menghiraukan suaminya itu.

__ADS_1


Merasa istrinya hanya diam, Radit kemudian mengambil tempat duduk di samping istrinya itu.


“Kamu marah kan Sayang? Aku tahu tanpa kamu menjelaskan. Namun, kamu perlu mendengar penjelasan aku. Itu semua tidak seperti yang kamu bayangkan.” ucap Radit yang datang dan berniat memberikan penjelasan.


Akan tetapi, Khaira hanya diam dan kali ini benar-benar tidak merespons ucapan suaminya itu. Hatinya terlampau capek dan kesal tentunya.


“Kamu mau mendengarkan penjelasan aku?” tanyanya lagi kepada istrinya yang masih dalam mode silent itu.


Namun lagi-lagi, Khaira justru bersikap acuh tak acuh kepadanya. Sifat berdiam saat marah nyatanya kembali lagi pada diri istrinya itu.


Radit pun menghela napasnya, dan dia menyandarkan punggungnya ke bangku taman itu, sekilas pria itu menyugar rambutnya yang sebelumnya telah tertata rapi dengan menggunakan pomade.


“Khairaku, Sayangku … itu tadi tidak seperti yang kamu pikirkan, Sayangku. Memang benar, aku menemuinya, tetapi aku menemuinya untuk mengusirnya. Kamu enggak percaya sama aku?” ucap Radit yang berusaha memberikan penjelasan kepada Khaira.


Sama halnya dengan Radit, Khaira tampak menghela napasnya, wanita itu kemudian melirik suaminya dan bersiap untuk beranjak dari posisi duduknya, “Di mana Syilla Mas? Aku mau pulang aja sama Syilla. Rasanya kami datang di saat yang tidak tepat.” ucapnya dengan hati yang masih mendidih dan terselimuti dengan kekesalan tentunya.


Dia bukan malaikat yang hatinya terus-menerus baik, tetapi ada kalanya wanita yang lembut itu juga merasa kesal dengan apa yang dia lihat barulah.


Dengan cepat Radit mencekal tangan istrinya itu, “Kenapa enggak menanggapi perkataanku dan justru menanyakan Syilla? Syilla sama Eyangnya, aku nyariin kamu kemana-mana sejak tadi. Kamu gak lihat, aku sampai kayak gini nyariin kamu?”


Ya, saat itu, wajah Radit tampak kusut, rambut rapinya terlihat sedikit berantakan, dan juga keningnya basah karena keringat.


Bukannya Khaira tidak tahu, tetapi dia memilih diam, dan seakan tidak merespons suaminya tersebut.


“Kita pulang sekarang, kita selesaikan semuanya di rumah. Jangan ribut-ribut di keramaian. Syilla akan menginap di rumah Eyangnya malam ini.” ucap Radit yang kemudian berdiri dan sedikit menarik tangan istrinya itu untuk mengikuti langkah kakinya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari taman itu.

__ADS_1


__ADS_2