
Khaira keluar dari ruangan Pak Andreas dengan wajah yang cerah, dia tidak menyangka bahwa bimbingan skripsinya berjalan dengan baik. Sejak awal bimbingan skripsi hingga hari ini, Khaira selalu bersyukur karena Dosen Pembimbingnya baik dan tidak mempersulit mahasiswa. Bahkan tidak lama lagi, ia bisa mengikuti sidang skripsi.
Rencana Tuhan memang luar biasa, dalam kehidupan rumah tangga Khaira nyaris tak melihat dan merasakan kebahagiaan, tetapi dalam studinya semuanya seolah-olah dipermudah.
Metta menghampiri Khaira yang keluar dari ruangan Pak Andreas dengan raut wajah bahagia.
"Ada yang bahagia, kayaknya aman nih skripsinya?" Seruan Metta yang langsung menghampiri sahabatnya itu.
Khaira tersenyum. "Amin. Kayaknya sebentar lagi aku bakalan sidang skripsi deh." Khaira berkata dengan penuh semangat.
"Wah, ikut seneng ya Say. Akhirnya... Semoga aku bisa nyusul ya."
"Amin... Harus nyusul ya, kan kita pernah punya cita-cita untuk wisuda bareng."
"Iya, semoga. Aku masih stuck di Bab 3, Khai. Dosen Pembimbingku minta landasan teorinya lebih dalam dan detail. Aku sampai pusing mengerjakannya."
"Ya dikerjakan aja, asal kita ngerjakan pasti ada jalan kok. Dan, tentunya cepet selesai. Kalau enggak dikerjakan ya bakalan stuck terus." Khaira memberi nasihat kepada Metta.
"Iya Boskuw, siap..." Metta mengangkat tangannya memberi hormat pada Khaira. "Jangan langsung pulang dong, Khai... Kafe dulu yuk, di depan kampus aja. Mau ya?"
"Ya udah, ayukk... Tapi gak lama-lama ya."
"Iya tahu, yang udah jadi istri gak bisa di luar rumah lama-lama."
Keduanya pun tertawa bersama dan berjalan menuju kafe yang berada tepat di depan kampus mereka. Baru saja mereka berjalan, seorang laki-laki nampak berteriak memanggil nama Khaira.
"Khai, Khaira... Tunggu." Panggilan dengan suara cukup keras itu menghentikan langkah kaki Khaira dan juga Metta. Keduanya sama-sama berbalik, mencari arah sumber suara itu.
__ADS_1
Seorang pemuda berjalan dengan tas ransel hitam di satu punggungnya dengan langkah kaki yang cepat menghampiri Khaira.
"Hai Khaira, Metta..." Sapanya sembari tersenyum di wajahnya yang tampan.
"Hai Tama..." Sahut keduanya. Ya, Tama lah si Tampan idola kampus yang kini sudah berdiri di hadapan Khaira.
"Mau kemana? Kalian kan sudah tidak ada jam kuliah kan?"
"Mau ke kafe depan." Jawab Metta singkat.
"O... Ta, boleh enggak gue pinjem Khaira nya sebentar?" Tama meminta izin kepada Metta untuk bisa mengobrol sebentar dengan Khaira.
Metta nampak melihat Khaira, keduanya saling tatap dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Akhirnya Metta pun mengangguk, "oke, jangan lama-lama ya. Gue tunggu di depan aja ya Khai, nanti langsung ketemuan di sana ya."
Khaira pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada Metta.
"Khai, kita duduk di situ dulu yuk..." Tama menunjuk sebuah tempat duduk yang berada di bawah pohon yang cukup rindang.
Keduanya berjalan bersama menuju tempat duduk itu. Ada yang ingin Tama sampaikan kepada Khaira.
"Jadi gini Khai, ada yang mau gue omongin sama kamu." Tama menghela nafasnya sejenak, "Sebenarnya gue suka sama lo, Khai. Dan, gue enggak tahu sejak kapan. Mungkin sejak awal masuk kampus, tapi rasanya gue seneng setiap ketemu sama lo. Sebenarnya gue gak mau membuat pertemanan kita menjadi canggung, tetapi faktanya sebentar lagi kita bakalan lulus dari sini dan setelah lulus belum tentu bisa ketemu, karena masing-masing dari kita akan melanjutkan hidup menempuh cita-cita masing-masing. Jadi, gue cuma mau bilang itu saja, gue suka sama lo, Khai."
Khaira sempat tak percaya, Tama yang notabene idola kampus mengatakan suka kepadanya. Khaira jadi teringat dengan ucapan Metta bahwa sahabatnya itu punya feeling kalau Tama ada perasaan pada Khaira.
"Jadi gimana Khai? Apa lo terima gue atau gimana? Tetapi, jangan terbebani ya Khai. Kalau pun lo menolak pun, kita berdua bisa tetap berteman baik." Lagi Tama berbicara, kali ini dia sedikit menoleh melihat Khaira.
"Hmm, jadi begini Tama." Khaira menghela nafasnya. "Maaf, tapi kita gak bisa bersama, Tam. Mungkin lo belum tahu, tapi sebenarnya gue udah nikah, Tam. Sudah empat bulan yang lalu gue nikah sama seseorang."
__ADS_1
Mendengar fakta bahwa Khaira telah menikah, membuat wajah tampan berubah menjadi merah, rahangnya pun mengeras. Sungguh Tama tak mengira gadis yang selama ini ia kagumi dan cintai dengan diam, rupanya telah dipersunting pria lain. Lebih ironisnya, sudah empat bulan berlalu dan Tama tidak mengetahui kebenaran bahwa Khaira sudah menikah.
"Serius Khai?" Tama memastikan sekali lagi, dia ingin mengetahui kebenaran yang sebenarnya dan itu dari Khaira secara langsung.
Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya Tam... Maaf ya. Pernikahannya memang sederhana hanya di rumah dan dihadiri beberapa keluarga dan kenalannya Ayah."
"Pernikahan mendadak? Apa lo..." Perkataan kata menggantung begitu saja. Jujur ia mengira apa Khaira sedang hamil, sehingga pernikahannya dilangsungkan mendadak dan tidak dipublikasikan.
"Hamil maksud lo?" Potong Khaira sembari tersenyum kepada Tama. "Gue gak hamil, Tam... Cuma, gue sudah dijodohin sama suami gue sejak kecil. Dia anak sahabatnya Ayah."
"Bukan begitu Khai, tapi biasanya kalau menikah seperti itu biasanya karena 'accident'. Sorry bukan maksudku mengatakan yang tidak-tidak. Tetapi lo gak menolak Khai? Lo cinta sama suami lo itu? Sebentar, kalau kalian sudah menikah selama 4 bulan waktu kaki lo terkilir, kemana suami lo, Khai? Kan kaki lo terkilir palingan baru 2 bulan yang lalu."
Khaira jadi ingat bagaimana Tama mengantarnya pulang sehabis therapist di tempat Bundanya Tama. Khaira juga tak menyangka karena Tama mengingat waktu kakinya terkilir.
"Katanya Ayah dan Bunda dari kecil kami saling sayang, tetapi setelah belasan tahun enggak ketemu ya begitu deh. Kenyataan di masa kecil dan sekarang kan berbeda, jadi kami perlu sama-sama mengenal lagi. Dan, waktu kaki terkilir dulu suami belum pulang. Dia kalau pulang malam-malam terus."
"Oh, ya. Emang suami lo kerjanya apa?" tanyanya serius.
"Auditor perbankan di Bank Swasta. Dia mengerjakan Sistem Pengendali Internal (SPI) gitu, jadi sering pulang larut malam. " Jelas Khaira, bagaimana pun ia sempat mencari tahu di internet tentang Auditor Perbankan. Ternyata apa yang temukan dalam internet, kali ini bermanfaat juga.
"O... Jadi gue ditolak nih?" Sahut Tama sembari tertawa. Walau pun entah apa arti tawanya.
"Maaf ya Tama." Ucap Khaira dengan sungguh-sungguh.
"Ternyata ditolak cewek rasanya kayak gini ya. Baru pertama gue ngungkapin suka ke cewek padahal, dan langsung ditolak. Kasihan ya gue." Ucap Tama sembari memukul-mukul dadanya. "Tahu gak Khai, sakitnya tuh di sini." Sembari tertawa. "Tetapi, kita masih bisa berteman kan Khai? Dan, hubungan kita gak akan canggung kan?"
"Iya, kita bisa tetep berteman. Sekali lagi maaf ya Tam. Gue percaya Tuhan pasti sediakan gadis yang terbaik buat lo, karena lo orang yang baik." Doa Khaira tulus buat Tama.
__ADS_1