
Seminggu setelah melahirkan, Khaira pun mulai beradaptasi bagaimana harus mengasuh dua anak dengan kebutuhannya yang berbeda. Arsyilla tentu lebih aktif dan terkadang banyak maunya. Sementara Arshaka masih bayi dan juga bisa dibilang waktunya masih banyak untuk tidur. Hanya saja saat Arshaka tidur, Khaira akan menggunakan waktu itu untuk menemani Arsyilla bermain atau pun membaca buku. Semua itu, dia lakukan supaya Arsyilla tidak merasa bahwa Mamanya sekarang hanya memfokuskan pada adiknya, dan abai kepadanya. Untuk itu, Khaira berusaha untuk bersikap adil, menjadi mama yang bisa mengakomodir kebutuhan anak-anaknya.
Sama halnya dengan Radit, selama sepekan berada di rumah karena mengambil cuti, pria itu juga berbagi tugas dengan Khaira. Jika, Khaira akan memandikan Arshaka dengan air hangat, Radit lah yang mempersiapkan air hangatnya. Jika Khaira terlihat kecapekan, maka dialah yang akan mengajak Arsyilla bermain. Saling mengisi satu sama lain.
“Mumpung Shaka tidur, kamu juga tidur Sayang.” ucap Radit malam itu.
Tidak dipungkiri dalam 40 hari pertama kehidupan bayi, pola hidup mereka akan masih mengikuti dengan pola ketika masih berada di dalam rahim ibunya. Tak jarang sebagian besar bayi akan terbangun di tengah malam. Oleh karena itulah, Radit pun mengingatkan istrinya itu untuk tidur lebih cepat. Sehingga saat malam Shaka bangun dan meminta ASI, Khaira tidak terlalu kecapekan.
“Sebentar Mas … 15 menit lagi.” sahut Khaira yang rupanya masih membuat negosiasi untuk bisa memperpanjang waktunya 15 menit lagi.
“Ya sudah … 15 menit saja ya. Abis ini kamu harus tidur. Bobok dulu. Capek kamunya.” ucap pria itu dengan begitu perhatian.
Setelahnya Radit beringsut dan kemudian pria itu membawa kepala istrinya untuk berada di atas dadanya. “Kenapa, mau cerita?” tanyanya kepada istrinya itu.
Memang terkadang saat Arshaka tidur, malam hari seperti ini Radit akan menanyai pada istrinya itu apa Khaira mau cerita? Sebab, dia akan setia mendengarkan setiap cerita dari istrinya itu.
“Enggak … aku cuma kadang masih sedih kalau keingat gimana Shaka lahir dan tidak menangis. Rasanya sesak banget.” Khaira berbicara dan ternyata wanita itu seolah mengalami Post Pastrum, ada rasa kesedihan usai melahirkan Arshaka, terlebih saat putranya itu lahir dan sama sekali tidak menangis.
Radit pun terlahan membelai rambut istrinya, “Semua sudah menjadi jalan dari Allah, Sayang … kita masih beruntung karena Shaka selamat dan juga sehat. Semoga ke depannya, dia selalu sehat dan kuat.”
“Amin.” Khaira mengaminkan ucapan dan sekaligus doa untuk Arshaka.
__ADS_1
“Makasih ya Mas, kalau enggak ada kamu di sisiku yang menemaniku menjalani semuanya, pasti aku udah down banget.” Kali ini Khaira berbicara dengan sedikit menengadahkan wajahnya guna bisa menatap wajah suaminya itu.
Radit pun tersenyum, “Yang aku lakukan itu sederhana banget, Sayang … aku cuma menemanimu. Kamu yang berjuang sampai titik darah penghabisan.” ucapnya sembari mengusap lengan istrinya.
“Karena itulah pernikahan, Mas … banyak momen sederhana yang kita lalui bersama, tetapi semua momen sederhana itu sangat bermakna. Terima kasih.” ucap Khaira yang lagi-lagi mengucapkan terima kasihnya dengan suaminya itu.
Ya, memang itulah sebuah pernikahan, tidak melulu dirangkai dengan momen wah dan istimewa. Justru momen-momen sederhana yang terangkai dengan begitu indahnya bisa memberikan makna yang begitu dalam. Contoh kecilnya saja, saat Khaira sedang pumping ASI, jika Arshaka menangis, Radit akan cekatan menimang terlebih dahulu bayinya. Jika Arsyilla terkadang merajuk, Radit juga bisa bergantian untuk mengasuh Arsyilla. Semua itu seolah sangat sederhana, layaknya sebuah kehidupan sehari-hari yang begitu biasa. Akan tetapi, justru dalam keseharian dan kesederhanaan itu merajut tali kasih yang bermakna untuk mereka berdua.
Menanggapi ucapan Khaira, Radit pun mengangguk, “Sekalipun momen itu sederhana, tetapi istimewa karena aku menjalaninya bersama kamu. Wanita yang mengubahku hingga bisa seperti ini. Wanita yang terus menjadi istri, pendamping, dan juga Mama yang hebat untuk Arsyilla dan Arshaka.” jawabnya.
...🌺🌺🌺...
Keesokan harinya menjadi hari pertama bagi Radit untuk kembali masuk ke kantor. Rupanya pria itu memilih bangun lebih pagi dan mulai menyiapkan air hangat untuk mandi Arshaka. Juga untuk air minum dan kue yang sudah dibeli semalam, dia bawa ke kamar Khaira. Berharap istrinya itu, tidak perlu susah payah turun ke dapur untuk mengambil apa yang dia perlukan.
“Selamat bekerja Papa … Bye …” ucap Khaira dan Arsyilla bersamaan. Tidak lupa, mereka pun melambaikan tangannya kepada sang Papa yang keluar dari pintu rumah dan hendak memasuki mobil itu.
Radit pun tersenyum, sebelum berangkat ke kantor, pria itu lantas mencium terlebih dahulu istri dan anak-anaknya. “Papa bekerja dulu ya … Syilla nanti bantuin Mama juga ya. Shaka yang manis ya, dan Mama jangan lupa istirahat.” pesan pria itu kepada istri dan anaknya.
“Oke Papa … We Love U, Papa.” sahut Khaira yang rupanya juga diikuti oleh Arsyilla.
Benar-benar pagi yang indah. Kehangatan dan senyuman dari istri dan anak-anaknya benar-benar menjadi semangat baru bagi Radit untuk kembali bekerja setelah sepekan mengambil cuti di rumah.
__ADS_1
“Kalau ada apa-apa, hubungi aku ya Sayang … I Love U.” pesan Radit kepada Khaira.
...🌺🌺🌺...
Sore harinya, juga menjadi momen yang indah bagi Radit. Bagaimana tidak, sekarang ada anggota keluarga baru yang turut menyambutnya sepulang dari tempat kerja. Dulu si bayi masih berada di dalam perut Mamanya, dan sekarang baby Arshaka sudah berada dalam gendongan Khaira dan turut menyambutnya pulang dari kantor.
“Welcome Home, Papa …” sapa Khaira dan Arsyilla dengan begitu kompaknya.
“Halo Mama, Kakak Syilla, dan baby Shaka …” sahut Radit dengan tersenyum lebar.
Setelahnya, Radit seperti biasa langsung menuju ke kamar mandi terlebih dahulu. Jika dirinya benar-benar bersih, barulah dia akan mendekat pada istri dan anak-anaknya.
“Tadi seharian Kak Syilla ngapain aja?” tanya Radit yang tengah menghampiri Arsyilla yang sedang bermain di ruang keluarga.
“Syilla bermain Pa … sama tadi Syilla menemani Mama pumping, Pa. Dapat ASI banyak banget.” ceritanya dengan begitu menggemaskan.
“Oh ya … wah, Kakak Syilla menjadi Kakak yang hebat ya bisa menemani Mama pumping.” ucap Radit yang memuji anaknya karena sudah mau menemani Mamanya pumping.
“Baby Shaka seharian rewel enggak Ma?” sekarang giliran Radit untuk bertanya kepada istrinya itu.
Khaira pun menggeleng, “Enggak … baby Shaka pinter kok Pa.” jawabnya dengan menyerahkan si baby ke dalam timangan suaminya itu.
__ADS_1
Memberi perhatian satu sama lain, kehangatan keluarga memang bisa dirangkai dari berbagai momen sederhana. Sebab dengan perhatian dan kasih sayang, ikatan tali kasih kekeluarga akan kian kuat dan juga berwarna.