Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Kembali ke Tanah Air


__ADS_3

Selang dua hari setelah wisuda, Khaira dan Radit kembali untuk memutuskan kembali ke Tanah Air setelah hampir dua tahun lamanya tinggal di Kota Manchester.


Bagaimana pun bagi Khaira kota Manchester akan selalu memberikan kesan tersendiri. Kota pertama di luar negeri yang ia tinggali selama dua tahun lamanya. Kota tempatnya menempa ilmu hingga akhirnya wisuda. Kota tempatnya bertemu sahabat baru seperti Tina, Adam, dan Mark. Kota yang mewujudkan impiannya untuk melihat pertandingan Manchester United secara langsung di Old Trafford Stadium. Dan, kota yang menyatukan kembali dirinya dengan Radit.


"Kamu sedih Sayang? Mata kamu berkaca-kaca." tanyanya kepada Khaira, sembari ia memperhatikan mata bulat Khaira yang nampak berkaca-kaca.


"Iya, aku sedih. Sebenarnya aku betah sih tinggal di Kota ini. Walaupun aku orang asing di sini, kemana-mana aku harus berjalan kaki atau naik transportasi umum, tetapi kenapa aku betah di sini ya." jawab Khaira sendu.


Radit pun memahami bagaimana perasaan Khaira saat ini, ya tentu Khaira sudah mulai nyaman di kota Manchester ini. Perasaan yang wajar, di saat kita mulai nyaman, justru kita harus meninggalkannya, kembali pada habitat kita sebenarnya.


"Next time, kita bisa ke sini lagi Sayang. Aku bisa ambil cuti kerja, kita bisa jalan-jalan ke Manchester lagi. Mengulang kenangan itu semua. Bagaimana? Hmm." Radit menawarkan untuk membawa Khaira mengunjungi Manchester di lain waktu.


Khaira tersenyum sembari memukul lengan suaminya itu, "Kerja aja belum kok udah mikir cuti sih Mas? Iya, gak papa kok Mas. Aku akan baik-baik saja, aku cuma perlu beradaptasi lagi di Jakarta nanti."


Radit menganggukkan kepalanya. "Take your time Sayang, aku akan selalu dampingi kamu untuk beradaptasi lagi. Gak usah terburu-buru, aku pun perlu adaptasi di Jakarta nanti. Jika di Manchester aku full-time jagain kamu, di Jakarta kan aku kerja lagi nanti. Keseharian kita berubah, karena itu perlu adaptasi, penyesuaian diri lagi. Aku pun seneng di Manchester ini, bisa sepanjang hari sama kamu dari mulai membuka mata di pagi hari, menutup mata di malam hari, hingga membuka mata lagi di pagi hari."


Ya, ketika kembali ke Jakarta nanti keduanya memang perlu beradaptasi lagi. Khaira tidak lagi sebagai mahasiswa yang fokus kuliah, dia pun ingin juga bekerja. Begitu pula dengan Radit, sesuai janjinya dengan Khaira, ia juga akan kembali ke bekerja. Keseharian mereka akan berubah, oleh karena itu diperlukan adaptasi lagi dengan kebiasaan baru bagi keduanya.


"Selamanya Kota ini akan terukir indah di hatiku. Kota ini yang menjadi saksi bersatunya kita berdua, Mas. Saat cahaya yang ku pegang nyaris pudar, justru engkau datang dan membuktikan dirimu telah berubah. Saat di Jakarta nanti, ku harap kamu tetap seperti ini Mas. Jangan berubah." ucap Khaira kepada Radit.


"Iya, aku akan selalu membuktikannya. Aku tahu ini kesempatan kedua sekaligus kesempatan terakhirku kan? Aku bakalan buktikan setiap hari." ucapnya dengan penuh kesungguhan.

__ADS_1


Pembicaraan mereka berhenti sejenak, lantaran pesawat akan segera take-off.


"Dipakai seat belt nya Sayang. Ini pesawatnya sudah mau take-off." ucap Radit yang kemudian memasangkan seat belt di pinggang Khaira.


"Makasih Mas, kamu naik pesawat takut enggak sih Mas?" tanya Khaira.


"Ya sejujurnya takut. Kamu tahu enggak aku pertama kali naik pesawat itu waktu nyusulin kamu dulu. Pertama kali naik pesawat langsung 13 jam ke Manchester. Keren kan?" jawabnya sembari sedikit melempar tawa.


"Oh, aku kirain enggak takut. Cowok kan biasanya pemberani." sahut Khaira.


"Enggak semua cowok juga, kalau takut sih ya akui takut aja, gak usah sok kuat." Radit membalas dengan cepat. "Aku sebenarnya takut cuma pas waktu take-off aja sih, kalau pesawatnya sudah stabil terbang sih, aku santai aja." lagi pria itu menjawab.


"O ... itu wajar kok Mas. Karena aku pun begitu, aku takut saat take-off dan mau landing aja, kalau udah stabil, udah agak tenang." jawab Khaira.


"Iya, makasih Mas ... Kamu juga, kalau takut pegang tangan aku aja Mas. Gak usah pura-pura kuat, karena kita gak perlu menutupi keadaan kita yang sebenarnya di hadapan pasangan kita kan. Jadi, kalau Mas Radit ngerasa takut ya gak papa, wajar kok. Okay." ucap Khaira dengan memberikan senyuman manisnya kepada Radit.


"Iya, okay." Radit menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Pesawat yang mereka tumpangi telah mulai terbang dari Manchester menuju Abu Dhabi. Dari balik kaca jendela pesawat terlihat pemandangan indah Kota Manchester dari udara, Khaira menatap pemandangan Kota sepak bola itu dengan matanya yang kembali berkaca-kaca. "Selamat tinggal Manchester." gumamnya dalam hati. Dari udara Khaira melihat bagaimana Old Trafford Stadium terlihat dari udara dengan kanal yang berada di belakang stadium itu. Gedung-gedung tinggi hingga rumah-rumah kecil terlihat dari udara.


Sama halnya saat dua tahun lalu Khaira menginjakkan kaki di Kota ini, rute penerbangan mereka pun sama yaitu dari Manchester menuju Abu Dhabi, transit selama tiga jam di sana, kemudian dilanjutkan penerbangan dari Abu Dhabi menuju Jakarta.

__ADS_1


"Bagaimana perasaan kamu saat kembali lagi ke Jakarta, Sayang?" tanya Radit sembari menatap wajah Khaira.


"Seneng sih Mas, aku bisa bertemu Ayah Ammar, Bunda Dyah, Ayah Wibi, dan Bunda Ranti. Akhirnya homesick yang beberapa bulan lalu ku alami akan sembuh total lantaran bisa bertemu kedua orang tuaku." jawabnya dengan senyuman yang terbit di wajah ayunya.


Radit menggenggam tangan Khaira. "Syukurlah, kalau kamu seneng. Sayang, nanti setibanya di Jakarta kita pulang ke rumah Ayah Wibi dulu gimana? Setelah kita tidak jet lag, nanti kita muter-muter beli rumah baru. Gimana menurutmu?"


Khaira nampak menganggukkan kepala. "Iya, gak apa-apa. Tetapi, jangan terlalu lama ikut Ayah dan Bunda ya Mas ... lebih enak kalau tinggal sendiri, mandiri."


***


Beberapa saat kemudian, setelah menempuh perjalanan udara yang panjang lintas benua, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mulai berada di atas langit Jakarta.


Gedung-gedung pencakar langit yang tinggi, hingga berbagai kendaraan bermotor yang nampak merayap dari udara dapat ditangkap oleh mata Khaira.


"Sudah di Jakarta, Mas. Sudah mau landing." ucap Khaira sembari menatap wajah suaminya yang nampak kelelahan itu.


"Iya ... akhirnya." Radit begitu lega akhirnya mereka telah tiba Jakarta.


Hingga akhirnya pesawat mengambil posisi untuk mendarat, perlahan pesawat mulai turun, menukik memutar, lalu turun lagi, hingga akhirnya pesawat telah mendarat dengan sempurna.


Khaira dan Radit turun dari pesawat dan mengambil koper-koper mereka. Setelah memastikan barang mereka telah lengkap, keduanya keluar dari Bandara.

__ADS_1


"Selamat Datang kembali di Jakarta anak-anak Ayah dan Bunda...."


Rupanya di luar Bandara, kedua orang tua mereka telah datang untuk menjemput kedatangan anak-anak mereka setelah hampir dua tahun lamanya tinggal di Manchester, Inggris.


__ADS_2