Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Babymoon Dadakan


__ADS_3

"Sayang, aku ada penugasan dari kantor ke Bali, kamu ikut yuk." ucap Radit begitu dirinya sampai di rumah sore itu.


Khaira tampak menatap suaminya itu, "Berapa lama ke Bali nya Mas?" tanyanya kepada suaminya itu.


"Lima hari Sayang. Sepekan di sana." jawabnya.


"Kok lama banget sih Mas? Kelamaan, aku bisa kangen." ucapnya yang mengaku akan kangen pada suaminya itu.


Radit pun tertawa, "Ikut aja Sayang … sekalian sama Arsyilla. Biar dia bisa main-main ke pantai nanti. Lagian kamu abis bedrest dulu belum main kemana-mana kan. Sebelum usia kehamilannya kamu lebih besar dan kita tidak bisa kemana-mana lagi. Yuk, ikut aja ya." ajaknya lagi kepada istrinya itu.


Setelah dibujuk oleh suaminya, akhirnya Khaira pun menyetujui agaknya suaminya itu. Rasanya lima hari ke Bali juga tidak masalah baginya. Lagian benar yang diucapkan oleh suaminya bahwa sebentar lagi usia kandungannya akan semakin membesar, sehingga dia harus lebih fokus untuk menyambut buah hatinya nanti.


Tanpa menunggu waktu lama, Khaira pun lantas berkemas dengan beberapa koper untuk keperluan mereka bertiga selama berada di Bali nanti.


***


Denpasar, Bali


Sebuah hotel di kawasan Denpasar, Bali menjadi tempat yang akan Radit, Khaira, dan Arsyilla tinggali selama sepekan ini. Memang agendanya mengikuti acara dari perusahaannya, tetapi di sela-sela acara itu, dia bisa mengajak istri dan anaknya untuk jalan-jalan. Sehingga, selama Radit mengikuti acara dari kantornya, Khaira dan Arsyilla akan menunggu di dalam hotel. Jika acara sudah selesai, maka Radit akan mengagendakan untuk mengajak istri dan anaknya jalan-jalan.


Sambil menyelam minum air, itu yang tengah dilakukan Radit sekarang. Sembari bekerja sembari wisata dengan keluarga kecilnya.


"Pa, nanti sore jalan-jalan ke pantai ya Pa." Ajak Arsyilla kepada Papanya itu.


Radit pun mengangguk, "Iya Sayang … nanti kalau Papa sudah selesai bekerjanya ya. Sekarang Papa bekerja dulu, Syilla istirahat siang dulu sama Mama ya."


"Oke Pa … selamat bekerja Papa." ucap Arsyilla sembari melambaikan tangannya kepada Papanya.

__ADS_1


Waktu pun kian berlalu, Khaira dan Arsyilla memilih untuk istirahat bersama. Sementara Radit mengikuti seminar yang dilakukan oleh perusahaan milik Ayahnya itu. Hingga jam 3 sore Waktu Indonesia Tengah, dia sudah selesai bekerja.


"Bangun Syilla Sayang …" ucapnya yang membangun Arsyilla yang masih tertidur.


Merasa dibangunkan Arsyilla pun terbangun, "Papa …" gadis itu terbangun dan langsung tersenyum melihat Papanya.


"Ayo, jadi jalan-jalan ke pantai tidak? Kita tinggal berjalan sebentar, di sebelah hotel ini sudah Pantai Kuta." ucapnya memberitahu Arsyilla.


Mendengar kata pantai, Arsyilla langsung duduk. "Mau Pa … mau." gadis kecil itu bersorak kegirangan.


"Ayo Mama Sayang … kita jalan-jalan ke pantai." tak lupa Radit mengajak istrinya juga.


Dengan menggendong Arsyilla di tangan kanannya dan tangan kirinya menggenggam erat tangan istrinya. Ketiganya menuju Pantai Kuta yang tidak jauh dari hotel.


Betapa senangnya Arsyilla sore itu, anak kecil itu berlarian seolah tengah dikejar oleh ombak. Selanjutnya dia membangun castil dari pasir. Sementara Khaira memilih duduk tidak jauh dari putrinya, turut membantu Arsyilla membangun istana pasirnya.


Khaira pun mengangguk, "Benar Sayang, this is seaside and we build a Castille for you." sahutnya kepada Arsyilla.


Radit tersenyum mendengar obrolan istri dan anaknya yang memang terkadang menggunakan bahasa Inggris itu. Dia pun tidak keberatan, justru sebagai orang tua, dia mendukung jika anaknya sudah terlatih dengan bahasa Inggris sejak kecil. Siapa tahu, saat dewasa nanti Arsyilla juga berkeinginan untuk kuliah di luar negeri seperti Mamanya, sehingga secara bahasa memungkinkan Arsyilla untuk beradaptasi dengan lebih cepat.


Setelahnya Radit pun duduk dan mendekati istrinya itu, beberapa kali pria itu tampak merapikan rambut istrinya yang beterbangan karena tertiup angin di pantai itu. Sementara Khaira pun tersenyum diperlakukan dengan manis oleh suaminya.


"Sebentar aku kuncir saja, Pa." ucapnya dan kemudian mengeluarkan pita dari saku celananya dan mengusir rambutnya asal.


Radit mengamati pergerakan istrinya yang tengah menguncir rambutnya itu, "Kamu cantik, Sayang." ucapnya berbisik di telinga istrinya.


Sementara Khaira hanya tersenyum, bersikap biasa saja padahal hatinya berbunga-bunga mendengar pujian dari suaminya itu.

__ADS_1


"Makasih Papa." jawabnya sembari tersenyum pada suaminya.


"Sama-sama Mama … cuma cantiknya kalau sama Papa aja." sahut pria itu yang membuat Khaira terkekeh. Rupanya tetap saja sikap iseng dan absurd suaminya itu masih saja ada.


Khaira sedikit menggelengkan kepalanya, "Mas, ini kita malahan kayak baby moon dadakan enggak sih?" tanyanya kepada suaminya itu.


"Yang dadakan lebih enak Sayang … kayak tahu bulat ya. Digoreng dadakan, tapi rasanya enak. Kita pun juga baby moon dadakan." guraunya kepada istrinya itu.


Memang begitulah Radit, seolah pria itu memang lebih banyak bercanda. Bahan apa pun, bisa menjadi bahan gurauan baginya. Sementara Khaira adalah pribadi yang lebih lembut dan serius. Keduanya memang memiliki kepribadian yang bertolak belakang satu sama lain, tetapi justru perbedaan itulah yang menyatukan keduanya dan mempersatukan satu sama lain.


Sementara Khaira hanya menggelengkan kepalanya, mendengarkan ocehan dari suaminya itu, “Keliatannya kamu punya bakat terpendam kok Mas.” celotehannya kali ini yang membuat suaminya seketika fokus kepadanya.


“Apa Sayang?” tanyanya dengan singkat.


“Pelawak atau stand up komedi gitu cocok deh, kamu itu pinter buat punchline-punchline yang buatku meleleh. Jago banget sih gombalnya.” ucapnya sembari terkekeh.


Tidak menyangka sebenarnya bahwa suaminya itu begitu handal membuat guyonan-guyonan yang membuatnya bisa tertawa bahagia. Benar-benar suaminya itu menjadi mood booster tersendiri baginya.


“Mama kenapa ketawa Ma?” tanya Arsyilla kali ini yang ingin tahu mengapa Mamanya itu terkekeh geli.


Khaira pun mengangguk dan menjawab Arsyilla, “Itu Sayang … Papa lucu banget. Rasanya Mama selalu bahagia jika ada di dekat Papa.”


Khaira berkata jujur kepada Arsyilla, memang benar adanya bahwa dekat dengan suaminya itu membuatnya bahagia. Gombalan, lelucon, hingga sikap suaminya yang begitu manis dan perhatian membuatnya selalu bahagia.


“Syilla suka senang deket Mama dan Papa karena Syilla selalu merasa bahagia bersama Mama dan Papa.” sahut Arsyilla sembari berdiri di tengah-tengah Mama dan Papanya.


Ya, sumber kebahagiaan dalam keluarga itu dimulai dari setiap pasangan yang bahagia terlebih dahulu. Jika orang tua bahagia, maka anak akan mendapatkan rasa kebahagiaan itu dari sumbernya, yaitu orang tua mereka. Itulah yang terjadi pada keluarga Radit dan Khaira, supaya Arsyilla bahagia, mereka berdua harus terlebih dahulu bahagia dan memancarkan serta mengalirkan kebahagiaan itu kepada Arsyilla.

__ADS_1


__ADS_2