
nJika ada satu hari yang membahagiakan bagi Khaira, selama empat bulan belakangan ini tentu adalah hari ini. Hari di mana Radit tiba-tiba datang dengan keinginannya sendiri, bahkan mulutnya pun tidak pedas. Sekali pun saat memanggil atau mengajak bicara, Radit belum memanggil nama 'Khaira', tetapi bagi Khaira semua yang terjadi hari ini cukup baginya. Terlebih saat Radit menudunginya dengan jaketnya. Bukankah itu sedikit bentuk bahwa Radit telah memperhatikan Khaira dan tidak lagi cuek kepadanya?
Berlari bersama saat guyuran hujan bukan dalam satu payung, tetapi dalam satu tudung berupa jaketnya bukankah romantis? ☺
Tiba-tiba saja Khaira merasakan jantungnya berdebar lebih kencang melebihi ambang batas normal. Mungkinkah tindakan kecil dari Radit membuat hati yang selama ini terluka merasakan sedikit kebahagiaan? Jika waktu bisa berhenti sejenak, Khaira akan meminta hari ini akan berhenti dan tak berakhir.
"Kita berteduh di sini dulu ya, nunggu hujannya agak reda, nanti kita cari makan." ucap Radit sembari menyugar rambutnya yang basah terkena hujan.
"Iya." lagi-lagi Khaira hanya bisa menjawab dengan singkat.
"Tapi kamu sudah lapar belum?" tanyanya sekali lagi memastikan kondisi perut Khaira.
"Belum. Aku belum lapar kok mas."
"Kalau sudah lapar bilang ya? Biar kita bisa cari makan."
"Hm, iya." Khaira sungguh merasa aneh dengan perubahan sikap Radit yang terasa tiba-tiba. Apakah pria memang bersikap impulsif? Ataukah Radit mulai bisa menerimanya? Khaira terbenam dalam pikirannya tentang Radit.
Khaira masih sibuk mengelap wajahnya yang terkena air hujan, rambutnya pun sedikit basah lantaran guyuran hujan. Namun, usai selesai membersihkan wajahnya, Khaira justru mengulurkan tangannya menikmati setiap tetesan air hujan yang turun. Beberapa kali gadis itu justru tersenyum sendiri ketika air hujan membasahi telapak tangannya.
Radit yang semula sibuk mengeringkan wajahnya dengan tisu, seolah-olah ia terpana dengan Khaira yang sedang merasakan setiap tetesan air hujan dengan satu tangannya yang terulur. Pria itu kemudian mengambil handphone dari saku celananya, dan ia mengambil foto Khaira secara diam-diam.
Cekrekkk.
Radit tersenyum melihat hasil jepretan yang dia ambil secara candid itu. Lalu, buru-buru ia memasukkan handphonenya kembali ke dalam saku.
Bagi Radit, pemandangan yang ia lihat saat ini sangat sederhana, tetapi entah mengapa hatinya sedikit menghangat melihat Khaira yang terlihat menikmati air hujan yang jatuh di tangannya.
Radit pun mengikis jaraknya, dia semakin mendekati Khaira. "Suka hujan ya?" tanya sembari menoleh melihat Khaira.
__ADS_1
Gadis yang merasa ditanyain itu pun, menarik tangannya dari guyuran hujan. Ia mengangguk dengan senyuman di wajahnya.
"Iya, aku suka hujan. Tapi kalau hujan dengan petir aku gak suka." ucapnya sembari terlihat canggung di hadapan Radit.
"Hmm, menarik ya." ucap Radit sembari menggerakkan alis matanya.
"Apanya yang menarik?" tanya Khaira, karena baginya ucapan Khaira terdengar ambigu. Bagian mana yang membuat Radit tertarik.
"Kapan-kapan kita jalan-jalan ke sini lagi kamu mau? Masih ada museum yang ingin ku datangi."
Khaira tidak mengira bahwa Radit menawarkan untuk jalan-jalan lagi dan mengunjungi tempat ini, Khaira menoleh kepada Radit, "iya aku mau..." ucapnya sembari sedikit menganggukkan kepalanya.
Namun Khaira pun bertanya-tanya, mengapa Radit tidak mengajak Felly saja, bukankah keduanya memiliki banyak waktu terlebih keduanya tinggal berdua, memanfaatkan sedikit waktu untuk jalan-jalan ke luar kan itu sangat mudah bagi keduanya. Atau mungkinkah Felly tidak suka dengan tempat-tempat seperti ini, dan lebih suka mengunjungi Mall seperti wanita metropolitan pada umumnya?
Khaira memberanikan diri untuk bertanya pada Radit, "Emang enggak ada yang bisa diajak ke sini ya Mas?"
"Enggak ada." jawab Radit sembari melipat jaketnya yang setengah basah di bagian luarnya. "Jarang sekarang ada yang mau diajak main ke tempat seperti ini, kalau diajak main ke Mall pasti banyak yang mau. Kalau diajak jauh-jauh ke sini dan naik sepeda motor pasti banyak yang enggak mau."
Khaira sangat tahu diri, bagaimana pun ia hanya istri yang dinikahi Radit dengan terpaksa, ia hanyalah istri yang dipinang suaminya sendiri tanpa cinta, dan menjadi orang asing dalam hidup suaminya.
Jika Khaira bisa merasakan sedikit kebahagiaan hari ini, maka ia tak akan menanyakan hal lainnya yang mungkin saja akan menyakiti hatinya.
"Hujannya agak reda nih, tinggal gerimis. Jadi cari makan enggak atau mau di sini dulu?" Radit kembali mengingatkan Khaira dengan rencana mereka untuk mencari makan.
"Iya boleh. Ayo..."
Keduanya pun berjalan bersama dengan jarak yang mereka ciptakan masing-masing menuju warung tenda Soto Ayam Lamongan yang berada di area Kota Tua. Radit memesan dua mangkok Soto dan teh hangat. Tidak berselang lama, makanan yang mereka pesan sudah tersaji di hadapan mereka.
"Enggak masalah kan kalau kamu makan di warung tenda di tempat terbuka kayak gini?" tanya Radit sembari mencampur sambal, kecap, dan perasan jeruk nipis ke mangkok sotonya.
__ADS_1
Khaira menganggukkan kepalanya, "iya, enggak masalah kok Mas. Aku bisa makan apa saja kok. Aku juga biasanya makan di warung tenda, kalau pulang ke rumah Eyang di Jogjakarta, aku juga sering makan di...."
Belum sempat Khaira melanjutkan ceritanya, Radit langsung memotong ucapan Khaira.
"Angkringan!" ucapnya dengan nada penuh antusias.
"Eh, iya. Kok Mas Radit tahu? Kalau pulang ke Jogjakarta dan belum makan di angkringan itu rasanya ada yang kurang." cerita Khaira sembari menyeruput kuah sotonya.
"Tau dong, kan Ayah dan Bunda dari Jogjakarta juga. Kadang kalau lebaran, kami mudik ke sana. Paling suka apa kalau jajan di angkringan?"
"Hmm, aku suka nasi kucing dan jahe gepuk. Enggak lengkap kalau makan di angkringan tapi belum makan nasi kucingnya."
Khaira mengatakannya dengan malu-malu, tetapi kenyataannya bagi Khaira hanya nasi putih, bandeng, dan sambal itu rasanya sangat enak. Jika hanya membeli satu bungkus tidak akan cukup.
"Bener sih, makan di angkringan kalau belum makan nasi kucing ada yang kurang ya?" tiba-tiba saja Radit tertawa, dia teringat bagaimana ia bisa menghabiskan tiga bungkus nasi kucing setiap kali makan di angkringan.
Khaira menghentikan sejenak pergerakan tangannya yang memegang sendok dan garpu, "ehm, rasanya jadi pengen pulang ke Jogjakarta, makan di angkringan di kawasan Malioboro sambil dengerin lagu dari musisi jalanan di sana."
Radit pun menghentikan makannya, dan mengamati Khaira. "Kapan-kapan mau enggak kita backpackeran ke Jogja? Gak usah lama-lama, waktu weekend aja. Gimana?" ajaknya tiba-tiba.
Khaira hanya tersenyum mendengar ajakan tiba-tiba suaminya itu. "Asal tidak mengganggu Mas Radit aja." ucapnya lirih.
***
Dear All,
Aku punya karya lain yang banyak glukosanya. Di dalam aku selipkan kisah hidup aku.
Silakan mampir dan tinggalkan jejak di When My Love Bloom. Bagi teman-teman yang ingin menaikkan imun dan menjaga mood tetap bagus, mampir di karya ini ya... 🥰
__ADS_1