Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Penyesalan Tama


__ADS_3

Di sisi lain, Tama pun menyesal karena telah melukai Radit dan Khaira. Sekalipun, menurutnya dia melakukannya tanpa sengaja. Akan tetapi, Tama masih terngiang bagaimana Khaira menjerit dan meneriakkan nama suaminya.


Masih beruntung bagi Tama, karena dia tidak dihakimi warga usai menabrak Radit. Namun, pria itu terlihat menyesal. Hanya karena dia tidak bisa menguasai hati dan pikirannya, sekarang dia harus melihat wanita yang dia cintai terkapar di jalan dan meneriakkan nama suaminya.


Tangisan yang pilu begitu menghantam Tama saat ini. Dengan bantuan dari beberapa saksi mata, Tama mendapatkan alamat Rumah Sakit tempat Radit dan Khaira dirawat. Sayangnya, saat ini dia belum cukup memiliki keberanian untuk menemui Khaira.


Rasa bersalah yang dialaminya membuat Tama seolah menjadi pengecut yang tidak berani menampakkan batang hidungnya setelah melakukan kesalahan. Menjelang petang, Tama pun kembali pergi dari rumahnya. Kali ini dia menguatkan diri dan hatinya untuk bisa menemui Khaira dan meminta maaf secara langsung.


Selang beberapa waktu kemudian, Tama telah berada di Rumah Sakit tempat Radit dirawat. Dia memasuki Rumah Sakit itu dan bertanya ruang perawatan atas nama Khaira ataupun suaminya.


Dengan perlahan Tama menuju tempat Radit dirawat. Jantungnya berdegup lebih kencang, ketakutan terbesarnya saat ini bukan kepada Radit. Akan tetapi, kepada Khaira. Dia begitu takut menghadapi Khaira saat ini. Namun apa mau dikata, Tama harus menguatkan dirinya dan mengakui kesalahannya. Dia tidak mau menjadi seorang pecundang.


Tama melangkahkan kakinya dan tangannya terangkat untuk mengetuk pintu tempat di mana Radit tengah dirawat. Dia mulai mengetuk pintu itu.


Tidak menunggu lama, Khaira sendiri yang membukakan pintu itu. Saat mata sembabnya menatap Tama, Khaira merasa heran. Kenapa Tama bisa menemuinya di sini? Sepengetahuannya hanya keluarganya saja yang tahu bahwa dia dan Radit pasca mengalami kecelakaan.


"Ada apa, Tama? Kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini?" tanya Khaira dengan cukup terkejut.


"Maafkan aku, Khai ... sebenarnya aku datang ke sini untuk minta maaf." ucapnya dengan raut wajah yang terlihat begitu menyesal.


Khaira mengernyitkan keningnya, dia memang tidak tahu apa hubungan Tama dan kedatangannya untuk meminta maaf. "Minta maaf untuk apa?" tanya Khaira dengan penasaran.

__ADS_1


Tama seketika menunduk, matanya seolah tidak mampu menatap Khaira. Lidahnya pun terasa kelu karena dia ingin meminta maaf, tetapi rasanya sangat sulit.


"Bisa kita bicara sebentar di luar, Khai...." ucapnya yang meminta kepada Khaira untuk berbicara sebentar di luar.


Khaira pun menganggukkan kepalanya, dia lantas menutup pintu kamar perawatan suaminya.


"Katakan, Tama ... ada apa?" tanya Khaira begitu dia telah melangkah keluar dan bersandar di dinding Rumah Sakit yang terasa dingin itu.


"Sebenarnya ... aku yang bersalah, Khai. Aku lah yang menabrak kamu dan suami kamu siang tadi. Maaf." ucap Tama dengan lirih, tersirat penyesalan dalam setiap ucapannya.


Mendengar pengakuan Tama, Khaira rasanya tak mampu lagi berkata-kata. Dia sungguh tak menyangka, Tama lah yang membuat suaminya terluka hingga menerima gips terpasang di kakinya.


"Maksudmu apa, Tama? Kamu pengendara sepeda motor itu? Pengendara sepeda motor yang menabrakku dan Mas Radit tadi siang?" tanya Khaira dengan mata nampak berkaca-kaca.


"Iya ... aku pengendara sepeda motor itu. Maaf Khai, aku sungguh tidak sengaja." ucap Tama dengan menyesal.


Sementara Khaira tak mampu lagi membendung air matanya. Orang yang menabrak dirinya dan suaminya adalah Tama. Orang yang beberapa hari meminta maaf padanya, dan kini Tama kembali datang untuk mengakui kesalahan yang lain. Kesalahan yang membuat suaminya kini berada di atas ranjang kesakitan.


"Benarkah tidak sengaja? Akan tetapi, mengapa bisa sesempurna itu menyakiti Mas Radit?" tanya Khaira dengan getir.


"Aku benar-benar tidak sengaja, Khai ... saat aku melajukan sepeda motorku dengan cepat, aku tidak tahu jika ada penyebrang jalan dan itu adalah kamu dan suamimu. Aku benar-benar menyesal dan minta maaf." ucapnya dengan kepala yang tertunduk.

__ADS_1


Bagi Khaira saat ini entah sengaja atau tidak sengaja yang pasti suaminya dalam keadaan tidak baik-baik. Kecelakaan itu membuat suaminya harus mengalami patah kaki. Hati Khaira benar-benar tidak bisa memaafkan Tama saat ini.


Bukan karena enggan memaafkan, tetapi saat suaminya kesakitan seperti sekarang ini, dialah yang lebih kesakitan saat ini. Pria yang begitu dicintainya harus mengalami kesakitan selama beberapa minggu bahkan bulan.


"Apa kamu benar-benar menilai Mas Radit tidak pantas untukku hingga kamu menyakitinya? Sengaja atau tidak, kamu sudah menyakitinya, Tama." kali ini Khaira berkata dengan emosi dan dada yang bergemuruh.


Tama lantas menggelengkan kepala. "Tidak Khai ... semua murni kecelakaan. Aku tidak sengaja. Sungguh." pengakuannya dengan rasa penyesalan yang dalam.


Khaira menyeka air matanya dan tersenyum getir. "Lebih baik pergilah dari sini, Tama. Itu jauh lebih baik." usirnya dengan halus.


"Tidak Khai ... aku akan berada di sini. Bagaimana caranya supaya kamu memaafkanku, Khai? Aku akan bertanggung jawab untuk kesalahan yang sudah aku lakukan. Aku benar-benar minta maaf kepadamu dan suamimu." ucap Tama.


"Tidak perlu bertanggung jawab untuk apapun, Tama. Cukup pergilah dari sini. Oh, iya ... aku harus sampaikan kepadamu, Tama. Hanya Mas Radit, suamiku yang berada di dalam hatiku. Hanya dia satu-satunya pria yang layak mendampingiku. Semua orang punya masa lalu, tetapi aku menerima semua masa lalu suamiku. Tolong Tama, lepas perasaanmu. Aku wanita yang sudah bersuami. Tolong ... jangan menyakiti kami lagi." ucap Khaira dengan sungguh-sungguh kepada Tama.


"Baik Khaira ... jika itu maumu. Aku benar-benar akan membuang perasaan ini. Aku juga tidak akan menyakiti kalian, semua ini murni kecelakaan, semua ini terjadi secara tidak sengaja. Maafkan aku, Khai."


Usai mengatakan itu Tama kemudian membalikkan badannya dengan langkah yang perlahan dia mulai berjalan meninggalkan Khaira.


Tama menetapkan hatinya bahwa dia benar-benar akan melepaskan perasaannya yang selalu ada buat Khaira. Benar apa yang dikatakan Khaira bahwa Khaira adalah wanita bersuami. Sangat tidak pantas menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain. Perkataan Khaira itu sesungguhnya sangat menusuk hati Tama, tetapi tidak ada yang salah dengan cinta. Hanya saja cintanya memang ada di saat yang tidak tepat.


Begitu dalamnya penyesalan Tama saat ini. Maaf dari Khaira tidak dia dapatkan, juga dia harus pergi tanpa bisa melakukan apapun, bahkan sekadar bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan telah ditolak oleh Khaira.

__ADS_1


Cintanya yang bertepuk sebelah tangan sekian tahun lamanya memang sakit, tetapi kesalahan yang diperbuat dan tidak mendapat maaf dari wanita yang dicintainya justru lebih sakit rasanya dari Tama.


__ADS_2