Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
First Kiss


__ADS_3

Badan Khaira yang terhuyung, sontak membuatnya memejamkan matanya seketika. Seolah pasrah, kapan pun ia terjatuh rasanya hanya bisa pasrah dan menunggu entah kepala atau badannya yang siap terbentur lantai.


Namun tiba-tiba tangan Radit melingkupinya. Pria itu dengan sigap melingkupi Khaira. Satu tangannya memeluk pinggang Khaira, dan satu tangan yang lain memegangi bagian belakang kepala Khaira untuk melindungi risiko jangan sampai kepala istrinya terantuk lantai. Sedang, lalu Radit berusaha membuat tubuhnya yang jatuh ke lantai, hingga akhirnya terdengar bunyi.


Gedebuk!


Punggung Radit lah yang terantuk ke lantai. Posisinya keduanya berbalik, Radit lah yang terantuk lantai dan Khaira berada di atasnya.


Khaira sontak membuka matanya dan mendapati Radit tengah meringis tertahan sembari mengaduh.


"Aduh... Punggungku." Radit mengaduh merasakan nyeri di punggungnya.


Setelah itu, Radit menatap mata Khaira, netra keduanya saling bersitatap. "Kamu gak apa-apa kan? Ada yang sakit enggak?" wajah Radit terlihat nampak panik, membayangkan jika Khaira lah yang justru jatuh dan terantuk lantai. Bola matanya juga mengamati tubuhnya Khaira yang masih berada di atasnya.


Khaira hanya bisa menggeleng, dalam hatinya lega karena ia tidak terantuk lantai. Namun, kini justru Radit yang merasakan nyeri di punggungnya karena menyelamatkannya. "Kamu gak apa-apa Mas? Ada yang sakit enggak?" tanya Khaira dengan wajah yang sama khawatirnya dengan Radit.


"Aku gak apa-apa." jawab Radit kemudian.


"Yakin?" lagi Khaira ingin meyakinkan kondisi suaminya itu.


"Iya. Aku gak papa. Justru bersyukur bukan kamu yang jatuh dan kena lantai. Aku bersyukur bisa melindungimu seperti ini. Aku merasa menjadi suami yang berguna bisa melindungi kamu. Aku ingin selalu melindungimu." ucapnya sembari tangannya kini mengelus rambut hitam Khaira.


"Makasih Mas sudah melindungi aku." ucap Khaira tulus.


Wajah khawatir Radit tiba-tiba berubah menjadi tawa. Pria itu tertawa membayangkan bagaimana Khaira berusaha merebut foto dari tangannya dan sekarang mereka justru terjatuh seperti ini. Benar-benar seperti anak kecil yang berebut mainan lalu keduanya sama-sama jatuh.

__ADS_1


Khaira mengerutkan kening di wajahnya melihat Radit yang tiba-tiba tertawa terbahak.


"Kenapa Mas kok malahan tertawa? Ada yang lucu ya?" tanyanya dengan serius.


"Kalau dipikir-pikir kita berdua barusan kayak anak kecil yang berebut mainan enggak sih, gak ada yang mau mengalah, terus berebut hingga akhirnya kita berdua jatuh seperti ini." ucapnya sembari terkekeh geli.


"Abis kamu itu gak mau berikan foto itu kok. Kan aku mau lihat, malahan godain akhirnya rebutan terus sampai sekarang kayak gini deh. Jatuh-jatuhan jadinya. Untung enggak berguling-guling kayak di film-film India." jawab Khaira.


Radit tiba-tiba memeluk pinggang Khaira lagi, membuat Khaira tersadar bahwa posisi mereka berdua belum berubah sejak tadi. Khaira masih berada di atas Radit, dengan posisi tangannya yang menyangga di dada suaminya itu.


"Untung deh kamu gak papa. Karena, kalau kamu jatuh, sakit, sampai kenapa-napa, aku yang lebih kesakitan. Mending aku yang sakit, tetapi kamu tetap aman." ucapnya seraya memperlihatkan ekspresi wajah yang serius. Tatapannya kepada bola mata Khaira, membuat Khaira salah tingkah dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.


Ucapan Radit membuat jantung Khaira kembali berdetak melebihi ambang batasnya. Jantungnya berdegup kencang. Perkataan Radit rasanya bisa dengan mudahnya membuat debaran-debaran aneh di hatinya. Ucapannya ingin melindungi, ucapannya yang ingin memastikan Khaira aman, rasanya terdengar seperti rayuan, tetapi syarat akan ketulusan dalam setiap ucapannya. Terkadang Khaira tak ingin mempercayai ucapan Radit, akan tetapi saat ini pria itu membuktikan ingin melindungi Khaira.


Pria itu mengamati reaksi yang diberikan Khaira. Apabila satu saja reaksi yang Khaira berikan untuk menolak tindakan Radit, maka ia akan menghentikan semua itu. Ia tak ingin membuat Khaira merasa tidak nyaman berada di dekatnya.


Satu detik... Tiga detik... Lima detik...


Bibir keduanya masih saling menempel. Dengan mata keduanya yang membola sempurna tanpa berkedip.


Merasakan seolah tidak ada reaksi penolakan dari Khaira setelah sekian detik berlalu, Radit mulai memagut bibir Khaira dengan begitu lembutnya. Jikalau dulu, ia pernah mencuri satu ciuman dari Khaira dengan begitu kasar hingga melukai sudut bibir Khaira, kali ini pria itu melakukannya dengan sangat lembut. Ia menikmati bibir Khaira yang manis seperti madu dan lembut bagaikan cotton candy itu.


Radit seolah tahu bahwa Khaira tidak memiliki pengalaman seperti ini, maka Radit berusaha membimbing Khaira. Ya membimbing bibir Khaira untuk mengikuti gerakan bibirnya.


Keduanya sama-sama terbuai dengan merasai bibir yang manis dan hangat. Tangan Khaira memegang erat kaos Radit, sementara satu tangan Radit memegangi rahang kiri Khaira demi membuat Khaira mengikuti gerakannya dan menikmatinya.

__ADS_1


Keduanya merasai manis, lembut, dan hangatnya ketika bibir mereka sama-sama beradu. Seolah ribuan kupu-kupu menghinggapi perut keduanya. Adegan itu berlanjut untuk sekian menit lamanya, tidak ada ciuman yang memburu hanya ciuman hangat penuh kelembutan yang dirasakan keduanya.


Radit baru melepas tautan bibir mereka saat keduanya merasa terengah-engah dan membutuhkan asupan oksigen untuk bisa bernafas.


Tangan Radit ini menyelipkan untaian rambut rambut Khaira ke belakang telinga. Melihat rona merah di wajah istrinya itu.


Kembali Radit memberi satu kecupan di bibir Khaira.


Cup!


"I Love U, Khaira...." ucapnya dengan serius.


Salah tingkah, akhirnya Khaira memilih bangkit dari atas tubuh Radit. Gadis itu memilih berjalan ke dapur dan mengambil air putih.


Radit hanya senyum-senyum mengamati sikap Khaira yang terlihat kikuk dan canggung padanya. Namun ia justru mengikuti langkah kaki Khaira menuju dapur.


Pria itu lalu mendekap Khaira dari belakang. "Love You Sayang." ucapnya sembari mengeratkan dekapannya. "Enggak dibalas nih pernyataan cintaku."


Khaira membeku di tempatnya sembari meneguk satu gelas air putih. Lidahnya terasa kelu untuk membalas ucapan Radit.


"Ya udah deh kalau enggak dijawab, aku cium lagi aja deh sapa tau dijawab. Biar cintaku berbalas." godain sembari mendekatkan wajahnya.


"Ishh, jangan macem-macem ya Mas. Awas." ucapan Khaira sembari mencoba mengurai dekapan Radit


"Macem-macem kan gak papa. Kita kan sudah halal."

__ADS_1


__ADS_2