Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Cooperative Parenting


__ADS_3

Saat dua sahabat lama bertemu, rasanya banyak sekali hal yang diobrolkan. Terlebih sekarang Metta telah menikah, dan tengah hamil muda. Rasanya Metta ingin bercerita banyak hal dengan Khaira. Bagi Metta, Khaira merupakan salah satu orang dengan sumber informasi terpercaya baginya. Pengetahuan Khaira begitu luas, sehingga saat mengobrol bersama banyak hal yang Metta dapatkan dari Khaira.


Khaira terkekeh saat Metta mengatakan bahwa dia harus sering-sering main sekalian Parenting Class dengannya. "Kalau mau main datang aja, Ta ... tapi, jangan hari Kamis ya. Aku kalau hari Kamis ngajar di kampus soalnya." ucap Khaira kepada Metta.


Metta pun menganggukkan kepalanya. "Masih ngajar di kampus juga Khai?" Tanyanya.


"Iya ... cuma setiap hari Kamis aja. Setengah hari di kampus kalau hari Kamis." ceritanya.


"Kalau kamu ngajar, Arsyila gimana?" tanya Metta dengan serius.


Khaira pun tersenyum. "Arsyila aku nitip kadang ke Neneknya, kadang ke Eyangnya. Giliran jagain Arsyila kalau hari Kamis."


Metta pun menganggukkan kepalanya mendengar cerita Khaira. Bagi Metta, Khaira sangat beruntung karena keluarganya bisa diandalkan dan menjadi support system bagi Khaira. Sekalipun menjadi Ibu, Khaira masih bisa mengejar mimpinya walaupun hanya seminggu sekali mengajar.


"Gimana caranya biar aku enggak Morning Sickness ya Khai?" kali ini Metta bertanya dengan wajah yang nampak sedih.


Faktanya Morning Sickness memang begitu menyiksa bagi sebagian wanita yang tengah hamil. Perasaan mual dan muntah, membuat perut hingga tenggorokan terasa sakit, ujung-ujungnya badan menjadi lemah.


Khaira menatap dengan lembut sahabatnya itu. "Nanti kalau sudah masuk Trimester Kedua akan berkurang intensitas Morning Sickness-nya. Coba minum jahe untuk meredakan mual. Kalau udah parah banget mualnya, minta diresepkan obat pereda mual sama Dokter." jelas Khaira dengan cukup rinci.


"Selain itu ada cara lain enggak Khai?" kali ini giliran Dimas yang bertanya kepada Khaira.

__ADS_1


Agaknya pria itu cukup khawatir dengan Morning Sickness yang dialami oleh istrinya. Sehingga Dimas pun menanyakan cara lainnya kepada Khaira.


"Beri afirmasi positif ke Debaynya Kak. Diajak aja bicara, "Adik jangan bikin Mama mual ya. Adik anak baik kok. Tumbuh dengan baik di perut Mama ya." ya semacam itu sih Kak." ucap Khaira dengan terkekeh setelah memberikan contoh kepada pasangan pengantin baru itu.


Khaira yang memberi contoh seolah tengah merasakan saat-saat hamil Arsyila dulu, dia selalu mengajak bicara Arsyila sejak berada di dalam perutnya. Menstimulasi tumbuh kembangnya dengan mengajaknya bicara. Rasanya baru kemarin Khaira mengobrol dengan Arsyila sembari mengelus-elus putrinya, sekarang Khaira bisa berbicara dengan Arsyila secara langsung. Hatinya begitu hangat saat ini melihat Arsyila memiliki lingkungan tumbuh kembang yang baik untuknya.


Dimas dan Metta pun menganggukkan kepalanya dan mendengar penjelasan Khaira. "Kalian berdua hebat banget ya. Kooperatif banget sebagai orang tua." ucap Dimas yang sebenarnya memuji pasangan yang begitu kooperatif di hadapannya sekarang ini.


Radit pun tertawa. "Kami masih belajar, Bro ... jadi orang tua itu belajar. Mulai dari masa kehamilan, melahirkan, memberi ASI, dan semua tahapan tumbuh kembangnya. Gue juga belajar waktu itu karena gue mau selalu mendampingi Istri gue. Sekarang juga masih banyak belajar sih, apalagi gue dan Istri kan masih sama-sama orang tua baru kan." ucap Radit yang berbagi bagaimana dirinya juga belajar menjadi orang tua bersama dengan Khaira.


"Tuh dengerin Kak...." Metta menepuk bahu suaminya itu.


Dimas pun mengangguk. "Menjadi suaminya Khaira keliatannya merubah lo banget ya. Dulu boro-boro dia bisa bicara kayak gini, yang ada wajahnya keruh melulu." ucap Dimas yang tanpa sengaja membuka kartu sahabat lamanya itu.


Merasa refleks dan sekarang sedang dilihat oleh Metta dan Dimas, Khaira pun melepaskan kedua tangannya yang menangkup wajah suaminya. "Sorry refleks, biasanya kebanyakan bercanda sama Mas Radit." ucap Khaira sembari menundukkan kepalanya, merasa malu dengan Dimas dan Metta.


"Gak papa, Khai ... kan sama suami sendiri. Kami juga bukan orang lain kan buat kamu. Aku udah kenal lama sama kamu." ucap Metta sembari tertawa melihat sahabatnya yang sedang dalam mode malu.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya Ta ... Sorry. Kebanyakan bercanda aku tuh sama Mas Radit. Jadinya kayak gini deh."


"Dit, sebenarnya ada lagi tujuan kami ke sini. Metta ngidam pengen liburan bareng kalian. Entahlah, kenapa Bumil ini tiba-tiba pengen liburan sama kalian berdua." ucap Dimas dengan hati-hati.

__ADS_1


Radit dan Khaira pun saling memandang. Keduanya memang sudah lama tidak liburan. Perjalanan terakhir yang mereka lakukan adalah babymoon ke Jogja dulu. Sebenarnya liburan adalah ide yang bagus, tapi bagaimana dengan Arsyila.


"Mau liburan kemana emangnya?" tanya Radit terlebih dulu kepada sahabatnya itu.


"Kapan-kapan main ke pantai yuk? Di sekitaran Jakarta aja. Mau enggak?" tawar Dimas kepada Radit.


Radit menoleh kepada istrinya. "Mau enggak Sayang? Kalau cuma sehari, kita bisa nitip Arsyila ke Ayah dan Bunda." ucap Radit.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Oke. Not bad. Jadi kapan kita mau ke pantai?" tanya Khaira dengan antusias.


"Weekend gimana? Jadi gue gak usah cuti. Tapi, pulang agak malam. Metta pengen lihat sunset di Pantai. Gimana kalian mau enggak?" lagi Dimas yang mengajak mereka untuk melihat Sunset dari pantai.


Radit dan Khaira pun mengangguk setuju. "Oke weekend ini ya, kita langsung ketemu di Pantai. Anyer kan?"


Dimas pun tersenyum. "Pantai Marbella, masih satu kawasan dengan Anyer sih. Ada hotel di situ juga. Kemarin tuh, gue dapat hadiah paket menginap di Marbella. Dapat dua tiket dari kantor, nanti yang satu buat kalian deh." ucap Dimas.


Radit pun tergelak. "Yahh, nanti kalau kami gangguin kalian gimana dong? Honeymoon Babymoon masak ngajak-ngajak sih?" ucap Radit yang sebenarnya hanya menggoda Dimas saja.


Metta sudah tertunduk malu dengan ucapan suami sahabatnya itu, sementara Dimas justru tertawa. "Nanti kita ambil kamarnya yang berjauhan aja, Dit. Jangan sampai lo gangguin kita." ucap Dimas sambil tertawa.


Radit dan Khaira kompak tertawa bersama. "Harusnya gak usah ajak-ajak kami, malahan takut gangguin." Kali ini giliran Khaira yang berbicara.

__ADS_1


Metta pun melihat wajah sahabatnya itu. "Pengennya liburan sama kamu, Khai ... sejak kita kuliah belum sempat liburan bareng kamu udah nikah. Abis lulus gak jadi liburan, kamu udah ke Manchester. Terus kamu hamil dan punya anak. Kangen liburan sama kamu, Khai...." ucap Metta sembari mengelus-elus perutnya yang masih terlihat rata itu.


"Ya sudah ... demi Bumil dan calon ponakan, aku temenin deh. Debaynya mau liburan sama Aunty Khaira ya?" ucap Khaira sembari tertawa kepada Metta.


__ADS_2