Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Circle Pertemanan Baru


__ADS_3

Pagi ini, Khaira kembali bersiap untuk pergi ke kampus. Gadis mengenakan baju, celana jeans, coat (jaket tebal), dan juga syal yang melingkar di lehernya untuk melindungi dari dinginnya musim dingin di Kota Manchester yang mencapai 8° Celcius.


"Kuliah sampai jam berapa hari ini, Khai?" tanya Radit yang juga bersiap mengenakan coat. Selama di Manchester, kerjaan Radit selalu mengantar dan menjemput Khaira ketika kuliah.


Walau pun dengan berjalan kaki dan sesekali menaiki bus yang berhenti langsung di depan kampus Khaira, tetapi pria ini begitu menikmati semua kegiatannya bersama Khaira. Kehidupan keduanya di sana sangat sederhana, namun dalam kesederhanaan itu Radit merasa bahagia. Bukan lagi tentang jabatan dan materi yang ia miliki, tetapi karena sekarang ia memiliki seseorang yang harus ia perjuangkan, seseorang yang mengisi hatinya dengan cinta, ketulusan, dan kesetiaan. Sekali pun musim dingin di kota ini sangat dingin, tetapi hari-hari Radit bersama Khaira selalu terasa hangat.


"Kuliah sampai jam 1 siang, Mas." jawab Khaira sembari menenteng buku berukuran cukup tebal di tangannya.


"Ya udah, nanti aku jemput di tempat biasa ya." ucapnya memberitahu kepada Khaira untuk menjemputnya.


"Mas Radit enggak kecapean?" tanyanya sembari menatap wajah suaminya.


Radit tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Enggak, buat kamu enggak ada kata capek Sayang. Malahan seneng bisa antar jemput kamu, aku juga sekalian olahraga. Jalan-jalan gini kan sekalian olahraga. Jantung aku sehat karena berolahraga, tambah sehat karena sama kamu. Imun aku naik." ucapnya sembari cengengesan.


Khaira pun tersenyum sembari menghela nafasnya. "Sekarang pinter banget sih gombalnya."


"Bukan menggombal Sayang, tapi itu kenyataan yang aku rasakan." ucapnya enteng.


"Ya udah yuk Mas, berangkat kita. Takut telat."


Khaira dan Radit pun berjalan bersama keluar dari apartemen. Mereka menyusuri jalan-jalan, bergandengan tangan bersama, sembari tertawa dan mengobrol hingga keduanya telah sampai di University of Manchester.


Baru saja Khaira dan Radit berhenti di depan kampusnya, ketiga teman Khaira sudah datang bersama-sama dan menghampiri Khaira.


"Hai Khaira, sehat hari ini? sapa Tina, gadis India yang berkuliah di situ juga.


"Hai Tina. Aku sehat." jawabnya sembari tersenyum.


"Khaira, agaknya kita belum terlalu kenal dengan suamimu bagaimana kalau siang ini kita ngumpul? Makan siang bersama, usai kuliah ini. Bagaimana?" Adam yang berinisiatif untuk lebih mengenal Radit.


Khaira nampak melihat pada suaminya. "Temen-temen pada ngajakin makan siang bareng usai kuliah, mau enggak Mas? Mereka mau kenal juga sama kamu." ucap Khaira kepada Radit.


Radit nampak menganggukkan kepalanya. "No problem. Nanti siang kita bisa makan bersama. Aku juga rasanya seneng bisa juga mengenal teman-temanmu itu."


"Oke guys, setelah kuliah kita bisa ngumpul dan makan bersama. Tapi ingat, aku tidak mau jika kalian meminum alkohol saat ada aku ya, aku akan langsung pulang." ucap Khaira sembari memincingkan matanya.

__ADS_1


"I know about it, Khai." jawab Mark yang sudah paham bahwa temannya itu sangat tidak menyukai jika temannya meminum alkohol saat bersamanya.


Kelima orang itu tersenyum bersama. Pertemanan lintas ras dan negara justru bukan masalah berarti bagi Khaira, Tina, Mark, dan Adam. Sementara bagi Radit, ia bersyukur karena sekarang ia juga mengenal teman-teman Khaira.


"Mas, aku masuk dulu ya. Hati-hati ya pulangnya. Salim dulu Mas."


Khaira pun mengulurkan tangannya dan menyambut tangan Radit. Bersalaman dengan punggung tangan suaminya ia sentuhkan ke dahinya. "Aku kuliah ya Mas..." ucapnya sembari melambaikan tangannya.


"Iya, kuliah yang rajin ya. Nanti Mas jemput lagi di sini. Tunggu sampai Mas dateng ya."


Radit masih berdiri di tempatnya melihat hingga punggung istrinya itu menghilang. Setelah Khaira tak terlihat barulah ia kembali pulang ke apartemennya dengan menaiki bus.


"Lo istri yang baik deh, Khai..." Adam berjalan sambil menggoda Khaira.


"Maksud lo apa?" tanyanya yang merasa tidak paham dengan perkataan Adam.


"Tuh tadi pake salim tangan. Istri yang baik lah." godanya.


"Karena kulturku dari Indonesia, dari Jawa. Salim tangan suami kan menghormati dia sebagai suamiku. Kalau di sini gak ada salim-salim tangan." sahut Khaira.


"Makanya buruan nikah sana." jawab Khaira dengan sengitnya.


***


Tiga jam kemudian.


Kuliah terakhir akhirnya usai sudah. Wajah-wajah lega dan bahagia menyambut liburan musim dingin yang berlangsung satu bulan penuh.


Khaira, Adam, Tina, dan Mark berjalan bersama keluar dari kampus. Seperti janjinya tadi pagi, keempatnya akan ngumpul bersama dengan Radit untuk lebih mengenal suami sahabatnya itu.


Di luaran kampus nampaknya Radit sudah berdiri di sana, pria itu selalu tepat waktu ketika menjemput istrinya pulang kuliah. Dari jauh ia sudah melambaikan tangannya kepada Khaira.


Sementara yang menerima lambaian tangan dari suaminya hanya tersenyum tersipu malu.


"Sudah selesai kuliahnya?" tanyanya begitu Khaira mendekat kepadanya.

__ADS_1


"Sudah. Kuliah terakhir sebelum liburan. Akhirnya." ucapnya lega.


"So where are we going to have lunch?" (Jadi kita akan makan siang di mana?) tanya Radit kepada mereka semua.


"Bagaimana kalau kita minum kopi di Pret A Manger? Kita minum kopi saja, tidak mungkin kita minum alkohol saat bersama Khaira." ucap Mark yang langsung disetujui oleh Tina dan Adam.


Pret A Manger adalah sebuah kafe yang menjual berbagai olahan minuman kopi dan cokelat, sandwich, dan berbagai kue buatan rumah. Coffee shop ini hanya berjarak 20 meter saja dari University of Manchester.


Akhirnya mereka berlima berjalan bersama menuju Coffee shop tersebut.


Sesampainya di Pret A Manger, Adam, Mark, dan Radit memilih memesan Black Americano, Tina memesan Cappucino, dan Khaira memesan Hot Choco. Selain itu mereka juga memesan berbagai kue Croissant dan makanan lainnya yang mereka inginkan.


"Jadi, kami harus memanggil suamimu dengan nama atau gimana Khai?" tanya Adam kepada Khaira.


"Terserah kalian saja. Kalau di luar negeri tidak ada sebutan Kakak kan, mereka biasanya memanggil Brother/Sister atau langsung memanggil nama mereka." jawab Khaira yang disetujui oleh teman-temannya.


"Kalian bisa memanggilku Radit. Biasa saja, tidak masalah." ucap Radit sembari tersenyum melihat satu per satu teman-teman istrinya itu.


"Kalau di India, kami memanggil kakak laki-laki kami dengan sebutan 'Bhai'." ucap Tina.


"Panggil saja dengan semau kalian. Aku rasa tidak masalah." jawab Khaira. Lagipula pertemanan mereka lintas bangsa dan budaya, jadi tidak masalah jika masing-masing orang membawa kultur budayanya sendiri.


"Kalau kamu memanggil suamimu dengan sebutan apa Khai?" tanya Mark tiba-tiba.


Khaira sedikit melirik pada Radit yang duduk di sebelahnya.


"Hmm, aku memanggilnya Mas."


"Kenapa tidak memanggilnya Hubby, Babe, dan sebutan lainnya seperti orang-orang di sini?" Lagi Mark mencecarnya dengan pertanyaan.


"Jika di Indonesia, seringkali istri memanggil suaminya dengan panggilan 'Mas' walau pun itu artinya kakak laki-laki bagi suku Jawa." jawab Adam.


"So, terserah kalian saja. Asal kalian nyaman." Imbuh Khaira dalam ucapannya.


"Oke, karena kamu adalah suami Khaira, berarti kamu juga teman kami. Berteman?" ucap ketiga teman Khaira itu bersamaan.

__ADS_1


Radit pun menyetujui. Dia tidak menyangka mendapat circle pertemanan baru di sini, teman istrinya juga menjadi temannya sekarang.


__ADS_2