
Selang satu hari setelah kembali mendapatkan pemeriksanaan menyeluruh, akhirnya Khaira dan Baby Arshaka diperbolehkan untuk pulang. Sebagaimana pesan dari Dokter Bisma bahwa Khaira harus berusaha memberikan ASI Ekslusif untuk Arshaka. Mengingat bahwa Arshaka lahir dan tidak menangis, ASI memiliki kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan bayi untuk meningkatkan sistem daya tahan tubuhnya.
“Adik bayinya sudah sehat ya Bu … tetapi jangan lupa untuk selalu memberikan ASI Ekslusif. Jadwal imunisasi rutin juga udah tertera dalam buku, harap buku selalu dibawa setiap kali imunisasi ya. Jadi Adik bayi yang cakep ini namanya siapa?” tanya Dokter Bisma saat melakuma visiting terakhir.
"Namanya Arshaka, Dok." jawab Khaira dengan tersenyum.
Setelahnya Dokter Bisma pun tersenyum, "Wah, namanya bagus. Semoga si baby tumbuh menjadi anak yang berakar kuat dan penuh syukur seperti arti namanya yah." sahut Dokter Bisma lagi.
Radit dan Khaira pun sama-sama tersenyum, “Amin ….” jawabnya serempak.
Akan tetapi, saat Dokter Bisma masih berada di dalam ruangan Khaira rupanya kali ini Arsyilla datang bersama dengan Bunda Dyah dan Ayah Ammar. Merasa karena mengenal sosok Dokter yang kini berada di ruangan Mamanya, Arsyilla pun tidak segan untuk menyapa Dokter Bisma.
“Halo Paman Dokter …” sapa Arsyilla dengan begitu lucunya.
“Hei, ini pasti si cantik Arsyilla kan?” sahut Dokter Bisma sembari menunduk, satu tangannya terulur guna mengusap dengan lembut puncak kepala Arsyilla.
Kepala Arsyilla pun mengangguk perlahan, “Iya … benar.” gadis kecil itu pun tertawa. “Itu, adik bayi. Syilla sudah menjadi kakak.” ucapnya lagi.
Dokter Bisma pun tersenyum, “Wah, bagus. Arsyilla jadi Kakak yang baik untuk Adik Arshaka ya. Kalau jadwal adik Arshaka imunisasi, Arsyilla ikut ya … nanti Dokter bawakan karamel dari anaknya Dokter di rumah. Okey?”
“Okey … okey.” jawab Arsyilla dengan tertawa.
__ADS_1
Setelahnya Dokter Bisma pun berpamitan kepada semua yang berada di dalam ruangan Khaira. Sementara Radit juga segera keluar untuk membayar seluruh biaya perawatan Khaira dan babynya selama dua hari berada di Rumah Sakit.
Sembari menunggu Radit yang kembali, Arsyilla tampak menatap wajah Arshaka yang sekarang tengah ditimang oleh Bunda Dyah. “Nenek, itu Adiknya bobok lagi yah?” tanyanya dengan menunjukkan wajah penuh penasaran.
Bunda Dyah pun mengangguk, “Iya … adik bayinya masih bobok. Kalau masih bayi seperti ini jadwal boboknya lebih panjang, Syilla. Nanti kalau semakin besar, mulai berkurang jam boboknya. Syilla dulu waktu masih bayi juga seperti adik bayi ini.” jelas Bunda Dyah kepada cucunya yang memang begitu kritis itu.
“Adiknya capek ya Nek …” ucap Arsyilla dengan tiba-tiba. Sontak saja ucapan Arsyilla itu membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu pun tertawa.
“Iyakah? Arshaka cakep ya? Sama Papa kamu cakep mana?” tanya Bunda Dyah lagi kepada Arsyilla.
Sebelum menjawab, Arsyilla tampak diam, seolah dirinya tengah berpikir. “Euhm, cakepan Papa, Nek … Papa Syilla kan paling cakep.” celetuknya lagi yang lagi-lagi membuat Khaira, Bunda Dyah, dan Ayah Ammar pun tertawa.
“Iya … kamu itu anaknya Papa banget deh, ini Arshakanya juga cakep loh.” ucap Bunda Dyah.
Sebelum Arsyilla kembali menjawab, rupanya Radit datang dan kembali masuk ke dalam kamar. Pria itu usai membereskan seluruh administrasi untuk Khaira dan sekaligus menebus beberapa obat yang masih harus dikonsumsi Khaira usai melahirkan.
“Yuk, kita pulang sekarang.” ajak Radit kepada seluruh keluarga yang ada di situ.
Khaira pun mengangguk, dan perlahan mulai berdiri. Khaira pun sudah begitu kangen dengan rumahnya, padahal hanya 2 hari berada di Rumah Sakit, tetapi rasanya sudah begitu lama dan ada hasrat ingin kembali pulang ke rumah,
Dengan pelan dan hati-hati, Radit mengemudikan mobilnya membawa kembali istri tercinta dan anak-anaknya untuk kembali ke rumah mereka. Ada rasa bahagia, saat keluarga kecil ini bisa kembali ke rumah yang bukan sekadar tempat berlindung, tetapi rumah yang menjadi lingkungan tumbuh kembang bagi Arsyilla dan Arshaka.
__ADS_1
“Welcome Home …” ucap pria itu begitu tiba di rumah dan membukakan pintu utama untuk istri dan anak-anaknya.
Setelahnya, Radit meminta Arshaka yang masih dalam gendongan Khaira, pria itu menidurkan Arshaka terlebih dahulu di box bayi yang berada di dalam kamarnya. Setelah itu Radit kembali turun, pria itu kini justru menggendong istrinya ala bridal style. Membopongnya dengan hati-hati menaiki anak tangga hingga memasuki kamarnya.
“Padahal aku bisa jalan sendiri, Mas. Kamu ini terlalu mengkhawatirkan aku.” ucap Khaira dengan wajah yang memperhatikan setiap fitur wajah suaminya itu.
Radit tersenyum dan menggerakkan alisnya, “Aku khawatir Sayang … lagipula ada luka jahitan yang banyak. Biar aku yang gendong kamu aja.” ucapnya.
“Aku berat loh, Mas. Berat badanku masih belum turun, masih gemukan loh.” ucap Khaira lagi-lagi. Sebab, memang pasca melahirkan berat badan seorang ibu tidak bisa turun dengan drastis. Membutuhkan waktu beberapa minggu hingga bulan untuk mengurangi berat badan.
“Aku masih kuat, Sayang … hanya gendong kamu. Suamimu ini tidak pernah merasa keberatan. Justru aku keberatan kalau kamu bersikeras naik turun tangga sendiri, ngilu rasanya Sayang.” ucapnya.
Setelah sampai di dalam kamar, dengan hati-hati Radit mendudukkan istrinya itu di sofa yang berada di dalam kamar mereka. “Kamu butuh apa lagi? Biar aku saja yang ambil. Aku yang akan naik turun ke bawah. Kamu di dalam kamar saja, sampai luka jahitan kamu benar-benar sembuh. Jangan naik turun anak tangga dulu.” pintanya dengan posesif.
Khaira pun kemudian tersenyum, “Benangnya elastis, Mas … kan terbuat dari gelatin dan nanti bisa menyatu dengan jaringan kulit. Naik turun tangga gak apa-apa. Khawatir banget ya Mas?” tanya kepada suaminya itu.
“Iya … aku khawatir. Terlebih lihat Shaka lahir, aku lebih khawatir. Jadi kamu pokoknya butuh apa-apa bilang saja sama aku. Aku yang akan merawatmu sampai kamu benar-benar sembuh. Tidak perlu merasa sungkan pada suami sendiri. Yang pasti aku akan merasa senang karena kamu mau meminta tolong padaku.” ucap Radit dengan begitu serius dan dia sudah berpesan tidak perlu merasa sungkan dengannya.
“Makasih Mas Radit, Makasih Papanya Syilla dan Shaka. Love U.” balas Khaira yang berterima kasih dan mengungkapkan rasa cintanya untuk suami dan sekaligus papa bagi kedua anaknya itu.
Radit pun tersenyum, “I Love U Too, Sayang. Mamanya Syilla dan Shaka.” balasnya dengan tersenyum, menatap wajah istrinya dengan penuh syukur dan juga dengan penuh rasa cinta.
__ADS_1