Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Permintaan Maaf


__ADS_3

Khaira masih setia menemani suaminya yang melahap makan malamnya di meja makan. Kesibukan dalam bekerja, memang membuat Radit melewatkan beberapa hal di rumah. Sungguh, Khaira bisa menerima, tetapi ada Arsyila yang belum bisa menerima kesibukan Papanya. Anak berusia 3 tahun ini menginginkan setiap hari bisa bersama dengan Papanya. Hanya bertemu di pagi hari dan setelahnya Papanya kerja hingga lembur, membuat sore hari Arsyila terasa hambar.


"Mas ... kalau senggang, sediakan waktu buat Arsyila." Pinta Khaira kepada suaminya itu.


Radit seketika menaruh sendok dan garpunya di sisi piring. "Iya Sayang ... kamu juga pasti butuh waktu bersamaku ya? Maaf ya...." Ucapnya dengan penuh penyesalan.


Khaira pun menggelengkan kepalanya. "Prioritaskan untuk Arsyila dulu, Mas ... dia lebih membutuhkan figur Papanya. Aku bisa lain waktu, aku tahu kesibukanmu sebagai Auditor, tetapi Arsyila kan belum tau. Dia hanya tahu Papanya bekerja dan sore Papanya pulang."


Kadang menyelami jalan pikiran seorang anak itu tidak mudah, mereka belum bisa berkomunikasi dengan baik. Akan tetapi, mereka tahu kebiasaan orang tuanya. Seperti Arsyila yang tahu bahwa Papanya kerja di pagi dan pulang di sore hari, karena itu saat Papanya tidak pulang di sore hari sudah pasti Arsyila akan mencarinya.


Helaan napas yang terasa berat dilakukan oleh Radit. "Benar Sayang ... aku harus menebus banyak waktu bersama Arsyila. Terima kasih juga karena sudah mau memahamiku."


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Asal kamu benar-benar bekerja lembur, aku tidak apa-apa Mas ... tetapi, kalau kamu sudah berlaku tidak setia, ya maaf aku tidak akan memberi lagi kesempatan ketiga." ucap Khaira dengan tegas.


Perkataan Khaira barusan terasa begitu mengguncang perasaan Radit. Dia tahu pasti, istrinya sudah pasti akan melakukan apa yang diucapkannya dan juga kali ini dia benar-benar tidak akan melakukan kesalahan yang sama. "Percayai aku Sayang ... aku tidak akan menyakiti kamu lagi. Maaf ya, kalau tidak percaya kamu bisa bertanya pada Ayah Wibi gimana sibuknya pekerjaan di kantor sekarang ini. Lagipula aku kerja sama Ayah kan, lebih mudah kamu monitoring." ucap pria itu yang menjelaskan bahwa dia tidak akan macam-macam di luar sana. Memberi kepastian kepada istrinya bahwa dia akan benar-benar setia.


"Iya ... aku akan berusaha mempercayaimu, Mas." ucap Khaira perlahan.


Setelah suaminya selesai makan, Khaira membersihkan meja makannya sekaligus mencuci peralatan makan yang masih kotor. Sementara Radit mengamati setiap pergerakan istrinya itu sembari membasahi tenggorokannya dengan air minum.


Usai minum, pria itu itu bergerak dan memeluk istrinya dari belakang. "Kamu kalau capek, biar aku aja yang mencuci piring. Seharian kamu sudah mengasuh Arsyila, memasak, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Sudah pasti kamu capek kan."

__ADS_1


Khaira menggelengkan kepalanya. "Pekerjaan rumah tangga kan sudah kewajibanku, Mas ... lagian aku enggak capek kok, aku melakukan semuanya dengan tulus."


Semakin mengeratkan pelukannya, Radit menaruh dagunya di puncak bahu istrinya. "Istri yang baik banget sih ... gimana aku enggak tambah cinta, kalau kamu sebaik ini." ucapnya sembari menggodai istrinya yang tengah mencuci piring.


Merasa risih, Khaira mencoba memperingatkan suaminya. "Jangan kayak gini, risih Mas...." ucapnya memberitahukan bahwa Khaira merasa risih.


Mengabaikan apa yang diucapkan istrinya, Radit justru semakin menggodai istrinya, membuyarkan fokusnya dengan menggigit cuping telinga istrinya. Gigitan yang membuat Khaira menahan napasnya. "Ya ampun Mas ... jangan dong. Kalau sampai aku nyuci piring ini sampai pecah, awas loh ya. Usil banget sih." ucapnya.


Radit pun tertawa. "Sini, biar aku aja yang selesaikan. Kamu tunggu aku aja di meja makan." ucap pria itu dengan mencoba mengambil alih cucian piring yang hanya tinggal dibilas.


Kemudian Radit meraih tangan istrinya dan membawanya ke bawah kran air demi menghilangkan busa-busa sabun di sana. "Udah bersih ... sekarang kamu yang tungguin aku ya. Biar aku yang selesaikan." ucapnya yang sudah siap menyelesaikan cucian piring itu.


Semula Khaira melihati dan berdiri di samping suaminya itu, tetapi perlahan Khaira berjalan dan dia justru memeluk tubuh suaminya itu dari belakang. Melakukan persis apa yang dilakukan suaminya sebelumnya kepadanya.


Khaira membiarkan dirinya diam dan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya itu. "Aku kangen...." satu pengakuan sederhana, tetapi cukup membuat Radit menghela napasnya.


Dia tahu benar, istrinya juga pasti merindukan dirinya. Sekalipun setiap hari bertemu, tetapi ada saja kerinduan yang menyelimuti keduanya.


Pria itu agak memundurkan kepalanya, "aku juga kangen kamu Sayang...." ucapnya sembari terus bergerak membilas satu per satu peralatan makan.


Khaira memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya, membiarkan dirinya sesaat untuk bersandar pada pria yang selalu dicintainya itu dan hanya terdengar gemericik air saja. Ketenangan dan kedamaian seperti ini yang selalu Khaira rasakan setiap kali bersama dengan suaminya itu.

__ADS_1


Radit kemudian, menyelesaikan mencuci piring malam itu, pria itu kemudian berbalik dan memeluk erat istrinya. "Maaf ya Sayang ... sepekan ini aku begitu sibuk, maaf banget." Ucapnya sembari mengecup kening istrinya.


Khaira pun mengangguk dan sedikit tersenyum. "Gak apa-apa Mas ... kamu kerja kan juga buat kami, buat keluarga. Jadi enggak apa-apa. Penting sisakan waktu untuk Arsyila, itu saja sih permintaanku." ucapnya dengan sungguh-sungguh.


"Iya Sayang ... aku akan menebus waktu kebersamaan dengan Arsyila. Ya sudah mau ke kamar yuk? Mau aku gendong?" tawarnya kali ini kepada istrinya.


Mendengar tawaran suaminya, Khaira tertawa. Bagaimana bisa suaminya itu menawarkan untuk menggendongnya. "Yakin kuat gendong aku?" tanyanya.


Radit pun menganggukkan kepalanya. "Kuat dong Sayang ... yuk, aku gendong."


Khaira tertawa, kemudian dia memiliki ide untuk menggodai suaminya itu. "Gendong belakang yah ... harus nyampe kamar loh ya, gak boleh diturunin." ucap Khaira dengan cepat.


Setelahnya dia naik ke punggung suaminya dan tangannya berpegangan dengan cara melingkari leher suaminya.


Sementara Radit menahan bobot istrinya dengan tangannya. Perlahan pria itu tersenyum dan mulai berjalan.


"Yakin, kuat Mas?" tanya Khaira lagi kepada suaminya.


Radit menggerakkan kepalanya, "sudah pasti aku kuat." ucapnya penuh percaya diri.


Hingga menaiki satu per satu anak tangga, Khaira sesungguhnya was-was dan merasa kasihan dengan suaminya itu, tetapi kali ini agaknya dia bersikap lebih tega dengan membiarkan suaminya untuk terus menggendongnya hingga masuk ke dalam kamarnya. Begitu telah di dalam kamar, Radit kemudian menurunkan istrinya di atas tempat tidur. "Kuatkan aku ... untukmu aku selalu yakin dan berusaha Sayang." ucapnya serius.

__ADS_1


Menarik tangan suaminya, lantas Khaira mendaratkan bibirnya di pipi kanan suaminya. "Makasih Mas Radit sudah gendong aku sampai sini...." ucapnya dengan wajah merah merona usai mencium pipi suaminya itu.


__ADS_2