Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Luapan Kerinduan


__ADS_3

“Aku juga kangen kamu, Sayang … kangen banget.”


Suara Radit yang begitu pelan itu nyatanya sayup-sayup terdengar juga di telinga Khaira. Ada sebuah hati yang seolah melompat kegirangan karena rasa rindunya berbalas. Ya, suaminya ternyata juga merindukannya.


Tidak ingin menunggu waktu terlalu lama, Radit langsung membalik posisi tidurnya, kini pria itu bisa melihat dengan jelas wajah ayu yang sudah sepenuhnya mengisi hatinya. Wanita yang namanya terukir dengan begitu indah dan sempurna di dalam relung jiwanya. Pria itu seolah tertegun, melihat sosok istrinya. Mata yang bertemu dengan mata, seolah saat itu waktu berhenti. Dua pasang mata yang saling bersitatap, berusaha menemukan makna cinta yang mungkin saja tersorot dari gelapnya netra keduanya.


Membiarkan detik demi detik berlalu, dan Radit dan Khaira masih saling pandang dalam diam.


“Jadi, kamu juga kangen aku?” tanyanya sembari terus menatap istrinya itu.


Diamnya Khaira mungkinkah bisa menjadi jawaban yang pasti bahwa istrinya itu juga merindukannya. Akan tetapi, saat ini Radit tidak ingin istrinya itu diam. Radit ingin istrinya itu mengungkapkan bahwa istrinya bisa mengatakan dengan langsung, tidak perlu bersuara dari balik punggungnya. Sebab, sekarang matanya tertuju hanya pada istrinya dan telinganya bisa mendengar dengan langsung bahwa istrinya itu benar-benar merindukannya.


“Jawab aku.” pinta Radit kali ini. Seolah pria itu menunggu dan sangat membutuhkan pengakuan dari istrinya.


Akan tetapi, Khaira justru masih diam. Wanita itu pun seolah tertegun saat bersitatap dengan kedua netra suaminya itu.


“Please, jawab aku. Aku ingin mendengarnya secara langsung.” lagi Radit berbicara dan ingin istrinya itu menjawab pertanyaannya.


Namun, Khaira justru masih diam. Wanita itu justru mengangkat sedikit wajahnya, dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir suaminya. Mengecup suaminya dengan wajah yang masih tertegun. Hanya satu kecupan yang dia daratkan. Akan tetapi, satu kecupan itu nyatanya bisa membuat Radit tersenyum.


“Kecupanmu sudah menjadi jawaban kalau kamu juga merindukanku.” ucapnya kali dengan menelisipkan tangannya di bawah kepala istrinya, membiarkan lengannya menjadi tempat bersandar bagi istrinya itu sepanjang malam. Kemudian, dia mengangkat sedikit kepala istrinya dan membenamkannya di antara lengan dan dadanya. Posisi yang selalu menjadi favorit wanitanya itu sepanjang malam.


“Sudah sekarang kamu boleh tidur. Maaf untuk hari ini ya.” ucapnya dengan begitu lembut.

__ADS_1


Khaira pun menghela napasnya, perlahan dia menengadahkan wajahnya guna menatap wajah suaminya itu, “Aku juga minta maaf ya Mas … aku begitu emosional.” ucapnya kali ini yang juga mengakui bahwa dirinya pun terlalu emosional dengan apa yang sudah dia lihat di kantor tadi.


Radit pun mengangguk, “Iya enggak apa-apa. Kalau aku yang ada di posisimu, pasti aku juga akan marah dan sebel sama sepertimu.” sahutnya sembari mengusap dengan lembut rambut istrinya itu.


“Namun, apa yang kamu ucapkan tadi bener Mas?” tanya Khaira lagi kepada suaminya itu.


“Yang mana?” balasnya dengan cepat.


“Pertama kali kita tidur satu ranjang bersama itu? Yang dulu itu, kamu seneng?” tanyanya kepada suaminya itu.


Radit justru terkekeh geli mendengar pertanyaan dari istrinya itu. Pria itu pun kemudian mengangguk, “Iya … seneng banget. Pengen peluk kamu dan mengungkungmu di bawahku. Sayangnya, aku gak akan berani melakukannya karena aku tahu saat itu hubungan kita sama-sama buruk. Jauh dari kata harmonis.” ucapnya sembari menciumi kening istrinya.


“Komunikasi saja enggak pernah, bagaimana bisa harmonis. Padahal keharmonisan itu terbangun dari komunikasi antar dua pasangan.” sahut Khaira dengan cepat.


Radit lantas menghela napasnya, “Padahal dulu, kamu ya halal bagiku dan aku bisa meminta hakku, tetapi faktanya tidak kulakukan. Di Manchester pun, aku mau nunggu sekian bulan lamanya, barulah di Paris kita bisa benar-benar bersatu. Aku bukan hanya pejuang, Sayang … tetapi, aku juga pria yang sabar. Yang lain mana bisa kuat menahan semua itu.” ungkapnya dengan menundukkan pandangannya guna bisa melihat wajah istrinya itu.


"Iya, kamu memang pria penyabar dan seorang pejuang. Emang kamu masih inget waktu kita pertama kali tidur seranjang Mas? Bukannya dulu kamu sebel sama aku?" tanya Khaira lagi kepada suaminya itu.


Radit justru tertawa, "Ingetlah Sayang … aku inget semuanya. Enggak sebel, aku itu sayang sama kamu. Sejak kamu kecil malahan." ucapnya dengan tertawa.


"Gombal. Padahal dulu sebel-sebel, setelahnya ngejar-ngejar aku." sahut Khaira dengan cepat.


"Ya kan ada pepatah berkata, 'kamu hanya cukup membutuhkan waktu 90 detik buat jatuh cinta.' Aku juga cuma butuh waktu 90 detik buat jatuh cinta sama kamu. Setelah jatuh cinta sama kamu, aku rasanya bener-bener jatuh sejatuh-jatuhnya, sampai tidak bisa bangkit lagi." ucapnya dengan begitu serius.

__ADS_1


Sementara Khaira hanya menggelengkan kepalanya, mendengarkan setiap ucapan dari suaminya itu. Setelahnya Khaira memilih untuk memejamkan matanya. Rasanya capek dan bawaan hamil membuatnya beberapa kali menguap, kelopak matanya terasa begitu berat.


"Mas, aku tidur duluan boleh?" pamitnya kepada suaminya itu.


Radit pun mengangguk, "Boleh … tidur saja Sayang. Met bobo. I Love U More."


***


Keesokan harinya, Radit bangun lebih dahulu, Kendati demikian, pria itu masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Pria itu masih suka memandangi wajah istrinya yang masih terlelap. Pemandangan di pagi hari yang selalu indah untuk Radit, hatinya begitu bahagia melihat wanita yang paling dicintai itu terlelap dengan nyaman dalam pelukannya.


Setelahnya, Radit berusaha menarik tangannya perlahan supaya tidak mengganggu tidur istrinya itu. Pria itu beranjak dari tempat tidurnya kemudian mencuci wajahnya sejenak di kamar mandi, dilanjutkan menuju ke dapur. Radit berniat membuatkan susu ibu hamil khusus untuk istrinya dan sebuah omelette yang merupakan salah satu sarapan kesukaan istrinya itu.


Dua butir telor dia ambil dari lemari es, mencampurkan dengan susu dan memberikan sedikit penyebab rasa, kemudian mulailah dia memanaskan teflon wajan dan mulai membuat omelette untuk istrinya itu. Setelah semuanya itu selesai, Radit membawanya hati-hati ke dalam kamar. Kemudian dia membangun istrinya itu.


“Sayang … bangun dulu yuk. Sudah pagi Sayang.” ucapnya sembari mengusap sisi wajah istrinya itu.


Merasa dibangunkan, perlahan Khaira pun mengerjap, kelopak matanya mulai bergerak-gerak, dan perlahan kelopak mata itu membuka perlahan-lahan.


“Mas, sudah pagi ya?” tanyanya sembari mengucek matanya.


Radit pun segera mengangguk, “Iya … sudah pagi.Bangun yuk, aku sudah buatkan sarapan buat kamu.” ucapnya dengan ada rasa bangga dalam hati karena bisa membuatkan sarapan untuk istrinya itu.


Khaira perlahan mengubah posisinya dari berbaring sekarang menjadi terduduk dan bersandar di head board, “Kamu repot-repot sih Mas … padahal aku bisa bangun dan buatkan sarapan buat kita berdua.” ucapnya.

__ADS_1


“Enggak apa-apa, sudah lama juga kan aku tidak membuatkan sarapan buat kamu. Sana cuci muka dan gosok gigi dulu, abis ini sarapan. Tuh, sudah aku bawa ke kamar.” ucapnya sembari menunjuk segelas susu khusus ibu hamil rasa stroberi dan sepiring omelette yang telah berada di atas meja.


Ah, rasanya pagi begitu indah. Menyambut pagi dengan orang kita kasihi dan juga merasakan perhatian dan tindakan kecil dari suaminya yang benar-benar membuat Khaira begitu bermekaran pagi itu.


__ADS_2