
Sepulang dari panti asuhan, rupanya Arsyila masih terisak. Kehilangan sosok Aksara, rupanya membuat Arsyila begitu sedih. Sosok yang selama ini sudah dianggapnya sebagai seorang Kakak.
Perasaan seorang anak sebenarnya memang sensitif, mereka mudah berbaur dengan orang lain bahkan dengan kepolosan dan keterbukaan mereka, seorang anak kecil bisa dengan mudahnya menerima orang lain dan menganggapnya layaknya saudara dan keluarga. Itu juga yang dialami Arsyila saat ini. Lantaran telah menjadikan Aksara sebagai seorang yang penting dan terkesan di dalam hidupnya, membuat anak kecil ini merasa begitu kehilangan.
Sesampainya di rumah, Khaira lantas memangku dan memeluk putrinya itu. "Syila masih sedih?" tanya perlahan.
Sebagai seorang Mama, memang Khaira sering menanyakan bagaimana perasaan Arsyila. Sekalipun masih kecil, bukan berarti Arsyila tidak bisa berekspresi dan menunjukkan perasaannya. Khaira justru mengajari anaknya untuk berani berekspresi dan menunjukkan perasaannya kepada orang tuanya. Dengan memahami ekspresi perasaan seorang anak, orang tua pun akan bisa membawa diri dan mencoba memahami anak dan perasaannya dengan lebih baik.
Dengan masih sesegukan, Arsyila pun menganggukkan kepalanya. "Jadi, apakah Syila tidak bisa bertemu lagi dengan Kak Aksara Ma?"
Jujur saja Khaira pun begitu sedih saat ini. Masih teringat jelas di ingatan Khaira bagaimana pertemuan pertamanya dengan Aksara. Anak laki-laki yang menganggap dirinya sama dengan Dongeng Itik Buruk Rupa yang ditinggalkan dan tidak memiliki keluarga. Seorang anak yang merasa terbuang dan tidak memiliki keluarga yang mengisi tangki air cintanya.
"Sebenarnya bukan hanya Arsyila yang sedih sekarang ini, Mama dan Papa juga bersedih. Bagi Mama dan Papa, Kak Aksara itu juga seorang kakak bagimu. Akan tetapi, Tuhan sayang dengan Kak Aksara dengan mempertemukannya dengan orang tuanya. Selama ini Kak Aksara hanya tinggal bersama teman-teman di Panti Asuhan dan Oma Lisa. Sekarang Kak Aksara memiliki kesempatan untuk tinggal bersama Mama dan Papanya. Jika Tuhan menghendaki suatu hari nanti, Syila pasti akan bertemu kok dengan Kak Aksara." ucap Khaira dengan begitu sabar dan memberikan penjelasan dengan pelan-pelan kepada Arsyila.
"Apa Mama dan Papanya Kak Aksara baik Ma?" tanyanya lagi.
Khaira pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Mama berharap bahwa Mama dan Papanya Kak Aksara juga adalah orang tua yang baik."
"Kalau mereka baik, mengapa mereka membawa pergi Kak Aksara?" lagi Arsyila masih merasa tidak terima dengan kepergian Aksara yang mendadak dan tiba-tiba.
Giliran Radit yang membelai lembut puncak kepala Arsyila. "Syila Sayang ... mau mendengarkan cerita dari Papa?" tanyanya dengan perlahan.
__ADS_1
Arsyila pun menganggukkan kepalanya. "Cerita apa Pa? Mau...."
Radit kemudian menatap wajah putrinya yang matanya telah sembab karena terlalu lama menangis itu. "Dengarkan Papa yah, dulu waktu Papa dan Mama masih kecil. Papa dan Mama sering bertemu, kami berdua main bareng, jalan-jalan bareng, Papa selalu bahagia setiap kali bisa bertemu dengan Mama. Akan tetapi, suatu hari Eyang Kakung dan Eyang Putri memutuskan untuk pindah rumah, yang sebelumnya kami tinggal di Jogjakarta terus pindah ke Jakarta. Sejak saat itu, Papa begitu sedih karena harus berpisah dari Mama, saat kami berdua masih kecil. Setelah berpisah untuk waktu yang lama, rupanya Tuhan mempertemukan Papa dan Mama lagi. Lebih ajaib, Tuhan yang membuat Papa dan Mama saling sayang hingga memiliki kamu. Papa dan Mama yang dulu berpisah lama, bisa bertemu kembali. Kalau Syila percaya dalam hati dan berdoa kepada Tuhan, siapa tahu Tuhan mendengar dan suatu saat nanti Syila bisa bertemu lagi dengan Kak Aksara."
Radit menceritakan kisahnya sendiri, berharap Arsyila akan lebih tenang. Sekaligus dia memberi contoh nyata bagaimana dia dahulu bertemu dengan Khaira saat keduanya masih kecil, kemudian berpisah belasan tahun lamanya, menikah, dan juga sekarang masih mencintai dan memiliki satu sama lain.
"Mama dan Papa dulu seperti Syila dan Kak Aksara?" lagi tanyanya, kali ini Arsyila sudah tidak terisak.
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Benar Sayang ... dulu Papa dan Mama seperti kamu dan Kak Aksara. Papa juga sedih, sampai menangis saat harus berpisah dari Mama. Karena sejak kecil Papa sudah sayang sama Mama. Sekarang Syila bisa melihat bagaimana Papa dan Mama bisa kembali bertemu lagi dan saling menyayangi. Iya kan?"
Perlahan Arsyila menganggukkan kepalanya. "Iya Pa ... semoga nanti Syila bisa bertemu lagi dengan Kak Aksara ya Pa ... kan Syila sayang sama Kak Aksara karena Kak Aksara baik."
"Berdoa kepada Tuhan ya Sayang ... semoga di lain hari nanti, kamu bisa bertemu lagi sama Kak Aksara." Kali ini giliran Khaira yang berbicara.
"Iya Ma ... Arsyila mau main boneka boleh Ma?"
Rupanya kini Arsyila sudah benar-benar tidak menangis dan mendadak ingin bermain boneka.
"Boleh Syila Sayang...." sahut Khaira dan Radit bersamaan.
Setelah Arsyila telah tenang dan bermain boneka di dalam kamarnya, Khaira lantas menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu. "Mas, aku sesungguhnya sedih." Satu pengakuan Khaira ucapkan secara jujur kepada suaminya itu.
__ADS_1
Radit yang tentu tahu pun, lantas langsung memeluk erat istrinya itu. "Pasti tentang Aksara ya?" tanyanya.
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... aku menyayangi Aksara, Mas. Sekarang aku tidak bisa lagi mengunjunginya, bahkan tidak tahu dia sekarang berada di mana. Aku hanya berharap bahwa Aksara akan memiliki orang tua yang baik dan menyayanginya. Jujur saja, aku pun bahagia saat mendengar cerita dari Bu Lisa bahwa Aksara telah dijemput oleh orang tua kandungnya. Akan tetapi, hatiku juga sedih. Dia anak laki-laki pertama yang menggetarkan hatiku, membuatku ingin menyayanginya dan menyekolahkannya. Aku berharap di mana Aksara berada dia akan tetap sehat dan bahagia. Sama seperti Arsyila, aku juga ingin suatu saat bisa melihat dan bertemu lagi dengan Aksara."
Ungkapan perasaan seorang Khaira kepada suaminya, karena hanya pada suaminya sajalah dia bisa berkeluh kesah.
Radit pun memahami perasaan Khaira saat ini. Dia mengusap dengan lembut lengan istrinya itu seolah menyalurkan kekuatan dan kasih sayangnya. "Aku pun sama Sayang ... harapanku juga sama sepertimu. Aku berharap di mana pun Aksara berada dia akan tetap sehat dan bahagia. Aku juga menyayanginya. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi dengan Aksara. Semoga Tuhan berbaik hati dan mengabulkan keinginan kita ini."
"Iya Mas ... dan semoga, Papa dan Mamanya adalah orang yang baik. Orang tua yang menerima Aksara apa adanya dan menyayanginya dengan tulus. Mengisi tangki cintanya dengan melimpah." ucap Khaira sembari meneteskan air mata.
Bercerita dan mengenang kembali sosok Aksara sungguh membuat Khaira begitu emosional, hingga meneteskan air mata. Untung saja ada suaminya yang selalu memberikan pelukan yang selalu menenangkannya.
...πππ...
Dear My Bestiee,
Karya baru nih Pembalasan Istri yang Tersakiti.
Silakan dukung dan tinggalkan jejak ya. Sudah nyaris mendekati 50 Bab di sana, jadi bisa marathon.
__ADS_1
Ditunggu selalu dukungannya ya My Bestiee... πππ
Saranghaeβ€β€