Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Kehidupan Berumah Tangga


__ADS_3

Sekian hari usai liburan Radit dan Khaira ke Paris dan Vienna. Hari-hari keduanya hanya sebatas di dalam kamar apartement. Keduanya benar-benar menikmati sisa liburan dengan kegiatan santuy di dalam kamar apartemen, mereka hanya keluar saat ingin membeli makan saja.


Kegiatan sehari-hari di dalam apartemen mulai dari membuka mata di pagi hari, hingga kembali menutup mata di malam hari semua dijalani bersama-sama. Dibalut dengan canda, tawa, keisengan, keusilan, sedikit ngambek, dan tentunya bumbu utamanya adalah cinta.


"Bosen enggak Mas di dalam kamar terus?" Khaira bertanya sembari menonton saluran televisi, dan ia tengah duduk di sofa.


Radit mengulas senyum, "Enggak. Kalau sama kamu, aku enggak pernah bosen kok." ucapnya seraya mencubit hidung Khaira.


"Ishh, sakit loh Mas ini. Pasti langsung merah deh hidungku." Khaira mengaduh kesakitan. "Mencubit kayak gini termasuk kekerasan dalam rumah tangga loh Mas, kalau enggak dicubit pasti digigit. KDRT kamu ini Mas." ucapnya sembari mengusap-usap hidungnya.


Radit justru terkekeh geli. "Abis kamu ngegemesin banget sih. Itu bukan KDRT dong Sayang. Itu karena aku sayang sama kamu. Daripada dicuekin, mending diusilin."


Kemudian Radit menghela nafasnya sejenak. "Kamu emangnya gak seneng kalau aku usil? Abis yang aku punya di sini cuma kamu, 24 jam sama kamu, ya terimalah suamimu ini apa adanya dengan segala keusilannya."


Khaira memutar bola matanya. "Biar enggak 24 jam sama aku, gimana kalau Mas Radit kerja paruh waktu. Lumayan loh gaji pekerja paruh waktu di sini."


Radit mengerjapkan bola matanya. "Aku kan di sini sudah kerja." jawabnya enteng.


"Kerja apa emangnya?" sahut Khaira cepat.


"Kerjaanku kan jagain kamu Sayang. Itu pekerjaan paling besar, paling berisiko, dan paling mulia loh." Radit menjawab sembari mengerlingkan satu matanya kepada Khaira.


"Kamu emang paling bisa kok, pinter banget kalau ngeles begitu."


Radit kemungkinan mendaratkan kepalanya di paha Khaira. Seolah bermanja dan mendapatkan tempat ternyamannya sembari memandangi wajah Khaira dengan berbagai macam ekspresi yang terlihat di sana.


"Serius, aku gak pernah bosen. Seolah kamu punya suami pengangguran ya Sayang?"


Khaira menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Hmm. . . Sejujurnya iya." Hening sejenak. "Tetapi, kalau sudah kembali ke tanah air nanti kerja ya Mas. Emang kamu gak pengen pagi mau berangkat kerja ada yang nyiapin baju kamu, nyiapin sarapan, mengantar sampai ke depan rumah, ada menunggumu pulang ke rumah, lalu ada yang menyambut kedatanganmu di sore hari. Romantis loh."


Radit sejenak berpikir sembari matanya menerawang. "Iya, dan aku akan seneng banget karena semua hal yang kamu sebutin itu adalah kamu yang melakukannya. Iya kan? Lalu, ada kalanya aku menjadi tidak fokus kerja karena baru sampe kantor aja sudah kangen sama Istriku tercinta ini."


Kini Khaira tengah mengusap-usap rambut Radit dengan jemarinya. "Hmm, kehidupan pernikahan, kehidupan berumah tangga itu tidak membosankan. Asalkan kita berdua bisa saling mengisi satu sama lain. Setuju enggak Mas?"


"Setuju. Selama di sini, menjalani kehidupan rumah tangga denganmu aku sama sekali enggak merasa bosen. Justru aku bersyukur karena aku bisa semakin mengenalmu, mengetahui setiap keseharianmu. Indah banget semua waktu ini. Terima kasih Sayang."


"Buat?" tanya Khaira.


"Buat semuanya. Aku menjadi sadar bahwa Tuhan menyatukan manusia dengan berbagai macam cara. Cara-Nya menyatukan kita berdua memang diawali dengan hal yang keliatannya tidak menyenangkan. Tetapi, kini aku sangat bersyukur karena aku memilikimu. Lebih bersyukur karena kita sudah bersama, bersatu, seutuhnya dan sepenuhnya." Radit mengutarakan perasaannya dengan panjang lebar kepada Khaira saat ini.

__ADS_1


"Setuju Mas, semua ini tentu adalah bagian dari jalan yang sudah Tuhan tetapkan. Ahh, kamu bikin aku mendadak melow deh, jadi pengen nangis." Khaira seolah menghapus setitik air mata yang nyaris jatuh dari pelupuk matanya.


Radit bangkit dari posisinya sebelumnya. Pria itu meraih kepala Khaira dan menyandarkannya di bahunya. "Sini. Kalau kamu nangis bahagia, aku mengizinkannya. Akan tetapi, jika itu tangis kesedihan, aku tak akan membiarkannya."


"Tentu saat ini aku menangis karena bahagia Mas. Hari-hariku yang diselimuti awan mendung rasanya telah lama berlalu deh. Tuhan begitu baik, rasanya sekarang hariku penuh rasa syukur, banyak kebahagiaan, banyak tawa."


Satu tangan Radit membelai lembut rambut istrinya itu. "Aku juga penuh rasa syukur sekarang. Ya udah, jangan melow ah. Jadi terbawa suasana deh."


Radit kemudian mengambil handphone dari sakunya yang terasa bergetar. "Bentar ya Sayang, temen aku telepon nih. Aku jawab sebentar boleh?"


Khaira menoleh kepada Radit. "Siapa memangnya Mas?"


"Nih, Dimas yang telepon. Tumben-tumbenan dia nelpon aku."


"Oh, Kak Dimas... Jawab aja."


Dimas Calling


Dengan segera Radit menggeser tombol hijau di layar handphonenya.


"Halo Bro, apa kabar?" sapa Radit kepada sahabat sekaligus rekan kerjanya, Dimas.


"Baik Bro. Lo di mana sekarang Bro?" tanya Dimas melalui sambungan selulernya.


"Ada lowongan kerja Bro, di Bank milik Pemerintah. Posisi Auditor juga. Sapa tahu lo minat." Rupanya Dimas menelpon untuk memberitahu kepada Radit perihal lowongan pekerjaan. Tentu saja Dimas tahu perihal resign nya Radit, jadi Dimas berniat memberitahu informasi lowongan pekerjaan.


"Masalahnya posisi gue jauh Bro, juga ke depannya gue menggantung mimpi gue untuk jadi auditor deh. Kalau jadi auditor apalagi di bagian Sistem Pengendali Internal (SPI) susah Bro, gak mau ninggal istri lama-lama."


"Eh serius, lo udah nikah? Siapa Bro? Sama yang dulu bukannya putus?"


Radit tertawa. "Kalau gue kasih tahu pasti lo kaget deh."


Dimas penasaran. Dia sungguh ingin tahu sahabatnya itu tengah menikah dengan siapa. "Kasih tahu lah Bro. Ini baru sama Istri?"


"Iya dong." jawabnya singkat.


"Gue alihkan video call ya, harus diangkat. Diterima."


Dengan segera panggilan yang semula hanya panggilan biasa, kini beralih ke panggilan video.

__ADS_1


"Bro, mana Istrinya? Serius udah nikah kapan?" Dimas terus mencecar sahabatnya itu dengan berbagai pertanyaan.


"Ya intinya gue udah nikah aja Bro. Udah bahagia gue sekarang." jawab Radit yang memperlihatkan senyuman di wajahnya, sebuah tanda pria itu sungguh-sungguh bahagia.


"Gue ikutan seneng. Sehat kan sekarang?" lagi tanya Dimas.


"Alhamdullilah sehat Bro." jawab Radit.


"Jangan sakit-sakit lagi, jangan stress hingga hampir depresi kayak dulu." Dimas memberikan nasihat dengan tulus. Dimas sendiri adalah orang yang melihat bagaimana jatuh bangunnya seorang Radit.


Radit menganggukkan kepalanya. "Makasih Bro, sekarang gue sehat dan tentunya bahagia."


Mengabaikan sejenak Dimas dengan panggilan videonya. Radit memanggil Khaira untuk lebih mendekat. "Sayang sini." Sembari tangannya terulur pada Khaira.


"Aku malu . . ." Khaira hanya berkata tanpa mengeluarkan suara, sembari menggelengkan tangannya.


Tapi Radit memberi isyarat supaya Istrinya itu kian mendekat. Akhirnya Khaira pun sedikit mendekat.


"Bro, lo pasti kenal kan? Kaget enggak sekarang?" Sembari Radit mengarahkan kamera kepada Khaira.


"Khaira. . . Hai Khai, gimana kabarnya?" tanya Dimas. Namun seketika Dimas nampak terkejut dan heboh. "Eh, bentar-bentar. Maksudnya Istri Radit itu Khaira? What! Serius?"


Radit tertawa nyaring. "Kenalin Bro, Istri gue."


"Gila lo Bro, gimana ceritanya? Dan lo gak ngabarin gue. Khaira, bukannya kamu kuliah di luar negeri kan?"


"Hai Kak Dimas gimana kabarnya?" tanya Khaira melalui sambungan panggilan video itu.


"Baik. Aku sudah hampir dapat 1 semester loh Khai, kuliah di kampus kamu dulu."


"Semangat Mas, nanti tiba-tiba gak kerasa udah lulus aja kok. Kan cuma 4 semester."


"Khai, serius kamu sama Radit? Kok bisa sih? Sejak kapan? Atau jangan-jangan Radit dulu sakit, bener-bener drop karena kamu tinggal ke luar negeri ya?"


Khaira sedikit melirik pada Radit, tetapi seketika Radit mengalihkan fokus matanya. "Gak usah buka kartu gue dong Bro."


Dimas giliran tertawa. "Ya udah deh, gak buka kartu. Eh, tapi sekarang lo kerja apa Bro?"


Radit tertawa. "Gue full-time jagain Istri, Bro."

__ADS_1


Dimas terkejut. "Gila lo Bro. Udah gak bener lo ini."


"Mana ada, gak ada tugas paling mulia selain menjaga Istri 24 jam."


__ADS_2