Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Tangki Air Cinta


__ADS_3

Persiapan menjadi orang tua baru bukan hanya persiapan secara fisik, tetapi juga secara psikis dan emosi.


Sore ini, ketika Radit usai pulang dari kerja dan Khaira juga turut bersamanya karena Khaira juga selesai mengajar hari ini. Khaira mengajak suaminya untuk mengantarkannya ke Toko Buku, ada buku seputar pengasuhan anak (Parenting) yang ingin ia beli. Radit pun menuruti apa yang menjadi keinginan istrinya itu.


Saat ini Khaira telah memilih-milih beberapa buku yang tentunya akan dia baca ketika senggang, terlebih sebentar lagi dia juga akan segera mengambil cuti melahirkan. Praktis, waktu yang dia miliki begitu banyak. Oleh karena itu, Khaira memilih buku yang akan menemaninya di waktu luang.


"Mas, sini Mas ... ini ada Bab bagus di buku ini." ucap Khaira sembari memanggil suaminya yang juga tengah melihat-lihat buku.


Radit pun mendekat kepada istrinya yang selalu bersemangat, ceria, dan jarang mengeluh selama kehamilannya. "Apa Sayang?" tanyanya.


"Aku nemuin Bab bagus tentang Tangki Air Cinta, Mas." ucapnya dengan mata yang berbinar layaknya menemukan harta karun.


"Tangki air cinta adalah gambaran dasar pemenuhan emosi seseorang. Dalam sebuah keluarga ada dua tangki air cinta yang utama, yaitu tangki air cinta Ayah dan tangki air cinta Ibu. Kedua tangki cinta utama tersebut adalah sumber tangki cinta anak. Nah, dalam sebuah rumah tangga tangki cinta istri terisi dari suami dan sebaliknya. Oleh sebab itu jangan biarkan tangki cinta pasangan kosong. Isilah tangki cinta pasangan dengan cara yang tepat dan penuh sehingga mereka merasa bahagia. Jadi, kita harus sama-sama mempersiapkan tangki air cinta kita berdua dulu Mas, sebelum mengisi tangki air cinta milik Baby A nanti." Khaira menjelaskan perihal ini dengan panjang lebar.


Sementara itu Radit nampak berpikir dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh istrinya itu. "Cara mengisi tangki air cinta itu lewat apa Sayang?" tanyanya.

__ADS_1


Khaira nampak sedikit tersenyum kepada suaminya yang terlihat begitu serius itu. "Dengan saling mendukung satu sama lain, menyatakan cinta setiap hari melalui sentuhan fisik, membangun waktu yang berkualitas, memberi kejutan, dan memberikan pelayanan yang berdasar kasih." jawab Khaira sembari melirik suaminya itu.


Kali ini kening Radit nampak berkerut, seperti ada yang tengah ia pikirkan. "Hem, ternyata menjadi orang tua persiapannya banyak ya Sayang. Aku jadi berpikir, tangki air cinta kita berdua apakah sudah penuh dan siap kita isikan buat Baby A nanti."


"Menurutmu bagaimana Mas?" Kali ini justru Khaira yang balik bertanya kepada suaminya.


Nampak berpikir, hingga akhirnya suaminya pun menjawab. "Menurutku tangki air cinta kita cukup penuh sih Sayang. Hampir meluap mungkin." jawabnya, tetapi tersirat ketidakyakinan hingga ia menatap wajah istrinya. "Menurutmu bagaimana Sayang?"


Khaira justru tersenyum. "Selama kita mau sama-sama belajar untuk mengisi satu sama lain, tangki air cinta kita pasti penuh kok Mas. Sebab, pernikahan itu sama-sama belajar, Mas. Belajar berkomunikasi dengan baik, belajar berempati mengerti apa yang sedang dirasakan dan dialami pasangan kita, belajar untuk mengkritik dan dikritik dengan cara yang baik tanpa menyudutkan kedua belah pihak, mau saling belajar hingga kita bertumbuh bersama. Dengan demikian tangki air cinta kita berdua pasti selalu penuh bahkan melimpah."


Radit kembali mendengar perkataan istrinya itu. "Sejak kapan kamu membaca dan belajar hal kayak gini Sayang? Aku sering kali bangga sama kamu, karena kamu selalu belajar dan aku pun belajar dari kamu."


Radit pun mengelus puncak kepala istrinya. "Jadi, kita sama-sama belajar ya Sayang. Pernikahan juga bukan soal menang atau kalah, pernikahan adalah perkara untuk selalu berjalan bersama dalam setiap kebahagiaan mau pun pahitnya kehidupan. Jalani sepanjang hidupmu bersamaku ya Sayang. Aku yang memintamu untuk selalu berjalan bersamaku." ucap Radit dengan sangat serius.


Khaira pun menggenggam tangan suaminya. "Berjalanlah pula bersamaku ya Mas. Aku juga butuh kamu butuh belajar dan diajar. Ingatkan aku jika aku lupa, tegur aku jika aku salah, bahkan kritik aku jika aku mulai kehilangan arahku. Aku mau selalu berjalan bersamamu, Mas."

__ADS_1


"Hmm, iya. Makasih Sayang, bahkan di Toko Buku pun kita bisa berdiskusi kayak gini. Kalau tidak di tempat umum, pasti sudah aku sun kamu, Sayang." ucapnya sembari terkekeh geli.


Khaira merotasi bola matanya malas. "Ishhh, mulai deh. Sukanya sun-sun melulu." jawab Khaira sembari berjalan menjauhi suaminya itu.


Radit pun hanya tertawa dan terus mengikuti kemana langkah kaki istrinya. "Jadi buku apa yang mau dibeli Sayang? Sini aku bawakan. Kamu pilih aja mau buku yang mana, biar aku yang membawakannya."


Khaira telah memegang dua buah buku di tangannya, seketika Radit pun mengambil kedua buku itu dari tangannya. "Ini buku tentang bayi baru lahir ya Sayang?" tanya sembari membaca sinopsis yang terdapat di bagian belakang sampul buku itu.


"Iya Mas, cuma mau belajar aja aku, Mas. Soalnya aku awam banget soal bayi. Dari membaca, aku bisa punya gambaran kan. Nanti sekalian aku lihat di aplikasi nonton video di handphone, Mas. Aku kadang takut bisa enggak aku ngurus anakku sendiri. Tubuh sekecil itu terlihat rapuh, dan aku sama sekali tidak punya pengalaman. Jujur, aku enggak yakin pada diriku sendiri Mas." Kali ini Khaira berkata jujur, dan perasaan seperti ini adalah perasaan normal yang sering kali melanda para calon orang tua baru. Perasaan merasa takut, tidak mampu, dan tidak bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.


Radit merangkul bahu istrinya itu. "Bisa Sayang. Bisa! Kamu pasti bisa. Belajar pelan-pelan, atau kamu mau ambil kelas untuk menyambut kelahiran itu Sayang biar diajarin dulu semuanya. Mau enggak?"


"Neonatal Class itu ya Mas? Yang belajar ngurus bayi dari lahir itu kan?" tanya Khaira dengan mencoba menimbang-nimbang tawaran dari suaminya itu.


Radit pun menganggukkan kepalanya. "Iya kelas Neonatal supaya tahu tips dan panduan merawat bayi yang baru saja lahir. Kalau mau ambil kelas pas weekend aja Sayang, nanti aku temenin. Jadi aku sekalian belajar juga."

__ADS_1


Khaira tertawa melihat suaminya yang terlihat bersemangat. "Papa persiapannya all out banget sih Pa ... berarti nanti begitu Baby A lahir, Papa siap ya gantian merawat Baby A." goda Khaira kepada suaminya itu.


Radit pun turut tertawa. "Supaya kamu tidak kecapean Sayang. Lagipula Baby A kan anak kita bersama, jadi kita rawat bersama-sama. Kasih sayang dari kita berdua kan sangat penting supaya tangki air cintanya Baby A juga terisi penuh. Buatnya sama-sama, ya kita rawat dan besarkan bersama-sama dong Sayang." celetuknya yang cukup absurb hingga mendapat hadiah cubitan dari Khaira.


__ADS_2