Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Penebusan Dosa


__ADS_3

Radit benar-benar menyadari kesalahan yang ia lakukan selama ini. Dan, yang ia lakukan sekarang adalah meminta maaf terlebih dahulu kepada orang tuanya. Dia mengatakan sejujur-jujurnya kepada orang tuanya. Jujur walau terlambat. Tapi sekali pun terlambat, Radit berani mengakui kesalahannya di hadapan kedua orang tuanya.


"Radit harus melakukan segala cara untuk menebus dosa-dosa Radit pada Khaira, Yah ...." ucap pria itu terdengar begitu pilu di telinga kedua orang tuanya.


Ayah Wibi melihat anaknya telah benar-benar menyesal, tetapi jarak yang jauh di antara keduanya agaknya sulit untuk ditempuh. Terlebih lagi, Ayah Wibi pun tak yakin bahwa Khaira akan semudah ini memaafkan Radit mengingat banyaknya kesalahan yang Radit lakukan sejak awal pernikahan mereka.


"Dit ... Bunda tahu kamu menyesal, Bunda juga tahu bahwa Khaira anak yang baik, tetapi Bunda tidak yakin jika dia akan semudah itu memaafkanmu mengingat banyaknya kesalahan dan luka yang kamu berikan." Bunda menepuk-nepuk punggung Radit. "Berdirilah, duduk di sini."


Radit berdiri dari posisinya yang semula bersimpuh, kini ia duduk di dekat Bunda Ranti.


"Dit, sejujurnya Bunda kecewa sama kamu. Kami mendidik kamu untuk menjadi pria yang bertanggung jawab, tetapi yang kamu lakukan justru menyakiti istri kamu sendiri. Bunda lebih bersedih karena selama ini kami hanya tahu kalian berdua itu bahagia, cinta kalian bisa tumbuh pelan-pelan. Dan, yang lebih membuat Bunda bersedih karena Khaira memendam semuanya sendiri, dia tidak membagi kesedihannya dengan siapa pun, termasuk kami."


"Maafkan Radit, Bun ... Radit salah, biarkan Radit melakukan penebusan dosa ini Ayah, Bunda ... Tetapi, jangan pisahkan Radit dengan Khaira. Radit bisa gila ... Radit gak bisa berpisah dari Khaira."


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ayah Wibi kepada Radit.


"Bolehkah Radit resign dari pekerjaan Radit dan menyusul Khaira, Yah? Radit hanya ingin bersama Khaira, menjaga dia di sana, menjalani waktu bersama. Radit akan menunggu sampai Khaira memaafkan Radit."


Ayah Wibi nampak pusing dan memijit pelipisnya. Anaknya yang sudah bekerja mapan, ingin resign dari pekerjaan hanya untuk mengejar Khaira, meminta maaf dari istri yang selalu ia sakiti dan lukai.


"Kamu jangan gegabah, Dit. Lagipula kamu sudah mapan dengan pekerjaanmu sekarang, pikirkan semua matang-matang. Jangan mengambil keputusan dengan gegabah. Ayah saja tidak yakin kalau Khaira akan memaafkanmu mengingat banyaknya rasa sakit yang sudah kamu lakukan. Dan, tadi kamu bilang kalau kamu mencintai Khaira, sudah terlambat Dit."


"Belum terlambat, Radit mau berusaha. Jika kami berjauhan seperti ini, keadaan tidak akan berubah, Yah. Radit harus bergerak, Radit harus melakukan sesuatu."


"Coba kamu pikirkan matang-matang dulu keputusanmu, setelah tenang dan kamu bisa berpikir jernih, ngomong lagi sama Ayah. Ini bukan berarti Ayah memaafkanmu, hanya Khaira yang bisa memaafkanmu karena dia yang tersakiti di sini. Saat Khaira sudah memaafkanmu, barulah Ayah juga memaafkanmu."

__ADS_1


"Iya Ayah ... Sekali lagi maafkan Radit."


"Bunda juga Dit, Bunda masih kecewa sama kamu. Bunda pun belum bisa memaafkanmu." ucap Bunda Ranti yang menatap tajam Radit.


"Maafkan Radit, Bunda. Radit tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi, Radit akan berikan seluruh hidup Radit untuk Khaira." Radit menghela nafasnya sejenak. "Ayah, Bunda ... Bolehkah Radit kembali pulang ke rumah ini lagi? Jika Ayah dan Bunda berkenan, tolong jual saja rumah hadiah pernikahan kami dari Ayah dan Bunda. Rumah itu terlalu memberi duka untuk Khaira. Saat Khaira sudah kembali ke Indonesia lagi, kami bisa membeli lagi rumah yang baru. Radit takut Khaira akan trauma dengan kisah buruk rumah tangga kami."


Ayah Wibi dan Bunda Ranti nampak menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil. Akan tetapi, perkataan Radit ada benarnya, rumah hadiah pernikahan itu justru bisa membuat Khaira merasa trauma, mengingatkan kembali pada kenangan pahit rumah tangganya.


"Baiklah, kamu boleh kembali tinggal di rumah ini. Ayah dan Bunda juga bisa langsung mengawasimu. Kamu atur barang-barangmu saat pindahan nanti."


"Makasih Ayah." jawab Radit dengan wajahnya yang masih menunduk tidak berani melihat wajah kedua orang tuanya.


"Ya sudah, kita sudah pembicaraan ini di sini dulu. Ini sudah jam makan malam. Ayo, kita makan malam dulu."


Ayah mengekori Bunda Ranti menuju meja makan, sementara Radit menyadarkan bahunya di kursi tempat duduknya. Dalam hatinya Radit merasa lega karena ia berani jujur dengan kedua orang tuanya, tindakannya memang tak termaafkan, tetapi minimal Radit berani mengakui kesalahannya. Selain itu, Radit sungguh-sungguh berjanji untuk memberikan hidupnya hanya untuk mencintai Khaira.


Akhirnya Radit pun berjalan menuju meja makan, ia pun ikut makan malam.


"Dit, Bunda itu mau cerita." ucap Bunda sembari menyantap makan malamnya.


"Ayah dan Bunda menjodohkanmu dengan Khaira bukan karena kebetulan. Kamu dan Khaira itu sudah kenal sejak kecil."


"Kenal sejak kecil, Bun?" Mata Radit membelalak tak percaya mendengar ucapan Bunda Ranti.


"Ya, kalian sudah kenal saat kalian masih kecil di Jogjakarta dulu. Kamu tidak inget bahwa kamu pernah bilang sama Ayah dan Bunda kalau kamu sayang sama Adek Khaira dan mau menjaga Adek? Mendengar perkataanmu dulu membuat kami yakin, kamu bisa menyayangi dan menjaga Adek perempuan yang selalu kamu sayangi itu."

__ADS_1


Radit nampak berpikir, "Adek Bun? Kenapa Radit bisa lupa?"


Bunda Ranti lantas berdiri dari meja makan, ia mengambil album foto masa kecil Radit, dan memberikan satu lembar foto kepada Radit. "Ingat dengan foto ini?"


Radit memegang foto itu dengan tangannya, lalu nampak berpikir siapa yang berada di foto itu. "Ini Radit kan Bun ... Dan, siapa anak kecil ini?"


"Itu Khaira, Dit. Khaira yang waktu kecil kamu panggil dengan sebutan "Adek Aira" Inget enggak?"


"Adek Aira? Adek Aira?" Radit menyebut nama itu beberapa kali, mencoba mengingat kembali memori masa kecilnya.


Nama yang tidak asing, tetapi kenapa Radit bisa melupakannya begitu saja. Bahkan Radit harus berpikir keras untuk mengenang kembali gadis kecil yang imut nan cantik boleh foto-foto itu.


"Jadi Radit sudah kenal sama Khaira sejak kecil ya Bun?" tanyanya lagi masih dengan mengulang memorinya sewaktu kecil.


"Iya. Kalian berdua waktu kecil tak bisa terpisahkan. Kalau kita mengunjungi keluarga Ayah Ammar, kalian berdua yang seneng banget. Tetapi tiap Ayah dan Bunda pamitan pulang, Khaira pasti nangis gak mau berpisah sama Mas Adit." Cerita Bunda Ranti berusaha membangun kembali memori ingatan masa kecil Radit.


"Mas Adit?"


"Iya. Khaira dulu manggil kamu Mas Adit, karena waktu kecil Khaira belum jelas mengucapkan huruf 'R', jadi dia manggil kamu Adit. Sementara kamu manggil dia Aira."


Tiba-tiba sinapsis dalam otak Radit terhubung satu dengan yang lain. Dia mulai mengingat gadis kecil di foto itu.


"Jadi dia Aira, Bun? Yang waktu dia ulang tahun minta Radit dibeliin boneka panda dan makanan harum manis di alun-alun kota Jogja itu ya Bun?" tanya Radit dengan sangat penasaran.


"Iya ... Khaira adalah anak kecil yang kamu sayangi dulu."

__ADS_1


Radit nenggelengkan kepalanya, raut wajahnya berubah penuh penyesalan. "Ya Tuhan, kamu Aira. Adek kecil yang manis dan imut kesayanganku. Airaku ...."


__ADS_2