Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Dag Dig Dug!


__ADS_3

Beberapa hari sebelum hari perkiraan lahir (HPL), beberapa malam Khaira rasanya mulai gelisah. Tidur menjadi tidak nyenyak, pinggang mulai pegal, bernapas pun serasa engap, juga harus berkali-kali ke kamar mandi untuk buang air kecil. Bahkan dalam beberapa malam terakhir, Khaira juga merasa tidak bisa tidur. Mencoba memejamkan mata dan berharap kantuk akan segera datang, nyatanya justru sia-sia, karena matanya sering kali terpejam.


Menyadari kegelisahan istrinya, Radit beberapa malam juga terbangun dari tidurnya dan menanyai apa yang dirasakan istrinya itu.


“Kenapa Sayang, kok bangun jam segini? Ini masih dini hari loh.” ucap pria itu sembari mengusap-usap pinggang istrinya. 


Khaira hanya menggeleng, “Rasanya aneh, Mas … enggak bisa tidur. Tadi abis dari kamar mandi, malahan sekarang enggak bisa tidur lagi. Tiba-tiba rasa kantuknya hilang.” jawabnya sembari mengusapi perutnya yang kian membuncit itu.


“Belum ada tanda-tanda mau persalinan kan? Harus lebih peka Sayang … pokoknya aku akan selalu siaga. Mau minum air putih? Biar aku ambilkan.” tawarnya kini kepada istrinya itu.


Akan tetapi, Khaira justru menggeleng, “Enggak Mas … kebanyakan minum nanti. Sekarang aja aku sudah berulang kali ke kamar mandi kok.” jawabnya yang memang sepanjang malam bisa tiga hingga lima kali ke kamar mandi.


“Lha terus gimana? Apa yang bisa kulakukan?” tanya Radit lagi kepada Khaira. Memberi perhatian lebih untuk istrinya yang tengah mengandung dalam usia menjelang HPL, Radit seolah ingin berbagi beban dengan istrinya itu.


“Gini aja udah enggak apa-apa kok Mas … semoga abis ini mengantuk dan aku bisa tidur.” jawabnya dengan kembali berbaring dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. 


Menghirup aroma Woody yang segar dan menenangkan, dan juga mendengarkan detak jantung suaminya yang berdetak seiramanya berharap menjadi menjadi jurus yang ampuh untuk membuatnya kembali tertidur.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Beberapa hari setelahnya, Khaira menyiapkan berbagai bahan ajar untuk kelas yang dia ajar, sekaligus menyerahkan berbagai materi pembelajaran dan juga perangkat pembelajaran mulai dari Silabus hingga kontrak pembelajaran kepada asisten dosen yang akan menggantikannya selama dia cuti melahirkan selama tiga bulan nanti. Duduk di sebuah meja dengan laptop yang menyala, beberapa kali Khaira pun menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Jika sudah lama duduk, wanita hamil itu juga akan berjalan-jalan sejenak untuk merenggangkan otot-otot dan sendinya, juga area pinggang yang mulai sakit.


“Hari Perkiraan Lahir kamu tinggal tiga hari lagi Sayang … Adik mau lahir nih? Kasih tanda-tandanya ke Mama ya biar Mama bisa menelpon Papa kamu secepatnya. Kalau bisa sih, tanda-tanda dan gelombang cintanya waktu Papa ada di rumah.” gumam Khaira.


Memang beberapa hari ini, Khaira resah menunggu tanda-tanda persalinan yang juga belum muncul sampai hari ini. Dia pun menunggu sinyal-sinyal cinta yang akan dikirimkan babynya kepadanya, sehingga dia tidak cemas jika terjadi persalinan mendadak.


Merasa pinggangnya sudah lebih rileks, Khaira kemudian kembali duduk dan mengirimkan semua materi dan kontrak pembelajaran kepada asisten dosennya melalui email. Setelah itu, Khaira berniat berdiri untuk mengambil air minumnya yang berada di atas nakas, tetapi saat dia berdiri rupanya terasa basah di pangkal pahanya.


Mulailah Khaira berjalan menuju kamar mandi, dan memperhatikan cairan apa yang sekiranya keluar. Terasa sebuah rembesan yang keluar, Khaira pun cukup cemas. Merasakan dag-dig-dug di siang itu. Mengganti pakaiannya, Khaira pun memilih mengenakan pembalut yang mungkin bisa membantu dirinya, kemudian dia mulai menghubungi suaminya.


Mas Radit


“Mas ….” sapa Khaira kepada suaminya begitu panggilannya tersambung.


“Iya, ada apa Sayang?” tanya Radit saat menerima telepon itu.


“Mas, ini keliatannya ketubannya rembes, cuma aku belum rasain apa-apa. Bisa pulang ke rumah enggak Mas? Kita ke Rumah Sakit sekarang.” Khaira masih mencoba berbicara setenang mungkin dengan suaminya.


Berusaha supaya suaminya itu pun tidak panik dan bisa mengemudi dengan aman dan selamat tentunya. Sementara, mendengar bahwa kemungkinan air ketuban Khaira sudah mulai merembes, tidak dipungkiri bahwa Radit pun panik. Pria itu segera menutup laptopnya begitu saja dan meminta izin ke HRD untuk pulang ke rumahnya.

__ADS_1


“Iya Sayang … sabar ya. Tunggu aku.” jawab Radit yang saat itu mulai berlari mengambil mobilnya di tempar parkir.


Sementara di rumah, Khaira segera menghubungi Bunda Dyah supaya datang ke rumah. Dia juga memberitahukan jika ada merasakan sesuatu yang basah. Khaira mengira bahwa itu mungkin saja rembesan dari air ketubannya. Tidak menunggu waktu lama, Bunda Dyah juga datang ke rumah.


“Gimana Khai, apa yang dirasakan?” tanya Bunda Dyah yang tidak dipungkiri merasa panik juga.


“Khaira belum merasa apa-apa sih Bunda … cuma tadi ada rembesan aja. Mungkin ketubannya rembes atau gimana, biar diperiksa Dokter Indri saja, Bun.” cerita Khaira yang tidak dipungkiri dirinya pun merasa panik, badannya pun mulai berkeringat dingin. Kendati demikian, Khaira masih berusaha tenang dan berharap suaminya akan segera tiba dari kantornya.


Bunda Dyah pun mengusapi perut Khaira, “Kalau mau lahir segera ya cucunya Nenek. Jangan lama-lama kasihan Mama kamu kalau harus menahan sakit terlalu lama.” ucapan sekaligus doa dari Bunda Dyah.


Mulailah Khaira berlinangan air mata dengan segeranya, “Terima kasih Bunda … maaf kalau selama ini Khaira memiliki kesalahan ya Bunda … doakan Khaira jikalau memang akan melahirkan semuanya bisa berjalan lancar dan selamat.” ucapnya.


Bunda Dyah pun memeluk putrinya itu dengan penuh sayang, “Pasti Bunda maafkan Khai … lagipula, kamu adalah anak yang baik. Bunda doakan semuanya sehat dan selamat. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin Bunda. Jangan memikirkan Arsyilla, fokus dulu dengan persalinanmu. Syilla aman dengan Bunda di sini.” 


Khaira merasa lega, karena di saat-saat genting, ada orang tua dan juga mertuanya yang bisa diandalkan untuk menjaga Arsyilla. Yang disampaikan Bunda Dyah benar, sekarang dia harus lebih fokus dan memprioritaskan persalinannya dulu. Sekalipun hatinya juga sangat merindukan Arsyilla, tetapi dia harus berjuang untuk melahirkan si baby boy.


“Iya Bunda … terima kasih. Khaira akan fokus ke persalinan ini dulu karena Khaira percaya bahwa Bunda dan Eyangnya nanti bisa menjaga dan mengasuh Syilla.” sahutnya dengan mengangguk.


Hingga akhirnya, Khaira mulai merasakan rasa sakit di area perut bagian bawah dan pinggangnya. Rasa sakit, pegal, bahkan terkesan panas bercampur menjadi satu. Kendati demikian, Khaira menenangkan dirinya dengan melakukan teknik relaksasi yaitu mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dengan hidung, kemudian mengeluarkannya perlahan dengan mulutnya. 

__ADS_1


“Sabar ya Adik, tunggu Papa dulu.” gumam Khaira dalam hati dan berharap bahwa suaminya akan segera tiba dan bisa mengantarkannya menuju Rumah Sakit.


__ADS_2