Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Kejutan Kecil


__ADS_3

Radit mulai berpikir untuk memberi sedikit kejutan kecil untuk Khaira saat sidang skripsinya nanti.


Dengan handphone di tangannya, Radit mulai berselancar mencari ide hadiah di sidang skripsi, di aplikasi pencariannya Radit menemukan '30 Hadiah Sidang Skripsi Tak Terlupakan'. Jari Radit segera meng-klik halaman itu, lalu membacanya perlahan.


Beberapa kali ia mengernyitkan keningnya bahwa hadiah yang biasa diberikan untuk sidang skripsi berupa bucket snack, balon foil ucapan selamat, mahkota lucu, piala kelulusan, makanan dengan ucapan kelulusan, boneka wisuda, hingga doodle art.


"Dari semua ide ini, mana yang harus kuberikan pada Khaira?" Radit menyugar rambutnya kasar. "Begitu bodohnya aku, sampai apa yang disukainya aja aku enggak tahu." gumam Radit perlahan sembari terus men-scroll layar handphonenya.


"Semoga pilihanku kali ini benar ya Khai, aku bisa sedikit memberimu kebahagiaan." Ucap Radit ketika ia telah menentukan pilihannya untuk memberikan kejutan bagi Khaira.


***


Hari Selasa pun tiba. Hari ini sekitaran pukul 11 siang, Khaira telah bersiap di kampusnya dengan mengenakan kemeja putih, rok hitam, dan sepatu pantofel hitam. Hari mendebarkan dalam hidupnya akan ia lalui sesaat lagi.


Pandangan Khaira tertuju pada skripsi yang dipegang di tangannya. Perlahan ia mengulang kembali membaca dari abstraksi hingga metodologi penelitian, berharap sidangnya kali ini akan berhasil.


Khaira pun merelaksasi dirinya sendiri dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu mengeluarkan perlahan. Ia melakukannya hingga merasa hatinya merasa tenang.


Hingga akhirnya, nama Khaira pun dipanggil untuk memasuki ruangan sidang.


"Silakan Mahasiswa dengan nama Khaira Amaira silakan memasuki ruangan sidang." Panggil salah satu dosen yang bertugas sebagai moderator dalam sidang itu.


Salah seorang Dosen Penguji, mulai memberikan pertanyaan kepada Khaira. "Baik Saudari Khaira, Anda sehat? Siap mengikuti sidang skripsi ini?"


Khaira mengangguk dan menjawab, "Saya sehat Pak."


"Oke lanjut bisa Anda jelaskan secara singkat dengan skripsi Anda?" tanya Dosen Penguji itu kepada Khaira.


"Dalam skripsi saya kali ini, saya mengangkat judul Penggunaan Multimedia Interaktif dalam Model Pembelajaran SAVI (Somatic,Auditory,Visual,Intelektual) Dalam Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi. Saya memiliki dua variabel dalam penelitian saya ini. Pertama adalah Multimedia Interaktif sebagai variabel x atau variabel bebas yang bisa memberikan pengaruh. Kedua adalah Model Pembelajaran SAVI sebagai variabel Y atau variabel terikat. Lalu, untuk metodologi penelitiannya saya menggunakan metode korelasi dengan menggunakan rumus untuk mencari nilai r atau nilai korelasi dari variabel x terhadap variabel y." Jelas Khaira dengan sangat detail.

__ADS_1


Dosen Penguji yang mendengarkan Khaira pun nampak puas dengan penjelasan singkat yang diberikan oleh Khaira.


Hingga akhirnya kedua Dosen Penguji dan Dosen Pembimbing nampak telah cukup memberikan pertanyaan kepada Khaira dalam durasi waktu kurang lebih 60 menit.


Kali ini moderator kembali membuka suara dan meminta Khaira untuk menunggu sejenak, karena semua Dosen akan mengambil keputusan dan memberikan nilai.


Dosen Penguji dan Dosen Pembimbing berdiskusi selama 5 menit, hingga akhirnya Pak Andreas yang merupakan Dosen Pembimbing Khaira membacakan hasil sidang skripsi kali ini.


"Baik Khaira, Dosen Penguji dan Dosen Pembimbing telah menguji siang ini, jadi kami memutuskan untuk...." Jeda sejenak. "Anda lulus dalam sidang skripsi hari ini. Selamat karena Anda pun mendapat hasil yang memuaskan dan sangat menguasai penelitian Anda. Nilai rata-rata dari kami berempat adalah 94."


Khaira tak percaya, ia mendapat nilai rata-rata sidang skripsi setinggi ini. Tangannya langsung dingin, lantaran nilai tinggi yang ia dapatkan. Keempat Dosen pun lantas memberikan tepukan tangan dan menyalami Khaira.


"Selamat ya, nilai kamu tertinggi selama sidang skripsi digelar." ucap salah satu dosen Penguji yang berada di situ.


"Selamat ya Khaira, Bapak sangat senang bisa membimbing mahasiswa cerdas sepertimu. Jangan sia-siakan hasil ini ya, segera lanjutkan pendidikanmu, dan gantikan kami di sini." ucap Pak Andreas dengan bangga kepada Khaira sebagai mahasiswa yang dibimbingnya.


Usai sidang skripsi, Khaira pun keluar dari ruangan. Ia melihat Metta dan Tama yang berdiri menyambutnya. Metta memberikan snack bucket kepada Khaira dan sebuah selempang wisuda.


"Makasih ya Ta, kamu juga harus segera nyusul ya." ucap Khaira.


Sementara Tama memberikan bucket cokelat untuk Khaira, "Selamat Khaira, tinggal wisuda ya..." ucapnya sembari menyalami Khaira.


"Makasih ya Tama." sahut Khaira sambil menganggukkan kepalanya.


Saat Khaira masih mengobrol dengan Metta dan Tama, tiba-tiba derap langkah menghampirinya.


Pria yang tak kalah tampan hadir dengan mengenakan kemeja berwarna navy dan celana jeans, menutupi wajahnya dengan balon foil bertuliskan 'Congratulations' dan satunya berada di belakang memegang seikat bunga perpaduan mawar putih dan baby breath.


"Selamat yah... Akhirnya berhasil juga." ucapnya begitu pria itu telah berdiri di depan Khaira, tangannya turun perlahan hingga wajahnya kini terlihat jelas.

__ADS_1


"Mas Radit..." ucap Khaira seakan tak percaya, suaminya ada di hadapannya saat ini. Padahal seingatnya dia tidak memberitahu Radit sama sekali.


Radit pun menyerahkan balon foil yang didalamnya terdapat balon merah muda berukuran kecil, simbol hati, dan bunga mawar berwarna pink. Setelah itu, tangannya yang masih berada di belakang punggungnya kini juga berpindah ke depan. Seikat mawar putih dan baby breath yang nampak indah terulur dari tangan pria itu kepada Khaira.


Khaira hanya bisa membelalakkan matanya, ia sungguh tak menyangka bahwa Radit tak hanya datang, tetapi juga memberikan hadiah kelulusan untuknya.


Rasa marah dan kecewanya pada Radit hilang seketika, justru air matanya kembali menetes. "Makasih Mas..." ucapnya lirih sembari menerima hadiah dari suaminya itu.


"Sweet banget sih..." ucap Metta yang hanya membuat Radit tersenyum, sementara Tama hanya tersenyum getir. Akan tetapi, Tama membuktikan ucapannya bahwa ia akan bahagia selama Khaira bahagia.


"Ya udah foto dulu yuk, sebelum lo tambah nangis kejer." goda Metta saat itu.


"Kalian bisa berfoto bersama, aku bisa mengambilkan gambarnya." Ucap Radit sembari mengeluarkan handphonenya.


"Mas Radit, tolong fotoin pake handphoneku aja ya." ucap Metta sembari memberikan handphonenya kepada Radit.


Dengan senang hati, Radit mengambil foto Khaira, Metta, dan juga Tama.


"Ayo Khai, gantian lo yang foto sama suami lo biar gue fotoin." Metta berbicara dan membiarkan Khaira untuk berfoto dengan Radit.


Radit pun menyodorkan handphonenya kepada Metta, "Pake handphoneku aja, makasih ya."


Dengan segera Radit mengambil tempat di samping Khaira.


"Senyum Khai, jangan nangis gitu dong..." Teriak Metta sebelum memotret mereka berdua.


"Mas dipeluk dong Khaira nya." Lagi-lagi Metta memberikan instruksi kepada Radit.


Dengan tersenyum kecil, Radit memangkas jarak di antara keduanya. Satu tangannya berada di pinggang Khaira.

__ADS_1


"Senyum ya..." Bisiknya lembut tepat di telinga Khaira.


__ADS_2