
Keesokan harinya adalah hari libur bagi Radit, sejak pagi pria itu telah bangun terlebih dahulu, kemudian dia membangunkan Arsyila. Seperti janjinya semalam, dia akan menebus waktu kebersamaan dengan Arsyila. Setelah sepekan lembur.
Pagi hari, Papa muda itu segera bangun dan menyusul putrinya. Dia berniat menjadi orang pertama yang akan dilihat oleh putrinya begitu putrinya itu membuka mata.
"Pagi Syila Sayang...." Sapanya dengan begitu lembut saat kedua bola mata membuka, dan gadis kecil itu tengah mengucek matanya.
"Papa ... Syila kangen Papa." Kalimat pengakuan rindu itu melontar begitu saja dari bibir Arsyila.
Pengakuan rindu dari sang buah hati yang membuat pria itu tersenyum dan memeluk Arsyila dengan penuh sayang.
"Hari ini Papa bekerja lagi?" tanyanya dengan mata beningnya yang seolah mengharapkan supaya Papanya tidak bekerja.
Dengan cepat Radit menggelengkan kepalanya. "Tidak Sayang ... hari ini Papa libur. Syila mau ngapain hari ini? Yuk, Papa akan temenin Syila sepanjang hari ini."
Seolah berpikir, Arsyila rupanya memiliki keinginan khusus untuk hari ini. "Pa ... ayo, ketemu Kak Aksara, Pa. Cokelatnya yang dari Singapura belum diberikan kepada Kakak."
Radit pun tersenyum dan mengusap puncak kepala putrinya itu. "Oke ... nanti kita ke sana ya. Sekarang Syila mandi dulu, abis itu sarapan. Nanti agak siang kita mendatangi Kakak ya."
Arsyila pun menganggguk kemudian berlari mencari Mamanya untuk mandi. Selang beberapa menit, Arsyila sudah mandi begitu segar dan harum.
Kemudian keluarga kecil itu duduk bersama di meja makan menikmati makanan mereka.
"Sarapan dulu ya Sayang ... hari ini mau ketemu Kakak ya? Cokelatnya sudah Syila siapkan belum?" Tanya Khaira sembari menyiapkan susu hangat rasa vanilla dan roti dengan selai stroberi untuk Arsyila.
"Iya Ma ... kita berikan oleh-olehnya dari Singapura untuk Kakak ya Ma." ucap Arsyila sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Oke Sayang ... kita sarapan dulu ya." ucap Khaira sembari menyiapkan seporsi Nasi Goreng dan Omelette untuk suaminya.
"Silakan ... Papa juga sarapan dulu ya." ucapnya sembari memberikan senyuman termanisnya untuk suaminya yang tengah duduk menatapnya dan juga Arsyila.
Pria itu tersenyum kemudian mulai menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Kemudian, gerakan makannya terhenti saat mendapati istrinya justru tidak turut sarapan. Radit nampak mengernyitkan keningnya, lantas bertanya kepada istrinya itu.
"Mama kenapa enggak sarapan?" tanyanya perlahan.
Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya. "Aku rasanya kenyang banget Pa ... perutku terasa penuh. Kalau dipaksa sarapan, nanti aku muntah malahan." ucap Khaira sembari memegangi perutnya yang terasa penuh.
Meninggalkan sejenak Nasi Goreng dan Omelette nya, Radit berjalan ke dapur dan kemudian menyeduh Teh Jahe untuk istrinya. Secangkir Teh Jahe dia bawa menuju meja makan. "Coba minum Teh Jahe dulu Sayang ... perutnya semoga enakan. Kalau sudah enak, makan yah."
Khaira menengadahkan wajahnya guna melihat wajah suaminya yang pengertian itu. Dengan satu tangan terulur, dia menerima secangkir Teh Jahe dengan uapnya yang masih mengebul itu.
"Sama-sama Mama Sayang ... diminum dulu mumpung masih hangat. Biar perutnya enakan." ucapnya kemudian duduk dan melanjutkan sarapannya.
Melihat Papa dan Mamanya, sontak Arsyila pun bertanya. "Mama apa sedang sakit? Cepat sembuh Ma...." ucap Arsyila yang juga memperhatikan Mamanya yang mengeluh perutnya terasa penuh.
Khaira pun tersenyum dan mengusap sisi wajah Arsyila dengan sayang. "Mungkin Mama cuma masuk angin aja Sayang. Perutnya ini terasa tidak enak." ucapnya.
Usai sarapan, mereka bertiga lantas bersiap untuk menuju ke Panti Asuhan tempat Aksara tinggal. Sepanjang perjalanan, Arsyila seakan tidak sabar untuk kembali berjumpa dengan Aksara. Beberapa cokelat dan oleh-oleh lainnya dari Singapura sudah dia siapkan untuk diberikan kepada Aksara.
Beberapa menit berkendara, tibalah mereka di Panti Asuhan itu. Seperti biasa, mereka akan menemui Bu Lisa sebagai pengurus Panti Asuhan tersebut.
"Selamat Siang Bu Lisa ... bagaimana kabarnya? Kami mau menemui Aksara." sapa Radit dan menjelaskan kedatangannya untuk menemui Aksara.
__ADS_1
"Siang Pak Radit dan keluarga ... silakan duduk terlebih dahulu." Bu Lisa menawarkan mereka untuk duduk terlebih dahulu.
Bu Lisa nampak tersenyum dan melihat mereka bertiga satu per satu. Setelahnya, Bu Lisa nampak menghela napasnya sebelum berbicara.
"Begini Pak ... Aksara sudah dijemput oleh keluarganya. Beberapa waktu yang lalu, ada sepasang suami istri yang kemari dan memberikan bukti-bukti kalau ternyata Aksara adalah anak mereka yang selama ini hilang. Oleh karena itu, Aksara tidak ada lagi di sini. Aksara sudah berkumpul kembali bersama orang tuanya." Penjelasan Bu Lisa kepada Radit dan juga Khaira.
Bagi mereka berdua, kabar ini bermakna dua sisi. Sisi kebahagiaan karena pada akhirnya Aksara bisa kembali bersatu dengan orang tuanya. Namun ada pula sisi kesedihan, karena mereka tidak bisa lagi mengunjungi Aksara. Juga ada hati yang harus mereka jaga, yaitu hati dan perasaan Arsyila. Bagaimanapun bagi Arsyila, Aksara sudah seperti figur Kakak baginya.
Radit dan Khaira tampak saling berhadap-hadapan dan mengirimkan sinyal melalui tatapan mata mereka. Kemudian Radit mencoba tenang dan kembali bertanya kepada Bu Lisa.
"Maaf Bu, apakah kami boleh tahu alamat rumah tinggal orang tua Aksara? Maaf sebelumnya, bagi kami dan juga bagi Arsyila, Aksara sudah seperti keluarga kami. Dia seperti Kakak bagi Arsyila. Mungkin kami bisa tetap melanjutkan silaturahmi dan bisa tetap bertemu dengan Aksara." ucap Radit yang berusaha mendapatkan alamat tempat tinggal keluarga Aksara.
Bu Lisa pun menggelengkan kepalanya. "Maaf Pak ... Sayangnya mereka tidak memberikan alamat rumah tinggalnya dan seingat saya, Papa kandungnya mengatakan bahwa mereka akan tinggal di Singapura."
Mendengar penjelasan Bu Lisa rasanya badai mulai menggoyang mereka bertiga. Bahkan Arsyila pun mulai menangis. "Kakak ... Kakak Aksara di mana Pa? Kakak di mana Ma?" Ucapnya dengan terisak dan terus mempertanyakan keberadaan Aksara.
Khaira pun memeluk Arsyila. "Sayang ... Kakak Aksara sekarang sudah berkumpul bersama Papa dan Mamanya. Kakak Aksara sudah tidak tinggal di sini lagi. Arsyila senang kan karena Kakak Aksara sudah memiliki keluarga lengkap seperti kamu." Ucap Khaira yang mencoba menenangkan Arsyila yang tengah menangis.
"Apa Syila masih bisa menemui Kakak Aksara?" Tanyanya dengan berderai air mata.
"Sabar ya Sayang ... jika nanti Tuhan menghendaki kamu dan Kak Aksara bertemu, sudah pasti kalian akan bertemu. Sekarang kita pulang ya? Karena Kakak Aksara sudah tidak berada di sini." Lagi ucap Khaira.
Arsyila justru menggelengkan kepalanya. "Tidak mau, Ma ... Syila mau bertemu Kakak. Kak Aksara janji akan selalu menjadi Kakak bagi Syila. Kak Aksara janji tidak akan pergi dari sini dan selalu menunggu Syila, Papa, dan Mama datang ke sini." ucapnya dengan tersedu sedan.
Melihat Arsyila yang begitu sedih pun, Bu Lisa tak kuasa menahan tangisannya. "Syila ... Dengarkan Oma ya. Nanti di lain waktu jika Kak Aksara mungkin saja datang ke sini. Oma akan menelpon Papa dan Mama ya. Supaya Syila bisa datang ke sini dan bertemu Kak Aksara lagi. Yang Mama ucapkan benar Sayang, sekarang Kak Aksara sudah memiliki Papa dan Mama sama seperti Syila. Kita doakan Kak Aksara selalu sehat dan bahagia ya...." ucap Bu Lisa yang turut menenangkan Arsyila.
__ADS_1