
Mewujudkan keinginan Ibu Hamil yang ingin jalan-jalan ke Monumen Nasional, di akhir pekan rupanya tanpa sepengetahuan Khaira, Radit sudah berinisiatif sendiri untuk mengajak istri dan anaknya menuju Monumen Nasional. Selepas bangun tidur karena kehamilan simpatik yang masih dialaminya, Radit memilih untuk sekaligus membersihkan badannya. Usai itu, pria itu memilih turun ke dapur, dia berniat untuk memasak Nasi Goreng untuk istrinya. Mendengar jika Nasi Goreng buatannya tempo hari rasanya enak, maka Papa muda itu ingin membuatkan Nasi Goreng sebagai sarapan untuk istrinya.
Radit menyetel sebuah lagu dari aplikasi musiknya di handphonenya, sebuah lagu lawas berjudul First Love.
My first love
Thinks that i'm to young
She doesn't even know
Wish that i could show her what i'm feeling
Cause i'm feeling my first love
Sembari memasak Nasi Goreng, rupanya pria itu bersenandung lirih. Hingga dia tidak menyadari bahwa istrinya sudah berdiri di belakangnya, Khaira melihat punggung suaminya dengan tersenyum, dalam hatinya wanita itu bertanya-tanya apakah mungkin suaminya sedang mengingat cinta pertamanya. Perlahan Khaira mendekat dan segera melingkarkan kedua tangannya ke pinggang suaminya, memeluknya dari belakang.
“Pagi-pagi sudah nyanyi First Love, emangnya siapa sih First Lovenya Mas Radit?” tanya Khaira sembari menggerakkan kepalanya, melihat aktivitas suaminya yang tengah sibuk dengan penggorengan sedang membuat Nasi Goreng. Melihatnya dari balik punggung suaminya.
“Eh, ngagetin aja sih Sayang … enggak terdengar langkah kakinya, tiba-tiba sudah ada di sini. Cuma sebatas nyanyi aja Sayang, biar enggak sepi.” jawabnya sembari menggerakkan kepalanya ke belakang, sehingga mengenai kening istrinya.
__ADS_1
Khaira pun mengangguk samar, “oh … aku kirain ingat sama siapa gitu, sampai pagi-pagi tumben udah nyanyi-nyanyi. Aku kan jadi kepo,” sahut Khaira sembari tertawa.
Bersahutan dengan tawa istrinya, Radit pun ikut tertawa, “sudah pasti my first love-nya aku tuh siapa. Yang sudah mencuri hatiku sejak kecil.” Pria itu menjawab sembari terus menggerakkan kedua tangannya, menyelesaikan Nasi Goreng yang sudah dimasak di atas wajan.
“Gombal … buktinya waktu sudah dewasa, kamu pacaran sama cewek lain. Dulu sampai menikah denganku, mantanmu ada berapa Mas?” Tanyanya tiba-tiba kepada suaminya itu.
“Dua … cuma pacaran dua kali.” jawabnya dengan cepat.
Khaira pun mengangguk, menerima jawaban dari suaminya itu, “o … kirain banyak. Secara kan kamu cakep dan pinter. Sudah pasti dikejar-kejar banyak cewek di luar sana. Sampai sudah jadi Papa aja, masih ada tuh cewek ganjen yang mau jadi Istri kedua kamu.” Khaira berbicara, terdengar nada kekesalan dalam ucapannya.
Sebagai seorang suami, Radit tahu pasti bahwa istrinya itu sedang sebal sekarang. Perlahan pria itu mematikan kompor apinya terlebih dahulu, kemudian membalikkan badannya. Kini, dia bisa melihat wajah istrinya yang sedang cemberut, “pagi-pagi jangan bahas sesuatu yang bikin badmood, nanti sebelnya seharian loh. Mau terjadi apa pun di luar sana, Suamimu ini tidak akan goyah Sayang. Tetap, dalam hati ini kamu First Lovenya aku. Gadis yang aku sayangi dari aku masih kecil. Cintaku padamu bukan cinta yang premature.” Radit berbicara dengan sungguh menatap wajah istrinya itu.
Satu anggukan samar diberikan oleh Radit, “iya … cinta premature itu cinta yang tidak matang dan dipaksakan oleh keadaan. Cintaku padamu itu benar-benar matang, bukan dipaksa oleh keadaan. Akan tetapi, hati ini yang benar-benar mencintaimu, mengharapkanmu, dan menginginkanmu. Cobaan dalam rumah tangga kan banyak Sayang, ada yang dicoba secara ekonomi, atau hal yang lain. Namun, jika perasaan cinta sama-sama matang, kita bisa melewati semuanya kan? Inget ucapanmu tentang filosofi empat lilin.”
Pria itu berbicara panjang lebar dan meyakinkan istrinya, bahwa sebanyak apa pun cobaan yang mungkin saja hadir dalam biduk rumah tangganya, dengan saling memiliki perasaan yang kuat, memastikan menjaga api keempat nyala lilin dalam rumah tangga, semua bisa dilewati dengan saling bergandengan tangan. Cinta yang kuat bisa bertahan dalam segala kondisi. Cinta yang kuat menjadikan sebuah pernikahan itu tahan uji.
Khaira pun tersenyum, gadis itu tiba-tiba sedikit berjinjit, dan menyapa bibir suaminya perlahan dengan bibirnya. Memberikan kecupan yang hangat tepat di tengah-tengah lipatan bibir suaminya itu. Tindakan impulsif yang membuat Radit seketika tersenyum cerah.
“Cintaku padamu juga bukan cinta yang premature kok Mas … tidak dipaksa oleh keadaan juga. Bahkan di awal pernikahan kita, saat kondisi tidak baik, cintaku nyatanya masih ada. Terima kasih sudah selalu mengingat untuk menjaga komitmen kita berdua, terima kasih selalu menjaga nyala api empat lilin tersebut dalam rumah tangga kita. Now, i want shaw you about my felling. Cause i'm feeling my first love. You are my first love.” Khaira berbicara dengan menatap begitu lekatnya wajah suaminya itu. Ungkapan cinta di pagi hari yang tentu saja, membuat hati pria itu terasa berbunga-bunga.
__ADS_1
Radit pun tersenyum dan merapikan rambut istrinya, menelisipkannya ke belakang daun telinganya, pria itu lantas menundukkan wajahnya perlahan, membiarkan napasnya membelai wajah istrinya, kemudian pria itu memberikan sapaan hangat di bibir ranum milik istrinya. Menyapanya sesaat dan membuainya sejenak, mengecup lipatan atas dan lipatan bawahnya, menciumnya dengan begitu lembut hingga kelembutannya sampai terasa ke dalam hati Khaira. Merayu dalam buaian yang disalurkan oleh indera pengecapnya, pejaman mata yang turut menyertai sapaan bibir nan hangat keduanya. Membiarkan sejenak waktu berhenti di tempatnya, kemudian Radit membuka matanya dan menarik wajahnya.
“Jika ada kata-kata di dunia ini yang bisa mewakili perasaanku padamu, itu mungkin cuma terwakili dengan empat huruf saja, L-O-V-E. Love! Ya, aku cinta kamu. Cukup kamu tahu bahwa aku ini benar-benar cinta kamu, mau apa pun yang menghadang dan memberi bumbu dalam pernikahan kita, yang pasti perasaan ini sama, cinta yang dewasa, cinta yang sangat matang. Aku cinta kamu!” ucapnya sembari menatap wajah istrinya dengan penuh rasa cinta.
Mengurai pelukannya, Radit kemudian membimbing Khaira duduk, “sekarang sarapan dulu ya, tuh Syilla juga sudah turun dari kamar. Perutnya di isi dulu.” ucapnya sembari menunjuk dengan dagunya bahwa Arsyilla juga sudah menuruni anak tangga.
Arsyilla yang baru saja tiba, langsung memeluk Papanya, “pagi Pa … tumben Papa sudah berada di dapur?”
Radit pun balas merengkuh tubuh putri kecilnya itu, “iya Syilla Sayang, hari ini Papa pengen masakin sarapan buat Mama dan Papa juga sudah siapkan segelas susu hangat rasa vanilla buat kamu. Sarapan yuk, agak siang nanti Papa ajak jalan-jalan ya. Sarapan dulu ya, perutnya biar terisi.”
“Oke Pa … makasih sudah menyiapkan sarapan buat Syilla,” sahut Arsyilla dan kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Mamanya. Gadis itu tersenyum melihat segelas susu hangat rasa vanilla yang sudah tersedia di hadapannya. Senyumannya lebih manis, saat melihat kedua orang tuanya.
“Syilla senang melihat Papa dan Mama yang saling sayang,” ucap Syilla dengan tiba-tiba.
Khaira pun merespons ucapan putrinya itu, “emangnya Syilla tahu dari mana kalau Papa dan Mama saling sayang?”
“Iya tahu … Papa dan Mama kan tidak pernah berantem, saling memeluk, saling menyayangi Syilla. I Love U Mama dan Papa.” ucap Syilla dengan tersenyum menunjukkan deretan giginya.
Dalam hatinya, Khaira merasa lega, bahkan anaknya pun tahu jika kedua orang tuanya saling menyayangi. Pagi yang indah bagi mereka, sarapan bersama, berkumpul dalam satu meja dan membagi rasa sayang untuk satu sama lain.
__ADS_1