Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Acara Empat Bulanan 2


__ADS_3

Mendengar pujian dari mulut suaminya secara langsung dengan tatapan yang begitu penuh cinta membuat mata Khaira mulai berkaca-kaca.


"Mungkin anak kita cewek, Sayang. Katanya kalau seorang ibu hamil itu selama hamil cantik, anaknya nanti cewek. Dan, sekarang kamu cantik banget Sayang." ucap Radit dengan matanya yang menatap lembut wajah ayu istrinya.


Khaira hanya mengulas senyuman mendengar ucapan dari suaminya.


"Semoga doa-doa yang dilantunkan tadi dengar Allah. Kamu dan anak kita sama-sama sehat yang Sayang. Love U Sayang...." lagi Radit berkata sembari menggenggam tangan Khaira.


Mendengar ucapan suaminya yang terdengar begitu tulus di indera pendengarannya, Khaira pun menundukkan wajahnya lantaran keduanya pipinya telah merona seketika.


"Makasih, Mas Radit...." balas Khaira dengan suara lembutnya, kemudian satu tangannya meraih tangan suaminya. "Aku cinta kamu, Mas...."


Ungkapan cinta spontanitas dari Khaira sukses melambungkan hati Radit hingga ke angkasa. Mereka berdua seolah larut dalam pembicaraan dan tatapan mata yang saling mengasihi satu dengan yang lain. Hingga beberapa kerabat pun menginterupsi keduanya untuk turut makan bersama.


Radit terlebih dahulu berdiri, lalu menolong istrinya untuk turut berdiri dan membawanya untuk duduk di kursi.


Melihat Khaira yang tengah duduk, beberapa kerabat pun menggoda Khaira. "Hamil ini ngidam apa, Khai?" tanya salah satu kerabat dari Bunda Dyah.


Tanpa ragu, Khaira pun menjawab. "Ngidamnya pengen deket sama Mas Radit aja Budhe." balas Khaira kepada perempuan paruh baya yang ia panggil Budhe itu.


Sontak jawaban Khaira menimbulkan tawa bagi para kerabat dan tamu undangan yang hadir.


"Ngidamnya murah meriah berarti, gak pengen apa-apa. Cuma pengen deket suaminya." kata seorang kerabat lainnya.


"Anaknya nanti bakalan jadi anak Ayah banget, karena waktu Bundanya hamil ngidamnya deket sama Ayahnya si bayi terus." celoteh tamu undangan lainnya.


Khaira hanya ikut tersenyum mendengar ucapan dari para kerabatnya.


"Repot enggak Mas Radit, kalau Khaira ngidamnya pengen deket terus?" tanya seorang kerabat lainnya yang turut hadir.


Sebelum menjawab, seolah Radit memberikan isyarat melalui tatapan matanya kepada Khaira. "Tidak repot, justru seneng saya." Jawab Radit yang juga mengundang tawa dan komentar dari kerabatnya.

__ADS_1


Kemudian Radit agak membungkuk di sisi istrinya. "Kamu makan apa Sayang? Biar aku ambilin." Radit menawarkan untuk mengambilkan makanan bagi Khaira.


"Aku ambilin saja ya Mas ... kamu mau makan apa Mas, aku ambilin." sergahnya, karena Khaira nyatanya ingin melayani suaminya dengan mengambilkan makanan.


Melihat kedua anaknya yang masih belum makan sama sekali. Bunda Ranti pun menyiapkan beberapa makanan di atas meja dan menyuruh keduanya untuk makan terlebih dahulu.


"Anak-anak Bunda makan dulu ya. Diisi dulu perutnya." ucap sang Bunda yang langsung mengajak keduanya menepi sejenak untuk mengisi perut terlebih dahulu.


"Mau disuapin Sayang?" tanya Radit begitu piringnya telah terisi dengan nasi, sayuran, dan lauk pauk.


Khaira menggelengkan kepala. "Aku makan sendiri saja Mas ... malu banyak orang di sini." ucap Khaira.


"Aku suapin Sayang. Suapan pertama aja. Yuk, aakkh..." ucap Radit sembari menyuapkan satu sendok makanan ke mulut istrinya. "Makan yang banyak Sayang, biar kamu dan Debaynya sehat. Sate nya mau?" lagi Radit menawarkan salah satu menu makanan yang ada saat itu, sate.


Sembari mengunyah, Khaira menggelengkan kepalanya. "Ibu hamil tidak boleh makan makanan yang dibakar, Mas. Semua daging yang tidak dimasak hingga matang masih mengandung toksoplasma serta bakteri berbahaya lainnya. Saat dikonsumsi, sate yang kurang matang ini tentu akan membahayakan kesehatan ibu hamil dan janin. Risiko terburuknya, ibu dapat mengalami keguguran." Penjelasan paniang lebar Khaira begitu didengarkan oleh suaminya.


"Maaf ya Sayang, aku gak tau. Ya udah, satenya aku aja yang makan. Kamu makan yang lainnya aja ya Sayang." Radit menyingkirkan piring Sate dari hadapan Khaira.


"Selamat ya Khaira, gak nyangka sudah hamil 4 bulan ternyata. Lo penuh kejutan ya, gak dengar apa-apa ternyata udah nikah, dan sekarang udah hamil." ucap Miko yang turut datang dan memberi selamat kepada Khaira.


Melihat Miko yang mengajak bicara istrinya, seolah wajah Radit mendung seketika. Tetapi, pria itu masih bersikap tenang.


"Makasih ya Kak...." jawab Khaira begitu singkat kepada Miko.


Masih belum beranjak pergi, nyatanya Miko kembali mengajak Khaira berbicara. "Tadi itu bener, lo cuma ngidamnya pengen deketan sama suami aja?" tanya pria yang dulu merupakan kakak tingkat Khaira di kampus dulu.


"Iya, bawaannya pengen nempelin Mas Radit terus." sahut Khaira.


Kemudian Radit mengelus lembut perut istrinya. "Anak Papa gak mau jauh-jauh dari Papa ya?" ucapnya begitu manis, dengan maksud supaya Miko segera pergi.


Melihat Radit yang seakan bertindak manis kepada Khaira, Miko pun berlalu pergi.

__ADS_1


"Ya udah, Khai. Pamit ya ... sehat-sehat ya."


Khaira pun mengangguk mendengar Miko.


"Sayang, aku gak suka deh sama Miko. Lebay banget." ucap Radit sembari berbisik kepada istrinya.


"Sabar Mas, kan aku juga enggak nanggepin. Kamu juga tahu, aku selalu di sisimu." ucap Khaira.


Radit pun memutar bola matanya malas. "Kalau kamu sih aku percaya, aku sebelnya kan sama Miko. Cari muka melulu deh."


"Jangan marah, jangan sampai masalah sepele merusak kebahagiaan hari ini. Ini acaranya selesai kapan ya Mas? Udah malam, aku capek pengen rebahan. Biasa Mas, pinggang aku sakit ... pegel." ucapnya sembari terus menggandeng tangan suaminya.


"Tahan sebentar lagi ya Sayang, kalau udah selesai. Kita istirahat. Nginep di rumah Ayah dan Bunda aja ya Sayang, biar bisa langsung istirahat."


Kurang lebih sekitaran jam 8 malam, barulah seluruh acara selesai dan rumah sudah kembali sepi. Kedua orang tua Khaira juga telah kembali pulang.


"Ayah, Bunda ... kami menginap di sini malam ini boleh?" tanya Radit kepada kedua orang tuanya.


"Boleh ... ini kan juga rumah kalian. Gak perlu izin, buat nginep di sini." ucap Ayah Wibi kepada Radit.


Setelah mendapatkan izin dari orang tuanya, Radit segera membawa Khaira masuk ke kamarnya. Begitu sampai di kamar, ia menatakan beberapa bantal yang akan digunakan sebagai sandaran punggung Khaira. "Duduk bersandar di sini Sayang. Mau langsung mandi atau istirahat dulu." tanya Radit kepada istrinya.


"Aku mau mandi dulu ya Mas, gerah. Minta tolong lepasin sanggulnya ini bisa Mas?" pintanya kepada sang suami.


"Bisa...."


Tangan pria itu pun berusaha melepas sanggul yang terpasang di rambut Khaira. Bunga-bunga yang ditaruh sebagai hiasan rambut juga telah dilepaskan oleh Radit. Tidak lupa ia menyisiri rambut istrinya yang panjang.


"Sudah Sayang, udah rapi kan. Sekarang sana mandi dulu. Biar bisa cepet istirahat katanya capek."


Enggan beranjak ke kamar mandi, Khaira justru masih terduduk di depan meja riasnya.

__ADS_1


"Peluk dulu lima menit dong Mas, abis itu aku mandi...."


__ADS_2