
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga bulan berganti bulan. Tidak terasa, telah dua bulan lamanya, Khaira menjadi istri seorang Radit.
Istri yang dipinang tanpa cinta. Istri yang hanya sebatas istri, tapi tidak pernah diperlakukan sebagai istri. Seringkali Khaira justru mengira berada di dalam rumah Radit membuatnya seperti anak kost, pulang saat ia merasa kelelahan dan mengistirahatkan diri di malam hari. Aktivitas yang berulang-ulang ia jalani, tanpa ada perhatian dari seorang suami.
Malam hari, dalam sujudnya Khaira selalu meneteskan air mata. Bukan menyesali garis takdir yang seolah mempermainkannya, tetapi ia lebih memohon kekuatan dari Tuhan. Kiranya Dia yang terlebih dahulu menuliskan skenario ini akan memberi Khaira kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan untuk menjalankan garis takdirnya.
Dalam rumah yang cukup besar ini hanya di dalam kamar dan area dapur sajalah yang menjadi ruang gerak Khaira. Ia tidak berniat menjejakkan kakinya ke ruangan yang lain. Sekali pun rumah yang Khaira tempati adalah rumah hadiah pernikahan dari orang tua Radit, tetapi rumah itu seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Penghuni rumah bertemu hanya saat sarapan dan makan malam, sementara itu pada beberapa minggu terakhir Felly memang jarang terlihat di rumah ini.
Akan tetapi, keadaan pun tidak berubah. Baik Radit dan Khaira masih sama-sama acuh. Menghindari satu sama lain adalah pilihan terbaik. Khaira hanya menyibukkan diri di dalam kamar, sementara Radit sering kali memilih pulang larut malam.
Menikah dengan orang yang sama sekali ini tidak mencintai kita sesungguhnya adalah pilihan bunuh diri secara perlahan-lahan. Berselimut duka, berhiasakan air mata, telah menjadi keseharian Khaira.
Gadis ayu itu tak bisa memungkiri betapa sakit hatinya setiap hari, berteman dengan kesedihan dan kesendirian telah menjadi bagian dari kesehariannya. Kadang kala Khaira merasakan mati rasa, tak bisa merasakan apa-apa karena begitu banyaknya kesedihan dan penderitaan dalam hidupnya. Namun, lagi-lagi Khaira memilih untuk bertahan. Bukan karena ia mencintai suaminya. Bukan! Rasa cinta itu bahkan belum tumbuh. Akan tetapi, Khaira percaya pada kekuatan janji suci pernikahan.
Janji suci yang diikrarkan suaminya saat Ijab Qobul. Janji suci yang diucapkan bukan hanya di hadapan Ayah Ammar dan penghulu, tetapi juga janji suci itu terikat di hadapan Allah.
Malam itu, Khaira tengah berada di dalam dapur. Ia berniat untuk memasak sendiri menu untuk makan malamnya, sekarang rumah itu tidak memiliki ART lagi karena Bi Tinah memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, menunggu anaknya yang akan segera melahirkan. Ketidakberadaan Bi Tinah membuat Khaira harus sering-sering berada di dapur untuk memasak, tetapi memang kadang ia hanya memasak untuk dirinya sendiri.
Bagi Khaira memasak jauh lebih memberikan rasa puas, daripada hanya sekadar membeli makanan.
__ADS_1
Malam itu, Khaira ingin memasak sendiri Beef Bulgogi di rumah. Saat ia tengah menyiapkan grill pan (wajah pemanggang) dan kompor protabel di atas meja makan, terdengar seorang yang tengah memasuki rumah.
Radit datang dengan wajah yang nampak sangat kelelahan. Rambutnya berantakan. Khaira hanya sekilas melihat kepada suaminya yang datang dan menyandarkan kepalanya di sofa ruang tamu.
Khaira tidak begitu menghiraukan kedatangan Radit, ia fokus menyediakan daging sapi (beef slice) yang sudah dimarinasi dengan bumbu Bulgogi, nasi putih dalam dua mangkok kecil, bawang bombay, bawang putih, dan daun selada.
Radit masih nampak kusut di ruang tamu. Sesekali pria itu memijat-mijat pelipisnya. Mungkin saja beban kerja di kantornya sedang banyak, sehingga Radit nampak kelelahan.
Dari meja makan, menguar aroma beef Bulgogi yang harum. Aromanya mampu membuat hidung menari-nari dan ingin menyantapnya. Mencium aroma harum dari Beef Bulgogi yang dibuat Khaira, Radit justru memilih berdiri, ia berniat masuk ke dalam kamarnya. Baru selangkah ia akan menaiki anak tangga, panggilan suara menghentikannya.
"Mas... Makan malam dulu." Khaira menawarkan kepada Radit untuk makan malam. Khaira berpikir bahwa suami itu pasti belum makan, ditambah penampilannya yang kusut dan kelelahan, semakin menjadi bukti bahwa kemungkinan besar Radit belum makan.
"Apa boleh aku ikut makan malam bareng kamu?"
"Iya, silakan Mas..."
Entah mengapa Khaira tidak bersikap cuek dan acuh seperti biasanya. Khaira hanya ingin berbagi makan malam dengan suaminya.
Radit nampak menimbang-nimbang, perutnya memang lapar karena tugas pekerjaan yang terlampau banyak seharian ia bahkan belum makan sama sekali. Akhirnya, ia pun mengambil duduk di meja makan tepat di depan Khaira.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Khaira menyerahkan semangkok nasi putih dan mempersilakan suaminya itu untuk mengambil daging sapi dari grill pan.
"Dimakan Mas... Ambil dagingnya sendiri." ucap Khaira sembari menyerahkan sumpit untuk mengambil daging di grill pan.
Radit nampak mengamati setiap gerak-gerik Khaira, mengapa gadis itu masih saja baik padanya. Sekali pun setiap hari, ia hanya memberi penderitaan dan selalu bersikap acuh, tetapi saat ini pun gadis yang ia nikahi tanpa cinta itu justru berbaik hati padanya.
"Makasih ya..." Ucapnya sembari menyuapkan nasi putih dan beberapa potongan daging sapi ke dalam mulutnya.
Khaira pun juga menikmati makan malamnya dengan tenang, usai itu ia sama sekali tidak berbicara dengan Radit. Yang terdengar hanya alunan sendok, sumpit, dan suara daging sapi yang dipanggang dalam grill pan.
Makan malam kali ini pun tidak ada panggilan ejekan dari Radit yang biasanya memanggil Khaira dengan sebutan "Anak Kecil" atau pun "Cengeng." Dan, ini menjadi kali pertama Radit tidak mengucapkan nama panggilan itu pada Khaira. Entah suasana hatinya yang buruk atau memang Radit memang sedang enggan berdebat dengan Khaira. Yang pasti suasana di meja makan sangat tenang malam itu, keduanya sibuk dengan makanan yang ada di hadapannya.
Usai makan selesai, Khaira pun membersihkan semua peralatan yang kotor, ia segera mencucinya. Dari tempat duduknya, Radit mengamati punggung Khaira yang sedang mencuci di dapur. Pandangan matanya seolah tak ingin beranjak mengamati punggung kecil milik Khaira.
Saat Khaira tengah mencuci berbagai mangkok, gelas, sekaligus grill pan yang barusan ia pakai, Radit memanggilnya.
"Hei, aku ke kamar dulu ya. Makasih buat makan malamnya." Radit mengucapkan terima kasihnya, lalu ia berlalu memasuki kamar.
"Hem." Jawab Khaira singkat.
__ADS_1
"Setidaknya kamu tidak menyebutku anak kecil atau si cengeng sudah cukup bagiku, Mas. Aku memilih bertahan di sini bukan karena aku mencintaimu, bunga-bunga di hatiku sama sekali belum bermekaran. Aku hanya akan bertahan menjalani takdirku sebagai istrimu yang sah. Semoga ada kebahagiaan di balik penderitaan ini." gumam Khaira dalam hatinya.