
Sudah beberapa hari berlalu. Akan tetapi, kebahagiaan yang Khaira rasakan ketika mengetahui ada nyawa yang bersemayam di dalam rahimnya membuatnya begitu bahagia.
Sepanjang hari di rumah, ia sering kali memandangi foto hasil USG dan jarinya mengelus lembut gambar titik hitam yang belum terlalu berbentuk layaknya bayi itu. Khaira begitu bahagia dan berharap janinnya akan tumbuh sehat dan kuat.
Usapan lembut di puncak kepala Khaira, membuatnya mendongak dan bertemu tatap dengan netra suaminya. Radit menatap wajah ayu Khaira dan memberikan senyuman hangat kepada istrinya.
"Anak kita, Mas. Foto pertama adek bayi nih..." ucapnya sembari sedikit tertawa.
Akan tetapi, tawa itu tiba-tiba berubah menjadi isakan tangis. Perubahan hormon lantaran kehamilan rupanya membuat Khaira kini menjadi cengeng, terlebih jika menyangkut masalah anak. "Enggak nyangka banget, di sini sudah ada baby. Walau pun masih sebesar biji apel, bentuknya belum jelas, tetapi aku udah sayang banget sama dia."
Radit perlahan mengubah posisi Khaira, membuat istrinya untuk menghadapnya. Ibu jarinya mengusap setiap air mata yang jatuh membasahi pipinya. "Bumil sekarang cengeng ya. Pasti adek bayi nih yang bikin Mama gampang banget nangis kayak sekarang ini." ucapnya.
"Iya, itu foto pertama anak kita ya Sayang. Tapi bagiku bentuknya jelas kok, jenis kelamin tidak masalah bagiku Sayang. Sudah pasti kalau cowok dia akan sepertiku, kalau cewek sudah pasti dia akan secantik dirimu." Radit menjeda ucapannya, kemudian meraba perut Khaira yang masih rata, belum terlihat baby bump di sana. "Papa sudah jatuh cinta pada baby ini. Sama seperti Papa yang setiap hari jatuh cinta sama Mamanya, Papa juga jatuh cinta setiap hari sama dedek bayinya." ucapnya begitu tulus.
Keduanya berbagi tatapan yang hangat dan dalam, senyuman yang syarat kebahagiaan, dan harapan untuk menjadi orang tua yang baik untuk anaknya kelak. Waktu seolah-olah berhenti, mengunci kedua netra yang saling bersitatap. Mereka kini tidak hanya berdua, melainkan menjadi bertiga dengan baby mereka.
Radit mengikis jarak dan pandangan kini turun pada bibir istrinya yang selalu membuatnya candu untuk menciumnya. Gerakannya seperti "slow motion" yang begitu lambat dan tangannya sudah memegangi dagu Khaira. Sebelum kedua bibir saling bertemu dan bertaut satu sama lain, terdengar bunyi ketukan pintu.
Radit menggeram rendah, lalu mengusap kasar wajahnya sebelum akhirnya membukakan pintu kamarnya. Ia cukup terkejut mengetahui Bundanya yang mengetuk pintu kamarnya. "Ada apa Bunda?" sapanya sembari wajahnya yang agak cemberut karena kegiatannya bersama Khaira gagal total.
Lain dengan Radit, Bunda Ranti justru tertawa. "Dasar anak nakal, jangan sering-sering nakalin anak Bunda ya." ucapnya sembari memukul lengan anaknya itu.
__ADS_1
Radit pun kesal dengan ucapan Bundanya. "Radit kan anak Bunda." ucapnya sembari memegang lengannya yang tadi dipukuli gemas oleh Bundanya.
"Anak Bunda itu Khaira ya." ucapnya sang Bunda sambil terkekeh geli. "Kamu tahan diri, Khaira baru hamil muda, jangan sering-sering dinakalin. Ah, Bunda sampai lupa. Di bawah ada mertua kamu tuh. Mereka datang untuk mengunjungi Khaira dan calon cucu."
Radit hanya cengengesan sembari menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. Ia kemudian masuk ke dalam kamar, lalu membawa Khaira turun ke bawah. "Kita turun yuk Sayang, di bawah ada Ayah Ammar dan Bunda Dyah. Mereka datang untuk tengokin kamu dan calon cucu katanya."
Dengan saling menautkan jari jemari, mereka turun ke bawah menemui orang tua Khaira yang datang berkunjung. Begitu telah sampai di ruang tamu, Khaira segera menghambur ke dalam pelukan Ayah dan Bundanya.
"Ayah ... Bunda ...." ucapnya bahagia, tetapi suara Khaira tiba-tiba berubah dan disertai isakan.
Bunda Dyah mengelus lembut punggung putrinya itu. "Ditengokin kok malahan nangis sih? Kenapa?" tanya sang Bunda yang masih memeluk anaknya.
Khaira melepas pelukannya dengan tangannya mengusap air mata yang sudah membanjiri wajahnya. "Agaknya Khaira menjadi cengeng, Bunda." ucapnya dengan tawa bercampur isakan tangis.
"Sabar ya Radit, bawaannya orang hamil memang macam-macam. Ada yang mual, muntah, gampang nangis, bahkan ada yang karena kandungannya lemah harus bedrest berbulan-bulan." ucap Bunda Dyah sembari menepuk pundak anak menantunya itu.
Radit mengangguk. "Iya Bunda, Radit akan bersabar dan sekaligus latihan menjadi Suami yang siaga."
Jawaban yang membuat seluruh anggota keluarga tertawa.
"Selamat ya Khai, akhirnya kamu naik kelas lagi, punya pengalaman baru untuk menjadi seorang Ibu. Ngidam apa Nak?" tanya sang ayah dengan menatap anaknya itu dengan binar kebahagiaan.
__ADS_1
"Makasih Ayah. Khaira belum ngidam apa-apa keliatannya." jawabnya sembari mengelus perutnya yang masih rata.
"Kalau pengen sesuatu bilang ke Ayah dan Bunda juga ya. Walau pun kita tidak satu rumah, kalau pengen sesuatu kan kami bisa kirim ke sini. Jangan sungkan." ucap Ayah Ammar yang juga diangguki oleh Bunda Dyah.
"Iya Sayang, kalau ngidam sesuatu bilang ya. Jangan merasa repot, itu tidak sama sekali. Kami seneng malahan karena Ayah dan Bunda juga akan naik kelas menjadi Kakek dan Nenek." ucap sang Bunda yang saat itu duduk di sebelah Khaira.
Radit tersenyum mengamati kebahagiaan di wajah orang tua dan mertuanya. "Sebenarnya Khaira ada ngidam kok." ucap Radit tiba-tiba yang membuat semua mata langsung tertuju padanya.
"Ngidam apa?" tanya Bunda Dyah.
"Ngidam maunya nempel Radit terus, ya kan Sayang?" ucapnya sambil mengerlingkan mata menggoda Khaira.
Jawaban yang membuat seluruh anggota keluarga tertawa. Bunda Ranti rasanya ingin mencubit anaknya yang memberikan jawaban aneh itu.
"Apa bener perkataan suamimu itu?" tanya Bunda Ranti.
Khaira sedikit menundukkan kepala, ia malu mengakuinya sebenarnya. Akan tetapi, ia akhirnya mengeluarkan suara menjawab pertanyaan Bunda Ranti itu. "Uhm, seperti iya Bunda. Jika wanita hamil mencium parfum suaminya mual, Khaira malahan seneng. Jadi pengen nempel terus sama Mas Radit." jawabnya disertai rona merah di kedua pipinya.
"Tuh, Radit enggak bohong kok." ucapnya sembari mengacak gemas puncak kepala istrinya itu.
Kehadiran calon bayi di dunia memang membawa kebahagiaan sendiri bagi seluruh keluarga. Terlebih bagi Radit dan Khaira, menyambut calon anggota keluarga baru dalam keluarga yang saling mendukung, saling menyayangi, dan saling melindungi membuat keduanya begitu bahagia.
__ADS_1
Alhasil ketika orang tua dan mertuanya larut dalam obrolan, Radit justru sibuk mengusap lembut rambut Khaira, memegangi setiap jari jemari Khaira, atau pun menghirupi aroma wangi dari rambut istrinya itu. Bukan hanya Khaira yang ingin menempel dengan suaminya, Radit pun sama. Ia ingin menempel dengan istri dan buah hatinya yang masih berada dalam rahim Khaira. Kembali keduanya jatuh cinta bukan pada satu sama lain, mereka jatuh cinta kepada buah hati mereka. Buah hati tanda cinta keduanya.