Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Welcome Baby A


__ADS_3

Setiap jam menanti pertambahan pembukaan membuat Khaira meringis kesakitan. Setiap kali rasa sakit itu datang, dia menangis terisak dan meracau tidak jelas. Bersyukur Radit menjadi suami siaga dan selalu menemani Khaira.


Dalam isakannya. "Mas ... Ini sakit banget. Aku enggak kuat, Mas ... dari kepala sampai ujung kaki sakit semua. Gimana ini Mas." ucap Khaira yang menangis hingga matanya begitu sembab.


Radit menciumi wajah istrinya itu. "Sudah pembukaan enam Sayang, sebentar lagi ya. Kamu harus kuat. Ada aku di sini." ucap Radit yang sama paniknya. Pria itu pun tidak kuasa melihat istrinya yang merintih kesakitan.


Sudah dua jam berlalu, dan beberapa kali Khaira masih menangis. "Jangan banyak nangis Sayang, nanti kamu capek karena terus menerus menangis. Simpan tenaganya buat mengejan nanti." ucap Radit.


Khaira hanya diam dan air mata menetes dengan sendirinya. "Sakit Mas ... ini perut aku kenceng banget, rasanya kayak ada yang mau keluar." ucap Khaira dengan wajahnya yang merah kesakitan.


Mendengar apa yang dikeluhkan istrinya, Radit segera memencet tombol yang ada di atas brankar istrinya.


Tidak berselang lama Dokter Indri dan dua Perawat masuk ke dalam. "Kita cek dalam lagi ya Bu, untuk melihat apakah pembukaannya sudah lengkap."


"Sakit Dok...." ucap Khaira yang masih terus-menerus menangis.


Ketika Dokter Indri kembali melakukan pengecekkan dalam, Khaira langsung menggenggam tangan suaminya. Sementara Radit hanya berharap pembukaannya akan semakin lengkap, sehingga istrinya bisa terlepas dari sakit bersalin yang membuatnya tidak tega.


"Pembukaan sudah sempurna ya Bu. Begitu perut terasa kencang dan ingin mengejan, langsung tarik nafas dalam-dalam dan mengejan ya Bu. Dorong di area pinggul, seperti sedang pup itu ya Bu." instruksi Dokter Indri yang sudah bersiap dengan berbagai peralatan medis di sana.


Khaira langsung mempersiapkan diri dan memegang kuat lengan suaminya. Radit pun mempersiapkan diri dan hatinya, menemani setiap proses menyambut buah hati mereka. Pria itu terlihat begitu kuat menemani Khaira mengejan satu per satu seolah nafasnya mau putus terdengar di telinganya. Teriakan dan isakan tangis bercampur menjadi satu, menemani Khaira berjuang untuk melahirkan buah hati mereka berdua.

__ADS_1


Dengan mata kepalanya sendiri Radit menjadi saksi betapa istrinya berjuang di antara hidup dan mati. Rasa sakit yang dialami oleh Khaira seolah juga ia rasakan. Bahkan ketika Khaira mengambil nafas dalam-dalam, Radit pun juga melakukannya. "Ayo Sayang, kamu bisa! Kamu pasti bisa! Kamu hebat, Sayang!", ucapnya yang terus menyemangati istrinya sembari menyeka air mata yang terus berlinang di wajah ayu istrinya.


"Ayo Bu Khaira, sedikit lagi. Kepalanya sudah keliatan. Ambil nafas kuat-kuat Bu, satu dorongan lagi dedek bayi akan keluar." ucap Dokter Indri yang memberikan instruksi kepada Khaira.


Tatapan mata Khaira meredup, wanita itu menggelengkan kepalanya kepada suaminya. "Aku nggak kuat, Mas. Sakit banget. Aku capek, Mas." keluhnya di tengah perjuangan melahirkan buah hatinya.


Satu kalimat yang diucapkan Khaira membuat dada Radit terasa sesak bergemuruh. Tidak disadari mata Radit telah basah, ia segera menggenggam kuat tangan Khaira. "Nggak Sayang. Ayo, kamu bisa. Kamu kuat!" ucap Radit dengan rasa sesak di dalam dadanya.


Melihat Khaira yang seolah benar-benar tidak kuat, Dokter Indri segera memberi instruksi lanjutan. "Ibu Khaira, jangan ditutup matanya ya. Ibu, kepala baby nya sudah keliatan. Yuk, mengejan Bu. Begitu perut terasa kencang, ambil nafas lagi dan mengejan ya Bu. Beberapa ejanan lagi, Ibu Khaira sudah bisa menimang adek bayi."


Mendengar bahwa beberapa ejanan dan perasaan akan menimang Baby A membuat Khaira perlahan membuka matanya. "Mas, kalau aku kenapa-napa jagain Baby A ya...." ucapnya lirih.


Radit segera menggelengkan kepalanya. "Enggak Sayang, kamu jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Berjuang Sayang, demi Baby A, demi aku."


Khaira mengangguk, ucapan suaminya seolah mengisi lagi energinya. Begitu perutnya terasa kencang, dengan segera Khaira mengambil nafas dalam-dalam, mengejan sekuat tenaga, mendorong tubuhnya ke depan untuk melahirkan buah hati. Beberapa ejanan kemudian, hingga akhirnya....


"Mas Radit!!!" teriakannya menyudahi perjuangannya.


Semua daya dan upaya dia kerahkan hingga akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang membuat Khaira dan Radit sama-sama menangis.


"Kamu hebat, Sayang! Kamu Ibu yang hebat!" ucap Radit menciumi kening istrinya.

__ADS_1


"Selamat Ibu Khaira dan Bapak Radit, seperti pemeriksaan ya Baby nya cewek. Alhamdulillah, adek bayi sehat, lengkap, dan sempurna." ucap Dokter Indri yang sedikit mengangkat bayi mungil yang masih merah itu kepada Radit dan Khaira.


"Alhamdulillah...." Keduanya pun mengucapkan puji syukur bersamaan.


Sembari terisak-isak, Khaira menatap wajah suaminya. "Terima kasih sudah nepatin janji kamu untuk menemaniku bersalin, Mas." ucapnya lirih lantaran tenaganya sudah terkuras banyak.


"Terima kasih juga karena sudah berjuang sekuat tenaga. I Love U So Much, Sayang." balasnya dengan menggenggam tangan istrinya.


Bayi perempuan yang menangis sangat keras dan telah diputus dari plasentanya itu kini diletakkan di atas dada Khaira untuk mengikuti proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Inisiasi Menyusu Dini akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama menyusui.


Ketika bayi perempuan itu sudah berada di atas dadanya, Khaira mengamati sejenak wajah bayi itu. "Hai Baby A nya Mama dan Papa..." ucapnya sembari tersenyum, seolah rasa kesakitannya hilang ketika melihat buah cintanya bersama suaminya.


"Hai Baby A, kamu cantik banget Sayang. Seperti Mama...." ucap Radit yang memberanikan menggenggam tangan bayi yang terasa lembut dan mungil itu.


"Dia bergerak mencari ASI-nya Sayang." ucap Radit sembari tersenyum mengamati setiap pergerakan baby nya.


Sementara di bawah sana Dokter Indri tengah mengeluarkan plasenta yang sering kali disebut sebagai kelahiran kedua dan tentunya menjahit di **** *************. "Ini nanti jahitannya akan menjadi daging ya Bu, jadi tidak usah khawatir. Tidak ada lagi melepas benang jahitan, karena benangnya terbuat dari gelatin." ucap Dokter Indri sembari bergerak dengan benang dan jarum di bawah sana.


Radit segera berlutut guna melihat baby nya yang terlihat mencari sumber kehidupan pertamanya. "Hai Arsyila...." sapanya lembut.


Khaira lantas mengalihkan perhatiannya dari anaknya kepada suaminya. "Arsyila, Mas?" Karena baru kali ini ia mendengar nama langsung untuk buah hati mereka. Sebelumnya Radit hanya membisikkan arti nama anak mereka saja.

__ADS_1


Radit menganggukkan kepalanya. "Iya, Arsyila... Gimana kamu suka enggak?"


Khaira pun tersenyum dan menatap wajah suaminya. "Suka...."🥰


__ADS_2